Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Ketukan Pena Di Meja Rapat
Siang harinya, suasana di firma hukum mendadak sibuk. Sael dan Arka sebagai tim penasihat hukum diminta oleh direktur utama mereka untuk mendampingi rapat penting bersama perwakilan dari 𝘝-𝘓𝘰𝘨𝘪𝘴𝘵𝘪𝘤 —perusahaan logistik raksasa milik keluarga Sael—yang berencana memperbarui kontrak payung hukum (𝘭𝘦𝘨𝘢𝘭 𝘤𝘰𝘳𝘱𝘰𝘳𝘢𝘵𝘦) mereka tahun ini.
Pintu ruang rapat VIP terbuka. Langkah Sael seketika terhenti saat melihat siapa yang berjalan masuk ke dalam ruangan.
Seorang pria tinggi tegap dengan kemeja putih formal yang dibalut setelan jas hitam custom-made super rapi. Rambutnya ditata klimis ke belakang, memancarkan aura otoriter, tegas, dan dingin yang sangat dominan. Di belakangnya, beberapa sekretaris mengekor dengan sikap penuh hormat.
Bukan Papanya, melainkan Kael.
Kembarannya yang tadi pagi masih mengunyah roti bakar sambil memakai baju santai, kini sudah digantikan oleh karisma seorang eksekutif muda yang disegani.
Di sebelah Kael, duduk direktur firma hukum yang langsung menyapa dengan sangat hormat.
Arka yang berada di samping Sael langsung menegakkan tubuhnya, bersiap memberikan performa terbaik demi impresi profesional di depan klien besar seperti 𝘝-𝘓𝘰𝘨𝘪𝘴𝘵𝘪𝘤.
Saat rapat dimulai dan sesi presentasi hukum berlangsung, pandangan Kael sesekali beralih ke arah Arka.
Sebagai kembaran sekaligus makcomblang Aeros, Kael tentu tahu persis siapa Arka. Dari balik berkas finansial yang ia pegang, Kael mengulas senyum tipis yang hampir tak terlihat. 𝘖𝘩, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘤𝘰𝘸𝘰𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘤𝘰𝘣𝘢-𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘫𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘭𝘬𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘦𝘳𝘰𝘴? batin Kael jenaka.
Rapat berjalan dengan penuh ketegangan, di mana Sael berusaha fokus setengah mati, sementara Kael sesekali memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan tak terduga, sengaja menguji Arka di depan meja rapat.
Saat presentasi dimulai, Arka mengambil alih kendali. Sebagai pengacara muda yang ambisius, ia ingin membuktikan kapasitasnya—terutama di depan Sael dan klien sebesar 𝘝-𝘓𝘰𝘨𝘪𝘴𝘵𝘪𝘤. Arka menjelaskan klausul demi klausul dengan lugas, sesekali melirik Sael dengan binar percaya diri.
Namun, di ujung meja panjang itu, Kael duduk dengan tenang. Tangan kanannya mengetuk-ngetuk pena mahal di atas meja, sementara matanya yang tajam menatap slide presentasi Arka tanpa ekspresi.
"Tunggu sebentar, Saudara Arka," potong Kael tenang, namun suaranya yang berat seketika membuat seisi ruangan hening.
Arka menghentikan penjelasannya, mempertahankan senyum profesionalnya. "Ya, Pak Kael? Ada yang kurang jelas di bagian klausul perlindungan aset?"
Kael menurunkan penanya, menatap Arka lurus-lurus. "Klausul hukum Perlindungan Aset di bab ini sudah rapi secara teoretis. Tapi, mari kita bahas proyeksi risiko di pasal evaluasi finansial halaman empat belas. Anda memasukkan denda keterlambatan logistik dengan skema progresif berbasis persentase flat bulanan. Di atas kertas hukum, itu terlihat aman bagi firma Anda. Tapi dari sudut pandang 𝘝-𝘓𝘰𝘨𝘪𝘴𝘵𝘪𝘤, skema itu menciptakan 𝘭𝘰𝘰𝘱𝘩𝘰𝘭𝘦 besar pada arus kas kami jika terjadi 𝘧𝘰𝘳𝘤𝘦 𝘮𝘢𝘫𝘦𝘶𝘳𝘦 di pelabuhan utama."
