NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

"Kita bertemu lagi, Nadia sayang." Arya mendekat ke arah Nadia, bersiap untuk memeluknya.

" Berhenti di sana!" Ucap Nadia dengan tegas. Seragam kerja yang masih melekat di tubuhnya, tenggorokannya terasa kering. Nadia mencoba menjaga jarak dari laki-laki arogan itu.

"Kamu menyuruhku?" Arya tersenyum miring." Kenapa aku harus menurut? Kamu tau sendiri siapa yang lebih berkuasa di sini." Arya tidak ingin mengalah. Dia terus maju, membuat Nadia terdesak.

Nadia mundur perlahan, jantungnya berdebar kencang saat lengan Arya tiba-tiba mencengkeramnya erat. Wajah pria itu mendekat, napas hangatnya menyapa kulit Nadia, membakar seluruh syarafnya. Tanpa peringatan, bibir Arya melumatkan ciuman yang sudah lama menjadi candu, membuat tubuh Nadia membeku seketika. Ia berusaha menarik diri, menepis sentuhan itu, tapi kekuatannya terlalu lemah untuk melawan. Wajah Arya meluncur ke lehernya yang terbuka, dan bisikannya menghantam telinga Nadia seperti aliran listrik. "Aku menginginkanmu."

Seketika, seluruh rasa dingin dan ragu berubah menjadi bara yang menyala di dalam dada Nadia. "To-tolong... hentikan!" suaranya bergetar, tubuhnya memberontak, mencoba menolak, mendorong dada bidang pria itu dengan segenap tenaga yang tersisa.

Namun Arya hanya tersenyum penuh tantangan, matanya menyala liar, seolah menyindir, “Kenapa? Tak sabar untuk babak selanjutnya, hm?” Nadia merasakan dunia seakan berhenti berputar antara takut dan keinginan yang bergejolak liar, ia terjebak dalam pusaran yang tak bisa ia kendalikan.

Nadia menggeleng cepat, menahan jijik yang menggelegak dalam hatinya. Betapa gilanya pria itu, berani-beraninya melewati batas seperti ini! Dia sama sekali tak pernah membayangkan akan terjebak dalam situasi serendah ini. Bukan keinginannya untuk seperti ini dia hanya takut tiba-tiba ada orang lain yang masuk dan menyaksikan aib mereka. Arya harusnya tahu, ini kantor, bukan tempat berlindung untuk nafsu liar. Lagi pula, Nadia tahu betul bahwa pernikahan ini hanyalah beban di hidupnya, bukan alasan untuk mencari kenyamanan atau nafkah batin dari lelaki itu. Semua ini terasa seperti jebakan yang menjeratnya dalam keputusasaan.

"Lunasi hutang ayahmu," ujar Arya menatap manik Nadia dalam-dalam." Aku akan melepaskan mu jika kamu segera melunasi hutang ayahmu." Arya tersenyum miring, ia tau kelemahan gadis di depannya ini.

Nadia menelan ludahnya susah payah, mana mungkin ia menunasi hutang ayahnya dengan cepat.

"Kenapa diam? Tidak punya uang, huh?" Arya menyunggingkan senyum miring seolah meremehkan Nadia.

Nadia tidak lagi menjawab, pekerjaannya di minimarket tidak akan mungkin bisa melunasi hutang ayahnya yang jumlahnya banyak itu. Kalaupun bisa, butuh waktu bertahun-tahun untuk melunasinya.

Arya kembali melanjutkan aktivitasnya, menikmati santapan siang di depannya. Tangan dan bibirnya bekerja sama menjelajahi setiap jengkal tubuh gadis yang sudah secara sah menjadi istrinya.

Arya menghirup dalam-dalam aroma tubuh Nadia. " Kamu wangi, aku suka." Ujarnya kembali menjelajah. Entahlah sejak pertama kali bertemu, Nadia seolah sudah menjadi candu. Sebelumnya Arya tidak pernah tertarik untuk mencium atau mencumbu wanita manapun, yang terjadi justru sebaliknya dan itu membuatnya jijik.

Arya kehilangan akal sehatnya, ada perasaan yang tidak wajar yang ia rasakan kepada gadis ini. Seolah ia menginginkan sesuatu yang lebih dan lebih lagi.

"Sayang, apakah kamu siap? Aku akan segera memulainya." Arya menatap manik mata gadis di depannya dengan kilatan penuh perasaan yang dalam, sulit baginya untuk menahan gejolak di dalam dada. Ia semakin terpesona, terutama saat melihat Nadia yang tampak tenang dan menerima kehadirannya tanpa ragu.  Arya kembali mendekatkan bibirnya pada Nadia, kali ini dengan kelembutan yang membuat hati gadis itu bergetar. Nadia pun terbawa oleh suasana hangat yang tercipta di antara mereka. Tanpa sadar, tangan Nadia menggenggam jas Arya dengan erat, menandakan bahwa ia mulai menikmati momen itu.

Tubuh Arya mulai terasa hangat oleh perasaan yang membara, sehingga ia perlahan melepas jasnya. Tangan dan bibirnya bergerak serasi, menyentuh dan menjelajahi setiap lekuk tubuh Nadia dengan penuh kasih sayang dan perhatian.

