NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

silsilah kejam

Hujan di luar gedung pencakar langit itu belum juga reda, mencerminkan suasana hati Kinan yang kian mendingin. Di atas meja kerjanya yang luas, Bram—ajudannya—berdiri dengan kepala sedikit menunduk. Sebuah map hitam terbuka di antara mereka, namun isinya jauh dari kata memuaskan.

"Hanya ini yang bisa kamu temukan, Bram?" suara Kinan terdengar berat, menuntut penjelasan.

Bram menghela napas pelan, raut wajahnya tegang. "Mohon maaf, Tuan Muda. Akses informasi mengenai pria bernama Aris itu benar-benar tertutup rapat. Tim saya sudah mencoba menembus berbagai jalur resmi maupun bawah tanah, namun hasilnya nihil. Kami hanya berhasil menemukan satu fakta mutlak: Aris adalah salah satu pewaris tunggal dari keluarga konglomerat yang gurita bisnisnya sama kuat dan raksasanya dengan keluarga Tuan Muda."

Kinan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, matanya menatap kosong ke arah dokumen yang minim informasi tersebut. Rahangnya mengeras. Bagaimana mungkin seorang pria dengan latar belakang sekasar dan semisterius itu bisa tiba-tiba muncul dan menikahi Neya? Sesuatu di dalam insting Kinan berteriak bahwa ada konspirasi besar yang sedang berjalan di luar jangkauannya.

Namun, sebelum Kinan sempat memerintahkan Bram untuk menggali lebih dalam, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan.

Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan keanggunan yang mutlak. Mengenakan setelan blazer sutra mahal dan perhiasan berlian yang berkilau dingin, wanita itu adalah Mama Kinan. Senyumnya terkembang sangat lembut, tipe senyuman keibuan yang seharusnya menenangkan, namun bagi Kinan, senyuman itu adalah tanda bahaya terbesar.

"Bram, tinggalkan kami berdua," perintah wanita itu. Suaranya begitu halus, namun memiliki daya tekan yang membuat Bram langsung membungkuk hormat dan undur diri dengan cepat.

Setelah pintu tertutup, Mama Kinan berjalan mendekati meja kerja putranya, lalu dengan gerakan santai namun tegas, ia menutup map hitam hasil penyelidikan Bram.

Hentikan semua ini, Kinan," ucap Mamanya, masih dengan nada bicara yang lembut mendayu. "Mama sudah menyuruh orang untuk memblokir semua akses penyelidikanmu. Jangan membuang-buang energi untuk mengurusi urusan keluarga konglomerat lain yang setara dengan kita. Itu tabu, dan bisa memicu perang bisnis yang tidak perlu."

Kinan menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya. "Mama tahu siapa Aris? Dan Mama sengaja memblokirku?"

Mama Kinan terkekeh pelan, sebuah tawa kecil yang terdengar sangat licik di telinga Kinan. Wanita ini memang terkenal berhati sedingin es di kalangan sosialita. Di balik tutur katanya yang santun dan pembawaannya yang anggun, ia adalah sosok yang kejam dan manipulatif. Ia ingin semua hal di dalam hidup ini berjalan di bawah kendali mutlak jarinya, persis seperti watak Papa Kinan yang arogan. Bagi mereka, anak bukanlah darah daging yang harus dibahagiakan, melainkan bidak catur yang harus diletakkan di posisi paling menguntungkan demi kejayaan dinasti keluarga.

Kinan mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Sifat hangat, empati, dan ketulusan yang ada di dalam diri Kinan sama sekali bukan turunan dari kedua orang tuanya. Jiwa baik itu ia warisi murni dari almarhumah neneknya—satu-satunya sosok di dalam silsilah keluarga ini yang memiliki hati nurani dan mengajarkan Kinan cara mencintai seseorang dengan tulus, seperti caranya mencintai Neya. Namun kini, benteng terakhir tempatnya bersandar telah tiada, meninggalkannya sendirian dikelilingi oleh para serigala berwujud orang tua.

"Pernikahanmu dengan putri rekan bisnis Papa sudah disiapkan," lanjut Mamanya, mengusap bahu Kinan dengan tangan yang terasa sedingin mayat. "Keluarga calon besan kita sudah setuju. Tidak ada dasar cinta di rumah ini, Kinan. Kamu tahu itu sejak kecil, bukan? Pernikahan Papa dan Mama pun dibangun atas dasar kepentingan saham, dan lihat... kita tetap menjadi penguasa kota ini. Cinta hanya akan membuatmu lemah dan membuat matamu buta, seperti saat kamu mengejar wanita kelas bawah itu."

Kata-kata ibunya menghantam telinga Kinan bagai godam. Wanita kelas bawah. Mereka bahkan tidak sudi menyebut nama Neya

Patuhi perintah Papa dan Mama, atau Mama pastikan wanita yang kamu gilai itu akan menghilang sepenuhnya dari bumi ini" bisik Mamanya tepat di telinga Kinan, memberikan ancaman paling kejam dengan intonasi paling lembut yang pernah ada.

