NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ultimatum Sang Pengusaha

Lampu gantung kristal di ruang kerja pribadi lantai dua memancarkan pendar cahaya kekuningan yang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas dinding yang dipenuhi deretan buku bertapis kulit. Adrian duduk di balik meja kerja jati besarnya, masih mengenakan kemeja formal abu-abu yang kancing teratasnya sudah dibuka. Di hadapannya, Baskara berdiri dengan sikap tegap, memegang sebuah komputer tablet yang menampilkan diagram jaringan bisnis serta laporan mutasi rekening yang bergerak cepat.

"Semua jalur hukum sudah terkunci, Tuan Adrian," ujar Baskara, suaranya memecah kesunyian malam dengan nada profesional yang dingin. "Staf administrasi klinik berinisial R telah diamankan oleh tim penyidik polres Jakarta Pusat dua jam yang lalu. Dia tidak berkutik setelah kami menyodorkan bukti rekaman CCTV dan mutasi rekening digital senilai lima puluh juta rupiah yang dikirim dari salah satu perusahaan cangkang milik Siska."

Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, menatap layar tablet yang disodorkan Baskara dengan tatapan mata yang setajam silet. "Apakah Siska sudah mengetahui pergerakan kita?"

"Belum, Tuan. Kami bergerak dengan sangat senyap menggunakan tim hukum privat. Siska saat ini masih mengira bahwa kartu as medis yang dia pegang aman dan bisa digunakan sewaktu-waktu untuk menekan Anda melalui Tuan Besar Baskoro," jawab Baskara seraya menggeser tampilan layar untuk menunjukkan sebuah draf surat somasi.

"Namun, ada satu perkembangan lain yang perlu Anda ketahui terkait perintah Tuan Besar pagi tadi."

Gerakan tangan Adrian yang hendak mengambil gelas wiski di atas meja seketika terhenti. Rahangnya mengetuk pelan.

"Katakan."

"Tuan Besar Baskoro benar-benar menepati ucapannya," Baskara menghela napas pendek, menyiratkan rasa sesal yang mendalam. "Tepat pukul lima sore tadi, divisi keuangan pusat Dewangga Group telah membekukan kartu kredit hitam korporasi atas nama Anda.

Seluruh akses terhadap dana taktis darurat sebesar seratus miliar rupiah yang dialokasikan untuk operasional agensi produksi Anda juga telah ditangguhkan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Secara administratif, posisi Anda sebagai direktur utama di salah satu anak perusahaan investasi keluarga sedang ditinjau ulang oleh dewan komisaris."

Adrian terdiam selama beberapa detik. Sebuah senyuman kecut yang penuh dengan ketidaktundukan terukir di sudut bibirnya. Ia mengambil gelas wiskinya, menyesap cairan amber tersebut perlahan, lalu meletakkannya kembali dengan ketukan yang tegas. "Ayahku selalu berpikir bahwa uang adalah tali kekang terbaik untuk membuat anjing-anjingnya patuh. Dia lupa bahwa akulah yang membangun divisi investasi itu dari nol menggunakan koneksiku sendiri di luar negeri."

"Apakah kita perlu mencairkan aset cadangan Anda yang berada di bank jaminan Singapura, Tuan?" tanya Baskara waspada. "Jika dana taktis agensi dibekukan, proses pascaproduksi untuk film layar lebar Anda bulan depan bisa terhambat."

"Lakukan," perintah Adrian tanpa ragu sedikit pun. "Pindahkan seluruh likuiditas dari rekening pribadi Singapuraku untuk menutupi biaya operasional agensi. Jangan biarkan satu pun kru atau vendor di agensiku merasakan dampak dari perselisihan domestikku dengan Ayah. Dan pastikan Alena tidak mengetahui tentang pembekuan dana ini. Dia sudah memiliki terlalu banyak beban pikiran di kepalanya."

Namun, Adrian tidak menyadari bahwa di balik pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat, sosok Alena berdiri mematung di dalam kegelapan koridor.

