NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2)

Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Kehancuran

Malam di Benua Selatan Alam Spiritual tidak pernah terasa setenang ini. Namun, ketenangan itu bukanlah kedamaian, melainkan kebisuan yang lahir dari teror. Angin yang berhembus melintasi Wilayah Besi Berdarah membawa bau abu vulkanik dan anyir darah yang luar biasa pekat, menceritakan sebuah tragedi yang akan mengguncang Sembilan Cakrawala.

Jauh di atas awan, sesosok pemuda berjubah hitam melesat membelah langit malam. Sayap Iblis Malam di punggungnya mengepak tanpa suara, membiaskan cahaya dua bulan sabit pucat yang menggantung di angkasa.

Shen Yuan terbang menjauhi reruntuhan Gunung Karang Hitam. Di wajahnya tidak ada mabuk kemenangan, hanya ada ketenangan sedingin es abadi. Memusnahkan Istana Pedang Besi dan membantai ratusan ahli Peleburan Jiwa hanyalah langkah pembuka.

"Kuil Dewa Perak tidak akan tinggal diam," gumam Shen Yuan. "Lentera jiwa Tie Wuhen dan para Penatuanya pasti sudah pecah di markas mereka. Pasukan pelacak dari sekte raksasa itu akan segera menyisir setiap inci Wilayah Besi Berdarah."

Setelah terbang sejauh ribuan li ke arah barat, kesadaran spiritual Shen Yuan menangkap sebuah lembah sunyi yang dipenuhi oleh pilar-pilar batu kapur raksasa. Lembah itu sangat terpencil, tidak memancarkan hawa murni yang kuat sehingga jarang dikunjungi oleh siluman maupun pendekar.

Ia menukik turun, mendarat di dasar sebuah ngarai yang tertutup bayang-bayang pilar batu. Dengan satu lambaian tangannya, hawa murni iblis meledak dan melubangi tebing kapur, menciptakan sebuah gua sementara sedalam sepuluh tombak. Ia melangkah masuk, menjentikkan jarinya untuk menciptakan dinding batu yang menutup pintu gua, dan melapisi dindingnya dengan Sutra Penelan Surga agar tidak ada seberkas pun auranya yang bocor ke luar.

Di dalam kegelapan mutlak, Shen Yuan duduk bersila.

Dantian-nya yang kini berupa lautan cairan spiritual bergolak pelan. Wujud Jiwa bayi iblis yang mengambang di tengah lautan itu memancarkan kilau merah darah, mencerna dan menyerap sisa-sisa esensi dari ratusan ahli Peleburan Jiwa yang ia bantai sebelumnya. Fondasinya di Puncak Tahap Awal Peleburan Jiwa kini benar-benar padat dan tak tergoyahkan.

"Sebelum mereka menemukanku, aku harus meningkatkan ketajaman taringku," bisik Shen Yuan.

Tangan kirinya merogoh Cincin Giok Pusaka yang ia rampas dari Aula Pusaka Istana Pedang Besi. Sebuah botol kristal memanjang ditarik keluar. Di dalam botol itu, cairan berwarna perak kebiruan yang sangat kental memancarkan pendaran cahaya suci, seolah-olah ribuan bintang ditumbuk dan dicairkan ke dalamnya.

Cairan Inti Bintang.

"Leluhur," batin Shen Yuan. "Kau bilang cairan ini bisa membangkitkan Roh Pedang?"

"Benar, Bocah," suara Leluhur Darah terdengar bersemangat di dalam jantungnya. "Pecahan Gigi Naga adalah pusaka kuno yang umurnya mungkin lebih tua dari sekte raksasa mana pun di benua ini. Saat Tuan Tanah Hantu menemukannya, pedang itu sudah patah dan mati. Namun, bahan dasar pedang itu... Sisik Naga Hitam Purba... memiliki daya serap dan kemampuan pemulihan diri yang tidak masuk akal. Memandikannya dengan Cairan Inti Bintang yang sarat akan kaidah ruang dan penciptaan akan membangkitkan kesadaran yang tertidur di dalamnya!"