"Wanita murahan! Kamu menikmatinya kan?"

Hati Nadia merasa tertusuk beribu pisau begitu mendengar ucapan yang di lontarkan Arya. Momen hangat sebelumnya langsung padam, berganti dengan rasa sakit yang tidak terelakkan.

"Tidak sia-sia aku kelihatan banyak uang untuk membelimu," ucap Arya tanpa memikirkan apakah ucapannya akan menyakiti gadis di depannya. Tangannya bekerja membuka satu persatu kancing kemeja yang Nadia gunakan.

Tak ada perlawanan, Nadia hanya bisa diam dan memejamkan matanya. Ia tidak ingin bersikap dengan mata tajam Arya.

Arya tersenyum lebar, ia merasa puas kerena Nadia dam sesekali tidak memberontak. Tangannya semakin aktif, menyusun ke dalam pakaian sang istri.

Hening, tak ada suara sama sekali dan Lisa tidak lagi peduli. Dalam hati ia merasa sedih, ia seperti seolah sedang menjual diri. Tapi tak apa, anggap saja ia sedang melunasi hutang ayahnya.

Permainan Arya terus berlanjut, membawa tubuh Nadia ke ruang istirahat yang terletak di sisi ruangan kerja. Aroma maskulin memenuhi udara, menyentuh indra penciuman keduanya. Tanpa menunggu lama, Arya mulai melepas pakaian Nadia dengan terburu-buru, melemparkannya ke sembarang arah. Hasrat yang membara membuatnya ingin menuntaskan malam pertama yang tertunda.

Namun, perasaan Nadia sangat berbeda, ia tampak pasrah dan setengah hati, bahkan enggan membuka matanya. Pikiran Nadia masih terjebak pada kalimat tajam yang baru saja diucapkan Arya, membuatnya sulit menikmati momen itu. Setelah semuanya usai, Nadia merasakan campuran emosi yang rumit antara kelelahan dan kekosongan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

"Kenapa tidak membalas seperti sebelumnya,hm?" Arya menatap manik mata istrinya dengan pandangan tajam, menuntut jawab akan pertanyaannya.

Nadia bungkam, dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia merasa kesal, marah, sedih dan tidak rela, semuanya bercampur menjadi satu. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah. Pada kenyataannya tubuhnya sudah di beli dengan harga mahal dan itu menampar harga dirinya dengan keras.

"Kamu marah?" tanya Arya, tubuh tegapnya mengkilap oleh keringat.

Nadia tetap diam seribu bahasa. Dia tidak ingin menanggapi apapun kalimat yang terlontar dari mulut tajam laki-laki itu. Percuma saja, dia tidak akan bisa menang melawan pria yang angkuh dan arogan seperti dia.

Detik berikutnya, tangan Nadia menghapus bulir air yang keluar dari sudut matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Arya, karena dengan begitu laki-laki itu akan semakin merasa bangga.

"Hei, kamu menangis?" tanya Arya begitu melihat gerakan tangan Nadia. " Aku tidak peduli kamu marah, sedih, kecewa atau apapun. Yang harus kamu tau, tubuhmu sudah menjadi milikku dan hanya menjadi milikku. Sampai kapanpun kamu hanya boleh menjadi wanitaku."

Nadia menatap Arya dengan pandangan heran, ia tidak pernah berhadapan dengan pria yang begitu posesif seperti Arya.

"Kamu terkejut? Aku akan mengejutkanmu dengan hal lain, jadi bersiaplah."

Arya kembali mendaratkan bibirnya, meninggalkan bekas kemerahan berulang kali di tubuh istrinya. Pria ini seolah ingin membuktikan bahwa dia bisa melakukan apapun sesuai dengan kehendaknya. Jemarinya semakin aktif menjelajah. Nadia mengigit bibir bawahnya.

"Keluarkan suara manjamu seperti wanita lainnya!" Kata-kata itu keluar begitu saja, membuat harga diri Nadia semakin terluka. Dia bukanlah wanita murahan yang mudah menjajakan tubuhnya pasa siapapun. Jangankan tidur dengan seorang pria, bahkan ciuman pertamanya saja di curi secara paksa oleh laki-laki di depannya. Galang, kekasihnya saja tidak pernah menyentuh bibirnya.

Arya semakin semangat mengobrak-abrik pertahanan Nadia tanpa mempedulikan perasaannya. Pria itu telah hilang kendali, akal sehatnya tertutup gairah.

"Jangan pura-pura sayang, tunjukkan sisi liarmu." Ucap Arya tanpa ragu.

Air mata kembali menetes membasahi pipi Nadia. Dia tidak ingin Arya mengambil sesuatu yang selama ini ia jaga. Namun laki-laki itu nampaknya tidak peduli.

Nadia kembali dikejutkan dengan perlakuan Arya, bagaimanapun ia wanita dewasa dan mengerti apa yang akan terjadi setelah ini.

"Lihat, bahkan kamu sendiri menikmatinya." Arya merasa di atas awan. Dia begitu bangga saat dia berhasil membuat Nadia meraih puncak sebelum permainan inti mereka.

"Kita lihat, apakah kamu bisa menahan diri setelah ini?"

"Aku mohon, jangan!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!