Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Elora tercengang begitu melangkah lebih jauh ke dalam rumah Maria.
Rumah itu sangat besar—terlalu besar untuk disebut hangat. Langit-langit tinggi, lantai marmer mengilap, dinding-dinding kokoh dengan lukisan mahal. Namun di balik kemewahan itu, Elora merasakan sesuatu yang hampa. Sunyi menggantung di setiap sudut, dingin merayap pelan hingga ke tulang.
Tak ada suara tawa.
Tak ada kehidupan.
Hanya langkah mereka yang bergema.
Elora melihat dua orang pembantu. Seorang perempuan paruh baya dengan wajah ramah namun lelah, memperkenalkan diri sebagai Hana. Satunya lagi masih muda, bernama Lola, dengan sorot mata yang penuh tanda tanya.
Hana membantu membawa tas dan koper kecil Elora, berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Namun langkahnya terhenti di depan kamar tamu yang luas dan rapi.
“Ini kamar—” Hana hendak berkata, namun Maria segera memotong.
“Bukan di sini,” ucap Maria datar. “Elora akan menempati kamar di sebelah kamar Lola.”
Hana tampak bingung. “Tapi, Nyonya… kamar itu—”
“Tak apa,” potong Maria lagi. Nada suaranya tak memberi ruang untuk bantahan.
Mereka berbelok ke lorong lain, lebih sempit dan redup. Hana membuka pintu sebuah kamar kecil—bekas kamar pembantu lama. Dindingnya polos, perabotnya sederhana: ranjang besi, lemari kecil, dan sebuah meja tua di sudut.
Hana menoleh ke Elora, jelas tak enak hati. “Maaf ya, Nak…”
Elora tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Bu. Saya terbiasa.”
Maria berdiri di ambang pintu, menatap kamar itu tanpa ekspresi. “Kau akan nyaman di sini,” katanya singkat. “Besok aku akan menjelaskan aturan rumah ini.”
Lalu ia pergi, langkahnya tegas dan dingin.
Hana meletakkan barang-barang Elora dengan hati-hati, lalu berbisik, “Kalau butuh apa-apa, bilang ke saya.”
“Terima kasih,” jawab Elora pelan.
Pintu tertutup.
Elora berdiri sendiri di kamar sempit itu. Ia menghela napas, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya merogoh tas, memastikan buku dongeng itu masih ada.
Ia memeluknya erat.
“Tak apa,” bisiknya pada diri sendiri. “Aku pernah hidup lebih sempit dari ini.”
Namun di balik ketegaran itu, satu perasaan tak bisa ia tepis:
rumah ini tidak sekadar dingin.
MAlam itu, Elora tak langsung tertidur.
Ia berbaring memunggungi dinding, menatap langit-langit kamar yang retaknya membentuk garis-garis aneh. Dari balik tembok tipis, terdengar langkah kaki Maria mondar-mandir di kamarnya sendiri—pelan, teratur, seolah menghitung sesuatu yang tak kasatmata.
Rumah ini hidup, pikir Elora.
Namun hidup dengan caranya sendiri.
Ia bangkit, duduk di tepi ranjang, lalu membuka buku dongeng itu. Sampulnya terasa hangat, seperti biasa. Namun ketika ia membuka halaman-halamannya, cahaya keemasan yang dulu menyala kini meredup. Tulisan-tulisan itu masih ada, tetapi samar—seakan menunggu.
“Kalau kau masih di sana…” bisiknya, hampir tak terdengar. “Tunggulah aku.”
Ketukan pelan di pintu membuatnya tersentak.
“Elora?” suara itu lirih. Lola.
Elora membuka pintu sedikit. Lola berdiri di lorong, membawa selimut tambahan. Wajahnya ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu namun takut.
“Ini… buat kamu,” katanya. “Kamar ini dingin.”
“Terima kasih,” jawab Elora tulus.
Esok harinya, pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat jendela tinggi rumah itu.
Elora sudah bersiap lebih dulu. Ia mengenakan pakaian sederhana, rambutnya diikat rapi. Wajahnya masih menyimpan lelah, namun matanya jernih—seolah ia memaksa diri untuk tetap kuat.
Hana menunggunya di dapur. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, senyum yang terasa asing namun menenangkan di rumah sebesar ini.
“Nyonya Maria masih tidur,” ucap Hana pelan sambil merapikan tas belanja. “Kalau belanja pagi begini, pasar masih sepi.”