Setelah ibunya keluar dari ruangan, Kinan ambruk di kursinya. Kamar kerja yang mewah itu mendadak terasa seperti penjara bawah tanah yang mencekik lehernya. Oksigen di sekitarnya seolah habis. Ancaman ibunya bukan gertakan sambal; mereka punya kekuatan untuk melenyapkan siapa saja yang mengganggu kestabilan bisnis keluarga. Demi keselamatan Neya, demi menjaga agar wanita itu tetap bisa bernapas di luar sana, Kinan tidak punya pilihan lain.

Ia harus kalah. Ia harus pasrah.

Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Kinan melepaskan semua egonya. Ia menyetujui pernikahan sepihak dengan perempuan pilihan orang tuanya—seorang wanita sosialita yang sama dinginnya, yang menatap pernikahan ini murni sebagai ajang perluasan wilayah bisnis keluarga semata.

Tidak ada cinta di dalam rumah besar keluarga Kinan, yang ada hanyalah transaksi berkedok janji suci. Di meja makan mewah mereka, pembicaraan yang terdengar hanyalah seputar fluktuasi saham, akuisisi perusahaan, dan keuntungan finansial. Semuanya begitu mekanis, kosong, dan mati.

Kepasrahan itu perlahan-lahan mengikis jiwa baik yang selama ini dirawat oleh ingatan neneknya. Kinan yang hangat, Kinan yang lembut, telah mati di malam ia menyerah.

Kinan berubah menjadi sosok laki-laki yang pasrah. Ia menjadi dingin, kasar, dan tak tersentuh tapi mungkin tidak untuk neya . Tatapan matanya yang dulu teduh kini berganti menjadi sepasang manik mata yang tajam dan menusuk siapapun yang berani menatapnya. Di dalam hatinya, sebuah dendam dan kehancuran mengkristal menjadi satu.

Sembari mempersiapkan pernikahan mewahnya yang tanpa jiwa, Kinan berdiri di balkon apartemennya, menatap kerlap-kerlip lampu kota di bawah guyuran hujan. Tangannya meraba dadanya yang terasa mati rasa.

Neya... aku melepaskanmu demi menghidupkanmu, batin Kinan dengan seringai sinis yang kini menghiasi wajah tampannya..

Kinan..."

Sebuah suara selembut sutra memecah keheningan malam di balkon apartemen tersebut. Kinan tidak berbalik, namun ia bisa merasakan sepasang lengan berbalut gaun malam mahal yang pas di tubuh perlahan melingkar posesif di pinggangnya dari arah belakang. Kehangatan dada wanita itu menempel sempurna pada punggung Kinan yang kaku.

Dia adalah Sherly, gadis pilihan orang tuanya yang malam ini resmi bertunangan dengannya. Sherly sebenarnya adalah gadis yang sangat baik. Di balik statusnya sebagai putri konglomerat papan atas, dia memiliki paras yang teramat cantik dan tubuh seksi yang sanggup membuat pria mana pun bertekad berlutut di kakinya. Dan yang paling krusial—Sherly tulus menyukai Kinan sejak pandangan pertama.

Kinan memejamkan mata erat-erat. Aroma parfum mawar yang menguar dari tubuh Sherly terasa begitu asing, sangat berbeda dengan wangi hujan dan kelembutan yang biasa ia hirup dari tubuh Neya. Nuraninya menolak, namun rasa frustrasi, kemarahan yang membakar, dan keputusasaan yang telah mencapai titik nadir mendadak meledak di dalam dada Kinan.

Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, Kinan membalikkan badannya. Ia mencengkeram pinggang ramping Sherly, menarik tubuh seksi gadis itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Sherly sedikit terkesiap, menatap manik mata Kinan yang gelap dan dipenuhi kabut kehancuran. Namun, sebelum Sherly sempat bersuara, Kinan sudah menundukkan kepalanya, menyerang bibir gadis itu dengan ciuman yang liar, panas, dan menuntut.

Itu adalah cumbuan yang sarat akan kepedihan. Kinan menikmati sentuhan fisik itu, membiarkan dirinya terbuai oleh kehangatan tubuh Sherly yang membalas ciumannya dengan penuh kerinduan. Namun, tidak ada secercah pun rasa cinta di sana. Bagi Kinan, ini hanyalah sebuah pelampiasan atas jiwanya yang telah mati rasa, sebuah pelarian instan demi melupakan rasa sakit akibat kehilangan takdirnya. Sherly melenguh pelan dalam dekapan Kinan, meremas bahu kokoh pria itu, mengira bahwa gairah yang membakar ini adalah bentuk penerimaan atas dirinya.

Di ujung lorong ruangan yang remang-remang, terpisahkan oleh sekat kaca besar menuju balkon, dua sosok wanita berdiri diam sembari memegang gelas sampanye mereka.

Mama Kinan berdiri berdampingan dengan kakak perempuan Kinan. Kedua wanita berdarah dingin itu memperhatikan jalinan cumbuan panas sepasang kekasih di luar sana. Alih-alih merasa terganggu, sebuah senyuman hangat—yang tampak begitu sempurna bagi orang awam, namun sarat akan intrik busuk—terkembang serempak di bibir mereka. Bagi mereka, pemandangan gairah di balkon itu adalah bukti mutlak kemenangan. Bidak catur mereka telah sepenuhnya takluk di bawah kendali dinasti keluarga.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!