NovelToon NovelToon
Legenda Api Yang Menghilang

Legenda Api Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Absonen

Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 [Malam yang Canggung]

Malam di desa Hinomaru terasa sangat tenang.

Angin berhembus lembut melewati rumah-rumah kayu kecil. Suara serangga malam terdengar samar dari ladang di kejauhan.

Di dalam rumah sederhana milik Shiranui Akihara, suasana justru terasa… canggung.

Lampu minyak masih menyala redup di atas meja kayu.

Di ruangan itu berdiri dua orang yang dulu pernah bertarung bersama melawan ancaman terbesar dunia.

Namun sekarang mereka justru kebingungan oleh masalah yang jauh lebih sederhana.

Tempat tidur.

Liora Raizen berdiri dengan tangan menyilang di depan dada.

Matanya memandang sekeliling rumah kecil itu.

“Jadi…” katanya pelan.

“Hanya ada satu kamar?”

Akihara mengangguk.

“Ya.”

Jawaban singkat.

Liora menghela napas.

Ia sempat mengira rumah ini mungkin memiliki dua kamar kecil.

Namun ternyata hanya ada satu ruangan tidur dengan satu kasur.

Akihara kemudian menunjuk ke arah kasur itu.

“Kau bisa tidur di sana.”

Lalu ia menunjuk sofa kayu kecil di dekat jendela.

“Aku akan tidur di sini.”

Namun sebelum ia sempat berjalan ke sofa itu—

“Tidak.”

Akihara berhenti.

Ia menoleh.

Liora menatapnya dengan ekspresi tidak setuju.

“Apa maksudmu tidak?”

“Kita bukan orang asing.”

Nada suaranya tegas.

“Kita pernah bertarung melawan Argiel Lucifer bersama.”

Ia menatap Akihara.

“Dan sekarang kau memperlakukanku seperti tamu?”

Akihara terdiam.

Sebenarnya ia hanya mencoba bersikap sopan.

Namun Liora jelas tidak suka dengan ide itu.

Beberapa detik mereka saling menatap.

Lalu Akihara akhirnya menghela napas.

“Baiklah.”

Ia menunjuk kasur.

“Kita tidur di sana.”

Liora mengangguk puas.

Namun ia segera menambahkan satu hal lagi.

“Bayi itu di tengah.”

Akihara menatap bayi yang sedang ia gendong.

Bayi kecil dengan mata merah tua itu mengeluarkan suara kecil.

“…Aa…”

Bayi itu adalah Noa.

Akihara akhirnya mengangguk.

“Itu ide bagus.”

Tidak lama kemudian lampu minyak dimatikan.

Ruangan menjadi gelap.

Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela.

Di atas kasur kecil itu kini ada tiga orang.

Noa berada di tengah.

Di satu sisi adalah Akihara.

Di sisi lain adalah Liora.

Namun suasana justru terasa lebih tegang daripada medan perang.

Akihara berbaring menghadap ke arah dinding.

Ia mencoba memejamkan mata.

Namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Sudah dua tahun ia hidup sendirian di desa ini.

Kehidupannya tenang.

Sederhana.

Tanpa hal-hal seperti ini.

Di belakangnya…

Ia bisa merasakan keberadaan Liora.

Begitu dekat.

Sementara itu Liora justru tidak bisa tidur sama sekali.

Ia menatap langit-langit rumah.

Pikirannya kacau.

“Aku… benar-benar tidur di sampingnya.”

Pipinya terasa hangat.

Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain.

Tidak mungkin ia membiarkan Akihara melihat wajahnya sekarang.

Namun Noa tiba-tiba mengeluarkan suara kecil.

“…No…”

Liora menoleh.

Bayi itu bergerak sedikit di antara mereka.

Akihara juga menoleh pada saat yang sama.

Untuk sesaat mata mereka bertemu.

Keduanya langsung memalingkan wajah.

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Dan akhirnya… malam pun berlalu.

Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela.

Suara ayam desa terdengar dari kejauhan.

Akihara sudah bangun lebih dulu.

Ia sedang menyiapkan sarapan sederhana di dapur kecil.

Tidak lama kemudian Liora keluar dari kamar.

Masih mengenakan pakaian Grandmasternya.

Akihara langsung menoleh.

“Kau tidak bisa memakai itu di desa.”

Liora mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Itu terlalu mencolok.”

Akihara menunjuk jubah Grandmasternya.

Penduduk desa bisa saja curiga jika melihat pakaian seperti itu.

Liora terlihat tidak terlalu senang.

“Jadi kau ingin aku memakai pakaian laki-laki milikmu?”

Akihara sempat berpikir sejenak.

Lalu ia berjalan ke lemari tua di sudut rumah.

Ia membuka lemari itu dan mengeluarkan satu set pakaian.

Pakaian sederhana.

Gaun desa yang ringan.

“Aku punya ini.”

