Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEBU DI ATAS GAUN PUTIH
Pagi hari pernikahan yang megah pun tiba. Sebuah kotak besar dari rumah mode ternama di Paris dikirimkan ke kamar pengantin dengan pengawalan ketat. Flaire, dengan tangan gemetar karena gugup, membuka pita satin yang mengikat kotak tersebut. Gaun pengantin impiannya, yang berhias ribuan kristal swarovski, tampak berkilau indah.
Namun, saat Flaire mengangkat gaun itu, sebuah amplop hitam kecil jatuh ke lantai. Flaire memungutnya dan membaca barisan kata yang ditulis dengan tinta merah darah:
..."Nikmatilah altar itu, Flaire. Karena saat kau mengucapkan janji suci, katedral ini akan menjadi kuburan massal bagi seluruh keluarga Shelby. Seraphina tidak akan membiarkanmu menang."...
Wajah Flaire seketika memucat. Ia berlari keluar kamar sambil membawa surat itu, tepat saat Jaydane sedang merapikan dasi tuxedo-nya di depan cermin besar.
"Jay! Lihat ini! Seraphina... anak buahnya mengancam akan meledakkan katedral!" seru Flaire dengan suara bergetar.
Jaydane mengambil surat itu, membacanya sekilas, lalu... ia tertawa. Bukan tawa kecil, melainkan tawa yang dalam dan meremehkan, seolah ia baru saja mendengar lelucon paling konyol di dunia.
"Kenapa kau tertawa? Ini ancaman bom, Jay!" Flaire menatap suaminya dengan bingung.
Jaydane meremas surat itu hingga menjadi bola kecil dan melemparnya ke tempat sampah. Ia melangkah mendekati Flaire, mengusap pipi istrinya yang pucat dengan jempolnya.
"Seraphina sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Flaire. Dia hanya menggertak lewat sisa-sisa anak buahnya yang tidak tahu apa-apa," bisik Jaydane dingin. "Semalam, saat kau sedang bermimpi indah, aku baru saja menerima laporan terakhir dari Italia."
Flaire mengerutkan kening. "Laporan apa?"
"Mansion milik ayah Seraphina di Sisilia sudah rata dengan tanah. Tidak ada satu batu pun yang tersisa. Seluruh keluarga besarnya yang mendukung Seraphina... sudah kulenyapkan tanpa sisa," ujar Jaydane tanpa beban, seolah bicara tentang cuaca.
Jaydane menyeringai tipis, sebuah seringai yang menunjukkan sisi gelapnya yang paling murni. "Dan kakaknya yang angkuh itu, Sanchez? Dia tidak mati. Itu terlalu mudah. Aku sudah menjualnya ke rumah bordil khusus di pinggiran Brasil untuk dijadikan gigolo rendahan.
Dia akan melayani siapa pun yang membayarnya sampai sisa hidupnya habis. Jadi, siapa yang akan meledakkan katedral ini? Hantu?"
Flaire tertegun. Ia selalu tahu Jaydane kejam, tapi kecepatan pria ini dalam menghancurkan sebuah dinasti mafia dalam satu malam benar-benar luar biasa. Ia merasa ngeri, namun di saat yang sama, ia merasa sangat terlindungi.
"Kau... kau melakukan semua itu semalam?"
"Aku sudah bilang, Little Bird. Jangan pernah meragukan kemampuanku untuk melindungimu dan Jorden," Jaydane memeluk pinggang Flaire, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Sekarang, pakai gaunmu. Aku ingin melihatmu berjalan di altar, bukan karena aku takut bom, tapi karena aku sudah tidak sabar untuk membuka gaun itu setelah pesta selesai."
Jaydane mencuri satu ciuman kasar di bibir Flaire sebelum melepaskannya. "Cepatlah. Jorden sudah menunggumu dengan setelan jas kecilnya. Dia ingin melihat Mamanya menjadi wanita tercantik di dunia."
Flaire menarik napas lega, senyum mulai kembali ke wajahnya. "Baiklah, Tuan Shelby yang sombong. Tapi jangan harap kau bisa 'menyerangku' di dalam katedral nanti!"
"Kita lihat saja nanti," gumam Jaydane sambil menatap bokong Flaire yang bergoyang saat wanita itu kembali ke kamar, matanya berkilat penuh rencana mesum untuk malam pengantin mereka.