Arka menegakkan tubuhnya, siap mempertahankan argumennya. "Kami memilih skema itu untuk memastikan kepastian regulasi yang 𝘳𝘪𝘨𝘪𝘥, Pak Kael. Jika diubah menjadi skema dinamis, risiko ekskalasi litigasi di kemudian hari justru akan meningkat karena parameter yang bias."
"Akan mempersulit kerja tim hukum Anda, atau memperlambat efisiensi operasional kami?" skakmat Kael cepat, nadanya datar namun menusuk tepat kelemahan draf tersebut. "Saya minta skema itu dirombak total menggunakan audit forensik finansial triwulan terakhir yang sudah kami lampirkan di map. Risiko likuiditas kami jauh lebih tinggi dengan denda flat."
Tensi di dalam ruangan mendadak meningkat. Di saat Arka sempat tertahan mencari celah argumen tandingan, Sael yang sejak tadi fokus menyimak draf langsung menegakkan posisi duduknya.
"Mohon izin menyela, Pak Kael," suara Sael terdengar tenang, jernih, dan penuh percaya diri. Ia membuka tablet kerjanya dan menampilkan 𝘮𝘢𝘵𝘳𝘪𝘬𝘴 perbandingan hukum komparatif.
Kael menoleh, menatap kembarannya dengan pandangan menilai yang profesional.
"Kekhawatiran Pak Kael mengenai stabilitas arus kas 𝘝-𝘓𝘰𝘨𝘪𝘴𝘵𝘪𝘤 akibat 𝘧𝘰𝘳𝘤𝘦 𝘮𝘢𝘫𝘦𝘶𝘳𝘦 sangat valid jika kita hanya menggunakan perspektif hukum konvensional," ujar Sael tak kalah, membalikkan keadaan dengan tenang. "Oleh karena itu, draf yang disusun oleh Saudara Arka sebenarnya sudah kami lengkapi dengan klausul pengecualian di sub-pasal 14B. Skema flat hanya berlaku pada kondisi operasional normal. Jika terjadi penundaan di pelabuhan akibat otoritas negara, denda otomatis ditangguhkan."
Arka melirik Sael, sedikit terkejut sekaligus kagum dengan kecerdasan Sael yang langsung mengamankan posisinya.
Sael menatap Kael dengan senyum profesional yang tipis. "Jadi, likuiditas 𝘝-𝘓𝘰𝘨𝘪𝘴𝘵𝘪𝘤 tetap terproteksi penuh tanpa harus merombak struktur draf secara keseluruhan yang bisa memakan waktu audit ulang selama dua minggu. Bagaimana jika kita menambahkan amandemen skema batas atas (𝘤𝘢𝘱-𝘤𝘦𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨) finansial sebagai kompromi?"
Kael terdiam sesaat. Di dalam hatinya, ia berdecak kagum. Kembarannya tidak kehilangan taji sama sekali di dunia kerja, Sael bisa membaca celah finansial dan menutupnya dengan benteng hukum yang solid dalam hitungan detik.
"Ide yang impresif, Saudara Sael," ucap Kael akhirnya, mengangguk setuju dengan keputusan yang objektif. "Amandemen batas atas jauh lebih efisien. Saya terima formulasinya."
Arka yang sempat terdesak, dengan cepat menyelaraskan ritme profesionalnya kembali. Ia langsung mencatat poin amandemen tersebut. "Baik, Pak Kael. Saya dan Sael akan segera memasukkan formulasi batas atas tersebut ke dalam draf final siang ini, sebelum dokumen dikirim ke direksi utama."
Kael mengangguk puas, lalu menutup map dokumen di depannya dengan ketukan yang tegas.
"Rapat hari ini saya rasa cukup. Solusi yang sangat taktis dari tim hukum Anda," ucap Kael sambil berdiri, merapikan kancing jas formalnya.
Kael menjabat tangan Direktur Utama, Arka, dan terakhir Sael dengan senyum kecil yang tertahan.
"Terima kasih atas kerja samanya, Pak Kael," ucap Sael mengeratkan tangannya.
apakah yang ketujuh ini mereka akan.. 🤔
kenapa aku malah jadi ngitungin😄
kael menganggu aja🤣
pengen liat visualnya
ada ngga thor😍😍
apakah bakal ada cowok baru lagi...
mungkin cowok yang di luar negeri itu, yang aeros singgung di bab 1🤔🤔
semua love language dia ambil
titip pacar saya😍
jadi ikut digelitik kupu-kupu😄