Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Hari Pertama sang Direktur Utama
Gedung Wijaya Tower berdiri megah setinggi tiga puluh lantai di pusat kawasan bisnis kota. Pagi ini, lobi utama gedung yang berlapis marmer mengkilap itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Para karyawan berpakaian rapi berlarian kecil mengejar lift, sementara beberapa manajer tingkat atas tampak berkumpul di sudut ruangan dengan wajah tegang. Kabar burung mengenai perombakan massal jajaran direksi serta pengalihan kepemilikan saham sebesar enam puluh persen telah menyebar layaknya api di tangki bensin sejak subuh tadi.
Sebuah mobil taksi online sederhana berwarna hitam perlahan berhenti tepat di depan lobby utama. Pintu belakang terbuka, dan dari dalam sana turunlah seorang wanita cantik dengan setelan blazer formal berwarna biru dongker yang elegan. Dia adalah Kirana. Di sampingnya, aku melangkah keluar dengan mengenakan kemeja kasual yang rapi. Meskipun pakaianku tidak semewah para eksekutif yang lalu lalang, aura ketenangan dan ketegasan yang kupancarkan saat ini mampu membuat beberapa orang yang lewat menoleh dengan rasa segan.
"Adrian... jantungku rasanya mau copot," bisik Kirana sambil merapikan ujung blazernya yang sedikit kusut. Tangannya yang memegang tas kerja terasa sangat dingin dan sedikit bergetar.
Aku menggenggam jemarinya dengan lembut, memberikan kehangatan kekuatan penenang melalui tatapan mataku. "Tenanglah, Kirana. Ingat, mulai detik ini, kamu adalah pemilik sah dari tempat ini. Mereka semua yang ada di dalam gedung ini bekerja untukmu, bukan sebaliknya. Masuklah dengan kepala tegak."
Kirana menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu mengangguk mantap. Keberadaanku di sampingnya seolah menjadi pilar kokoh yang tidak akan pernah membiarkannya jatuh. Kami berdua melangkah masuk menembus pintu kaca otomatis lobi utama.
Begitu kaki Kirana menginjak lantai lobi, suasana mendadak senyap. Beberapa staf yang tadinya bergosip langsung mengatupkan mulut rapat-rapat. Di tengah lobi, Kakek Bramasta sudah berdiri menyambut bersama sekretaris pribadinya dan beberapa pengawal. Wajah Kakek tampak jauh lebih segar dan bertenaga dibandingkan kemarin, berkat efek dari Kartu Pemulihan Medis Tingkat Dewa yang kuberikan. Begitu melihat kedatanganku, Kakek Bramasta langsung membungkuk hormat tiga puluh derajat di depan kerumunan karyawan yang menyaksikannya dengan mata terbelalak.
"Selamat pagi, Direktur Utama Kirana. Selamat datang di Wijaya Tower," ucap Kakek Bramasta dengan suara yang lantang dan penuh wibawa, sengaja agar didengar oleh seluruh karyawan di lobi.
"S-selamat pagi, Kakek," jawab Kirana, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tenang dan profesional.
"Panggil saya Wakil Komisaris jika di lingkungan kantor, Direktur Kirana. Mari, ruang rapat utama di lantai tiga puluh sudah siap. Seluruh kepala divisi dan dewan direksi sudah berkumpul menunggu pengarahan dari Anda," ujar Kakek Bramasta dengan sikap yang sangat patuh. Dia kemudian melirik ke arahku dengan pandangan penuh rasa takut dan hormat, "Tuan Adrian, mari silakan ikut bersama kami."
Aku hanya mengangguk pelan tanpa mengeluarkan suara. Kami semua berjalan menuju lift khusus eksekutif yang langsung melesat naik menuju lantai tertinggi gedung ini.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh, menampilkan lorong mewah yang berujung pada sepasang pintu jati besar. Ketika pengawal membuka pintu tersebut, sebuah ruang rapat melingkar yang sangat luas tersaji di depan mata. Di sana, sekitar dua puluh orang pria dan wanita paruh baya berpakaian desainer mahal duduk dengan raut wajah masam dan tidak bersahabat. Mereka adalah para paman, bibi, dan kerabat jauh Kirana yang memegang jabatan penting di Wijaya Group.
Di ujung meja, posisi kursi Direktur Utama masih kosong. Kirana berjalan perlahan menuju kursi tersebut, sementara aku memilih untuk berdiri dengan santai di sudut ruangan, menyilangkan tangan di dada sambil mengaktifkan 'Mata Penilai Dewa' untuk membaca situasi.
[Nama Target: Hendra Wijaya (Paman Kedua Kirana)]
[Status: Direktur Keuangan]
[Rahasia: Telah menggelapkan dana proyek pembangunan pelabuhan sebesar Rp 5 Miliar selama satu tahun terakhir.]
[Nama Target: Siska Wijaya (Bibi Ketiga Kirana)]
[Status: Kepala Divisi Pemasaran]
[Rahasia: Menerima suap dari perusahaan vendor luar untuk memenangkan proyek iklan.]
