NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: KUNJUNGAN SANG MATRIARK

Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah-olah alam pun tahu bahwa badai yang lebih besar dari sekadar hujan akan segera menghantam mansion The Sanctuary. Arumi tidak bisa tidur tenang semalam. Bayangan wajah Siska yang penuh dendam terus menghantuinya. Ia tahu, wanita seperti Siska tidak akan tinggal diam setelah diusir dengan cara yang memalukan oleh Arlan.

Tepat pukul sepuluh pagi, ketenangan mansion itu pecah. Bukan suara mesin mobil sport, melainkan deru mesin beberapa mobil sedan hitam mewah yang berhenti dengan sinkron di depan lobi.

Arumi, yang sedang berada di lantai dua untuk menjemur pakaian bayi Leon di balkon tersembunyi, mengintip ke bawah. Jantungnya mencelos. Dari mobil paling tengah, turun seorang wanita lanjut usia yang penampilannya begitu megah hingga membuat siapa pun yang melihatnya akan menundukkan kepala. Ia mengenakan kebaya modern berwarna marun yang elegan, dengan sanggul rapi tanpa celah.

Nyonya besar Victoria Arkananta. Ibu kandung Arlan, sang matriark yang memegang kendali atas moralitas dan reputasi keluarga Arkananta.

"Tuan Arlan! Nyonya Besar ada di bawah!" seru Bram yang berlari menaiki tangga dengan wajah pucat pasi.

Arlan, yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, tampak membeku sesaat. Rahangnya mengeras. Ia melirik Arumi yang berdiri di koridor dengan wajah ketakutan.

"Arumi, masuk ke kamar! Jangan keluar, jangan bersuara, dan pastikan Leon tetap tenang!" perintah Arlan dengan suara rendah yang penuh tekanan. "Bi Inah, bantu dia! Cepat!"

Arumi segera berlari masuk ke dalam kamar bayi. Ia menutup pintu ganda itu dan menguncinya dari dalam. Bi Inah dengan cekatan mengambil empeng dan mainan yang tidak berbunyi untuk mengalihkan perhatian Leon yang baru saja bangun dari tidurnya.

Di bawah, suara sepatu hak tinggi Victoria bergema di lantai marmer, terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Arlan menyambut ibunya di ruang tamu utama dengan sikap formal yang kaku.

"Ibu, kejutan sekali. Kenapa tidak mengabari jika ingin berkunjung?" Arlan mencoba menjaga suaranya tetap stabil.

Victoria tidak menjawab. Ia hanya berjalan mengelilingi ruangan, menyentuh permukaan meja, dan memeriksa setiap sudut dengan mata tajamnya yang tidak melewatkan satu detail pun. Ia kemudian duduk di sofa beludru dan menatap putranya dengan dingin.

"Siska datang padaku sambil menangis, Arlan. Dia bilang kau menyembunyikan 'sesuatu' di sini. Dia bilang kau menyewa seorang perawat yang aromanya seperti susu bayi, dan ada suara tangisan di lantai atas," Victoria menyesap teh yang baru saja disajikan oleh pelayan dengan tangan gemetar. "Katakan padaku, sejak kapan putraku yang paling membanggakan mulai bermain detektif-detektifan dengan rahasia yang murahan?"

"Siska berlebihan, Ibu. Dia hanya cemburu karena aku menolak kehadirannya di sini," jawab Arlan tenang. "Mansion ini adalah tempatku beristirahat dari tekanan kantor. Aku butuh privasi."

"Privasi tidak pernah lebih penting daripada reputasi, Arlan!" suara Victoria meninggi satu nada, namun tetap terdengar elegan. "Keluarga kita sedang dalam proses negosiasi merger dengan keluarga Wijaya. Jika ada desas-desus kau memiliki anak haram atau menyimpan wanita simpanan, kesepakatan itu akan batal. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Victoria berdiri. "Aku ingin melihat seluruh ruangan di rumah ini. Sekarang."

Di lantai atas, Arumi mendekap Leon dengan sangat erat. Ia bisa mendengar langkah kaki yang menaiki tangga. Suara Victoria terdengar semakin dekat, sedang berdebat dengan Arlan yang mencoba menghalanginya.

"Ibu, ini area pribadi. Tidak ada apa-apa di sini selain kamar tamu kosong," suara Arlan terdengar mendesak.

"Jika kosong, kenapa kau begitu keberatan aku melihatnya?" balas Victoria.

Cklek.

Pintu kamar di sebelah kamar bayi dibuka. Arumi menahan napas. Ia merasa seolah-olah oksigen di ruangan itu menipis. Leon mulai merasa tidak nyaman karena pelukan Arumi yang terlalu kencang. Bayi itu mulai gelisah, mulutnya terbuka, bersiap untuk mengeluarkan suara.

"Sshhh... sayang, tolong... sebentar saja," bisik Arumi dengan air mata yang mulai mengalir. Ia segera memberikan ASI-nya agar Leon tenang. Bayi itu mulai menyusu, namun tangisannya yang tertahan masih terdengar seperti gumaman kecil.

Di luar, Victoria berhenti tepat di depan pintu kamar bayi.

"Pintu ini terkunci," ucap Victoria dingin. "Buka, Arlan."

"Itu kamar perawat medis yang aku sewa. Dia sedang beristirahat, Ibu. Tidak sopan mengganggunya," Arlan mencoba bernegosiasi.

"Aku tidak peduli tentang sopan santun kepada pelayan. Buka, atau aku akan menyuruh pengawal pribadiku mendobraknya."

Arlan terpojok. Di satu sisi, ia adalah CEO yang ditakuti ribuan karyawan, namun di depan ibunya, ia hanyalah seorang putra yang terikat oleh rantai tradisi dan kekuasaan keluarga.