Alena bermaksud mengantarkan secangkir teh chamomile hangat untuk Adrian sebagai ungkapan terima kasih karena pria itu sudah membelanya di lokasi syuting tadi siang. Namun, langkah kakinya terhenti tepat ketika ia mendengar nama Baskoro dan kata "pembekuan dana" disebut oleh Baskara.

Tangan Alena yang memegang nampan perak bergetar hebat. Setiap kalimat yang diucapkan Baskara terasa bagaikan hantaman palu yang godam, menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping. Ketakutan terbesar Alena kini benar-benar menjadi kenyataan.

Pernikahan kontrak ini tidak hanya membawa risiko sosial bagi kariernya sendiri, melainkan telah merampas hak-hak istimewa, kekuasaan, dan stabilitas finansial yang selama ini melekat pada diri Adrian sebagai putra mahkota Dewangga.

Adrian mengorbankan segalanya demi aku... demi janin ini... batin Alena menjerit dalam keheningan. Rasa bersalah yang amat sangat merayap naik dari dasar ulu hatinya, mencekik tenggorokannya hingga terasa sesak. Ia melangkah mundur secara perlahan, mencoba menyembunyikan suara langkah kakinya di atas lantai karpet koridor yang tebal, lalu berjalan kembali menuju kamarnya di sayap barat dengan perasaan yang hancur lebur.

Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa sangat canggung.

Alena duduk di kursinya dengan pandangan yang terus tertuju pada piring buah potong di hadapannya, nyaris tidak menyentuh makanannya sama sekali. Lingkaran hitam di bawah matanya menyiratkan dengan jelas bahwa ia menghabiskan sepanjang malam dengan terjaga, bergulat dengan rasa bersalah yang menguras energinya.

Adrian, yang duduk di kepala meja sambil memeriksa email di ponselnya, menyadari perubahan drastis pada sikap istrinya. Ia meletakkan ponselnya, lalu menatap Alena dengan kening berkerut. "Alena, kamu tidak menyentuh buahmu. Apakah rasa mualnya kembali menyerang?"

Alena mendongak, menatap mata hitam pekat milik Adrian. Ada keraguan yang amat besar di dalam sorot matanya sebelum ia akhirnya memutuskan untuk membuka suara. "Adrian... semalam aku pergi ke ruang kerjamu."

Gerakan tangan Adrian yang hendak mengambil cangkir kopinya seketika terhenti. Ia menatap Alena lurus-lurus, mencoba membaca arah pembicaraan ini.

"Aku mendengar semuanya," lanjut Alena, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap. "Aku mendengar percakapanmu dengan Baskara tentang pembekuan dana darurat, tentang kartu kreditmu yang dicabut oleh ayahmu, dan tentang posisimu di perusahaan yang sedang terancam. Kenapa... kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku, Adrian?"

Adrian menghela napas pendek, meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas tatakan porselen dengan perlahan. Wajahnya kembali berubah menjadi topeng datar yang sulit dibaca.

"Aku sudah bilang kepadamu kemarin pagi, Alena. Itu adalah urusan internal antara aku dan ayahmu. Tugasmu hanya berfokus pada kesehatanmu dan janin itu. Masalah finansial atau korporasi bukan sesuatu yang harus kamu pusingkan."

"Bagaimana mungkin aku tidak memusingkannya?!" suara Alena naik satu oktav, dipenuhi oleh rasa frustrasi dan keputusasaan.

"Semua kekacauan ini terjadi karena aku! Jika malam itu aku tidak ceroboh, jika aku tidak menerima tawaran minuman dari staf Siska, kita tidak akan pernah terjebak di kamar hotel itu. Kamu tidak akan pernah harus menikahi wanita penuh skandal seperti aku, dan kamu tidak akan pernah kehilangan hak waris serta posisimu di Dewangga Group!"

Air mata Alena kembali tumpah, membasahi pipinya yang pucat. Ia mencengkeram pinggiran meja makan marmer dengan erat.