Sebuah senyuman dingin terukir di wajahku saat melihat rentetan data busuk di atas kepala orang-orang arogan ini. Mereka benar-benar sekumpulan parasit yang sedang menggerogoti perusahaan dari dalam.
Begitu Kirana duduk di kursi utamanya, Hendra—paman keduanya—langsung menggebrak meja dengan pelan namun sarat akan provokasi. "Ayah! Apa maksud dari semua sandiwara ini?!" bentak Hendra sambil menatap Kakek Bramasta yang duduk di kursi penasihat. "Bagaimana bisa Ayah menyerahkan jabatan Direktur Utama dan saham mayoritas kepada anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis seperti Kirana? Apalagi dia membawa suami sampahnya itu ke dalam ruang rapat suci ini! Ini adalah penghinaan bagi kami yang sudah berdarah-darah membangun Wijaya Group!"
"Benar! Kami tidak setuju!" sahut Siska dengan nada sengit. "Kirana hanya akan menghancurkan perusahaan ini dalam waktu satu bulan! Kami menuntut pemungutan suara ulang!"
Kirana tampak terkejut dengan serangan frontal dari paman dan bibinya. Wajahnya sempat memucat, namun sebelum dia kehilangan kendali atas emosinya, dia melirik ke arahku di sudut ruangan. Aku memberikan isyarat anggukan kecil, tanda bahwa ini adalah waktunya untuk menyerang balik.
Kirana menarik napas, lalu dengan berani dia menatap lurus ke arah Hendra. "Paman Hendra, Anda bilang Anda sudah berdarah-darah membangun perusahaan ini? Tapi dari data yang saya terima, darah yang Anda maksud tampaknya adalah aliran dana ilegal dari proyek pelabuhan sebesar lima miliar rupiah yang masuk ke rekening pribadi Anda di Swiss, bukan?"
Deg!
Suasana ruang rapat mendadak menjadi sangat sunyi, bahkan suara jatuhnya selembar kertas pun akan terdengar jelas. Wajah Hendra yang tadinya memerah penuh amarah, seketika berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. "K-kamu... apa yang kamu bicarakan?! Jangan asal bicara tanpa bukti!" teriak Hendra dengan suara yang mendadak melengking panik.
"Bukti?" Kirana tersenyum tipis, kepercayaan dirinya kini telah bangkit sepenuhnya berkat informasi akurat yang sempat kubisikkan padanya di dalam lift tadi. Kirana melemparkan sebuah flashdisk hitam ke tengah meja rapat. "Di dalam sana ada seluruh rincian nomor rekening, tanggal transfer, dan tanda tangan digital Anda saat melakukan penggelapan dana. Apakah Anda ingin saya menyerahkan dokumen ini kepada pihak kepolisian sekarang juga, Paman?"
Hendra langsung terduduk lemas di kursinya, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Dia tahu karir dan hidupnya telah hancur dalam satu kalimat dari keponakan yang selalu dia remehkan.
Kirana tidak berhenti di situ. Dia mengalihkan pandangan tajamnya kepada Bibi Siska yang kini ikut gemetar ketakutan. "Dan untuk Bibi Siska... kontrak vendor iklan dengan PT Berjaya Mandiri bulan lalu memiliki selisih komisi sebesar lima ratus juta yang masuk ke kantong Anda sendiri. Apakah Bibi juga ingin merasakannya?"
Bibi Siska langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menempelkan wajahnya ke meja rapat sambil menangis ketakutan. "K-Kirana... maafkan Bibi... Bibi khilaf..."
Melihat dua tokoh senior di dewan direksi langsung berlutut minta ampun dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh anggota rapat yang lain langsung menciut nyalinya. Mereka semua menundukkan kepala, tidak berani menatap mata Kirana yang kini memancarkan aura kepemimpinan yang sangat kuat.
Kakek Bramasta yang melihat hal itu hanya bisa menghela napas panjang dalam hati. Dia melirik ke arahku yang berdiri di sudut ruangan dengan senyuman misterius. Kakek tahu betul, kecerdasan dan data seakurat itu tidak mungkin dimiliki oleh Kirana sendirian. Semua ini adalah ulah dari menantu misterius yang memiliki kekuatan setingkat dewa ini.
[Ding! Misi Pengambilalihan Korporasi Berhasil Diselesaikan dengan Sempurna!]
[Evaluasi Misi: Mutlak dan Tanpa Celah.]
[Hadiah Diaktifkan: Keterampilan 'Seni Bela Diri Dewa Asura' telah disinkronisasikan ke dalam tubuh Tuan Rumah!]
[Saldo Tambahan Rp 20 Miliar berhasil masuk ke rekening pribadi Anda!]
Sebuah aliran energi hangat yang sangat dahsyat mendadak mengalir masuk ke dalam otot dan tulang di seluruh tubuhku, membuatku merasa seolah-olah bisa menghancurkan sebongkah batu besar hanya dengan satu pukulan tangan kosong. Dengan kekayaan, kekuasaan, dan sekarang kekuatan fisik tingkat tinggi, dinasti baruku bersama Kirana telah resmi berdiri tegak di kota ini.