Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Tuas Untuk Menekanku
Arjuna kembali ke kediaman klan Hydra dengan langkah yang tidak terburu-buru. Matanya masih memindai setiap sudut istana Kaisar Draconis yang masih memancar cahaya keemasan di kejauhan.
Harjasa berjalan di sampingnya, dan para tetua mengikuti di belakang dengan ekspresi yang masih memproses segala yang baru saja terjadi di aula Kaisar Draconis.
Keputusan Maharaja Durgandha sudah final. Klan Wyvern dikunci, penyelidikan dibuka, dan klan Hydra mendapat perlindungan penuh.
Papan catur tercapai sesuai kalkulasi.
Pintu kediaman klan Hydra terbuka dengan diam-diam. Arjuna melangkah masuk terlebih dahulu, dan matanya langsung memindai ruangan utama yang seharusnya penuh dengan kehadiran Dyah Ayu.
Hanyalah kosong.
"Di mana Dyah Ayu?" tanya Harjasa, suaranya mengeras seketika, aura Void Anchoring Realm: Morning Star miliknya memancar tipis dari tubuhnya.
Arjuna bergerak ke arah jendela, lalu matanya memindai halaman depan di bawah cahaya malam yang redup.
Dua pengawal klan Hydra tergeletak tanpa gerakan, dan tubuh mereka penuh memar, tapi masih bernafas dalam dan stabil.
"Dilumpuhkan," jasab Arjuna, suaranya datar seperti permukaan danau yang tidak pernah disentuh badai.
Para tetua wajahnya memucat. Tubuh mereka membeku di tempat seperti patung batu.
"Ini tidak mungkin," desah Tetua pertama, melangkah maju dengan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan. "Keamanan kediaman klan Hydra seharusnya ketat. Siapa yang bisa menerobos tanpa membuat keributan?"
"Seseorang yang sangat kuat dan sangat tenang," jawab Arjuna, matanya masih memandang kegelapan luar kediaman. "Seseorang yang mengerti sistem keamanan klan Hydra, dan sudah memetakan semua hal ini sangat baik
Harjasa membatu, matanya berkilau dengan pemahaman yang sangat lambat datang.
"Wiryo, dan Panthera?" bisik Harjasa, nama itu keluar dari bibir seperti kutukan yang tidak bisa ditarik kembali.
"Tepat," balas Arjuna, matanya berbalik menatap Harjasa dengan ekspresi yang sangat tenang sehingga membuat Jendral itu merasa ada sesuatu yang berbeda dalam ketenangan tersebut. "Menurut keyakinan prediksiku, Wiryo tidak datang sendirian. Kemungkinan seseorang yang bersekutu dengan Prefektur Ethereal.”
Tetua ketiga yang paling tua melangkah maju, dan tubuh bungkuknya bergetar dengan antisipasi buruk.
"Mengapa mereka mengambil gadis itu?" tanya Tetua ketiga, suaranya mengandung pertanyaan yang sebenarnya sudah dia tahu jawabannya. "Apa hubungan manusia murni itu dengan Arjuna?"
"Tuas untuk menekanku," jawab Arjuna, langkahnya menuju pintu keluar kediaman tanpa meminta persetujuan siapapun. "Wiryo tahu aku akan datang kepadanya jika seseorang yang penting bagiku terancam. Dia menginginkanku membuat kesalahan karena emosi, bukan kalkulasi."
Harjasa melangkah maju, aura Void Anchoring Realm miliknya mulai memancar penuh untuk persiapan pertempuran.
"Lokasi mereka adalah perbatasan," lanjut Arjuna, matanya memindai setiap detail kediaman dengan fokus yang tidak bergeser. "Lokasi aman di mana Wiryo bisa bertindak bebas tanpa hambatan diplomatik Kaisar Draconis.”
