NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:47.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Perjalanan Menuju Dasar Jurang Hitam

Kegelapan di dalam peti mati kayu pinus itu memiliki tekstur dan beratnya sendiri. Kegelapan itu pekat, absolut, dan mencekik, seolah berusaha merangsek masuk melalui pori-pori kulit dan mengisi paru-paru. Aroma getah pinus mentah yang tajam dan belum sepenuhnya mengering menguar kuat di udara sempit yang terjebak di dalam kotak tersebut, bercampur dengan bau besi berkarat dari paku-paku kasar yang baru saja dihantamkan ke atas penutupnya.

Di dalam penjara kayu berukuran enam kali dua kaki ini, Genevieve terbaring dalam kelumpuhan yang nyaris sempurna. Ramuan *Napas Kematian* racikan Tabib Silas bekerja dengan efisiensi magis yang mengerikan. Cairan biru pucat itu telah membekukan aliran darahnya menjadi aliran yang sangat lamban, memperlambat detak jantungnya hingga hanya berdenyut satu kali setiap beberapa menit, dan menurunkan suhu tubuhnya menyamai suhu mayat yang baru saja ditinggalkan nyawanya. Paru-parunya nyaris tidak mengembang; ia hanya menyerap partikel oksigen dalam jumlah mikroskopis untuk menjaga sel-sel otaknya tetap hidup.

Namun, di balik cangkang fisik yang mati suri ini, pikiran Genevieve menyala terang benderang layaknya suar di tengah lautan badai. Kesadarannya dipertajam oleh efek samping dari sinkronisasi jiwa dan panel Sistem yang berkedip redup di sudut pandangan mentalnya.

*Tak.* Peti kayu itu berguncang kasar. Bahu kanan Genevieve terbentur dinding papan pinus yang belum diserut halus. Serpihan kayu yang tajam menembus kain gaun linen tipisnya, menggores kulit pucatnya, namun ia tidak merasakan sakit. Saraf sensoriknya telah dimatikan sementara oleh ramuan tersebut.

"Angkat bagian bawahnya lebih tinggi, bodoh! Kau ingin mayat ini merosot dan menabrak kakimu di tangga?"

Suara Tuan Gideon menembus celah-celah papan kayu, terdengar teredam namun masih membawa nada otoritas yang dipenuhi kepanikan. Suara langkah sepatu bot berlapis besi dari kedua penjaga bayaran terdengar menghentak kasar di atas lantai batu koridor.

Genevieve bisa merasakan sudut kemiringan peti matinya berubah drastis saat mereka mulai menuruni tangga spiral sayap barat. Gravitasi menarik tubuh kakunya ke bawah, membuat telapak kakinya menekan ujung bawah peti dengan keras. Setiap kali sepatu bot penjaga menghantam anak tangga, getarannya merambat melalui kayu pinus langsung ke tulang belakangnya. Di kehidupan aslinya, terkurung di dalam kotak gelap gulita yang diusung menuju tempat pembuangan akan membuat siapa pun menjadi gila karena klaustrofobia. Kepanikan akan memicu detak jantung meledak, menghabiskan sisa oksigen di dalam kotak dalam hitungan menit, dan membunuh mereka sebelum mereka bahkan dilemparkan.

Tetapi Genevieve tidak membiarkan emosi murahan menguasai logikanya. Ia mengubah ketakutannya menjadi kalkulasi yang dingin.

*Papan ini murahan,* batinnya, menganalisis suara derit kayu setiap kali para penjaga berbelok di sudut tangga. *Tebalnya tidak lebih dari dua inci. Pakunya dihantamkan terburu-buru, hanya enam titik pengunci. Dua di atas, dua di tengah, dua di bawah. Ini bukan peti mati yang dirancang untuk penguburan yang layak; ini adalah kotak kargo untuk membuang rongsokan.*

Pemahaman ini memberinya sebersit kepuasan gelap. Gideon terlalu panik, terlalu terburu-buru untuk menyembunyikan jejak kejahatannya hingga ia tidak menyiapkan peti mati kayu ek yang kokoh. Kayu pinus mentah dan tipis ini akan hancur berantakan jika membentur sesuatu yang keras. Di sinilah letak peluangnya untuk bertahan hidup.

"Buka gerbang samping! Jangan lewat aula utama!" desis Gideon kembali, suaranya diiringi derit engsel logam raksasa yang sudah berkarat.

