NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Novita keluar dari ruangan Andra dengan langkah yang jauh lebih berat daripada saat ia masuk tadi. Pintu di belakangnya tertutup perlahan, meninggalkan gema kecil yang terasa seperti penutup dari percakapan yang baru saja terjadi di dalam ruangan itu.

Wajahnya terlihat sedih, meski ia berusaha menahannya. Kata-kata Andra masih terngiang di kepalanya. Rasanya seperti ada sesuatu dalam hidupnya di perusahaan itu yang akan berubah mulai hari ini.

Mungkin ini adalah batas baru yang harus ia hadapi.

Mungkin juga ini adalah ujian kesabarannya.

Novita berhenti sejenak di lorong kantor. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya sempat mengepal kecil sebelum akhirnya ia menenangkan diri.

“Tenang, Novita… kamu bisa,” gumamnya pelan pada diri sendiri.

Setelah itu ia mengangkat kepalanya, memaksakan sebuah senyum di wajahnya, lalu berjalan kembali menuju ruang administrasi.

Begitu pintu ruangan dibuka, suasana di dalam langsung terasa berbeda. Yanti yang sejak tadi duduk gelisah di kursinya langsung berdiri begitu melihat Novita masuk.

“Vi!” serunya cepat. “Gimana? Kamu dipanggil Pak Andra lama banget.”

Novita menghampiri meja Yanti sambil tetap tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Udah selesai kok,” katanya santai.

Yanti mengernyit. “Serius?”

“Iya.”

“Beneran?”

Novita tertawa kecil. “Iya, Yan. Kamu ini kenapa sih sampai tiga kali nanya begitu?”

Yanti menatap wajah Novita dengan penuh selidik. Ia seolah mencoba mencari tanda-tanda kalau sahabat barunya itu sedang menyembunyikan sesuatu.

“Pak Andra marah besar ya?” tanya Yanti pelan.

Novita mengangkat bahu.

“Ya… dimarahin sedikit sih.”

“Sedikit?” Yanti langsung mendekat. “Sedikit itu gimana maksudnya?”

“Ya dimarahin biasa saja,” jawab Novita santai. “Namanya juga direktur.”

Yanti masih terlihat ragu.

“Vi… kamu jangan bohong ya.”

Novita menggeleng sambil tersenyum lembut.

“Beneran. Aku cuma diomelin sedikit karena kita ngobrolin beliau di kantor.”

Yanti langsung menutup mulutnya dengan tangan.

“Ya ampun… gara-gara aku…”

Novita cepat-cepat menepuk bahu Yanti.

“Eh, bukan gara-gara kamu. Aku juga ikut ngomong kok.”

“Tapi kalau kamu sampai dimarahin…”

Novita memotong dengan nada tenang.

“Yang penting masalahnya sudah selesai.”

Yanti masih terlihat khawatir.

Novita kemudian berkata dengan nada lebih serius.

“Yang penting sekarang kita jangan bahas Pak Andra lagi. Anggap saja kejadian tadi pelajaran.”

Yanti langsung mengangguk cepat.

“Iya! Iya! Aku janji.”

Novita tersenyum.

“Nah, gitu dong.”

Tiba-tiba Yanti memeluk Novita dengan erat.

Novita sedikit terkejut.

“Yan?”

“Makasih ya, Vi,” kata Yanti dengan suara tulus. “Kalau kamu nggak dipanggil tadi, mungkin aku yang kena masalah.”

Novita tertawa kecil sambil menepuk punggung Yanti.

“Lebay kamu.”

“Tapi bener!”

Novita tersenyum hangat.

Ia sebenarnya juga lega. Ia tidak ingin teman barunya mendapatkan masalah hanya karena obrolan iseng mereka tentang direktur yang terkenal galak itu.

“Udah, balik kerja sana,” kata Novita.

Yanti mengangguk.

Hari kerja pun berjalan seperti biasa setelah itu.

Waktu terasa berlalu cukup cepat. Tanpa terasa jam kerja hampir selesai. Suasana kantor mulai berubah menjadi lebih santai. Beberapa karyawan mulai merapikan meja mereka, mematikan komputer, dan menyiapkan tas untuk pulang.

Novita juga sedang menutup beberapa file laporan di komputernya.

Yanti berdiri di samping meja sambil meregangkan badan.

“Ah… akhirnya selesai juga,” katanya lega.

Novita tersenyum kecil.

Namun belum sempat ia benar-benar bersantai, seorang staf dari lantai atas datang menghampiri meja mereka.

