NovelToon NovelToon
Zona Berondong

Zona Berondong

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Berondong / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Cahya Senja

Semoga terhibur. Jangan lupa jejak ya.

Season 1

Memimpikan pasangan yang lebih dewasa, namun selalu terjebak cinta dengan pria berusia muda.

Dia adalah Rina Malinda. Menjalin kasih dengan pria yang lebih muda bukanlah impiannya, namun rasa nyaman yang didapatkan membuatnya susah berpaling dari pesona pria muda yang berhasil masuk ke hatinya.

Restu Andika. Pintar, tampan, humoris dengan segala kesempurnaannya membuat siapa pun termasuk Rina susah menolak pesonanya.

Sempat putus dan harus menghadapi berbagai cobaan, akhirnya hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan.

Season 2
Lima tahun melalui mahligai pernikahan, Dika dan Rina belum juga dianugerahi momongan, bagaimana mereka menghadapi situasi ini?

Andre, pemuda yang selalu berdiri di belakang Dika setelah Dedi menempuh study kini berubah menjadi sosok yang tak kalah keras dengan bosnya.

Bagaimana ia melunakkan hatinya yang keras saat ia justru jatuh hati dengan Hana, wanita berbahaya dan harus dihancurkan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi atau Kembali

Rina POV

Seorang gadis dengan 3 porsi makanan di depannya. Aku yang hanya melihat sepertinya bisa kenyang tanpa makan. "Itu nanti habis Ris?"

"Habis dong Kak. Rista kan lagi masa pertumbuhan, jadi butuh makanan yang cukup. Hehehe." Rista kembali menatap makanannya dengan lapar.

"Adanya bantat kamu nanti kalau kebanyakan makan. Nutrisinya nggak seimbang lagi."

Rista beralih menatap Dedi. "Masa iya sih Kak?"

Dedi sadar Rista kini menatapnya, namun mungkin kepalang tanggung karena kini mulutnya tengah mengunyah makanan. "Gampangnya aja nih ya, apapun yang berlebihan itu nggak baik, meskipun itu makanan pada dasarnya baik dan dibutuhkan tubuh. Ngerti nggak?" Ucap Dedi sesaat setelah menelan makanannya. Dedi sepertinya sangat perhatian kepada Rista.

Rista mengangguk paham.

"Tumben lu ngomongnya bener." Dika menatap takjub sahabatnya, sebenarnya aku pun juga, namun untuk aku hal tersebut sudah lumrah untuk di ketahui, karena aku sekolah di SMA dan jurusan IPA. Tapi Dedi? Dia dan Dika belajar tentang komputer dan jaringan. Apakah mereka juga mempelajari sistem pencernaan?

"Ya emang kayak elu, lihat adiknya kayak gitu diem aja!"

Dika speechless.

"Ya Dika mungkin nggak tega mau ngelarang Rista makan, ya kan?" tanyaku pada Dika. Mencoba berfikir jika aku berada di posisi Dika.

"Ya kan adiknya ini cewek. Kalau obesitas gimana? Padahal cewek kan rempongnya suka kebangetan kalau masalah penampilan. Memangnya mau punya adik yang minder cuma gara-gara bentuk tubuh yang nggak proporsional." Dedi melanjutkan acara makannya dengan santai. Dia sama sekali tak sadar dengan perubahan pada air muka Dika.

"Aaa." Aku menyodorkan bakso kepada Dika. "Buka mulutnya."

Dika menerima suapanku dan mengunyahnya perlahan. "Makasih."

Aku tak menjawab namun kembali menyuap mi beserta sayur dari mangkok ku.

"Kok aku terus yang makan?" protes Dika karena aku kembali menyuapinya. Namun ia tetap membuka mulut setelahnya.

"Biarin, nggak bakal habis aku segini." Saat aku hendak kembali menyuapi Dika, ternyata dia sudah bersiap dengan bakso di tangannya. Mi ayam dengan toping bakso menjadi pilihan kami saat ini.

"Gantian. Aaa."

Aku membuka mulut dan mengunyahnya. Dika sudah membelah bakso itu, sehingga aku tak perlu khawatir akan penuh di mulut. Sejak awal jadian, Dika memang selalu perhatian dengan hal-hal sekecil ini. Itulah yang sebenarnya membuatku terpenjara pada zonanya.

Akhirnya kami makan dengan sesekali saling menyuapi.

"Kak Rina."

Aku segera menatap Rista yang duduk di depanku. "Kenapa?"

