Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip.
Pagi itu terasa berbeda. Hana tidak tahu kenapa. Ia bangun seperti biasa. Memakai seragam, menyisir rambut, menatap cermin sedikit lebih lama dari biasanya. Jerawat kecil di pipinya masih ada, meski sudah tidak semerah kemarin.
Entah kenapa ia terus teringat dengan ucapan Kenzo.
“Kamu memang cantik.” Katanya
Ia menggeleng pelan, seolah ingin mengusir kalimat itu dari kepalanya. Itu cuma percakapan singkat. Tidak ada yang istimewa. Seharusnya begitu. Namun, begitu ia melangkah memasuki gerbang sekolah—
Beberapa kepala langsung menoleh padanya. Hana tidak langsung sadar. Ia berjalan seperti biasa, tas di bahu, langkah tenang. Tapi sampai dengan bisikan-bisikan itu sampai di telinganya. Pelan. Terputus-putus. Tetapi terdengar jelas, seolah mereka ingin Hana mendengarnya.
“Eh cewek itu bukan?"
Iya dia…”
Langkah Hana melambat sedikit. Ia menoleh sekilas ke kiri. Dua siswi kelas sebelah buru-buru mengalihkan pandangan sambil pura-pura tertawa.
Dadanya mulai terasa tidak nyaman.
(Mereka ngomongin apa?) Pikir Hana
Ia mencoba bersikap biasa. Mungkin hanya perasaan saja. Namun, semakin ia berjalan menyusuri koridor, semakin terasa jelas. Tatapan itu.
Ada yang terang-terangan melihatnya dari ujung kepala sampai kaki. Ada yang berbisik di balik tangan. Bahkan ada yang tersenyum tipis dengan ekspresi sulit ditebak.
Hana menelan ludah. Ia mempercepat langkah menuju kelas. Begitu masuk, suasana tidak jauh berbeda. Beberapa anak yang sudah duduk langsung terdiam sepersekian detik saat melihatnya. Lalu kembali berbisik.
Gio yang biasanya ribut pagi-pagi pun kali ini hanya melirik sekilas, ekspresinya terlihat. Hana pura-pura tidak melihat. Ia menuju bangkunya.
Nisa sudah duduk di sana. Namun, kali ini, Nisa tidak langsung menyapanya dengan ceria seperti biasa. Ia menatap Hana dengan ekspresi campuran antara penasaran dan canggung.
“Hana,” katanya pelan.
“Iya?”
Nisa menggigit bibir bawahnya sebentar. “Kamu… nggak lihat?” Tanyanya sambil gugup
“Lihat apa?” Jawab Hana sedikit bingung
Nisa tidak langsung menjawab. Ia justru mengeluarkan ponsel dari tasnya. Jantung Hana tiba-tiba berdetak lebih cepat.
“Nis, ada apa sih?" Desak Hana penasaran
Nisa menoleh ke sekeliling sebentar, memastikan tidak ada yang terlalu memperhatikan.
“Kamu nggak buka story siapa-siapa pagi ini?” Tanya Nisa sedikit terdengar ambigu di telinga Hana.
Hana menggeleng. “Aku jarang buka.”
Nisa menarik napas keci lalu menyodorkan handphonenya. “Ini… lagi nyebar.”
Hana merasa ujung jarinya mulai dingin. “Apaan?”
Tanpa banyak kata, Hana mengambil handphone Nisa dan melihat apa yang ada di sana. Begitu melihatnya, Hana membeku sejenak. Foto itu.
Itu dirinya. Duduk di bangku taman belakang sekolah. Berhadapan dengan Kenzo. Sudut pengambilannya membuat jarak mereka terlihat lebih dekat dari yang sebenarnya. Kenzo tampak sedikit mencondongkan tubuh. Hana terlihat menunduk, wajahnya tertangkap dalam ekspresi malu yang samar.
Di bawah foto itu ada tulisan kecil: “Ketos sama adek kelas ya sekarang?” dengan beberapa emoji.
Di bawahnya, terdapat banyak komentar yang tidak mengenakkan.
