Kalian pernah membayangkan gimana kalau jodoh kita berada dideket kita? Mungkin seperti dosen kita sendiri gimana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mputriniar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 | Pertemuan Aku dan Wanita itu
Hari ini aku kembali kuliah dan Kak Adnan harus mengajar juga.
Seperti biasa aku menyiapkan sarapan untuk kita dan merapihkan piring sisa sarapan.
Jadi kalian jangan bosan iya karena itu rutinitas ku. Menyiapkan sarapan terus merapihkan nya baru cus berangkat kampus.
\# Kampus
Kita pun sampai di parkiran kampus dan aku langsung turun tidak lupa aku mencium tangan Mas Adnan.
Aku menjalani kuliah ku dengan seperti biasa dan hari ini ada mata kuliah dari mas adnan. Iya seperti yang sudah kita ketahui mas adnan akan berubah 100° ketika sedang mengajar.
Entahlah iya kalau kalian jadi aku rasanya ingin ketawa aja si ketika mengingat sifat mas adnan waktu ke umi nya.
Iya sudah lah iya jangan bahas dia lagi. Sekarang aku sudah selesai kuliah ku hari juga Anum pamit pulang lebih cepat ke aku karena katanya ada urusan penting padahal aku ingin mengajak dia ke kafe baru di kampus, iya sudah lah lah lain kali saja.
Aku berjalan ke parkiran ketika sampai di parkiran Mas Adnan belum ada. Akhirnya aku memilih menunggu mas adnan di kafe baru saja mumpung lokasi nya tidak jauh dari parkiran.
Aku memesan minuman dan makanan sambil menunggu mas adnan. Hampir satu jam aku menunggu dan akhirnya mas adnan datang juga.
" Maaf iya lama. " Kalimat pertama yang dia ucapkan, aku tidak lupa mencium tangannya mungkin aku sekarang lebih berani kali iya mencium tangan mas adnan di hadapan umum. Menurutku sekarang toh cepat atau lambat status ku dan mas adnan akan ke bongkar juga.
" Iya enggak apa-apa mas. " Ucap ku sambil meminum minuman ku.
" Maaf banget tadi banyak tugas yang harus mas selesaikan. " Ucapnya yang terus meminta maaf kepada ku.
" Sudah enggak apa-apa mas, mas mau pesan apa?. " Aku menawarkan dia untuk pesan apa.
Mas Adnan langsung memesan minuman, kita menghabiskan siang hari dengan cuaca yang sangat panas di kafe ini.
" Oh iya mas tadi mbok bilang kebutuhan di rumah sudah ada beberapa yang habis, apa nanti kita bisa singgah ke swalayan dulu. " Ucapku.
" Iya bisa, sekarang aja yuk nanti keburu sore. " Ucapnya yang langsung menyeruput habis minumannya.
# Swalayan
Aku percepat iya karena tadi di perjalanan menuju sini agak sedikit macet maklum iya ibu kota kalau tidak macet kayaknya enggak seru deh.
Ditengah ketika kita sedang asik belanja aku dan Mas Adnan bertemu wanita yang memeluk bahkan mencium Mas Adnan tempo hari di kantor.
" Hay Adnan." Ucap wanita itu yang menghampiri dan hampir memeluk Mas Adnan tapi Mas Adnan mengelak nya.
Fiks ini mungkin yang di namakan definisi wanita gatel seperti ini.
" Eum del sorry. " Ucap mas adnan sambil mengelak.
" Kenapa si nan kamu selalu menghindar seperti ini, Ayolah nan. " Ucapnya yang masih berusaha memeluk mas adnan.
" Del no. " Ucap mas adnan.
" Kenapa sih?! oh aku tau kamu begini karena wanita ini kan, memang dia siapa?." Tanyanya.
" Dia istriku. " Ucap Mas Adnan.
" Istri? Adnan adnan mana janji mu dulu yang bilang kalau kamu akan setia sama aku ketika aku ke Aussie dulu. " Ucap wanita itu.