"Itu Kak Restu makan punya Kak Rina juga?"

"Enggak. Kakak kan juga punya makanan." Dika mengelak.

Aku tersenyum. Mungkin Rista memperhatikan aku yang sering menyuapkan makanan ke mulut Dika. "Aku suka nggak habis Ris kalau porsinya segede ini, jadi kalau pas makan sama Kakak kamu dia suka bantuin makan."

"Kan mubadzir kalau nggak habis." Dika menimpali.

"Kakak kok nggak gendut-gendut?" tanya Rista kepada kakaknya.

"Ya kan kebutuhan makan tiap orang nggak sama Ris, dan secara umum memang porsi makan laki-laki lebih banyak dari perempuan. Sistem metabolisme laki-laki juga beda sama perempuan, makanya meskipun makan banyak, cowok itu nggak segampang cewek gendutnya." Yang barusan menjawab bukan Dika melainkan Dedi. Hal ini sontak membuatku dan Dika kompak memperhatikannya.

"Kalau gitu Kak Dedi bantuin Rista habisin makanan ya," pinta Rista.

"Ogah. Ya kali makanan segitu banyak aku yang habisin."

"Ya terus gimana? Kalau dibungkus terus di makan besok masih bisa nggak?"

"Ya kalau kamu doyan makan aja."

"Ih Kakak..."

"Ya udah, sekarang makan aja sekenyangnya kamu, kalau udah mungkin aku masih kuat satu porsi, sisanya biar kakak kamu yang tanggung jawab." Dedi kembali menyalakan rokok yang entah kapan dibelinya.

"Dedi emang biasa seperhatian itu ya sama Rista?" aku memelankan suaraku saat bertanya pada Dika.

Bukannya menjawab, Dika justru menggidikan bahu. "Aku juga heran dengan mereka hari ini."

"Maksudnya?"

Dika menggerakkan tangan seolah memintaku menunda pertanyaan.

"Aku kalau keluar bentar, boleh nggak?"

"Kemana Kak?"

"Ke minimarket seberang jalan."

"Cepet balik, makanan belum di bayar," ucap Dedi tanpa mengalihkan pandangan dari seblak pesanan Rista yang hendak ia makan.

Dika merogoh saku, sepertinya ia ingin mengambil uang.

"Eh, nanti aja kamu balik terus bayarin." Tolak Dedi saat Dika menyodorkan uang.

"Oke lah. Bentar ya."

"Oke Kak."

Aku berjalan bersama Dika. "Aku baru sadar kalau ada minimarket di sini." Ucapku setelah berhasil menyeberang jalan.

"Aku tahunya juga tadi pas baru nyampe." Dika membuka pintu minimarket dan mempersilahkan aku untuk masuk terlebih dahulu. "Bisa minta tolong nggak?"

"Apa?"

"Cariin perlengkapan yang mungkin di butuhin Rista. Selama ini kan dia yang ngurus Mama, dan sekarang aku merasa tanggung jawab Mama itu pindah sama aku."

Aku menghela nafas. "Kebutuhan apa aja yang pengen kamu cariin?"

Dika menatap jajaran berbagai macam kebutuhan yang disusun memanjang di atas rak. "Aku juga nggak tahu."

"Kenapa nggak sekalian ngajak Rista?"

"Iya juga ya, tapi aku takut dia nggak leluasa kalau sama aku."

"Masa iya, kan kamu kakaknya."

Dika menghela nafas. "Bisa deh entar, tapi sama kamu juga. Kamu temenin gitu maksudnya."

"Iya," jawabku.

Dika menghela nafas. Entah sudah berapa kali ia menghela nafas semacam ini. Apakah bebanmu sungguh berat?

"Kadang aku ngerasa hidup ini tak adil. Tapi makin aku protes, makin aku tenggelam. So, cuma ada 1 pilihan ya itu terus berjalan."

Aku menepuk pelan bahu Dika, mencoba memberikan keyakinan bahwa dia mampu bertahan.

"Aw!"

Aku tersentak saat merasa rambutku dijambak secara tiba-tiba.

Plak!

Rasa panas menjalar di pipi. Aku masih syok hingga akhirnya aku sadar siapa pelakunya.

"Mas..." Rasa sakit kembali terasa saat Rio mencengkeram daguku.

"Dasar mu***an. Nomer nggak aktif nggak tahunya lagi jalan sama cowok lain. B**gsat!" Rio menghempaskan wajahku dan hendak melayangkan tamparan lagi. Refleks mataku terpejam.