Seketika, suhu udara di sekeliling peti mati itu anjlok secara brutal.

Genevieve tidak lagi berada di dalam Kastil Ravenscroft. Mereka telah melangkah keluar menuju pelataran belakang yang berbatasan langsung dengan tebing. Suara lolongan angin musim dingin Aethelgard menghantam peti mati itu dengan kekuatan yang menakutkan, menyerupai raungan ribuan iblis kelaparan yang terlepas dari neraka. Badai salju sedang mencapai puncaknya. Genevieve bisa mendengar suara butiran-butiran es yang tajam menghantam penutup peti matinya seperti hujan kerikil.

"Dewa-dewi yang agung, dingin sekali malam ini!" keluh salah satu penjaga, suaranya bergetar hebat. Langkahnya tertatih, terdengar bunyi tebal dari sepatu botnya yang tenggelam menembus tumpukan salju setinggi lutut. "Tuan Gideon, apakah kita benar-benar harus membawanya sampai ke ujung Jurang Hitam? Kita bisa saja menguburnya di bawah pohon pinus mati di pelataran ini. Salju akan menyembunyikannya sampai musim semi."

"Tutup mulutmu dan terus jalan!" bentak Gideon, suaranya harus bersaing dengan deru badai yang memekakkan telinga. "Apakah kau mau kepalamu dipenggal oleh Nyonya Besar jika musim semi nanti ada anjing liar yang menggali tulang-tulangnya? Jurang Hitam tidak memiliki dasar. Begitu kotak ini jatuh ke sana, badai akan menelan suaranya, dan serigala salju di lembah bawah akan memastikan tidak ada sepotong daging pun yang tersisa darinya. Terus jalan!"

Peti itu kembali berguncang, kali ini lebih liar. Hembusan angin kencang membuat keseimbangan kedua penjaga itu goyah. Tubuh Genevieve terlempar ke kiri dan ke kanan, menghantam dinding peti berulang kali. Jika bukan karena efek anestesi dari ramuan *Napas Kematian*, tubuhnya pasti sudah dipenuhi memar ungu kehitaman yang menyakitkan.

Melalui celah sempit di antara papan atas yang tidak dipaku dengan rapat, Genevieve bisa merasakan hawa beku yang membunuh menyusup masuk, membawa serta beberapa butir kristal salju yang jatuh mendarat di atas pipinya yang kaku. Butiran salju itu tidak meleleh, membuktikan betapa dinginnya kulitnya saat ini.

Waktu terus merangkak dengan kelambatan yang menyiksa. Setiap langkah para penjaga di tengah badai itu terasa seperti satu jam penderitaan. Di dalam benaknya, panel biru Sistem mulai berkedip dengan ritme peringatan yang konstan.

**[Peringatan Lingkungan: Suhu eksternal turun di bawah batas toleransi seluler. Risiko hipotermia ekstrem jika tubuh terpapar langsung.]**

**[Status Ramuan 'Napas Kematian': Stabil. Sisa waktu penekanan metabolisme: 1 Jam 45 Menit.]**

Genevieve menatap teks bercahaya itu dalam kegelapan. Ramuan itu melindunginya dari rasa sakit, tetapi ia tahu bahwa ketika efeknya memudar, tubuhnya akan langsung dihadapkan pada kerusakan fisik yang luar biasa. Ia membutuhkan Sistem untuk mengambil alih tepat sebelum benturan terjadi.

Akhirnya, guncangan berirama dari langkah kaki itu melambat, lalu berhenti sepenuhnya.

Suara angin di tempat ini terdengar sangat berbeda. Tidak lagi hanya melolong, melainkan meraung dengan gema yang dalam dan hampa. Ini adalah suara dari sebuah kekosongan yang masif. Suara udara yang terhisap ke dalam celah bumi yang sangat besar. Mereka telah tiba di bibir Jurang Hitam—tebing curam mematikan yang menjadi batas alami di belakang Kastil Ravenscroft.

"Letakkan di sini. Letakkan di sini!" teriak Gideon, suaranya terdengar lega sekaligus gemetar.

Peti kayu itu dijatuhkan ke atas tumpukan salju dengan suara *gedebuk* yang keras. Tulang ekor Genevieve menghantam papan bawah, namun ia tetap diam mematung, menahan napasnya yang memang sudah nyaris tidak ada.