Shen Yuan tidak membuang waktu. Ia mencabut Pecahan Gigi Naga dari punggungnya dan meletakkannya mengambang di udara di depannya dengan bantuan hawa murni. Pedang itu masih tumpul, hitam berkarat, hanya menyisakan aura kematian yang pekat.

Dengan hati-hati, Shen Yuan membuka sumbat botol kristal tersebut.

Wuuuuung!

Seketika, hawa murni alam yang luar biasa berat dan murni meledak memenuhi gua kecil itu. Cahaya perak menyilaukan menerangi wajah Shen Yuan.

Ia memandu cairan kental itu menggunakan Sutra Penelan Surga. Bukannya menghisapnya ke dalam tubuh, ia mengarahkan cairan bintang tersebut untuk menyelimuti seluruh permukaan Pecahan Gigi Naga.

Cshhhhhh!

Begitu Cairan Inti Bintang menyentuh bilah pedang yang berkarat, suara mendesis tajam terdengar, menyerupai erangan makhluk hidup yang kehausan. Karat-karat purbakala yang menempel selama ribuan tahun mulai mendidih dan mengelupas, rontok menjadi abu kehitaman.

Bilah pedang itu menyerap cairan perak tersebut dengan kerakusan yang setara dengan tuannya!

Shen Yuan terus mengalirkan hawa murni iblisnya ke dalam pedang itu, memastikan ikatan jiwanya terjalin erat dengan proses kebangkitan tersebut. Di bawah siraman energi bintang dan hawa murni iblis, wujud asli dari pusaka itu akhirnya terungkap.

Bilahnya berwarna hitam sepekat jurang malam, tanpa sedikit pun pantulan cahaya. Namun, di sepanjang mata pedang dan di tengah bilahnya, urat-urat ukiran sisik naga kini menyala dengan cahaya perak kebiruan yang berdenyut seirama dengan detak jantung Shen Yuan. Meskipun ujungnya masih patah, ketajaman yang menguar darinya sanggup membelah udara di dalam gua hingga berbunyi desingan tajam.

Kreeeaak!

Tiba-tiba, pedang itu bergetar hebat. Sebuah tekanan mental yang sangat buas, kuno, dan liar meledak dari dalam bilah pedang, menabrak lautan kesadaran Shen Yuan!

"Ia memberontak! Roh Pedang yang baru lahir mencoba menolak tunduk pada manusia!" teriak Leluhur Darah.

"Menolakku?!"

Mata Shen Yuan menyala dengan kilatan merah darah. Wujud Jiwa Iblis di dalam Dantian-nya membuka mulutnya dan mengeluarkan auman tanpa suara.

"Kau hanyalah segumpal besi berkarat sebelum aku memberimu makan darah para tiran! Jika kau tidak mau tunduk padaku, maka aku akan menghancurkan kesadaranmu dan mengembalikanmu menjadi rongsokan!"

Sutra Penelan Surga, Putaran Penundukan Jiwa!

Hawa murni merah kehitaman yang mengandung kehendak mutlak sang Iblis Penelan Surga menghantam pedang tersebut. Shen Yuan mencengkeram gagang Pecahan Gigi Naga dengan tangan kosongnya. Sengatan energi liar dari Roh Pedang mencoba merobek telapak tangannya, namun Tubuh Emas Gelap-nya menahan setiap inci pemberontakan itu.

Pertarungan kehendak terjadi di dalam gua sunyi tersebut.

Sang Iblis menekan sang Naga. Hawa murni iblis merayap menyusuri urat-urat perak di pedang itu, secara paksa menanamkan stempel jiwa Shen Yuan di inti kesadaran pedang yang baru lahir tersebut.

Deng... Deng... Deng...

Setelah lima belas tarikan napas yang menegangkan, pedang itu akhirnya berhenti bergetar. Cahaya perak di bilahnya meredup menjadi denyutan yang tenang dan patuh. Sebuah perasaan keterikatan yang sangat aneh muncul di benak Shen Yuan; ia merasa pedang ini kini adalah perpanjangan langsung dari lengannya, memiliki naluri membunuh yang menyatu dengan pikirannya.

"Tunduklah," bisik Shen Yuan dengan senyum puas. "Aku akan membawamu meminum darah para dewa."

