NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Playboy / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!

SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA

Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?

Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.

Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?

Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAWASAN KOMERSIAL BARU

Kalau dana udah unlimited, semua urusan pasti kelar secepat kilat.

Nggak sampai sepuluh hari, proses renovasi dan perombakan total di kawasan ini udah beres.

Restoran steak viral milik Bos Bambang yang lama, sekarang berdiri megah tepat di titik paling sentral dari kawasan komersial baru ini.

Yang dimaksud "kawasan komersial baru" ini bukanlah area bergaya SCBD yang penuh dengan menara perkantoran mewah, melainkan sebuah distrik hiburan dan lifestyle yang sepenuhnya difokuskan pada sektor kuliner, tempat nongkrong, dan rekreasi massal.

"Bos Raka, silakan masuk ke dalam~" sapa manajer eksentrik yang dandanannya super heboh dan sempat bikin Raka ilfeel tempo hari.

Alasan Raka tidak memecat orang ini adalah karena dia memegang teguh prinsip objektivitas materialisme dialektis; ia menilai kelebihan dan kekurangan seseorang secara realistis. Dan nyatanya, Raka berhasil menemukan letak nilai jual dari si Manajer ini.

"Sikap lu tolong dijaga ya," tegur Raka sambil setengah menahan tawa.

Setelah beberapa kali kena 'semprot' Raka, attitude manajer itu dalam melayani tamu memang sudah jauh lebih baik. Ditambah lagi, selera fashion-nya yang eksentrik dan karakternya yang agak nyeleneh justru berpotensi menjadi daya tarik unik tersendiri, alias ikon hiburan berjalan di kawasan wisata ini.

"Semuanya, tolong minta perhatiannya sebentar. Walaupun status tempat kita ini masih memegang title restoran viral, gua udah mutusin kalau kita nggak bakal lagi pakai positioning high-end kayak management yang lama." Raka mengumpulkan seluruh staf restoran dan memimpin briefing secara langsung.

"Di Jakarta ini, bahkan sampai di level nasional atau global sekalipun, populasi orang tajir melintir itu cuma segelintir. Sesuai hukum alam yang beredar, kekayaan emang selalu mengumpul di tangan kaum minoritas," tegas Raka dengan nada berwibawa. "Tapi, kita ini main di industri hospitality. Dan di mana-mana, hospitality itu target utamanya adalah mass market, alias melayani mayoritas populasi di kota ini. Makanya, kita harus nyesuaiin demand pasar, meracik paket menu dan standar pelayanan yang pas sama kantong target demografi kita."

Karena mereka semua adalah pekerja lapangan di industri jasa, para staf langsung ngeh dengan poin yang mau disampaikan Raka.

Tiba-tiba Raka melontarkan pertanyaan, "Kalau pakai patokan harga jual restoran yang lama, ada nggak di antara kalian yang secara sukarela ngajak keluarga atau temen buat makan dine-in di sini?"

Semua staf sontak melongo, lalu kompak menggelengkan kepala.

Ya gimana nggak? Staf restoran ini rata-rata adalah orang biasa dengan penghasilan UMR sampai di angka belasan juta Rupiah. Daya beli mereka jelas merepresentasikan dompet mayoritas kelas pekerja di Jakarta.

Raka tersenyum tipis, lalu bertanya dengan lebih casual, "Terus, rata-rata budget kalian kalau ngajak keluarga makan besar di luar tuh kisaran berapa?"

Karyawan mulai kasak-kusuk saling berdiskusi. Jawabannya macam-macam, ada yang menyeletuk budget Rp 100.000 sampai Rp 200.000, ada juga yang nyeletuk paket irit di kisaran Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per orang. Intinya, nominal tersebut sangat membumi dan merakyat.

"Pak Manajer, gua tanya lu deh. Kalau lu ngedate sama cewek lu, budget makannya habis berapa?" tembak Raka.

Wajah si Manajer langsung memucat syok. "Ihh, aku tuh nggak punya pacar cewek, Bos... tapi aku punyanya cowok."

Seisi ruangan langsung meledak tertawa. Raka sampai harus menggigit bibir menahan tawa sebelum lanjut bertanya, "Yaudah, kalau lu ngedate sama cowok lu, budget makannya berapa?"

Si Manajer mulai menghitung menggunakan jarinya dengan gaya gemulai. "Hmm... paling mentok ya dua juta Rupiah lah, Bos."

Raka mengangguk puas.

"Nah, itu dia patokan pricing kita yang baru. Ke depannya, harga patokan di restoran ini bakal ngikutin standar itu. Seluruh paket menu set, yang paling mahal sekalipun, harganya mentok di angka dua juta Rupiah, nggak boleh lebih!"

