NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masuk perangkap

"Halo sayang, kamu di mana?" tanya Adrian pada Rania. Saat ini mereka berdua sedang bertelepon.

"Aku di rumah," jawab Rania di seberang teleponan.

"Lagi ngapain?"

"Lagi rebahan aja. Capek dari sekolah tadi."

Adrian terkekeh pelan. "Dasar, pulang sekolah bukannya belajar malah rebahan."

"Ya istirahat dulu dong," balas Rania manja. "Kamu sendiri lagi apa?"

"Aku lagi di kamar. Kepikiran kamu."

Rania tersenyum kecil mendengarnya. "Ih, gombal banget."

"Serius ini. Kalau tidak percaya, besok ketemu aja di sekolah."

Rania hanya terkikik pelan, sementara Adrian tersenyum tipis di ujung sana.

"Sayang, aku mau ngomong sesuatu," ucap Adrian dengan nada terdengar serius.

Rania yang tadi rebahan langsung bangkit. "Mau nanya apa?"

"Sahabat kamu tidak suka kita balikan?" tanya Adrian.

"Kenapa kamu tanya begitu?" tanya Rania balik.

"Aku cuma ngerasa aja mereka gak suka kita kembali. Buktinya tadi di kelas kamu, mereka tidak menganggap aku ada," ucap Adrian dengan nada sedih, membuat Rania merasa bersalah dengan sikap sahabat-sahabatnya.

Rania menghela napas berat, lalu berkata, "Kamu tenang saja. Selagi kamu berubah, mereka pasti perlahan-lahan bisa menerima hubungan kita. Kamu tidak akan seperti dulu lagi kan?"

"Gak lah sayang. Aku akan buktikan ke sahabat kamu itu kalau aku tidak main-main sama kamu," ucap Adrian dengan sungguh-sungguh.

"Aku tunggu janji kamu, sayang," ucap Rania dengan antusias. Ia ingin membuktikan pada sahabat-sahabatnya kalau Adrian tidak seperti yang mereka pikirkan.

Saat mereka berdua terhanyut dalam obrolan, tiba-tiba Rania mendengar kegaduhan di rumah Adrian.

"Buka pintunya!"

"Kami tahu kalian ada di dalam!"

"Kalau lo gak buka pintu, gue dobrak pintu lo!"

"Buka woi! Gue tendang nih kalau lo gak mau buka!"

"Adrian, itu siapa? Kenapa mereka teriak gitu?" tanya Rania.

"Sayang, aku matikan teleponnya. Nanti aku hubungi kembali," ucap Adrian dengan nada panik.

"Ada apa sayang? Kamu kok panik gitu?" ucap Rania.

"Nanti aku jelaskan," ucap Adrian lalu mematikan telepon sepihak.

Sambungan telepon itu terputus begitu saja.

Rania menatap ponselnya dengan alis berkerut. Ia lalu bangkit dari tempat tidur dan mulai mondar-mandir di dalam kamar, perasaannya dipenuhi kekhawatiran.

“Kenapa dia panik banget tadi…” gumamnya pelan.

Sesekali Rania menatap layar ponselnya, berharap Adrian kembali menelepon. Namun hingga beberapa saat berlalu, tidak ada kabar sama sekali.

~~

Keesokan harinya, Rania buru-buru berangkat ke sekolah karena ingin segera menghampiri Adrian. Sejak semalam ia tidak tenang memikirkan Adrian. Rania sudah beberapa kali mengirim pesan dan meneleponnya, tetapi ponsel Adrian tidak dapat dihubungi.

"Buru-buru amat makannya, Nak?" tanya Raisa sambil menatap putrinya yang terlihat begitu tergesa-gesa.

"Rania harus ke sekolah cepat, Mom," jawab Rania sambil mempercepat sarapannya.

"Kamu tidak ngerjain tugas ya?" tebak Rhea.

"Nggak kok, Kak. Cuma ada kepentingan saja," balas Rania. "Makannya Rania sudah habis. Rania duluan ke sekolah," ucapnya lalu mengambil tasnya. Ia kemudian salim pada kedua orang tuanya, tak lupa juga pada Rhea.

"Hati-hati bawa motornya, Ran," nasihat Radit pada putrinya.

"Iya, Dad," ucap Rania lalu meninggalkan meja makan.

~~

Sesampainya di sekolah, Rania langsung memarkirkan motornya. Namun ia tidak langsung turun. Ia memilih tetap duduk di atas motornya, berniat menunggu Adrian di parkiran.

Saat Rania sedang fokus pada ponselnya, tiba-tiba motor Freya datang dan memarkirkan motornya tepat di samping motor Rania.

"Tumben datangnya cepat," ucap Freya pada Rania, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka akibat pertengkaran kemarin. Begitulah mereka—walaupun sempat saling membentak, mereka tetap bisa saling berbicara, meski dengan nada yang berbeda.

"Mau saja," jawab singkat Rania tanpa menoleh ke arah Freya.

"Oh," balas Freya tak kalah singkat, lalu ia meninggalkan Rania.

Beberapa detik kemudian, Rania menoleh menatap kepergian Freya dengan tatapan sedih. Sebenarnya ia rindu dengan mereka, tetapi ia juga harus memikirkan perasaannya sendiri.

Tak lama setelah Freya pergi, Balqis datang berboncengan bersama Bunga. Mereka hanya menatap sekilas ke arah Rania lalu mengalihkan pandangan.

