sebuah keserakahan manusia yang akan membawa petaka dari keluarganya, untungnya Laluna si gadis cantik yang perkasa ini luput dari kekejaman serta keserakahan orangtuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus kali ini
Rombongan keluarga Fadli datang seperti orang yang mau melamar seorang gadis,segala oleh oleh di bawanya dari buah sampai kue dari beras sampai daging dari sayuran sampai rendang, Laluna dan Najwa melongo melihat apa yang ada di depan matanya, Bunda Ayu,Laila ,Fadli dan seorang pembantu serta sopir begitu ribet membawa barang ke lantai lima dimana Laluna tinggal.
"Ya Allah bunda, apa ini banyak banget macam orang mau hajatan saja". Protes Laluna, Bunda Rahayu hanya tersenyum, menaruh barang yang ada di tangannya setelah itu memeluk dan mencium Laluna dengan hangat.
"Bunda kangen sekali, kok Luna nggak pernah main ke rumah?" tanya Bunda
"Baru seminggu yang lalu padahal, masa sudah kangen saja". Celetuk Luna.
"Bunda maunya kamu tinggal disana biar tiap hari bisa ketemu". Jawab bunda membuat wajah Luna merah merona menahan malu, tapi malah di cie cie in oleh Laila yang sedang menata buah dan makanan di kulkas.
Sementara Fadli hanya senyum senyum padahal hatinya berbunga bunga ,sekebon mekar semua.
"Abi, Azka mau tinggal bersama Tante Luna, boleh ya? Kata Tante Luna tadi boleh tapi suruh izin ke Abi dulu", tanya Azka yang tiba tiba muncul habis bermain game di komputer bersama Najwa .
Fadli terbengong dengan kerandoman anggota keluarganya yang ternyata semua jatuh cinta pada Laluna.
"Kan Azka harus sekolah sayang, boleh saja main kesini tapi tidak untuk tinggal, Tante Luna nya juga harus kerja kan, nanti merepotkan". Jawab sang ayah.
"Kan aku bisa tinggal di sini bawa Mbak, Abi? Boleh ya?" si bocil tetap merengek, Fadli terdiam tak menjawab kwatir putranya tantrum malah mengacaukan acara.
Dan kini mereka semua menggelar karpet di rumah mungil Laluna, dengan menyingkirkan sofa dan meja ke pinggir, riuh sekali membuka makanan yang di bawa dan di masak oleh Bunda Rahayu, berupa makanan khas timur tengah yang dominan dengan daging kambing, karena ini bukan tamunya, Najwa yang tahu diri itu pamit keluar untuk mengurus sesuatu padahal cuma tak enak hati ngerecoki mereka yang sedang bersama mengakrabkan diri.
Sementara si Azka terus saja nempel pada Laluna tak sedikitpun memberi Fadli untuk mendekat sekedar berinteraksi.
"Hm kalau boleh bunda bertanya apakah orang tua Luna masih hidup, dan mereka kini tinggal dimana?" tanya Bunda, sebuah pertanyaan basa basi sebenarnya tapi membuat Laluna kalang kabut dan bingung cara menjelaskan kannya , dengan cepat Luna hanya menjawab "masih hidup ".
Pertanyaan berikutnya yang menurut Bunda biasa saja itu sungguh bagaikan duri ikan bersama kepalanya yang menyangkut di tenggorokan Luna, misalnya mereka dimana dikampung atau di kota dan sebagainnya, karena Luna sudah kepalang basah Luna ingin sekali cerita pada keluarga ini, "kalah menang urusan nanti jika mereka tak suka dan tak datang lagi karena cerita kehidupan orang tuanya biarkan mereka pergi, jika masih mau bergaul dengan Luna jika telah mendengar ceritanya ya itu urusan lain" fikir Luna.
Luna berkirim WhatsApp ke nomor Fadli dan dengan gerakan mata menyuruh Fadli membukanya dan isinya "Bang ada Azka tak mungkin aku bercerita bagaimana kalau Laila, pembantu dan sopir itu suruh jalan jalan dulu". Tulis Luna dalam WhatsApp nya, Fadli faham dan balik menulis WA di kirim ke hp Laila.