Ia mendengar suara napas terengah-engah dari kedua penjaga yang kelelahan. Salah satu dari mereka meludah ke tanah, batuk-batuk karena udara yang terlalu membekukan.

"Pekerjaan kotor yang menyebalkan," gerutu penjaga tersebut. "Tuan Gideon, bayaran kami harus digandakan untuk risiko mati membeku di tengah badai ini."

"Kalian akan mendapatkan sekantung keping perak tambahan setelah kotak ini hilang dari pandanganku," jawab Gideon tak sabar. Kepala pelayan itu melangkah mendekati peti mati. Genevieve bisa mendengar suara derak salju di bawah sepatu mahal pria itu.

Gideon mengetuk penutup kayu pinus itu dengan ujung tongkat besinya. Bunyinya menggema hampa di dalam kotak, tepat di atas wajah Genevieve.

"Selamat jalan, Lady Genevieve dari House Blackwood," ucap Gideon, suaranya kini dipenuhi oleh ejekan yang gelap dan kepuasan yang absolut. "Kau tidak akan pernah lagi merepotkan Nyonya Besar. Tidak akan pernah lagi merengek meminta keadilan. Sejarah akan melupakan bahwa kau pernah hidup, dan tidak akan ada satu pun bunga mawar yang ditaburkan di atas makam saljumu. Dorong kotaknya!"

"Satu... dua... tiga!"

Tangan-tangan kasar bertenaga besar menghantam sisi kiri peti kayu itu.

Dunia Genevieve seketika berputar. Peti kayu pinus itu tergelincir di atas lapisan salju yang licin. Guncangan pertama terjadi saat ujung peti melewati tepian batu tebing yang bergerigi. Kotak itu miring ke depan secara drastis, membuat kepala Genevieve merosot dan terbentur dinding atas peti.

Lalu, bunyi gesekan kayu dengan batu itu menghilang.

Sensasi gravitasi yang menahan tubuhnya seketika lenyap. Perutnya terasa tertinggal di atas saat tubuhnya kini terperangkap dalam kondisi tanpa bobot. Peti kayu pinus itu telah meninggalkan bibir tebing, terjun bebas ke dalam pelukan Jurang Hitam yang gelap gulita.

Suara angin yang menderu berubah menjadi jeritan nyaring yang merobek telinga saat peti itu membelah udara dengan kecepatan yang terus berakselerasi. Genevieve terombang-ambing di dalam kegelapan total, tubuhnya terbanting ke dinding kayu di segala sisi saat kotak itu berputar di udara. Perasaan mual yang luar biasa mencoba mengambil alih, tetapi ramuan Silas masih membungkam sebagian besar refleks fisiknya.

Di saat kematian berjarak hanya hitungan detik menuju dasar jurang, pikiran Genevieve justru mencapai tingkat ketajaman yang belum pernah ia alami sebelumnya. Matanya terbuka lebar di dalam kegelapan peti mati, dan ia memberikan perintah absolutnya.

"Sistem! Batalkan efek ramuan *Napas Kematian* SEKARANG! Pindai permukaan bawah dan gunakan seluruh Poin Energi Vital untuk perisai pelindung tulang!"

Panel biru di depan matanya langsung meledak dalam warna merah peringatan yang menyilaukan. Teks peringatan bermunculan dengan kecepatan kilat, merespons kegentingan nyawa tuan rumahnya.

**[Perintah Darurat Diterima. Menginisiasi pembersihan toksin ramuan dari aliran darah... Selesai. Kesadaran sensorik dikembalikan dalam 3... 2... 1...]**

Dalam satu detak jantung yang brutal, rasa kebas di tubuhnya lenyap. Detak jantungnya yang tadi nyaris berhenti kini meledak layaknya tabuhan genderang perang yang gila. Rasa sakit dari goresan kayu, memar akibat benturan, dan hawa dingin yang membekukan darah seketika menyerangnya secara bersamaan. Genevieve membuka mulutnya dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya yang kembali berfungsi, mengeluarkan jeritan tertahan yang tenggelam oleh suara angin yang menderu.

