Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pemilik Sapu Tangan Biru
Dila melangkah keluar dengan senyum tipis, menutup pintu kamar rawat dengan sangat pelan. Ia tahu, di dalam sana, ada dua hati yang sedang berusaha merobohkan tembok tinggi yang selama ini membatasi mereka.
Keheningan menyergap sesaat. Arlan masih berlutut di samping ranjang, menggenggam jemari Hana yang terasa begitu rapuh. Ia menatap wajah istrinya dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari biasanya, bukan lagi tatapan seorang dosen pembimbing, melainkan tatapan seorang pria yang berutang nyawa.
"Hana," suara Arlan serak.
"Maafkan saya. Saya gagal menjadi pelindungmu. Seharusnya saya tidak membiarkan kerahasiaan ini menjadi celah bagi orang lain untuk menginjak-injak harga dirimu."
Arlan menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
"Saya sudah bicara dengan rektorat. Saya tidak akan membiarkan fitnah ini terus bergulir. Besok, saya akan mengumumkan pernikahan kita secara resmi di kampus. Saya akan bersihkan namamu, Hana. Saya akan pastikan semua orang tahu bahwa kamu adalah istri sah saya, wanita paling terhormat yang saya miliki."
Hana terpaku. Air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa haru yang membuncah. Untuk pertama kalinya, Hana melihat Arlan bukan sebagai sosok "Pak Dosen" yang kaku, melainkan sebagai seorang suami yang siap memasang badan untuknya.
"Terima kasih, Mas..." ucap Hana tulus.
Suaranya masih bergetar, namun senyum tipis mulai menghiasi bibirnya yang pucat.
Arlan terdiam sejenak, lalu tangannya merogoh saku kemeja. Ia mengeluarkan sehelai kain biru muda yang sudah mulai usang namun sangat bersih. Ia meletakkan kain itu di telapak tangan Hana.
Hana menatap benda itu dengan dahi berkerut.
"Apa ini, Mas?" tanya Hana bingung.
Hana membolak-balik kain itu, menyentuh tekstur halusnya yang terasa sangat familiar. Di pojok kain, ada sulaman huruf 'H' yang sedikit pudar.
Arlan tersenyum, genggamannya pada tangan Hana mengerat.
"Dulu, ada seorang gadis remaja yang sangat berani. Dia menemukan seorang pemuda yang tergeletak bersimbah darah setelah dirampok di gang sepi. Bukannya lari ketakutan, gadis itu malah sibuk mengomeli si pemuda karena dianggap tidak bisa melawan perampok itu."
Deg.
Jantung Hana seolah berhenti berdetak sesaat.
Memori masa lalu yang selama ini tersimpan di sudut ingatannya mendadak berputar kembali seperti rol film. Ia ingat sore itu, setelah pulang les tambahan yang melelahkan. Ia menemukan seorang pria yang terluka parah di lengannya. Ia ingat betapa kesalnya ia melihat pria itu hanya diam menahan sakit, sehingga ia terpaksa menggunakan sapu tangan biru kesayangannya untuk mengikat luka itu sekuat tenaga agar darahnya berhenti mengalir.
Hana menatap Arlan dengan mata membelalak, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut.
"Jadi... pemuda yang waktu itu... itu kamu, Mas?"
Arlan mengangguk perlahan, matanya berkaca-kaca.
"Sapu tangan ini yang menyelamatkan nyawa saya waktu itu, Hana. Dan sejak hari itu, saya tidak pernah berhenti mencari pemiliknya. Saya menyimpan kain ini selama sepuluh tahun sebagai pengingat bahwa malaikat itu nyata."
Hana tak kuasa menahan isaknya. Ia tidak menyangka bahwa pria yang kini menjadi suaminya adalah orang yang pernah ia selamatkan di masa lalu. Takdir ternyata sudah menenun cerita mereka jauh sebelum Inggit hadir di antara mereka.
"Jadi orang tu... Kamu Mas?"
Arlan mengangguk sebagai senyuman.
"Apa selama ini... Mas sudah tahu kalau itu aku?" tanya Hana dengan suara parau.