Balqis memarkirkan motornya di samping motor Freya, lalu turun tanpa sepatah kata pun. Ia meninggalkan parkiran bersama Bunga. Ia enggan menyapa Rania. Walaupun bersikap cuek, sebenarnya ia masih peduli—hanya saja Balqis masih kesal dengan kejadian kemarin.

Rania hanya bisa menatap kepergian sahabat-sahabatnya dengan tatapan sedih.

"Gue rindu kalian, tapi gue juga gak bisa bohong dengan perasaan gue," gumamnya pelan. "Semoga suatu saat nanti kita bisa seperti dulu lagi."

"Rania," ucap seseorang sambil menepuk bahu Rania.

Rania menoleh. Adrian sudah berdiri di sampingnya. "Eh, kamu sudah datang."

"Kamu ngapain masih di parkiran?" tanya Adrian.

"Aku sengaja nungguin kamu," jawab Rania.

"Nungguin aku?" ucap Adrian sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Iya. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rania dengan nada panik.

Adrian yang ditatap seperti itu hanya tersenyum tipis. "Aku tidak kenapa-napa kok, sayang."

"Kamu gak mau cerita sama aku?" ucap Rania sambil memegang tangan Adrian. "Terus kenapa juga ponsel kamu semalam gak aktif?"

"Bukan gak mau, tapi aku malu, sayang, cerita sama kamu. Soal gak balas pesan kamu, ponsel aku semalam kehabisan beterai, jadi gak bisa balas pesan kamu," ucap Adrian dengan nada pelan.

"Kenapa kamu malu sama aku? Aku ini pacar kamu loh. Dan kamu harus tahu, hubungan itu bukan cuma di saat senangnya saja. Suka dan duka harus dilewati bersama," jelas Rania dengan lembut.

"Kamu dari dulu tidak pernah berubah, Rania. Selalu baik," ucap Adrian. "Nanti setelah istirahat aku tunggu kamu di taman kalau memang kamu mau dengar cerita aku."

Rania mengangguk. "Baiklah, aku akan dengarkan cerita kamu. Semoga setelah kamu cerita, beban kamu berkurang."

"Terima kasih ya, sayang," balas Adrian.

"Iya, sama-sama."

Kring... kring...

"Kamu masuk kelas sana, bel sudah bunyi," ucap Adrian.

"Iya, sampai ketemu sebentar ya," balas Rania.

"Iya, tapi kamu harus makan dulu ya. Aku gak mau kamu telat makan," ucap Adrian.

"Siap, boss," ucap Rania sambil memberi hormat, membuat Adrian tersenyum lalu mengacak rambut Rania.

"Kenapa diacak sih," ucap Rania sambil memanyunkan bibirnya.

"Gemes aja sama pacarku ini," ucap Adrian lalu mencubit pipi tembem Rania, kemudian merapikan kembali rambut Rania yang ia buat berantakan.

"Ya udah, aku pamit ya," ucap Rania.

Adrian mengangguk.

Rania meninggalkan Adrian di parkiran dan tak lupa melambaikan tangannya.

"Akhirnya masuk perangkap," gumam Adrian sambil tersenyum miring, lalu meninggalkan parkiran.

Banyak murid yang melihat interaksi mereka berdua di parkiran. Banyak yang terkejut karena tidak menyangka cewek secantik Rania mau dengan Adrian yang terlihat biasa saja. Rania yang mendapat tatapan dari para murid hanya bersikap bodo amat dan tetap berjalan lurus ke depan.

Sesampainya di kelas, Rania langsung duduk di tempatnya. Beberapa saat kemudian Lara masuk ke kelas bersama Bintang.

"Hai, Rania," sapa mereka berdua.

"Hai," balas Rania.

"Lo tahu gak, Ran?" ucap Bintang. Namun belum sempat ia melanjutkan, Rania sudah menyahut.

"Gak tahu," ucapnya sambil terkekeh.

"Makanya dengar dulu, Rania," ucap Bintang cemberut.

"Ya udah, apa Bin?"

"Eh, kalian bicara apa nih?" ucap Lara tiba-tiba nimbrung.

"Rania tadi jadi pusat perhatian lho," ucap Bintang.

"Itu doang yang ingin lo omongin?" ucap Rania.

"Iya, Ran. Itu aja sih. Lo gak risih?"

"Risih sih, tapi gue gak peduli," jawab Rania acuh.

"Mmm… emang beneran, Ran, lo pacaran sama Kak Adrian?" tanya Bintang pelan.

"Iya. Emang kenapa?" tanya balik Rania sambil menatap datar Bintang.

"Gak kenapa-kenapa kok, Ran," ucap Bintang sambil tersenyum kaku.

"Gue tau pikiran lo. Gue kasih tahu, ya. Ini tentang hati. Mau bagaimanapun orang lain berkata apa, kalau gue ingin, mereka bisa apa!" ucap Rania dengan nada tegas. Termasuk sahabat gue, ucapnya dalam hati.

"Bukan gitu, Ran. Gue sih terserah lo aja. Yang penting lo bahagia," ucap Bintang.

"Selamat pagi, anak-anak," ucap Ibu Melati yang tiba-tiba datang, membuat mereka langsung kembali ke tempat masing-masing.

"Pagi, Bu!"

Rania hanya mendengus pelan, seolah tahu isi pikiran mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!