Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. Amukan Sang Serigala
Fajar baru saja menyingsing, menyemburatkan warna merah darah yang mengerikan di cakrawala The Velvet Manor.
Cahaya mentari yang tipis menyelinap masuk melalui jendela-jendela tinggi lorong utama, menyinari debu yang menari dalam kesunyian yang mencekam.
Dante baru saja melangkah keluar dari kamar utama dengan postur yang sangat tegak—terlalu tenang, terlalu rapi—sebuah pemandangan yang justru menyulut api di paru-paru Kael.
Kael berdiri di ujung lorong yang remang, bersandar pada pilar batu besar dengan tangan bersedekap.
Rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol seperti urat-urat baja. Rambut hitamnya berantakan, dan kemejanya sedikit terbuka di bagian dada, memperlihatkan bekas luka perkelahian kemarin yang belum mengering sepenuhnya.
Begitu Dante melewatinya tanpa sepatah kata pun, hanya dengan seulas senyum tipis yang penuh kemenangan, Kael kehilangan kendali.
Ia mengangkat kakinya dan menghantam vas bunga porselen Dinasti kuno di dekatnya hingga hancur berkeping-keping. Suara porselen yang pecah bergema di seluruh lorong, tajam dan menyakitkan.
"Pengecut bermulut manis," desis Kael, suaranya parau oleh amarah yang membara.
Tanpa memedulikan etika atau aturan yang dibuat Dante, Kael melangkah lebar menuju pintu kamar Aira. Ia tidak mengetuk. Ia tidak meminta izin. Dengan satu hantaman bahunya yang kokoh, ia mendobrak pintu itu hingga terbuka lebar.
BRAK!
Pintu itu menghantam dinding dengan suara menggelegar. Aira sedang duduk di depan meja rias mahoninya yang megah. Ia masih mengenakan gaun tidur sutra hitam yang tipis, rambut hitam panjangnya terurai menutupi punggung porselennya yang halus.
Namun, yang membuat Kael semakin murka adalah ketenangan wanita itu. Aira tidak tersentak. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Jemarinya yang ramping tetap bergerak perlahan, menyisir rambutnya dengan keanggunan seorang ratu yang sedang menunggu pengadilan.
Ia hanya menatap pantulan Kael yang merah padam di dalam cermin besar itu.
"Kau tidak pernah diajarkan cara mengetuk pintu, Kael? Ataukah kau sengaja ingin menunjukkan betapa rendahnya kasta keluargamu pagi ini?" suara Aira rendah, sangat tenang, namun setiap katanya terasa seperti belati yang mengiris udara.
Kael melangkah maju, langkah kakinya menghentak lantai kayu dengan kasar, seolah ingin menghancurkan apa saja yang ia injak.
Ia berhenti tepat di belakang kursi Aira, mencengkeram sandaran kursi kayu berukir itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkannya. Ia memutar kursi itu dengan paksa hingga Aira menghadapnya secara langsung.
"Apa yang dilakukan Dante di sini semalam penuh, Isabella?!" Kael menggeram, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Aira.
Aroma keringat maskulin, debu, dan amarah murni memancar dari tubuhnya, memenuhi indra penciuman Aira.
"Kau membiarkannya berlutut di bawah kakimu, membiarkannya menghirup aromamu semalam suntuk, sementara aku harus berjaga di luar seperti anjing buduk yang tidak punya rumah?"
Aira menatap Kael dengan tatapan yang sangat dingin, hampir meremehkan. Ia tidak lagi melihat pria besar ini sebagai ancaman, melainkan sebagai binatang buas yang butuh dicambuk sekaligus dibelai.
Aira perlahan bangkit dari kursinya, gerakannya lambat dan penuh provokasi, membuat Kael secara tidak sadar mundur satu langkah karena aura dominasi yang terpancar.
Aira melangkah mendekat, memangkas jarak hingga dadanya yang hanya tertutup sutra tipis hampir bersentuhan dengan dada bidang Kael yang naik-turun karena napas yang memburu.
"Dante tahu cara menunjukkan kepatuhan, Kael. Sesuatu yang tampaknya telah hilang dari otak kecilmu pagi ini," ujar Aira.
Tiba-tiba, dengan gerakan secepat kilat, ia mengangkat tangannya dan mencengkeram rahang Kael dengan kuat. Kuku-kukunya yang runcing sedikit menekan kulit pria itu, meninggalkan bekas putih yang segera berubah merah.
Ini adalah sisi kejamnya. Matanya yang hijau zamrud tidak menunjukkan setetes pun belas kasihan.