“Seriusan?” “Wah wah wah…” “Baru juga masuk sekolah.” “Kok Kenzo mau ya sama cewek kayak begitu"
Hana merasa suara di sekitarnya menghilang. Seolah ruangan tiba-tiba hening.
“Itu… dari mana?” suaranya nyaris berbisik.
“Katanya ada yang ngambil kemarin,” jawab Nisa pelan.
“Terus di-share di close friends, tapi kayaknya ada yang screenshot lalu disebar lagi."
Hana menatap foto itu lagi. Ia bahkan tidak sadar ada yang memotret. Perutnya seketika terasa mual. Kepalanya pusing.
“Ini cuma… ngobrol biasa.” katanya, lebih pada dirinya sendiri.
Nisa menatapnya. “Kamu sama Kak Kenzo… deket?”
Pertanyaan itu terasa seperti jarum kecil yang menusuk Hana, tidak sakit tetapi jika banyak maka akan terasa sakit.
“Enggak,” jawab Hana cepat. “Cuma ketemu di taman. Kebetulan.”
Nisa terdiam sejenak mendengar hal itu. Hana yang melihat ekspresinya pun tahu bahwa dia tidak percaya dengannya.
Di seberang kelas, terdengar suara tawa kecil.
“Eh, udah datang tuh orangnya.”
Hana tahu itu tentang dirinya. Ia bisa merasakannya. Pipi kirinya terasa panas lagi—bukan karena jerawat kali ini, tapi karena malu.
“Aku nggak tahu ada yang foto,” katanya lirih.
“Aku percaya,” jawab Nisa cepat. “Cuma… orang-orang kan nggak tahu.”
Hana mengangkat pandangan. Beberapa pasang mata langsung mengalihkan arah. Ia ingin menghilang saja.
Pintu kelas terbuka.
Eliza masuk, lalu berhenti sepersekian detik ketika melihat Hana. Tatapannya turun ke layar ponsel Nisa, lalu kembali ke wajah Hana.
“Oh,” gumamnya pelan.
Tidak ada senyuman. Tidak juga komentar. Ia berjalan ke tempat duduknya. Hana tidak tahu mana yang lebih buruk—komentar terang-terangan atau tatapan tanpa kata seperti itu.
Beberapa menit kemudian, Arga masuk. Ia terlihat seperti biasa. Namun, begitu duduk, ponselnya bergetar. Ia melihat layar sekilas. Ekspresinya berubah tipis. Ia menoleh ke arah Hana.
Tatapan mereka seketika bertemu, tetapi hanya sebentar. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada penghakiman. Tapi Hana tahu— Arga juga pasti sudah melihatnya.
Bel masuk berbunyi. Guru masuk tak lama setelah itu, membuat kelas sedikit lebih tenang. Namun, bisik-bisik masih menyebar di udara.
Hana mencoba fokus pada buku di depannya. Namun, bayangan foto itu terus muncul di kepalanya. Sudut pengambilan yang menipu. Ekspresi yang mudah disalahartikan. Dan tulisan kecil yang seolah menyimpulkan sesuatu yang bahkan belum pernah ia pikirkan, ditambah lagi berbagai komentar yang mencela dirinya.
Tangannya mengepal pelan di bawah meja.
“Han…” bisik Nisa.
Hana menoleh sejenak.
“Kamu nggak apa-apa?”
Ia ingin menjawab jujur. Bahwa ia tidak apa-apa. Bahwa ini hanya salah paham kecil. Bahwa besok semua orang akan lupa. Tapi yang keluar hanya anggukan kecil yang tidak sepenuhnya meyakinkan.
Di belakangnya, terdengar suara samar.
“Pantes aja kemarin dipanggil cantik.” Tawa kecil menyusul.
Hana menatap papan tulis kosong di depan. Untuk pertama kalinya sejak masuk sekolah ini—Ia merasa benar-benar diperhatikan. Dan bukan dengan cara yang ia inginkan. Di luar kelas, notifikasi terus berdatangan di ponsel banyak orang.
Foto itu belum berhenti menyebar, saat itu juga Hana baru saja menyadari— Kadang satu momen kecil yang terasa biasa saja… Bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.