"Mereka akan menunggu di lokasi strategis," ucap Arjuna, analisisnya mengalir seperti air yang mengalir di cekungan batu. "Tempat yang memberikan mereka keuntungan posisi sekaligus menjamin Dyah Ayu tidak bisa lari.”
“Mereka ingin aku melihat gadis itu dalam kesakitan sebelum mereka memperhitungkan kekalahan mereka."
Tetua pertama bangkit dengan wajah yang merah padam.
"Ini pelanggaran diplomatik tingkat tertinggi!" bentak Tetua pertama, tangannya mengepal dengan kemarahan. "Kita lapor Kaisar sekarang juga! Mereka tidak bisa bertindak seenaknya di wilayah Prefektur Draconis!"
"Laporan hanya membuang waktu yang aku butuhkan untuk mencari Dyah Ayu," jawab Arjuna dengan tenang. "Itu seperti kalkulasi Wiryo. Dia ingin aku terjebak dalam prosedur diplomatik sementara gadis itu menderita di bawah tekanan aura mereka."
Harjasa menatap Arjuna dengan mata yang mulai memahami sesuatu yang sangat dalam.
"Kau akan bergerak sendiri,” ucap Harjasa, bukan pertanyaan melainkan pernyataan.
"Aku akan bergerak ke perbatasan," balas Arjuna. "Namun Jendral akan ikut serta karena perintah Kaisar adalah melindungiku. Itu memberikan kami legalitas untuk bertindak di luar kedaulatan klan Wyvern."
Harjasa mengangguk dengan gerakan yang terlihat seperti keputusan yang sangat berat.
"Perintahku kepada pasukan klan Hydra!” titah Harjasa ke arah para tetua. "Siapkan posisi pertahanan di perbatasan! Jika pertempuran meledak di luar kendali, kalian siap memberikan dukungan! Tapi jangan ada yang bergerak tanpa izin aku!"
Para tetua mengangguk serentak, wajah mereka menampilkan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.
Arjuna dan Harjasa bergerak keluar dari kediaman klan Hydra dengan langkah yang cepat tapi terukur, menembus kegelapan malam kota perbatasan Prefektur Draconis.
***
Di lokasi tersembunyi di perbatasan, Wiryo berdiri dengan mata biru yang memandang Dyah Ayu yang tergantung di udara, tubuhnya gemetar di bawah tekanan aura Spirit Awakening Realm: Celestial Star.
Armor putih perak Light Cyborg Suit melindungi tubuhnya dari serangan fisik, tapi tidak bisa melindungi paru-parunya dari kesulitan bernafas di bawah tekanan aura yang melampaui semua batas manusia biasa.
Setiap hembusan nafasnya terputus-putus, dan setiap denyut jantung terasa seperti akan berhenti sewaktu-waktu.
"Manusia murni ini adalah bait yang sempurna," geram Wiryo, suaranya mengandung kenikmatan yang mengerikan. "Dia tidak punya kekuatan apapun. Hanya tubuh yang rapuh dan nyawa yang mudah diambil."
Suryadewa berdiri di sisinya, mata emas murninya memancar dengan persiapan untuk pertempuran yang akan datang.
"Dia akan datang?" tanya Suryadewa, suaranya dingin seperti logam yang baru ditempa.
"Tentu," jawab Wiryo, senyuman tipis merayap di wajahnya. "Manusia hanya bisa digerakkan oleh kelemahan emosi. Manusia murni ini juga adalah kelemahan terbesar Arjuna."
Abhinata berdiri dengan satu pasang sayap Chaerubim yang terlipat rapi di punggungnya, dan matanya memancar dengan perhitungan yang sangat dalam.
Langkah terdengar dari kegelapan, teratur dan tidak terburu-buru.
Dua sosok muncul dari antara pohon-pohon, Arjuna di depan dengan langkah yang tenang seperti seseorang yang berjalan ke takdir yang sudah diketahui, Harjasa di belakang dengan aura yang memancar penuh seperti badai yang siap meledak.
