Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Dibuang Ke Pegunungan
Pegunungan Cang Lei mulai terlihat pada hari ketiga perjalanan.
Barisan pegunungan itu menjulang tinggi di kejauhan, diselimuti kabut tebal yang seolah tidak pernah benar-benar menghilang, bahkan saat matahari bersinar terang di langit.
Lin Chen berdiri di ujung jalan setapak terakhir yang masih bisa disebut sebagai jalan. Di hadapannya terbentang hutan liar yang belum tersentuh, sementara di belakangnya berdiri dua pengawal Klan Lin yang bertugas mengantarnya.
Salah seorang pengawal menyerahkan sebuah tas kulit sederhana.
"Ini batas terakhir yang bisa kami antar," katanya.
Lin Chen menerima tas itu tanpa banyak bicara.
Saat dibuka, isinya tidak jauh dari yang ia perkirakan. Beberapa potong roti kering, kantong air, peta sederhana yang digambar seadanya, serta daftar tanaman obat yang harus dikumpulkan.
Ia hanya melirik daftar tersebut sebelum tersenyum tipis.
Sebagian besar tanaman yang tertulis di sana tumbuh di wilayah berbahaya dan biasanya hanya dapat dikumpulkan oleh kultivator yang jauh lebih kuat darinya.
Mereka tentu mengetahui hal itu.
Namun tidak ada gunanya membahasnya sekarang.
"Klan memberimu waktu dua minggu," lanjut pengawal itu. "Setelah itu kami akan mengirim orang untuk menjemputmu."
"Tidak perlu."
Kedua pengawal itu sedikit terkejut.
Lin Chen mengangkat tas ke bahunya.
"Aku akan kembali sendiri jika memang masih hidup."
Suasana mendadak hening.
Tak ada yang tahu harus menjawab apa.
Setelah beberapa saat, Lin Chen melangkah melewati batas jalan dan memasuki hutan.
Tidak seorang pun berusaha menghentikannya.
Tidak ada pula yang memanggil namanya.
Dalam hitungan menit, sosoknya telah menghilang di antara pepohonan raksasa Pegunungan Cang Lei.
Tempat itu berbeda dari yang selama ini ia bayangkan.
Sejak kecil, Lin Chen sering mendengar cerita tentang Pegunungan Cang Lei. Banyak orang menggambarkannya sebagai wilayah yang dipenuhi binatang buas, makhluk iblis, dan berbagai bahaya yang dapat merenggut nyawa kapan saja.
Karena itulah ia mengira tempat tersebut akan terasa mengerikan sejak langkah pertama.
Namun kenyataannya tidak demikian.
Yang menyambutnya justru keheningan.
Bukan keheningan yang menakutkan, melainkan keheningan alam yang begitu luas hingga membuat seseorang merasa kecil di hadapannya.
Pepohonan tua menjulang tinggi ke langit.
Batang-batangnya yang besar ditutupi lumut berwarna hijau gelap. Sinar matahari yang menembus celah dedaunan jatuh membentuk garis-garis cahaya keemasan di atas tanah hutan yang lembap.
Aroma tanah basah dan daun-daun yang membusuk memenuhi udara.
Pemandangan itu bahkan terasa indah.
Seandainya ia tidak mengetahui alasan dirinya berada di sana.
Lin Chen terus berjalan.
Ia mengikuti arah utara sesuai petunjuk pada peta sederhana yang diberikan klan.
Meski peta itu tampak dibuat dengan asal-asalan, setidaknya masih cukup berguna sebagai penunjuk arah.
Waktu berlalu perlahan.
Empat jam.
Lima jam.
Ia tidak berhenti kecuali untuk meminum sedikit air.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali ia mendengar suara gerakan dari balik semak-semak.
Seekor kadal liar berukuran besar berlari melintasi jalurnya.
Sekelompok babi hutan terlihat mencari makan di antara akar pohon.
Bahkan sekali ia melihat ular raksasa melilit cabang pohon tinggi puluhan meter di atas tanah.
Namun tidak ada satu pun yang menyerangnya.
Mungkin karena kekuatan yang dimilikinya terlalu lemah untuk dianggap ancaman.
Atau mungkin karena keberadaannya terlalu tidak berarti untuk menarik perhatian makhluk-makhluk itu.
Menjelang senja, Lin Chen akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat.
Tiga bongkahan batu besar berdiri saling bersandar membentuk ruang alami yang cukup luas untuk satu orang.
Bagian dalamnya kering dan terlindung dari angin.
Selain itu, letaknya berada di lereng yang sedikit lebih tinggi sehingga ia dapat mengawasi area sekitarnya dengan mudah.
Tanpa membuang waktu, ia meletakkan tasnya dan duduk bersandar pada dinding batu.
Tubuhnya terasa lelah setelah berjalan seharian.
Namun anehnya, pikirannya justru terasa lebih ringan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tidak ada seorang pun yang mengawasinya.
Tidak ada tatapan meremehkan.
Tidak ada bisikan ejekan.
Tidak ada penilaian yang membandingkan dirinya dengan orang lain.
Tidak ada Wei Hao.
Tidak ada Yue Suyin.
Tidak ada para tetua yang memandangnya sebagai beban.
Yang ada hanya suara angin yang berembus di antara pepohonan dan suara serangga malam yang mulai bermunculan.
Hanya dirinya sendiri.
Lin Chen mengeluarkan peta dari dalam tas dan mempelajarinya sebentar.
Namun tidak lama kemudian, ia menggulung kembali peta itu.
Saat ini tidak ada yang perlu dipikirkan.
Besok ia bisa mulai mencari tanaman obat.
Malam ini ia hanya ingin menikmati ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Ia menyandarkan kepala ke batu dan memejamkan mata.
Angin pegunungan yang sejuk menyapu wajahnya.
Perlahan, napasnya menjadi lebih tenang.
"Baiklah..."
Suara pelannya hampir tenggelam oleh desir angin.
"Mari kita lihat apa yang telah disiapkan takdir untukku."
Di tengah hutan yang luas dan asing itu, Lin Chen tidak menyadari bahwa langkah pertamanya ke Pegunungan Cang Lei telah membawa dirinya menuju perubahan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.