Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.
Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Fajar di Tengah Hamparan Teh
Malam di Puncak terasa semakin dingin.
Setelah makan malam di kafe dekat perkebunan, Alex dan Luna kembali ke vila keluarga Dimitri. Perjalanan pulang diiringi kabut tipis yang mulai turun menutupi sebagian jalan.
Sesampainya di vila, suasana terasa tenang.
Hanya suara jangkrik dan sesekali hembusan angin yang terdengar dari luar.
Luna berdiri di dekat jendela kamar sambil memandangi hamparan kebun teh yang mulai tertutup kabut malam.
Cantik.
Sangat cantik.
Alex yang baru keluar dari kamar mandi menghampirinya.
"Masih belum tidur?"
tanyanya.
Luna menggeleng.
"Pemandangannya terlalu bagus."
Alex ikut melihat ke luar.
Tempat ini memang selalu memiliki arti khusus baginya.
Banyak kenangan bersama ibunya tersimpan di sini.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia datang bukan sendirian.
Melainkan bersama orang yang berhasil mengisi ruang kosong dalam hidupnya.
Tanpa banyak kata, Alex merangkul bahu Luna.
Luna pun menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Mereka berdiri dalam diam.
Menikmati ketenangan yang jarang mereka dapatkan di tengah kesibukan Jakarta.
Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama sebagai pasangan suami istri, saling berbagi cerita, tawa, dan kehangatan sebelum akhirnya beristirahat.
---
Jam menunjukkan pukul empat pagi ketika alarm Alex berbunyi.
Ruangan masih gelap.
Udara dingin menusuk bahkan dari dalam kamar.
Alex membuka mata lebih dulu.
Beberapa detik kemudian ia mematikan alarm sebelum suara itu membangunkan Luna sepenuhnya.
Namun ternyata wanita itu sudah bergerak pelan.
"Hmm..."
Luna mengucek matanya.
"Jam berapa?"
"Empat."
jawab Alex.
Luna langsung memejamkan mata lagi.
"Aku berubah pikiran."
Alex tertawa kecil.
"Ayo bangun."
"Aku mau resign dari perjalanan ini."
Mendengar itu Alex tidak bisa menahan senyumnya.
---
Sepuluh menit kemudian mereka sudah siap.
Luna mengenakan jaket tebal berwarna krem, syal hangat, dan sepatu boots.
Sedangkan Alex mengenakan jaket hitam tebal yang membuatnya terlihat semakin tinggi dan berwibawa.
Begitu keluar dari vila, Luna langsung memeluk dirinya sendiri.
"Dingin banget."
keluhnya.
Alex menyerahkan secangkir teh hangat yang sudah disiapkan salah satu staf vila.
"Nih."
Luna langsung menerimanya.
"Terima kasih."
---
Langit masih gelap ketika mobil mereka bergerak menuju area pabrik teh.
Beberapa kendaraan pekerja sudah terlihat berlalu-lalang.
Hari panen selalu menjadi hari yang sibuk.
Apalagi untuk panen besar seperti kali ini.
---
Sekitar lima belas menit kemudian mereka tiba.
Lampu-lampu pabrik masih menyala terang.
Puluhan pekerja sudah berkumpul.
Sebagian membawa hasil petikan pertama dari perkebunan.
Sebagian lagi sibuk menyiapkan proses produksi.
Luna yang baru pertama kali melihat suasana itu tampak kagum.
"Wah..."
gumamnya.
"Aku kira pabrik bakal sepi jam segini."
Alex menggeleng.
"Justru pekerjaan dimulai sebelum matahari terbit."
---
Beberapa pengelola langsung menyambut mereka.
"Selamat pagi, Pak Alex."
"Selamat pagi."
Alex menyalami beberapa orang satu per satu.
Luna memperhatikan dari samping.
Ia menyadari sesuatu.
Di sini, Alex berbeda dari sosok CEO yang biasa ia lihat di kantor.
Lebih santai.
Lebih akrab dengan para pekerja.
Dan jauh lebih hangat.
---
"Pagi, Pak."
sapa seorang pekerja tua.
Alex tersenyum.
"Pagi, Pak Darto."
"Senang lihat Bapak datang lagi."
Alex mengangguk.
"Saya juga."
Luna tersenyum melihat interaksi itu.
Jelas sekali para pekerja menghormati Alex bukan karena jabatannya saja, tetapi juga karena hubungan yang sudah terjalin bertahun-tahun.
---
Mereka kemudian diajak melihat area penerimaan hasil panen.
Truk-truk kecil mulai berdatangan membawa daun teh segar yang baru dipetik.
Aroma khas teh langsung memenuhi udara.
Segar.
Menenangkan.
Dan berbeda dari teh yang biasa diminum.
---
"Harum banget."
kata Luna.
Alex mengangguk.
"Itu aroma daun yang masih segar."
Luna mendekat ke salah satu keranjang besar.
Matanya berbinar seperti anak kecil yang sedang melihat sesuatu untuk pertama kalinya.
Membuat Alex tersenyum diam-diam.
---
Salah satu supervisor pabrik kemudian mulai menjelaskan proses produksi.
Mulai dari penimbangan.
Pelayuan.
Penggulungan.
Fermentasi.
Sampai proses pengeringan.
Luna mendengarkan dengan penuh perhatian.
Sesekali mengajukan pertanyaan.
Dan membuat para staf pabrik terkesan dengan antusiasmenya.
---
"Bu Luna cepat belajar ya."
kata salah satu staf sambil tersenyum.
Luna tertawa kecil.
"Saya cuma penasaran."
---
Matahari mulai muncul perlahan di balik perbukitan.
Sinar keemasan menyapu hamparan kebun teh.
Kabut yang sejak tadi menggantung perlahan menghilang.
Pemandangan itu begitu indah hingga Luna beberapa kali mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto.
---
Alex berdiri di sampingnya.
"Mau foto bareng?"
tanya Luna.
Alex mengangkat alis.
"Kamu tahu aku nggak suka foto."
"Kalau gitu aku kirim ke Kakek bilang cucunya sombong."
Alex langsung menghela napas.
"Kamu sekarang suka ngancam."
Luna tertawa puas.
---
Akhirnya mereka berfoto bersama dengan latar belakang kebun teh yang disinari matahari pagi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum Alex terlihat begitu santai.
Tanpa beban pekerjaan.
Tanpa rapat.
Tanpa tekanan perusahaan.
Hanya Alex.
Dan Luna.
---
Saat matahari semakin tinggi, kegiatan panen semakin ramai.
Namun di tengah kesibukan itu, Alex berdiri sejenak memandangi seluruh area perkebunan.
Tempat yang dulu sangat dicintai ibunya.
Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan.
Kini terasa berbeda.
Bukan karena kebunnya berubah.
Bukan karena pabriknya berkembang.
Melainkan karena kini ia memiliki seseorang untuk berbagi semua itu.
Seseorang yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum menikmati pagi.
Seseorang yang tanpa sadar telah menjadi rumah baginya.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alex merasa bahwa tempat ini kembali hidup.
Karena kini bukan hanya kenangan masa lalu yang ada di sini.
Tetapi juga masa depan yang ingin ia bangun bersama Luna.