Elora mengangguk. “Terima kasih sudah mengajakku, Bu.”
Mereka keluar melalui pintu samping. Mobil hitam milik rumah itu sudah menunggu, dengan sopir pribadi Maria di balik kemudi. Laki-laki itu hanya mengangguk singkat, tak banyak bicara.
Sepanjang perjalanan, Elora menatap keluar jendela. Kota itu terasa berbeda dari yang ia kenal—lebih sibuk, lebih keras. Namun di sela hiruk-pikuk itu, ia justru merasa ringan, seolah untuk sesaat bisa bernapas jauh dari bayang-bayang rumah besar yang dingin.
Di pasar, aroma sayur segar, rempah, dan tanah basah menyambut mereka. Hana berjalan lincah, sesekali menyapa pedagang yang sudah ia kenal.
“Elora,” katanya sambil memilih tomat, “kamu dari panti, ya?”
Elora mengangguk. “Sejak kecil.”
Hana terdiam sejenak. “Pasti berat.”
“Sudah terbiasa,” jawab Elora sambil tersenyum kecil.
Hana meliriknya, sorot matanya lembut. “Tidak semua orang bisa setegar itu.”
Mereka melanjutkan belanja. Di sela-sela keramaian, Elora merasa seperti kembali ke dunia yang lebih nyata—dunia yang berdenyut, yang hidup. Ia hampir lupa pada lorong sunyi dan pintu kayu tua di rumah Maria.
Namun saat mereka hendak kembali, Elora berhenti mendadak.
Di ujung pasar, sebuah toko buku tua berdiri. Kecil, nyaris tersembunyi di antara kios-kios lain. Jantung Elora berdegup lebih cepat.
“Bu Hana,” katanya pelan, “bolehkah saya sebentar?”
Hana mengikuti arah pandang Elora, lalu mengangguk. “Pergilah. Ibu tunggu di sini.”
Elora melangkah mendekat ke toko buku itu. Rak-rak kayunya penuh buku usang. Dan di etalase kecilnya, ia melihat sesuatu yang membuat napasnya tercekat
sebuah buku dengan sampul yang nyaris sama.
Judulnya samar, namun satu kata terbaca jelas: Cahaya.
Elora melangkah di antara rak-rak buku yang berderit pelan saat disentuh. Aroma kertas tua memenuhi udara, menenangkan sekaligus membuat dadanya terasa sesak oleh kenangan yang tak ia pahami sepenuhnya.
Saat ia berbelok di sudut rak, seseorang menabraknya ringan.
“Oh—maaf,” ucap Elora refleks, mundur setengah langkah.
Laki-laki itu mengenakan hoodie hitam, tudungnya menutupi sebagian wajah. Ia hanya mengangguk singkat, tak berkata apa-apa. Sorot matanya gelap, dalam—dan entah mengapa, membuat jantung Elora berdetak lebih cepat.
“Tidak apa-apa,” lanjut Elora, sedikit canggung.
Laki-laki itu tetap diam. Namun sebelum melangkah pergi, ia menoleh sekilas, menatap Elora lebih lama dari seharusnya.
Ada sesuatu di tatapan itu.
Bukan tajam. Bukan mengancam.
Melainkan… rindu yang tak semestinya dimiliki orang asing.
Elora melangkah menjauh, berusaha menepis perasaan aneh itu. Namun ia bisa merasakan kehadiran laki-laki itu di belakangnya seolah langkah mereka selalu berada dalam jarak yang sama.
Di rak dongeng klasik, Elora berhenti. Ia mengambil sebuah buku, membalik halamannya. Dan saat ia menoleh ke pantulan kaca rak, bayangan hoodie hitam itu masih ada.
Ia memperhatikannya.
Sejak tadi.
“Kenapa aku merasa…” Elora berbisik pada dirinya sendiri. “Aku mengenalnya?”
Laki-laki itu akhirnya mendekat, berdiri di rak seberang. Tangannya mengambil buku yang sama dengan yang Elora pegang.
Judulnya: Pangeran Tidur.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.
Laki-laki itu menurunkan sedikit tudungnya. Wajahnya terlihat lebih jelas tegas, pucat, dengan mata yang menyimpan kelelahan panjang.
Elora menahan napas. Matanya membola seketika
Saat ia melihat wajah laki-laki didepannya itu.
"Arelion..."ucapnya sangat pelan.
Sedangkan Arelion hanya menatapnya sekilas dan segera pergi.