Liora mengambilnya perlahan.

“Kau menyimpan pakaian wanita?”

Akihara menjawab dengan tenang.

“Itu milik ibuku.”

Liora langsung berhenti.

Ia memandang pakaian itu dengan hati-hati.

“Aku tidak bisa memakainya.”

“Kenapa?”

“Jika rusak bagaimana?”

Akihara menggeleng pelan.

“Ibuku meninggalkannya lama sekali.”

Ia menatap pakaian itu sebentar.

“Jika seseorang memakainya… aku rasa dia akan senang.”

Liora terdiam.

Beberapa detik kemudian ia akhirnya berkata pelan.

“…baiklah.”

Ia membawa pakaian itu ke kamar.

Beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka.

Liora keluar.

Akihara yang sedang menggendong Noa langsung menoleh.

Dan ia membeku beberapa detik.

Gaun sederhana itu sangat cocok untuk Liora.

Rambut peraknya jatuh lembut di bahunya.

Pakaiannya sederhana.

Namun justru membuat kecantikannya terlihat lebih alami.

Akihara akhirnya berkata pelan.

“Kau terlihat… cantik.”

Kalimat sederhana.

Namun efeknya langsung terasa.

Jantung Liora seperti dipukul.

Pipinya memerah seketika.

Ia langsung memalingkan wajah.

“Tentu saja.”

Ia mencoba terdengar dingin.

“Tidak perlu mengatakannya.”

Namun hatinya berdetak sangat cepat.

Beberapa saat kemudian mereka keluar rumah.

Akihara berjalan di jalan desa dengan Noa di pundaknya.

Liora berjalan di sampingnya.

Penduduk desa yang melihat mereka langsung tersenyum.

Namun beberapa detik kemudian…

Salah paham besar muncul.

“Eh?”

Seorang wanita tua desa berkata keras.

“Akira punya istri?!”

Orang lain ikut melihat.

“Benar!”

“Istrinya cantik sekali!”

“Dan bayinya juga lucu!”

Liora langsung berhenti berjalan.

Wajahnya merah.

“A-Apa?!”

Akihara juga terlihat sedikit malu.

“Bukan seperti itu-”

Namun warga desa sudah tertawa.

“Sejak kapan kalian punya anak?”

“Cepat sekali!”

Liora hampir tidak bisa berkata apa-apa.

Ia hanya berjalan lebih cepat.

Akihara menggaruk kepalanya.

Namun suasana desa terasa hangat.

Setelah beberapa saat berjalan…

Akihara berhenti di depan bangunan kecil.

Perpustakaan desa.

Ia berbisik pada Liora.

“Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.”

Liora langsung penasaran.

Mereka masuk ke dalam.

Rak-rak kayu penuh buku tua berdiri di ruangan itu.

Akihara mengambil sebuah buku besar.

Buku sejarah.

Tentang Argiel Lucifer.

Liora mulai membacanya dengan serius.

Namun Akihara menunjuk satu nama.

Railer Zernaldha.

Liora mengerutkan kening.

“…siapa ini?”

Akihara juga tidak tahu pasti.

Liora membaca bagian itu lagi.

“Railer Zernaldha… pasangan Argiel Lucifer…”

Ia langsung menatap Akihara.

“Tunggu.”

“Bukankah Raja Iblis tidak pernah punya istri?”

Akihara mengangguk pelan.

“Itulah yang membuatku penasaran.”

Noa yang berada di pundaknya tiba-tiba mengeluarkan suara lucu.

“…Ba!”

Liora menoleh.

Bayi itu tertawa kecil.

Seolah merasa senang.

Namun entah kenapa…

Keduanya merasa ada sesuatu yang aneh.

Jauh dari desa Hinomaru.

Di sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Aetherion.

Di sebuah penginapan sederhana.

Seorang gadis tiba-tiba membuka matanya.

Ia adalah Seraphina Vaelcrest.

Grandmaster Air.

Ia langsung duduk tegak.

Jantungnya berdetak cepat.

Ia merasakan sesuatu.

Sebuah energi sihir yang sangat besar.

Bahkan Raja kerajaan itu juga merasakannya di istana.

Seraphina langsung berdiri.

Ia keluar dari penginapan.

Angin berhembus kuat di malam hari.

Ia memandang jauh ke arah barat.

Ke arah yang sangat jauh dari sini.

Matanya melebar.

“Energi ini…”

Ia bisa merasakannya dengan jelas.

Bukan dari langit.

Bukan dari daratan.

Namun dari bawah tanah.

Sesuatu yang sangat kuat.

Seolah sedang bangun.

Seraphina berbisik pelan.

“…sesuatu yang besar akan datang.”

Di desa Hinomaru yang jauh di timur…

Noa tertawa kecil di pundak Akihara.

Dan dunia perlahan mulai bergerak lagi.

1
Awkward
flbck kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!