Pedang hitam itu berdengung pelan, seolah menyetujui janji berdarah tuannya.

Di saat yang sama, puluhan ribu li dari sana.

Kuil Dewa Perak, sekte raksasa yang berdiri di atas Gunung Pilar Langit, merupakan pusat kekuasaan mutlak di Benua Selatan Alam Spiritual. Istana-istana mereka terbuat dari kristal es dan perak murni, melayang di atas lautan awan yang menolak segala bentuk kekotoran fana.

Namun, di dalam Balai Takdir Bintang—sebuah ruangan melingkar tempat memantau keadaan sekte bawahan mereka—suasana sedang dilanda kepanikan yang tak terlukiskan.

Ratusan plakat giok putih yang melayang di udara, masing-masing mewakili nyawa para petinggi Istana Pedang Besi, retak dan hancur menjadi debu dalam waktu kurang dari sebatang dupa. Yang paling mengerikan, plakat giok berwarna merah darah yang berada di posisi tertinggi—plakat milik Tie Wuhen—juga telah retak dan kehilangan cahayanya.

"Pemimpin Istana Tie Wuhen... telah mati," gumam seorang Penatua penjaga balai, tubuhnya jatuh terduduk ke lantai pualam. "B-Bukan hanya dia... seluruh Penatua Peleburan Jiwa mereka... musnah."

Berita kehancuran sekte bawahan terkuat mereka menyebar bagai badai. Hanya dalam hitungan menit, tiga sosok bercahaya perak melesat menembus atap Balai Takdir Bintang.

Mereka adalah tiga Pelindung Bintang dari Kuil Dewa Perak! Masing-masing dari mereka mengenakan zirah perak penuh, dan memancarkan aura yang membuat udara di sekitar mereka melengkung. Mereka berada di Ranah Pemisahan Duniawi!

"Apa yang terjadi di Wilayah Besi Berdarah?!" raung Pelindung Bintang Tiga, suaranya menggelegar menghancurkan sisa-sisa plakat giok yang masih utuh. "Istana Pedang Besi adalah lumbung utama penyuplai Bijih Bintang kita! Siapa yang berani menghancurkan mereka?!"

"K-Kami tidak tahu, Tuan Pelindung!" Penatua penjaga balai bersujud memohon ampun. "Kematian mereka terjadi hampir secara bersamaan. Tidak ada isyarat panggilan bantuan. Tidak ada pesan terakhir. Mereka... mereka seperti dihabisi oleh satu kekuatan mutlak dalam sekejap!"

Pelindung Bintang Lima, yang suaranya terdengar seperti wanita namun sedingin badai salju, menyipitkan matanya di balik topeng peraknya. "Menghabisi Tie Wuhen dan ratusan Peleburan Jiwa dalam sekejap? Bahkan sekte raksasa dari benua tetangga tidak akan bisa melakukannya tanpa memicu perang terbuka yang mencolok."

"Hanya ada satu penjelasan," Pelindung Bintang Dua, sosok dengan aura paling menindas di antara ketiganya, angkat bicara. "Ada iblis tingkat tinggi yang menyusup ke wilayah kita. Kumpulkan Pasukan Anjing Perak! Aktifkan Susunan Mata Langit di seluruh Benua Selatan! Aku ingin wilayah Besi Berdarah disisir inci demi inci! Temukan pelakunya, dan bawa jiwanya hidup-hidup ke Tungku Peradilan!"

"Sesuai perintah!"

Malam itu, Kuil Dewa Perak akhirnya mengerahkan taring sesungguhnya. Ratusan kapal terbang berbentuk tombak perak melesat meninggalkan Gunung Pilar Langit, membawa ribuan algojo di Ranah Peleburan Jiwa yang dilatih khusus untuk memburu dan membunuh.

Perang antara penguasa langit dan Iblis Penelan Surga telah melewati titik tanpa kembali. Saat Shen Yuan melangkah keluar dari gua pengasingannya dengan pedang purbakala yang baru terbangkitkan, ia akan disambut oleh jaring maut terkuat yang pernah ditebarkan di Alam Spiritual.

1
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!