Mendengar titah Raka, si Manajer mengangguk paham. "Kalau harganya dipangkas ekstrem begitu, berarti kualitas bahan baku (cost of goods sold) makanannya juga harus kita downgrade dong, Bos?"

Raka langsung membantah dengan mutlak. "Kualitas bahan bakunya justru harus di-upgrade jadi lebih premium! Sedikit pun nggak boleh ada penyusutan porsi atau downgrade rasa yang bisa mancing ulasan jelek dari tamu! Intinya, standar hospitality wajib diangkat sampai ke level tertinggi, tapi harga menunya wajib dibanting serendah mungkin!"

Si Manajer hampir jantungan mendengarnya. "Ya ampun, Bos Raka! Mentang-mentang lu sultan yang duitnya berseri, mikir-mikir dikit dong efeknya ke kita! Model bisnis beginian mah namanya bakar duit, bisa rugi mampus restoran kita, Bos!"

Namun, Raka malah mengibaskan tangannya santai, memberi garansi agar mereka tak perlu panik. "Buat semua karyawan yang kerja di restoran ini, selama kalian mau percaya dan loyal sama gua, hari ini juga kita teken kontrak Fix 1 tahun penuh! Gaji kalian selama setahun bakal gua bayar cash di muka! Dan tenang aja, nominal gajinya pasti jauh lebih gede dari standar owner lama! Jadi kalian cukup kerja aja yang bener!"

Mendengar jaminan dari dewa kekayaan itu, beban pikiran para karyawan seketika lenyap tak berbekas.

Ditambah lagi, Raka juga menggaransi bahwa semua kerugian operasional atau food waste dari dapur tidak akan pernah memotong bonus atau gaji mereka; semuanya akan di-cover full oleh Departemen Keuangan Grup Adiyaksa.

Begitu mereka berdua keluar dari restoran, Wahyu menatap Raka dengan tatapan pasrah tak berdaya.

"Bos Raka, kelakuan lu emang nggak pernah ada waras-warasnya ya."

Raka tertawa lebar sambil mengangkat bahu. "Ya mau gimana lagi? Udah dikasih duit unlimited masa kagak dipake buat foya-foya? Cuma orang yang otaknya geser yang punya duit miliaran tapi pelit!"

"Hahahaha!" Wahyu akhirnya tak kuasa menahan tawa. "Ehem, ya udah, yuk gua escort lu sidak ke deretan hotel kita. Urusan renovasi sama rekrutmen stafnya di sana udah kelar semua."

"Oke," gumam Raka merespons santai.

Kompleks perhotelan di kawasan itu memang bentuknya belang-belang, ada gedung yang menjulang tinggi, ada juga yang ceper. Tapi berkat polesan tangan dingin Wahyu, finishing cat fasad eksteriornya kini sangat seragam, estetik, dan punya karakter vibes yang kuat.

Wahyu benar-benar melakukan pengawasan project yang luar biasa.

"Kerja lu boleh juga, Bro. Nanti bonus bulanan lu pasti gua top-up," puji Raka sambil menepuk pundak asistennya itu.

Wahyu tersenyum lebar. "Gua kerja bukan ngejar duit bonusan yang receh itu, Bos. Gua mah tulus respect sama gaya kepemimpinan sultan macem Bos Raka!"

Saat melangkah masuk meninjau lobi salah satu hotel, tampak beberapa staf front desk berseragam rapi malah sedang bergerombol asyik ngerumpi dan cekikikan.

"Ehem." Wahyu sengaja berdeham lumayan keras, melempar kode bahwa ada orang masuk ke area mereka.

Sialnya, mbak-mbak resepsionis itu malah cuek bebek asyik sendiri. Setelah beberapa lama, barulah salah satu dari mereka menyahut dengan nada jutek dan malas-malasan, "Mas, hotel kita ini belum grand opening. Jadi belum terima reservasi tamu."

"Kita ke mari bukan mau check-in kamar!" Suara Wahyu mulai meninggi, tersulut emosi.

Di luar nalar, resepsionis perempuan itu malah membalas lebih ketus, "Ya kalau gitu, situ makin nggak punya urusan buat masuk ke mari dong!"

Alis Raka seketika menukik tajam, kerutan amarah muncul di dahinya.

"Eh gila, woi, cowoknya cakep banget, anjir," bisik resepsionis-resepsionis itu kegirangan saat akhirnya menyadari visual Raka.

Sontak, gerombolan itu langsung bubar dan mengerubungi Raka dengan mode centil dan genit.