“Novita?”

“Iya?”

“Pak Andra memanggil kamu.”

Yanti langsung menoleh dengan wajah panik.

“Lagi?”

Novita juga sempat terkejut, tapi ia cepat menenangkan diri.

“Ya sudah, aku ke sana dulu,” katanya sambil berdiri.

Yanti menarik lengan Novita pelan.

“Vi… kamu yakin nggak apa-apa?”

Novita tersenyum menenangkan.

“Aman.”

Setelah itu ia berjalan menuju ruangan direktur.

Beberapa menit kemudian ia keluar dari sana dengan membawa tas laptop hitam dan beberapa dokumen milik Andra.

Ia tidak banyak bicara. Ia langsung menuju lift dan turun ke area parkiran.

Udara sore terasa lebih sejuk ketika ia keluar dari gedung kantor.

Novita berdiri di dekat deretan mobil mewah milik para petinggi perusahaan. Di tangannya masih ada tas laptop dan beberapa map dokumen.

Beberapa karyawan yang sedang lewat tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran mereka.

“Eh, itu Novita kan?” bisik seseorang.

“Iya…”

“Kenapa dia bawa barangnya Pak Andra?”

“Disuruh kali.”

“Serem juga ya kerja dekat direktur.”

Novita pura-pura tidak mendengar bisikan mereka.

Tak lama kemudian, Andra muncul dari pintu gedung kantor.

Langkahnya tenang seperti biasa.

Ia langsung menuju sebuah mobil mewah berwarna hitam. Dengan menekan tombol remote, pintu mobil itu terbuka.

Andra menunjuk bagian bagasi.

“Masukkan ke sana.”

Novita mengangguk.

“Baik, Pak.”

Ia membuka bagasi dan memasukkan tas laptop serta dokumen yang dibawanya dengan hati-hati.

Setelah selesai, ia menutup bagasi dan menoleh pada Andra.

“Kalau begitu saya pamit pulang, Pak.”

Namun Andra tiba-tiba berkata,

“Tunggu.”

Novita berhenti.

“Di meja saya masih ada dokumen yang tertinggal.”

Novita kembali berdiri tegak.

“Dokumen apa, Pak?”

“Map warna hijau.”

“Baik, Pak.”

Tanpa banyak bicara, Novita kembali masuk ke gedung dan naik ke ruangan Andra.

Begitu sampai di meja direktur itu, ia langsung mencari map yang dimaksud.

Namun begitu melihat meja kerja itu, Novita langsung bingung.

Di sana ada tiga map berwarna hijau.

“Lho…”

Ia menatap ketiganya bergantian.

“Yang mana ya…”

Karena takut salah, akhirnya Novita mengambil ketiga map itu sekaligus.

“Daripada salah,” gumamnya.

Ia kembali turun ke parkiran.

Andra yang berdiri di samping mobil langsung menoleh saat melihatnya datang.

Novita menyerahkan ketiga map itu.

“Pak, ada tiga map hijau di meja Bapak, jadi saya bawa semuanya.”

Andra melihat map-map itu sekilas.

Lalu ia berkata datar,

“Salah.”

Novita berkedip.

“Maaf, Pak?”

“Yang saya maksud map warna biru.”

Novita terdiam beberapa detik.

“…Baik, Pak.”

Tanpa protes sedikit pun, ia kembali masuk ke gedung untuk ketiga kalinya.

Beberapa karyawan yang masih berada di sekitar parkiran mulai saling berpandangan.

“Kasihan juga…”

Novita akhirnya kembali lagi dengan map biru di tangannya.

Namun begitu ia sampai di depan Andra, pria itu justru berkata santai,

“Sudahlah.”

Novita berhenti.

“Pak?”

“Saya tidak jadi membutuhkannya.”

Novita menatapnya, mencoba memastikan ia tidak salah dengar.

Andra melanjutkan dengan nada datar.

“Kembalikan saja semuanya.”

Novita terdiam beberapa detik.

Namun kemudian ia mengangguk.

“Baik, Pak.”

Ia berbalik lagi menuju gedung kantor.

Langkahnya kali ini terasa lebih berat.

Tetapi wajahnya tetap tenang.

Seolah ia sudah mulai memahami sesuatu tentang pria bernama Andra itu.

Novita langsung pergi begitu mobil Andra meninggalkan perusahaan.

Dia hanya bisa diam menghadapi atasan seperti itu.

1
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!