"Lepasin ba***at!"

Aku membuka perlahan mataku saat mendengar umpatan itu. Ternyata Dika tengah menahan tangan Rio yang nyaris mendarat di pipiku.

"Cuma b**ci yang beraninya sama cewek. Nggak perlu kayak gini kalau kamu udah nggak suka."

Rio tersenyum miring. "Kamu nggak ada niat kan make bekas aku."

Bugh!

Aku takut, hingga berteriak pun tak mampu. Aku mundur saat Dika melayangkan pukulan yang mengenai wajah Rio.

"Yo...!"

Teriakan itu berhasil menghentikan Rio yang hendak membalas Dika. Aku melangkah dan menahan tubuh Dika dengan sekuat tenaga.

"Rin lepasin."

Aku menggeleng saat Dika memintaku melepaskannya.

Ternyata Rio sedang bersama teman-temannya, termasuk gadis yang tadi siang aku lihat. Rio berjalan mendekat dan aku tak mampu lagi menahan tubuh Dika.

"Kalian emang sam**h!"

"Jaga ucapan kamu!"

"Inget, urusan kita belum selesai." Rio mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Dia. Setelahnya dia berjalan melewati kami dan bergabung dengan teman-temannya.

"Kamu nggak apa-apa."

Samar-samar aku mendengar gadis itu menanyakan kondisi Rio. Dari nada suaranya, jelas sekali mereka bukan teman biasa.

"Rin, kamu nggak apa-apa?" tanya Dika yang menatapku dengan khawatir.

"Aku nggak apa-apa." Bibirku masih sulit untuk mengucap.

"Kita lanjut jalan atau balik aja."

Aku tak mampu menjawab, tubuhku seperti kehilangan tulang hingga tak mampu menopang berat badan. Tepat saat itu Dika membawaku duduk di kursi yang ada di depan minimarket.

"Rin, aku nggak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Rio."

Degh!

Aku belum sanggup menceritakan semua, aku takut Dika akan j**ik dan meninggalkanku.

"Tapi aku yakin Rio tak pantas buat kamu." Dika menghela nafas. "Rin, terserah kamu nganggep aku brengsek atau apa, tapi please tinggalin Rio."

"Dika..."

Belum selesai aku berucap, Dika lebih dulu meletakkan telunjuknya di depan bibirku.

"Aku masih sayang sama kamu. Dan jika kamu minta, aku nggak akan ragu untuk terus ada di samping kamu."

TBC

Nah kan, Dika berubah pikiran nggak ya kalau udah tahu alasan Rina masih bertahan sama Rio?

1
Hadimulya Mulya
yg buat crita tau gk sih prinsip bisnis,ngarang z ngarang,tapi z di buat kayak crita sungguhan gtu Lo biar critanya kayak alur crita kenyataan
Hadimulya Mulya
crita gk bermoral,apa gunanya org tua klo gtu,takut nya ada yg mencontok nya
Devia Ratna
loh loh cepet banget
王贝瑞: Mampir juga kak ke Biru si ketos bad boy dan Love My Stepbrother 😄
total 1 replies
Devia Ratna
kok dikit sih kak partnya
Devia Ratna
hana hamil
Devia Ratna
kenape lagi kau rio
Devia Ratna
ujian apalagi ni andre hana
Devia Ratna
kaaaakkkk kemana ajaaaa
mbak i
iya 😥
FatimahArsyad
beneran tamat ya senja,,, dikit bgt hana sama andre bahagia,tp yg penting sah,,,
syumkia
looohhhhh Kak Senja kok sdh end' aj.....
kurang bnyakkkkkkkk extrapart ya❤️❤️❤️❤️❤️❤️
nuraeinieni
tp bgmn dady dan ryska,,,ada kah cerita mereka happy ending jg.
nuraeinieni
akhirx up jg,,,,,rindu dgn cerita rina dan dika.
evi priastuti
kak , tolong lanjut ke cerita arga dan senja , kangen mereka
sheila
alhamdulilah....Dedi n ristanya kapan thor
ᵉˡ̳༆yuli@_sm 💜💜💜💜
yahh kog end.... hmmm gk rela
🔵MENTARY
Happy Ending Kk
Tinggal Nunggu Kisah Dedi ama Rista
Ry Benci Pakpol Mampir
🔵MENTARY
Alhamdulillah akhirnya Andre dan Hana
Menikah jg
nur arifin
loh loh. kok belum rela
Aisyah Khumairah
Seru author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!