"Baca gih". Perintah Fadli, Laila merengut bibirnya monyong seperti bisa di kuncir dengan karet gelang, bibir merah agak tebal dan seksi itu malah terlihat macam bibirnya Donald duck Dimata Fadli, sungguh otak Fadli ini buruk sekali.
Akhirnya Laila faham ada sesuatu hal penting yang ingin mereka bertiga diskusikan, Laila mengajak Azka dan dua pelayannya untuk jalan jalan ke wahana bermain, karena mendengar ada permainan si Azka tak usah di bujuk dua kali sudah ngacir duluan.
"kok malah semuanya keluar". Bunda bengong belum faham situasi.
"kami yang nyuruh bunda, katanya bunda mau dengar cerita Luna, aku juga pingin dengar padahal". Jawab Fadli.
"Kalau nak Luna keberatan seperti nya nggak usah cerita juga nggak masalah bunda tadi cuma tanya tapi jangan di kira mendikte ya, bunda tak seekstrim itu kok". Kata Bunda Rahayu, tapi bagi Luna kepalang basah dia harus menceritakan kehidupannya pada dua orang ini, jika suka silahkan maju jika tak suka Monggo, silahkan mundur, begitu yang ada di benak Luna.
"Nggak apa apa bunda, saya mau cerita tentang kehidupan pribadi saya, sebenarnya saya tak suka mengumbar privacy dan aib keluarga tapi kali ini saya berhadapan dengan orang orang yang sangat baik seperti bunda dan bang Fadli, bagaimana pun andaikan setelah saya bercerita bunda akan jijik dan membenci saya maka saya akan terima resikonya". Ucap Laluna.
"Kami melihat pribadimu sangat baik dan bersahaja Luna, tak mungkinlah kami membencimu meski cerita hidupnya misalnya tak sesuai ekspektasi Bunda, yang kami kenal kamu bukan ayah ibumu jadi ada dan tiadanya mereka tak ada pengaruh nya bagi Bunda, kamu berfikir begini juga kan Fadli?" tanya bunda dan Fadli mengangguk angguk, tak punya ide sama sekali dia tumben, bisanya cuma manut emaknya.
Luna menarik nafas panjang sebelum mulai ceritanya, dia lalu bercerita siapa orang tuanya tentang ayahnya yang mantan anggota DPR dan ibunya yang seorang pengacara terkenal, ketika menyebutkan nama kedua orang tuanya Fadli dan ibunya langsung mengenali siapa orang tua Laluna ,pasangan yang terlihat bahagia dan sukses dengan otak yang sangat encer diatas rata rata, sampai disini mereka sangat kagum pada pasangan itu.
Selanjutnya Laluna menceritakan tentang ketiga kakaknya yang meninggal dijadikan tumbal ketika masih belia, dan semua korban yang dia ketahui yaitu para pelayan yang di rekrut oleh keduanya, pasti akan mati kalau tidak sakit ya kecelakaan, kedua ibu dan anak itu jadi tegang mendengarnya, mau percaya tapi sepertinya mustahil karena hidup mereka belum pernah mengalami hal yang seperti itu.
Sampai akhirnya Luna minggat dari rumah setelah lulus SMA mencari kehidupan sendiri tanpa sepeserpun harta dari orang tuanya, dia pontang panting cari kehidupan sampai menjadi seorang petarung demi mempertahankan hidup, hingga kini telah mempunyai usahanya sendiri, dan bahkan Luna tak lupa menceritakan kejadian beberapa Minggu yang lalu ketika dirinya di umpan kan pada seorang dukun untung bisa lepas dan melarikan diri, bagian misteri nya Luna skip karena takut dua orang di depannya tak percaya malah jadi bahan lelucon.
"kurang ajar, orang tua macam apa itu, ternyata hanya kulit luarnya saja yang mulus dalamnya penuh duri beracun". Komentar Bunda geram sekali, kini dia benar benar jadi lebih sayang pada Luna yang kekurangan kasih sayang ini, begitu pula dengan Fadli tak pernah menyangka di dunia ini ternyata ada cerita tak masuk logika tapi nyata.
****&******