Wiryo tersenyum, matanya memindai Arjuna dari atas ke bawah dengan tatapan yang sudah mempersiapkan setiap detail kematian yang akan datang.
"Akhirnya manusia sampah itu muncul," desah Wiryo, suaranya meledak di malam yang sunyi. "Tiga tahun aku menunggu momen ini. Tiga tahun menahan kemarahan karena satu manusia murni yang seharusnya sudah mati sejak awal."
Suryadewa melangkah maju, aura keemasan miliknya memancar dengan tekanan yang membuat seluruh area terguncang seperti gempa yang tidak pernah berhenti.
"Kali ini tidak ada istana yang bisa menyelamatkanmu," ucap Suryadewa, suaranya mengandung janji tentang kesakitan yang akan datang dengan detail yang sangat jelas.
Abhinata membuka satu pasang sayapnya dengan perlahan, cahaya putih memancar dari setiap bulu sayap seperti matahari yang meledak dalam kegelapan.
Arjuna tidak menjawab, hanya menatap Dyah Ayu yang tergantung dengan mata merah yang tidak berkedip. Kemudian mengamati setiap detail penderitaan yang dialami gadis itu.
Harjasa melangkah ke samping untuk mengambil posisi serangan yang presisi, dan menunggu perintah.
"Lepaskan gadis itu!" perintah Harjasa, suaranya tidak memberi ruang untuk negosiasi atau perdebatan apapun.
Wiryo tertawa. Tawanya bergema di malam yang gelap seperti bisikan setan yang sedang menikmati permainannya.
"Atau apa?" tanya Wiryo, mata birunya memancar dengan kemenangan yang belum dirayakan. "Kalian akan membunuh kami? Tiga Komandan internasional? Di hadapan Jendral Hydra yang tamak akan medali?"
"Manusia sampah itu," geram Wiryo, jari-jarinya mendekat ke arah Dyah Ayu yang tergantung, menciptakan tekanan aura yang lebih berat lagi. "Tidak punya apa-apa. Tidak punya kekuatan, tidak punya status, bahkan tidak punya masa depan. Hanya manusia murni biasa yang seharusnya sudah dilenyapkan sejak usia bayi, karena kelemahan rasnya."
Suryadewa ikut tertawa bersama Wiryo, dan Abhinata. Mata emas murninya berkilau dengan kemenangan yang sangat dekat.
"Kami akan memberikan gadis ini kepada Arjuna," ucap Suryadewa, suaranya mengandung janji yang sangat mengerikan. "Tapi hanya setelah dia melihat sendiri apa yang kami lakukan pada tubuhnya. Hanya setelah dia menyadari bahwa kelemahan adalah dosa yang tidak bisa dimaafkan."
Wiryo mengangkat tangannya, dan tekanan aura di sekitar Dyah Ayu meningkat berlipat ganda.
Armor putih perak melindungi tubuhnya, tapi tidak bisa melindungi mata Dyah Ayu yang sudah penuh dengan air mata ketakutan dan harapan yang memudar.
"Kemauan untuk hidup juga mulai hilang dari gadis ini," desah Wiryo, memandang Dyah Ayu dengan tatapan yang sama seperti seseorang memandang serangga yang sudah hampir mati.
Kemudian ia melanjutkan dengan tersenyum licik, "Dalam lima menit lagi, tekanan aura aku akan mencapai titik di mana otot-otot tubuhnya akan mulai meruntuh satu per satu, dan tulang-tulangnya akan pecah sendiri tanpa aku perlu menyentuhnya."
"Dan kau, Arjuna!" bentak Wiryo, matanya berpindah ke Arjuna dengan intensitas yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. "Akan melihat semua itu terjadi.”
“Kau akan melihat gadis yang kau tinggalkan di kediaman klan Hydra mati dengan perlahan, dengan sangat perlahan, sampai dia tidak lagi bisa bernafas."