**[Memindai topografi dasar Jurang Hitam... Kedalaman: 85 meter. Titik benturan terdeteksi.]**

**[Analisis Permukaan: Tumpukan salju abadi setebal 4 meter, berlapiskan dahan raksasa dari Pohon Pinus Besi kuno.]**

**[Kalkulasi Probabilitas Bertahan Hidup: 18%. Mengaktifkan Protokol Penguatan Rangka Maksimal. Mengkonsumsi 30 Poin Energi Vital.]**

Genevieve merasakan sebuah energi panas yang luar biasa menyengat tulang-tulangnya, seolah sumsum tulangnya disuntikkan dengan cairan besi cair. Ia dengan cepat menekuk lututnya ke dada, menyilangkan kedua tangannya menutupi wajah dan leher, dan mengeraskan seluruh otot perutnya, mengambil posisi janin yang paling rapat untuk meminimalkan kerusakan pada organ vitalnya.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, giginya bergemeretak menahan ketegangan.

*Ayo...* batinnya menjerit, melawan teror murni dari kejatuhan yang tak kunjung usai. *Hancurlah kau, kotak kayu sialan.*

Dan kemudian, benturan itu terjadi.

Suara ledakan kayu yang memekakkan telinga merobek kesunyian lembah. Peti mati pinus murahan yang dipilih oleh Gideon itu menghantam dahan raksasa Pohon Pinus Besi di kedalaman jurang. Papan kayu setebal dua inci itu hancur berantakan seketika, pecah berkeping-keping menjadi ribuan serpihan mematikan yang berterbangan ke segala arah, menyerap lebih dari separuh energi kinetik dari kejatuhan mematikan tersebut.

Namun sisa momentum kejatuhan itu masih terlalu kuat. Tubuh Genevieve terlempar keluar dari serpihan peti mati, meluncur bebas menembus dahan-dahan pinus berduri tajam yang mencabik-cabik gaun linen dan menggores kulit pucatnya.

Ia terus terjatuh, menembus kanopi pepohonan bawah jurang, hingga akhirnya tubuh rapuh Lady Genevieve menghantam tumpukan salju abadi yang sangat tebal di dasar tebing dengan kekuatan yang brutal. Benturan terakhir itu menghempaskan seluruh sisa udara dari paru-parunya, menciptakan kawah kecil di atas salju putih yang tak tersentuh.

Sistem mengirimkan satu baris teks terakhir yang berkedip redup sebelum akhirnya menghilang, bersamaan dengan kegelapan yang kembali menyelimuti pandangan Genevieve.

**[Benturan Kritis. Tulang rusuk retak. Kerusakan otot terdeteksi. Namun, tanda-tanda kehidupan Tuan Rumah... masih bertahan.]**

1
Memyr 67
𝗃𝗂𝗄𝖺 𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉 𝖺𝗀𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖻𝗂𝖼𝖺𝗋𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗍𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝖺𝗇𝖺. 𝗄𝖾𝗍𝗂𝗄𝖺 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖽𝖺𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖾𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺𝖺𝗇, 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎, 𝗍𝗎𝗆𝖻𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉𝖺𝗇, 𝗁𝗂𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗒𝖺𝗄𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗈𝗅𝗎𝗍.
Endang Sulistia
keren
Memyr 67
𝗈𝗐 𝗍𝖺𝗆𝖺𝗍. 𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅𝗇𝗒𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝗎𝖺𝗋 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝗂𝗇𝗂
Yue Li MZy
Manarik juga~
Putri Amalia
kak author ini serius kan gak Hiatus? please smpe end
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗊 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝗎𝖻𝗎𝗁 𝗒𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗎𝗁 𝗋𝖺𝖼𝗎𝗇 𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋?
Memyr 67
𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋 𝗍𝖾𝗅𝖺𝗁 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗍𝗎 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗒𝖺? 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗄𝗎 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗈𝗆𝖺 𝖻𝗎𝗌𝗎𝗄. 𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗄𝖾 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗂𝗇𝗍𝖾𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝖾𝖽 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗌𝗄𝗋𝗂𝗉𝗌𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗇𝗀𝖾𝗋𝗂𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖺𝗅𝖺𝗆𝗂 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗄𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉 𝗉𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗄𝖾𝖻𝖺𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝖽𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝖺𝗇 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Endang Sulistia
nahan nafas bacanya ...
Memyr 67
𝖽𝖾𝗇𝖽𝖺𝗆 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗀𝗎𝖺𝗌𝖺 𝗄𝖾𝗀𝖾𝗅𝖺𝗉𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗃𝗎𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗁𝗂𝗍𝖺𝗆 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗆𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!