Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Omelan
"Onty Ucan, kok bisa Mika tidul di sini? Kemana Onty boncel? Pantas saja semalam Mika kaya ketempelan beluang," tanya Mika sambil mengucek kedua matanya.
Mika tampaknya baru bangun tidur. Bahkan rambutnya masih berantakan, sedangkan Susan memeluknya dari samping. Sudah sudah bangun dari tadi dan menyiapkan sarapan untuk Ronand berangkat ke kantor. Namun Mika belum bangun, sehingga Susan menemaninya sambil ikut tiduran.
Saat bangun dari tidurnya, Mika tampak bingung dengan kamar yang ditempatinya. Pasalnya ini adalah kamar di rumah orangtua Rachel dan Ronand. Lalu dia tidur bersama Susan, bukan Rachel. Tentu saja itu membuat Mika merasa aneh. Biasanya ia akan tidur bersama Rachel, walaupun sudah punya kamar sendiri.
"Onty Achel lagi sakit demam. Jadi kamu tidurnya sama Onty Ucan. Kalau tidur sama Onty Achel, nanti kamu bisa ikutan demam. Kan repot, mana orangtuamu lagi ke luar negeri." ucap Susan dengan asal.
"Sakit? Kok ndak ada yang bilang sama Mika sedali tadi? Halusnya bilang dong. Obatnya Onty boncel itu kedatangan Mika lho," seru Mika dengan raut wajah paniknya.
"Dikira dia itu paracetamol yang bisa meredakan demam," gumam Susan sambil menggelengkan kepalanya.
"Mandi dulu baru temui Onty. Ilernya tuh belepotan kemana-mana," suruhnya saat melihat Mika tampaknya ingin segera bertemu dengan Rachel.
"Ndak usah mandi. Mika alelgi ail, nanti gatal-gatal."
Susan yang mendengar hal itu hanya bisa menghela nafasnya pelan. Darimana alergi airnya? Setiap sore juga mandi. Saat akan berangkat sekolah pun begitu. Memang aneh saja ini Mika. Alhasil Mika langsung melompat dari ranjangnya kemudian berlari keluar kamar.
"Mika, emangnya kamu tahu dimana Onty Achel? Main nyelonong aja," seru Susan membuat Mika menghentikan langkahnya.
"Di kamalnya lah, Onty Ucan. Masa lagi sakit begini, duduk di atas genteng." ucap Mika dengan sinis. Hal itu membuat Susan menganga tak percaya. Mika pun pergi meninggalkan Susan yang kesal dengannya.
"Itu bocah satu. Mulutnya minta di lakban. Pagi-pagi ngomongnya pedes amat," gumam Susan sambil menghela nafasnya pelan.
"Baru sadar. Itu kan ajaranku dan Achel juga. Jadi nggak sepenuhnya salah dia," lanjutnya sambil terkekeh geli.
***
Oma...
Setelah berlarian keluar kamar dan hendak naik tangga, Mika melihat keberadaan Chiara yang keluar dari salah satu ruangan. Chiara yang mendengar panggilan dari Mika pun langsung berlari ke arah cucunya. Chiara segera membawa Mika masuk dalam gendongannya agar tidak naik tangga. Ia sangat khawatir jika Mika naik tangga tanpa pengawasan.
"Mau kemana?" tanya Chiara sambil merapikan rambut Mika yang berantakan.
"Mau beltemu sama Onty boncel. Katanya lagi sakit," jawab Mika dengan senyum polosnya.
"Onty ada di kamar tamu," ucap Chiara membuat Mika membulatkan matanya.
"Kenapa itu Onty Ucan ndak bilang dali tadi sih? Untung Mika beltemu sama Oma cantik, jadi ndak nyasal sampai kamal atas. Emang Onty Ucan tuh sama saja sepelti nenet dayung, bikin emosi Mika telus. Omongannya ndak ada benalnya," seru Mika membuat Chiara hanya bisa terkekeh geli.
Keponakan Uncle yang tidak cantik, Mika gendut.
Eh...
Uncle Panpan...
Tak disangka oleh Mika, ia bertemu oleh Arvan. Adik bungsu dari Rachel dan Ronand yang sudah punya dunianya sendiri. Sama seperti Rachel, Arvan juga tidak menyukai hal yang serius. Arvan lebih suka tentang alam. Ia jarang di rumah saat weekend atau liburan karena sering ikut mendaki gunung bersama teman-temannya. Oleh karena itu, Julian bingung harus siapa yang menjadi pemimpin di perusahaannya. Apalagi Arvan sama sekali tidak berminat untuk mengurus bisnis.