Di dalam kamar, Arumi gemetar hebat. Ia menatap Bi Inah yang juga tampak sangat ketakutan. Jika pintu ini dibuka, hidup Arumi berakhir. Karir Arlan hancur. Dan Leon... Leon akan diambil darinya.

Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di kepala Arumi. Ia meletakkan Leon di boks bayi dan menutupinya dengan selimut tebal namun longgar agar tetap bisa bernapas, sementara ia sendiri segera melepas seragam putihnya dan mengenakan gaun tidur tipis yang ada di dekatnya, lalu mengacak-acak rambutnya.

Klek.

Arlan terpaksa membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Victoria melangkah masuk dengan penuh kemenangan.

Namun, pemandangan yang ia temukan bukan seorang bayi. Ia menemukan Arumi yang sedang duduk di tepi tempat tidur, tampak baru bangun tidur dengan wajah yang sembap dan mata merah. Di atas tempat tidur, berserakan berbagai peralatan medis: botol infus kosong, kapas, dan perban.

"Siapa kau?" tanya Victoria dengan nada menghina.

Arumi berdiri dan membungkuk dalam-dalam. "Maafkan saya, Nyonya Besar. Saya Arumi, perawat khusus Tuan Arlan. Saya baru saja selesai membersihkan luka Tuan Arlan dan merasa sangat lelah hingga tertidur."

Victoria memicingkan mata. Ia berjalan menuju boks bayi yang tertutup selimut. Jantung Arumi hampir meledak.

"Lalu, apa ini?" Victoria hendak menarik selimut itu.

"Itu... itu alat sterilisasi medis yang besar, Nyonya," sela Arlan cepat sambil melangkah maju, menghalangi tangan ibunya. "Alat itu sangat sensitif terhadap cahaya matahari dan debu. Jangan disentuh."

Victoria menatap putranya dengan tatapan menyelidik. Suasana begitu tegang hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman meriam. Leon, di bawah selimut, mulai bergerak sedikit. Arumi segera batuk dengan keras untuk menutupi suara gesekan kain.

"Uhuk! Uhuk! Maaf Nyonya, udara di sini agak berdebu bagi saya yang sedang kurang sehat," Arumi berpura-pura sakit parah.

Victoria mengerutkan hidung karena jijik. "Arlan, kau menyewa perawat yang sakit-sakitan? "

Singkirkan dia segera setelah lukamu sembuh. Aku tidak ingin ada bibit penyakit di rumah ini."

Victoria akhirnya berbalik dan keluar dari kamar. Arlan mengikutinya dari belakang, memberikan kode mata kepada Arumi untuk tetap diam.

Setelah suara mobil-mobil itu menjauh, Arumi segera berlari ke boks bayi dan menyingkap selimutnya. Leon sedang menatapnya dengan mata bulat yang besar, seolah bertanya kenapa tadi ia disembunyikan. Arumi langsung menggendongnya dan menangis tersedu-sedu.

"Maafkan Ibu, Leon... maafkan Ibu," isak Arumi. Ia merasa sangat hina harus menyembunyikan bayi suci itu seolah-olah dia adalah sebuah aib yang menjijikkan.

Beberapa menit kemudian, Arlan kembali ke kamar. Ia tidak marah, namun wajahnya terlihat sangat lelah. Ia duduk di kursi kayu, menyandarkan kepalanya di tangannya.

"Dia hampir menemukannya," gumam Arlan lirih.

"Sampai kapan, Tuan?" tanya Arumi dengan suara bergetar. "Sampai kapan Leon harus hidup dalam kegelapan seperti ini? Dia anak Anda, dia pewaris Anda. Kenapa dia diperlakukan seperti kesalahan?"

Arlan mendongak, matanya merah karena emosi yang tertahan. "Karena di dunia ini, Arumi, kebenaran tidak selalu membawa kebahagiaan.

Jika ibuku tahu Leon ada, dia akan melakukan dua hal: Pertama, dia akan membuangmu ke tempat yang tidak bisa kau temukan jalan pulang. Kedua, dia akan mengambil Leon dan mendidiknya menjadi mesin bisnis yang tidak punya hati, sama seperti aku."

Arlan berdiri dan mendekati Arumi. Ia menatap bayi di pelukan Arumi. "Kau pikir aku ingin menyembunyikannya? Setiap hari aku ingin berteriak pada dunia bahwa aku memiliki putra. Tapi aku tidak bisa. Tidak selama ibuku masih memegang kendali atas saham mayoritas perusahaan."

Arumi terdiam. Ia melihat sisi lain dari Arlan yang selama ini ia anggap sebagai 'Iblis'. Arlan bukan kejam karena ia ingin, tapi ia kejam untuk bertahan hidup di tengah keluarga yang lebih mirip dengan sarang ular.

"Tuan Bram," panggil Arlan melalui interkom.

Bram masuk tak lama kemudian.

"Siapkan keberangkatan. Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Ibu akan mengirim orang untuk memata-matai tempat ini setiap hari," perintah Arlan.

"Kita akan pergi ke mana, Tuan?" tanya Arumi.

"Ke villa di lereng gunung. Tempat yang tidak ada dalam peta keluarga Arkananta. Bersiaplah, kita berangkat tengah malam ini."

Arumi mengangguk. Namun, saat ia berbalik untuk merapikan pakaian Leon, ia melihat Bram sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat aneh. Ada kilatan kepuasan di mata asisten itu, seolah-olah semua kejadian hari ini adalah bagian dari rencana besarnya.

Arumi menyadari satu hal: musuh yang sebenarnya mungkin bukan Victoria atau Siska, melainkan orang yang selama ini berdiri di samping Arlan.

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!