" Janji? janji apa aku sama kamu? janji setia bukannya kamu yang lebih dulu selingkuh dari ku ketika mau ke Aussie. Ah sudah lah iya del aku enggak mau ada keributan di sini. " Ucap Mas Adnan.
" Apa hebat nya dia di banding aku Nan. " Ucap Wanita.
" Del cukup iya aku capek untuk jelasin gimana lagi ke kamu dan ingat aku dan kamu sekarang hanya sebatas TEMAN tidak lebih PAHAM!. " Ucap Mas Adnan.
Mas Adnan menarik ku tapi wanita itu memanggil kita.
" Tunggu. "
Aku dan mas adnan menengok ke arahnya
" Siapa nama mu?. " Tanya nya.
" Aku?. " jujur aku bingung dia nanya siapa jadi dengan pede nya aku menunjuk diri ku sendiri saja.
" Iya kamu. " Ucapnya.
" Afifah. " Ucapku dengan sangat amat berusaha lembut dan tersenyum di hadapannya.
" Delisa. " Ucapnya yang menjabat tangan ku.
" Eum, sebelumnya aku minta maaf untuk soal yang tadi. Iya mungkin benar kata mas adnan aku dan dia sekarang hanya teman saja tidak lebih. " Ucap nya.
" Enggak apa-apa ko namanya juga manusia pasti ada salah nya juga ko. " Ucap ku.
" Kalau gitu aku duluan iya. Have fun kalian berdua. " Ucapnya yang langsung pergi.
Setelah dia pergi mas adnan berucap
" kamu harus hati-hati oke delisa itu enggak akan mudah meminta maaf ke orang. " Ucap Mas Adnan.
" Mas sudah lah, kita harus percaya sama mbak delisa oke. " Ucap ku.
Aku jadi ke ingat ucapan bunda yang mengatakan bahwa kita harus percaya sama orang lain, memaafkan orang lain dan jangan melihat orang hanya dari cover nya.
Untuk sekarang aku hanya bisa lihat dan ikuti saja alur nya bagaimana delisa nanti.
" Hei ngapain diri disitu kaya patung. Aku kira tadi kamu jalan di samping aku." Ucap Mas Adnan.
" Ah enggak ko Mas tadi lagi liat-liat aja siapa tau ada yang harus dibeli." Ucapku.
Belanja hari ini sudah selesai aku dan Kak Adnan langsung menuju rumah karena ini sudah hampir Ashar.
Setelah sepuluh menit kita akhirnya sampai rumah, aku langsung membantu Mbok Sum merapikan belanja.
'Fiuh Akhirnya selesai juga.' ucapku dalam hati.
" Mbok Fifah ke kamar dulu ya mau mandi." Ucapku dan Mbok hanya mengangguk lalu tersenyum.
Aku langsung masuk kamar dan mengambil handuk lalu mandi deh.
Ketika aku keluar kamar Mas Adnan memandangi aku terus cukup risih si
"Mas bisa kan ngeliat aku nya b aja engga usah begitu udah kaya apaan tau tuh mata mau lompat dari tempatnya." Ucapku.
" Bentar-bentar apa tadi, b aja? apaan tuh b aja?. " Tanyanya.
Aduh afifah kenapa kamu harus menggunakan bahasa yang dosen killer engga tau. Eum, maklum dosen killer ini kan sudah tua jadi enggak ngerti bahasa gaul kan hidupnya sama buku-buku tebal terus hehehe.
" Eum b aja itu, biasa aja gitu maksudnya." Ucapku.
Mas Adnan bangun dari kasur dan berjalan ke arahku.
" Makanya kalau ngomong sama aku jangan menggunakan bahasa alien kan bisa menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Pakai segala apaan tuh tadi, B aja. " Ucap Mas Adnan.
" Norak. " Setelah mengucapkan itu spontan ku menutup mulutku.
" Apa norak? berani iya ngatain aku. "
Terjadi lah acara kejar-kejaran dalam kamar.
Aku merasa setelah kejadian itu hubungan aku sama mas adnan lebih membaik dan ku harap ini akan selama nya begini.
Aku mencintai mu Mas Adnan, Sarangheo opa kata anak jaman sekarang gitu.