"Kau pikir kau bisa mendobrak kamarku dan menuntut penjelasan? Kau pikir pengabdianmu di hutan memberimu hak untuk bersuara di depanku? Kau adalah milikku, Kael. Dan milikku tidak berhak bertanya apa yang kulakukan dengan pelayan lainnya."
Kael mengepalkan tangannya di samping tubuh, matanya berkilat liar dengan hasrat yang tertahan dan amarah yang saling berperang.
"Aku adalah orang yang paling banyak menumpahkan darah untukmu! Aku tidak akan membiarkan pria tua sok suci itu mengambil tempatku di sisimu!"
Aira menatap dalam ke mata liar Kael selama beberapa detik yang menyesakkan, membiarkan keheningan itu menghancurkan nyali pria tersebut.
Lalu, tiba-tiba, ia melepaskan cengkeramannya dengan sentakan yang hampir terlihat seperti dorongan.
Ekspresi wajah Aira berubah drastis dalam sekejap mata.
Matanya melembut, sayu, dan dipenuhi oleh kehangatan yang menyesatkan. Sebuah senyuman kecil yang sangat manis—namun mengandung racun—muncul di bibirnya yang kemerahan.
Aira mengulurkan tangannya yang halus, perlahan mengelus bekas luka memar di pipi Kael yang didapatnya dari Zane kemarin.
Sentuhannya begitu lembut, begitu kontras dengan cengkeraman maut tadi, hingga Kael seolah kehilangan seluruh kekuatannya. Ia mematung, napasnya tertahan di tenggorokan.
"Kael..." bisik Aira, suaranya kini selembut sutra yang membelai gendang telinga.
"Kau selalu begitu meledak-ledak. Tidakkah kau tahu bahwa api yang terlalu besar hanya akan membakar dirimu sendiri sebelum kau sempat menyentuh apa yang kau inginkan?"
Aira meraih kerah kemeja Kael yang berantakan, menarik pria besar itu agar sedikit membungkuk ke arahnya.
Ia mendekatkan wajahnya, mencium sudut bibir Kael yang pecah dengan sangat perlahan—sebuah sentuhan bibir yang sangat ringan, namun terasa seperti sengatan listrik bagi Kael.
"Dante menjaga pintuku karena dia adalah perisaiku," bisik Aira tepat di telinga Kael yang kini memerah panas.
"Tapi kau... kau adalah pedangku. Kau adalah bagian dari diriku yang harus tetap tajam dan liar. Namun, pedang yang tidak bisa dikendalikan oleh tuannya hanya akan berakhir menjadi rongsokan tak berguna. Kau ingin aku memperlakukanmu seperti Dante? Kalau begitu, tunjukkan padaku bahwa kau bisa lebih tenang dari sekadar anjing yang menggonggong di pagi hari."
Kael terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Perpaduan antara cengkeraman kasar yang menyakitkan dan ciuman lembut yang memabukkan ini menghancurkan seluruh logikanya.
Ia merasa seperti binatang buas yang baru saja dijinakkan dengan sepotong daging beracun yang terasa sangat manis di lidahnya.
"Aku... aku akan membunuh siapa pun untukmu, Isabella. Aku akan merobek jantung mereka jika kau memintanya," bisik Kael, suaranya parau dan berat oleh gairah yang menyesakkan.
Aira tersenyum smirk yang sangat tipis di balik bahu Kael. Ia menatap ke arah cermin di mana Isabella asli sedang menonton dengan tatapan tak percaya—jiwa sang pemilik asli mulai menyadari bahwa Aira sedang memainkan permainan yang jauh lebih licik.
Aira tahu, ia baru saja memasang jerat di leher serigala yang paling berbahaya, dan Kael dengan sukarela menarik talinya sendiri.
"Kalau begitu, ikut aku ke ruang latihan pedang," perintah Aira, suaranya kembali berubah menjadi dingin dan memerintah.
"Aku ingin melihat seberapa tajam pedangku hari ini. Dan Kael... jika kau kalah dariku dalam duel ini, kau akan mendapatkan hukuman yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu. Sesuatu yang akan membuatmu mengerti siapa yang memegang kendali atas napasmu."
Aira melangkah keluar kamar dengan keanggunan seorang ratu yang sedang menuju medan perang, membiarkan gaun tidurnya berkibar tertiup angin lorong.
Ia meninggalkan Kael yang masih terpaku di tengah kamar, terobsesi dengan aroma mawar, rasa sakit di rahangnya, dan janji kekejaman manis yang baru saja ia rasakan.
btw udah lama Kael tidak menampakkan diri Thor...
Lanjuutt