Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Undangan Sang Tuan Muda
Langkah kaki mereka beradu di atas aspal jalanan yang mulai sepi. Caspian berjalan dengan tenang, satu tangannya menenteng kantong belanjaan berisi bumbu dapur milik Colette seolah benda itu adalah tas kerja eksklusif. Di sampingnya, Colette berjalan dengan kaku, sesekali merapikan helaian rambut wolf cut-nya yang tertiup angin malam, berusaha menutupi rona merah di pipinya.
Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal dan penuh tekanan, hingga suara jangkrik di kejauhan pun terdengar seperti teriakan. Colette tidak tahu harus menatap ke mana; menatap ke depan terasa kosong, menatap ke samping terasa terlalu berbahaya karena ia pasti akan bertemu dengan tatapan tajam pria itu.
Tiba-tiba, Caspian memecah keheningan dengan suara baritonnya yang rendah dan berwibawa.
"Hari Minggu ini... apa kau punya rencana lain selain bersembunyi di dalam kamar dan memikirkan label kemasan?" tanya Caspian tanpa menoleh, namun nada suaranya terdengar lebih santai dari biasanya.
Colette tersentak kecil, hampir saja ia tersandung kakinya sendiri. "Eh? Tidak... tidak ada. Biasanya aku hanya membantu Ibu di rumah."
Caspian menghentikan langkahnya tepat di bawah lampu jalan yang berkedip redup, membuat bayangan tubuhnya yang tinggi menjulang menyelimuti sosok Colette yang mungil. Ia menoleh, menatap tepat ke dalam mata hazel Colette yang berkilau indah.
"Kalau begitu, bersiaplah. Aku ingin membawamu pergi makan malam besok," ucap Caspian dengan nada yang lebih menyerupai perintah daripada sekadar ajakan.
Colette membelalakkan matanya. Jantungnya berpacu liar. "Makan... makan malam? Tapi Tuan, saya... saya tidak punya pakaian yang pantas untuk pergi ke tempat yang biasa Tuan kunjungi. Dan Ibu pasti akan bertanya-tanya."
Caspian terkekeh rendah, sebuah suara yang terdengar sangat maskulin di kesunyian malam. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, membuat Colette bisa mencium aroma kayu cendana yang menenangkan dari tubuh pria itu.
"Jangan khawatirkan ibumu, aku sudah meminta izinnya tadi sore lewat telepon. Dan soal pakaian..." Caspian menunduk sedikit, menatap bibir merah marun Colette yang sedikit terbuka karena terkejut. "Kau sudah cukup 'pantas' hanya dengan menjadi dirimu yang sekarang, Colette. Keindahanmu tidak butuh kain sutra untuk diakui."
Colette terdiam, lidahnya mendadak kelu.
Colette menelan ludah, berusaha mengatur napasnya yang menderu tidak keruan. Ia menatap jemari Caspian yang masih menggenggam kantong belanjaannya dengan begitu santai, seolah pria itu tidak sedang memberikan undangan yang bisa menjungkirbalikkan dunia Colette.
"I-iya..." jawab Colette lirih, nyaris seperti bisikan. Namun, ia segera menambahkan dengan nada ragu, "Tapi saya tidak bisa berjanji, Tuan. Ibu mungkin butuh bantuan di rumah, dan... saya tidak terbiasa pergi ke tempat-tempat seperti itu."
Caspian tidak menunjukkan raut kecewa. Sebaliknya, ia justru melangkah satu tindak lebih dekat hingga bayangan tubuhnya yang tinggi benar-benar mengurung Colette di bawah lampu jalan yang remang. Aroma sandalwood yang maskulin dari tubuhnya kini menyergap indra penciuman Colette, membuatnya semakin pening.
"Dalam kamusku, Colette, kata 'mungkin' biasanya berarti 'iya' yang sedang malu-malu," bisik Caspian tepat di samping telinga gadis itu. Suara baritonnya yang rendah memberikan getaran aneh di tengkuk Colette.
Ia kemudian menyerahkan kantong belanjaan itu kembali ke tangan Colette. "Aku tidak suka paksaan, tapi aku juga tidak suka menunggu. Jadi, pastikan alasanmu cukup logis jika dihari minggu kau tidak muncul di depan gang ini."
Caspian menyunggingkan senyum nakalnya untuk terakhir kali malam itu, lalu berbalik dan melangkah menuju mobil hitam mewahnya yang terparkir di ujung jalan. Colette mematung di depan pagar rumahnya yang reyot, mendekap kantong belanjaannya seolah benda itu bisa melindunginya dari rasa debar yang menggila.
Setelah deru mesin mobil mewah Caspian menghilang di kejauhan, keheningan malam di gang sempit itu terasa berkali-kali lipat lebih mencekam. Colette masih mematung di depan pagar kayu rumahnya yang mulai lapuk, mendekap kantong belanjaannya erat-eratan seolah benda itu adalah perisai.
Bulir keringat dingin menetes di tengkuknya. Ia merasa merinding. Selama ini, Colette hanya membaca di buku atau mendengar selentingan kabar tentang pria-pria berkuasa yang memiliki aura dominan yang bisa mengintimidasi lawan bicaranya tanpa perlu membentak. Ia pikir itu hanya mitos atau sekadar bumbu cerita novel picisan.
Namun sekarang, setelah berhadapan langsung dengan Caspian—setelah merasakan bagaimana pria itu merebut paksa belanjaannya dan memberikan perintah dengan nada yang tak terbantahkan—Colette sadar bahwa orang-orang seperti itu memang nyata.
"Dia... dia bukan orang biasa," bisik Colette pada kegelapan malam.
Ada sesuatu yang sangat berbahaya dari cara Caspian menatapnya. Bukan tatapan melecehkan yang ia terima saat SD dulu, melainkan tatapan seorang predator yang sedang menandai wilayahnya.