Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti batu
"Lho… kok berat sekali?" gumam Daud dengan napas memburu.
"Coba lagi." kata Jaka.
Mereka mencoba sekali lagi, kali ini dengan tenaga lebih kuat. Wajah-wajah mereka mulai memerah karena menahan beban.
Namun hasilnya sama.
Tubuh Seno tetap tak bergerak, bahkan sedikit pun tidak. Seperti mereka sedang mencoba mengangkat batu besar yang tertanam di tanah.
Udin perlahan melepaskan tangannya, napasnya terengah.
"Jak… ini aneh sekali." Ucapnya.
Jaka menatap tubuh Seno dengan kening berkerut. Ia lalu menghela napas panjang.
"Sekali lagi. Kita coba lagi." kata Jaka.
Udin, Daud, dan dua pemuda lain kembali mengambil posisi. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu mengerahkan tenaga bersama-sama.
"Satu… dua… angkat!"
Semua tenaga mereka dikerahkan. Otot-otot tangan menegang, wajah memerah karena menahan beban.
Namun hasilnya tetap sama. Tubuh Seno tidak bergerak sedikit pun.
Seolah-olah tubuh itu melekat kuat pada tikar di bawahnya.
Jaka akhirnya berhenti dan melepaskan tangannya.
"Tidak bisa." gumamnya pelan.
Ia menoleh ke arah Ustadz Sakari.
"Ustadz… kami sudah coba berkali-kali. Tapi tidak bisa diangkat sama sekali."
Ustadz Sakari yang sejak tadi berdiri memperhatikan segera mendekat. Ia memandang tubuh Seno sejenak, lalu mengucapkan sesuatu dengan suara pelan.
"Bismillahirrahmanirrahim…"
Setelah itu ia ikut berjongkok.
"Ayo… kita coba lagi bersama."
Jaka dan para pemuda kembali memegang tubuh Seno. Kali ini Ustadz Sakari ikut membantu mengangkat bagian bahunya.
"Angkat perlahan." kata beliau.
Mereka mencoba sekali lagi.
Namun tetap saja sama. Tubuh Seno tidak bergerak sedikit pun.
Ustadz Sakari perlahan melepaskan tangannya. Wajahnya tampak serius.
"Din," panggilnya.
“Iya, Ustadz?” Udin langsung menoleh.
"Turun ke bawah. Minta bantuan warga yang di luar. Kita butuh lebih banyak orang."
Udin mengangguk cepat. Ia segera berdiri lalu berjalan menuju tangga rumah.
Beberapa detik kemudian ia sudah berada di halaman.
"Pak.... Pak RT..." panggilnya agak keras.
Pak Warsito yang sedang berbicara dengan warga lain langsung menoleh.
"Ada apa, Din?"
Udin mendekat.
"Pak… jenazah Seno tidak bisa diangkat."
Pak Warsito mengernyitkan dahi.
"Maksudmu tidak bisa diangkat bagaimana?" tanyanya.
Udin menoleh ke arah pintu rumah sebelum kembali menatap Pak Warsito.
"Kami sudah coba berkali-kali, Pak. Saya, Jaka, Daud, sama yang lain. Bahkan Ustadz juga ikut membantu, tapi tubuh Seno tidak bergerak sama sekali."
Beberapa warga yang berdiri di sekitar mereka langsung saling berpandangan.
"Tidak bergerak?" ulang Pak Yuda pelan.
"Berat sekali, Pak. Seperti… seperti mengangkat batu besar."
Kerumunan warga mulai berbisik-bisik lagi.
"Aneh sekali…"
"Baru kali ini saya dengar jenazah tidak bisa diangkat."
"Pak ustadz bilang, mungkin yang lain bisa bantu." Kata Udin.
Pak Warsito menghela napas panjang lalu melangkah maju.
"Baik. Kita naik ke atas sama-sama."
Beberapa pemuda segera ikut bersamanya. Pak Yuda juga ikut berjalan menuju tangga rumah.