"Aku merasa seperti parasit di dalam hidupmu, Adrian. Aku menghancurkan masa depanmu yang sempurna hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri dari Siska. Jika pernikahan ini harus membuatmu kehilangan segalanya... mungkin... mungkin sebaiknya kita batalkan saja. Aku bisa pergi ke Singapura sendirian, aku bisa membesarkan anak ini tanpa harus menyeretmu ke dalam kehancuran!"

Brak!

Adrian menggebrak meja makan dengan telapak tangannya, tidak terlalu keras namun cukup untuk membuat perabotan di atas meja berdenting dan menghentikan kalimat Alena seketika. Adrian bangkit dari kursinya, melangkah dengan cepat memutari meja, lalu berdiri tepat di hadapan Alena. Ia membungkukkan tubuhnya, mencengkeram kedua lengan kursi Alena dengan kedua tangannya, mengunci tubuh wanita itu di dalam teritorinya.

"Dengarkan aku baik-baik, Alena Putri," desis Adrian, suaranya rendah, berat, dan sarat akan amarah yang tertahan namun penuh dengan ketegasan yang tak terbantahkan. "Jangan pernah mengucapkan kata 'pembatalan' atau 'pergi' lagi di hadapanku. Apakah kamu pikir aku melakukan semua ini hanya karena sebuah kewajiban hukum yang kaku? Apakah kamu pikir seorang Adrian Dewangga bisa dengan mudah diseret dan didekte oleh situasi jika aku sendiri tidak menginginkannya?"

Alena tertegun, menatap mata Adrian yang kini berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Di dalam bola mata hitam pekat itu, tidak ada kilat penyesalan atau kemarahan terhadap Alena; yang ada hanyalah sebuah intensitas emosi yang begitu kuat dan protektif yang membuat Alena merasa seolah-olah seluruh dunianya sedang ditopang oleh pria ini.

"Pernikahan ini adalah keputusanku sendiri," lanjut Adrian, setiap katanya ditegaskan dengan penekanan yang dalam. "Pencabutan dana oleh ayahku adalah risiko bisnis yang sudah aku perhitungkan sejak awal aku memutuskan untuk memasangkan cincin ini di jarimu. Aku bukan pria lemah yang akan hancur hanya karena kehilangan fasilitas dari keluargaku. Jadi, berhenti memposisikan dirimu sebagai seorang parasit atau penyebab kehancuranku.

Di dalam tim ini, tidak ada yang menjadi beban bagi yang lain. Mengerti?"

Alena menatap wajah Adrian yang mengeras penuh tekad. Di dalam keheningan ruang makan yang mencekam itu, detak jantung Alena berpacu liar. Rasa hangat yang aneh dan kuat kembali menjalar di dalam dadanya, mengikis habis rasa bersalah dan menggantikannya dengan sebuah rasa percaya yang mutlak.

Adrian bukan lagi sekadar aktor lawan main yang dingin; ia adalah seorang suami yang sedang menegakkan dinding perlindungannya dengan seluruh jiwa dan raganya, menolak untuk membiarkan badai luar menyentuh seujung rambut pun dari wanita yang kini telah menjadi tanggung jawab hidupnya.

"Iya... aku mengerti, Adrian," bisik Alena tulus, air matanya perlahan mengering di pipi.

Adrian menatap Alena selama beberapa saat lagi, memastikan bahwa kepanikan di mata istrinya telah sepenuhnya mereda, sebelum akhirnya ia menegakkan kembali tubuhnya dan merapikan kemejanya. "Bagus.

Habiskan sarapanmu. Siang ini Baskara akan membawa surat somasi resmi ke kantor Star Media. Siska akan segera menerima balasan atas setiap air mata yang kamu keluarkan sejak kemarin."

Ultimatum dari sang penguasa Dewangga mungkin telah meretakkan dinding finansial mereka, namun di dalam ruang makan Menteng pagi itu, retakan tersebut justru menjadi celah bagi sebuah komitmen baru yang jauh lebih kuat untuk menyelinap masuk dan mengikat jiwa kedua rekan tim tersebut dalam sebuah perjuangan yang sesungguhnya.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!