"Halo, Mas ganteng, ada yang bisa dibantu?"

Raka diam membisu. Matanya menyorot sekumpulan perempuan itu dengan tatapan mematikan, lalu ia merogoh saku, mengeluarkan ID Card Chairman Grup Adiyaksa miliknya, dan melemparnya tepat di depan hidung mereka.

"Hah! B-Bos Raka? Bapak... kok Bapak bisa ada di sini?"

Jelas sekali para gadis ini belum pernah bertatap muka dengan Raka. Status mereka hanyalah karyawan outsourcing yang disewa massal oleh grup, bukan pegawai inti Grup Adiyaksa.

Tapi, penanggung jawab hotel pasti sudah memberikan briefing ketat bahwa Raka adalah penguasa absolut di kawasan ini.

"Oh, jadi begini standar hospitality kalian dalam nyambut orang masuk?" hardik Raka dengan suara rendah yang menekan mental.

Gadis-gadis itu langsung lemas, menundukkan kepala dengan bibir yang gemetar ketakutan.

"Nggak usah banyak cincong. Tulis surat resign kalian sekarang juga, kemasin barang-barang, dan angkat kaki dari properti gua." Raka mengibaskan tangannya seolah membuang sampah, lalu membalikkan badan hendak pergi.

"Eh, Pak! Jangan, Pak!" Para gadis itu langsung panik dan mengejar langkah Raka. "Bos Raka, ampun Pak! Kami berdua ini cuma fresh graduate, nyari kerjaan jaman sekarang tuh susah banget, Pak. Tolong kasih kami keringanan kali ini aja ya, Pak?"

Langkah Raka terhenti. Ia berbalik dan memindai penampilan mereka berdua secara saksama.

Baju harian yang mengintip di balik seragam mereka tampak sangat biasa, dan riasan makeup di wajah mereka pun kelihatan kusam, tipikal brand murahan. Dari situ saja Raka bisa menyimpulkan bahwa kondisi ekonomi mereka memang sangat terbatas.

"Oke, lu semua boleh stay kerja di sini," desis Raka tiba-tiba. "Tapi jatah bonus kalian sebulan penuh hangus gua potong! Dan kalau sampai ada report attitude pelayanan kalian jelek lagi, kalian langsung gua tendang keluar detik itu juga, tanpa alibi! Ingat, seluruh tamu VIP kita punya akses direct line ke Customer Service pusat Grup Adiyaksa buat ngadu. Paham kalian?!"

Gadis-gadis itu mengangguk dengan cepat bak burung pelatuk kelaparan.

Raka mungkin memang sultan super tajir yang duitnya nggak berseri, tapi dia paling pantang memelihara karyawan sampah pemalas di dalam empire-nya.

Di sebelahnya, Wahyu diam-diam merasa takjub dengan pendekatan resolusi konflik yang diambil bosnya. Paling tidak, Raka punya cukup empati untuk memastikan gadis-gadis entry-level itu tidak mendadak jadi pengangguran dan tetap bisa makan. Namun urusan punishment indisipliner, Raka tak pernah pandang bulu.

"Secara overall, instalasi interiornya sih udah rapi," Raka berkeliling meninjau, "tapi lu jelasin ke gua, kenapa kamar-kamar di area lantai 1 ini malah nggak punya toilet dalam?"

Wahyu buru-buru membela diri, "Gini Bos, area lantai 1 ini emang sengaja kita plot buat kamar budget bertarif murah, makanya kita pangkas cost instalasi pipa buat kamar mandi dalamnya."

"Nggak bisa gitu dong!" semprot Raka tanpa ampun. "Mentang-mentang kamarnya versi murah, bukan berarti lu berhak ngorbanin kebutuhan privasi dasar dari tamu-tamu kita! Gua kasih batas waktu 1x24 jam, lu harus beresin upgrade kamar mandinya!"

"..." Wahyu seketika merasa jiwa dan raganya hampa, nyaris menangis darah.

1
Jaka
harus kuat💪💪
Oppie Abdurahman
raka² hanya bisa menghindari masalah, bukannya dihadapin satu² sama fakta yang ada, padahal masalah akan membuatmu semakin kuat mentalnya.
Oppie Abdurahman
yahh plot wist kecelakaan disini
Lilia_safira
aku udah nungguin sampe nge cek berkali kali dan akhirnya 😄😄
Lilia_safira
jadwalin dong update kapan 😄!!
Oppie Abdurahman
akhirnya rilis
Oppie Abdurahman
mungkin bagi pecinta fiksi ini lumayan menarik, tapi tergantung selera juga sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!