Tak lama kemudian mereka sudah berada di ruang tamu. Cahaya lampu minyak yang redup menerangi wajah-wajah tegang para pemuda yang mengelilingi tubuh Seno.
Jaka menoleh ketika Pak Warsito masuk.
Pak Warsito mendekati jenazah itu dan menatapnya beberapa detik.
"Baik, Sekarang kita coba ramai-ramai." katanya pelan.
Ia menoleh ke arah para pemuda.
"Kalian semua pegang. Kita angkat bersama."
Enam orang pemuda segera mengambil posisi di sekitar tubuh Seno begitupun Pak Warsito dan Pak Yuda.
"Satu… dua… tiga… angkat!"
Mereka mengerahkan tenaga bersama-sama.
Namun beberapa detik kemudian, wajah mereka kembali berubah tegang.
Tubuh Seno tetap tidak bergerak.
Sedikit pun tidak.
Orang-orang yang berada di dalam rumah saling berpandangan. Tidak ada yang berani berbicara terlebih dahulu. Masing-masing hanya menatap tubuh Seno yang masih terbaring kaku di atas tikar.
Beberapa pemuda yang tadi mencoba mengangkatnya kini mundur perlahan. Wajah mereka terlihat pucat dan bingung.
Pak Yuda mengusap keringat di dahinya.
"Ini… baru pertama kali saya melihat yang seperti ini." Gumamnya pelan.
Bisik-bisik mulai terdengar lagi di dalam ruangan. Ada yang memandang jenazah Seno dengan cemas, ada pula yang melirik ke arah pintu dan jendela yang gelap.
Pak Warsito menarik napas panjang. Ia lalu menoleh ke arah Ustadz Sakari yang berdiri tidak jauh dari jenazah itu.
"Ustadz…" panggilnya pelan.
Ustadz Sakari menatapnya.
"Iya, Pak?"
Pak Warsito mendekat satu langkah.
"Menurut Ustadz, kita harus bagaimana?" Tanyanya sambil menoleh sekilas ke arah tubuh Seno.
"Jenazah harus dimandikan malam ini. Besok pagi-pagi sekali harus sudah dimakamkan."
Beberapa warga mengangguk pelan. Di desa itu memang sudah menjadi kebiasaan, jenazah dimakamkan secepat mungkin.
apalagi di dalam Islam memang sudah seharusnya jenazah tidak di tahan-tahan.
"Tapi.. kami bahkan tidak bisa mengangkatnya" lanjut Pak Warsito dengan suara lebih pelan.
Ruangan kembali hening.
Cahaya lampu minyak bergoyang pelan, membuat bayangan orang-orang di dinding tampak bergerak tidak tenang.
Pak Sugeng yang sejak tadi duduk diam di sudut ruangan akhirnya berdiri perlahan. Langkahnya berat ketika mendekati tubuh anaknya yang terbaring di atas tikar.
Wajahnya pucat dan matanya sembab.
"Pak Ustadz…" suaranya serak.
Semua orang menoleh kepadanya.
Pak Sugeng menatap tubuh Seno beberapa detik sebelum kembali menatap Ustadz Sakari.
"Lalu... bagaimana dengan jenazah anak saya ini, Pak Ustadz?" tanyanya dengan wajah redup penuh kesedihan. "Kalau memang tidak bisa diangkat, bagaimana kita memandikannya?"
Ruangan kembali hening. Tidak ada yang langsung menjawab.
Ustadz Sakari terlihat menarik napas panjang, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Bu Ranti yang sedari tadi di kamar karena tidak sanggup melihat jenazah anaknya itu berlari keluar dari kamar. Rambutnya berantakan, wajahnya basah oleh air mata.
"Le… Seno… anak ibu…" Isaknya sambil mengguncang bahu anaknya pelan.
Beberapa ibu-ibu segera menghampiri mencoba menahannya.
"Sudah, Bu… sabar, Bu…"
Namun Bu Ranti seperti tidak mendengar.
Ia menatap wajah anaknya dengan mata penuh ketakutan.
"Kenapa begini, Le…? Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu…?" Tangisnya.