"Sembalangan bilang Mika gendut. Ini badannya Mika itu sudah ideal ya, cocok buat ikut ajang model." ucap Mika sambil menyipitkan matanya karena dibilang gendut oleh Arvan.
"Model kalender kan, Mika?" Setiap kali bertemu dengan Mika, Arvan tak pernah berhenti untuk menjahilinya.
"Oma, Uncle Panpan menyebalkan. Sekalinya di lumah, jahil sama Mika. Pelgi lagi aja sana," usir Mika membuat Arvan cengengesan.
"Mandi dan ganti baju dulu sana. Bau keringat," titah Chiara saat melihat penampilan anaknya. Celana dan baju kotor karena tanah atau lumpur. Sehingga Chiara meminta untuk Arvan membersihkan diri dulu.
"Siap, Mamaku sayang." ucap Arvan dengan patuh.
"Uncle Panpan, nanti ke kamal tamu. Jenguk itu Kakaknya yang lagi sakit," seru Mika saat Arvan berlalu.
Siapa yang sakit?
Onty boncel,
Bisa sakit juga tuh, Kak Achel? Paling sakit karena nggak punya duit,
Ngawul kali itu olang satu. Sudah ndak pelnah pulang kaya bang toyib, sukanya ngomong ngawul.
***
Cup... Cup...
Mika mengecupi seluruh wajah Rachel membuat gadis remaja itu terbangun dari tidurnya. Kegiatan Mika itu sangat mengganggu kegiatan tidurnya. Kepalanya berat dan matanya sedikit berkunang-kuang jika dibuka. Namun tampaknya Mika tak peduli dengan itu.
"Kurcaci cadel, jangan ganggu Onty dulu." ucap Rachel yang kembali memejamkan matanya.
"Bial ndak sakit telus, bangun dong. Ayo olahlaga, lali keliling komplek. Bial sehat. Onty sih magelan kalau disuluh olahlaga. Ndak punya duit sedikit saja, langsung sakit." ucap Mika mengomeli Rachel membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri.
"Apa hubungannya olahraga sama nggak punya duit? Astaga..." Rachel hanya bisa menghela nafasnya kasar. Berhadapan dengan Mika ini harus punya stock sabar yang banyak.
"Ada dong. Kan kalau..."
"Hubungannya adalah dompet Kak Achel kosong. Kalau mau olahraga, harus bawa duit buat jajan. Jadi olahraga nggak bakalan jadi kalau tidak punya duit buat jajan. Olahraga hanya alibi biar bisa jajan telur gulung," sela Arvan yang baru saja masuk ke dalam kamar tamu.
Mendengar suara adiknya, Rachel langsung membuka matanya. Ia seperti berhalusinasi karena sangat jarang sekali bertemu dengan Arvan. Setiap weekend, ia selalu berkunjung ke rumah orangtuanya. Namun tidak pernah bertemu dengan Arvan.
"Kakak kira kakak lagi berhalusinasi kamu ada di rumah, Pan." ucap Rachel sambil tertawa.
"Maklum, orang sibuk. Kalau mau bertemu, buat janji dulu jauh-jauh hari." ucap Arvan membuat Rachel meliriknya sinis.
"Sibuk ngapain? Sibuk mendaki gunung, lembah, dan bukit gitu?" sindir Rachel membuat Arvan cengengesan.
"Namanya juga hobby, Kak. Mika dan Kak Achel kan juga punya hobby makan. Kalau dilarang, pasti tetap nggak mau kan? Sama kaya Arvan," ucap Arvan dengan santainya.
Tapi ya pulang, Uncle Panpan. Jangan jadi Bang Toyib, ntal lupa kalau punya lumah lho.
Kasian tuh sama Oma Chiala yang kesepian. Semua anaknya pelgi,
Ada atau tidaknya Uncle, Oma udah dimonopoli Opamu tuh. Sebal Uncle,
Monopoli? Bagi-bagi duit buat beli lumah?
Itu monopoli mainan, Mika.
Sama saja toh?
Terserah, stress Uncle ngomong sama kamu.
Ya sudah, pelgi saja sana.
Hahaha...