sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma kopi dan kecemburuan yang terlambat
Satu jam kemudian, SUV hitam itu terparkir di depan sebuah kafe bergaya industrial di daerah Jakarta Selatan. Ini adalah ritual mereka setiap Selasa malam—Tuesday Deep Talk. Sebuah tradisi yang dimulai sejak mereka masih mahasiswa tingkat awal yang bokek, hingga kini mereka telah menjadi profesional yang sibuk. Di tempat ini, tidak ada Arsitek ternama atau Manajer Kreatif yang ambisius; yang ada hanyalah Arlan dan Kira.
Hujan di luar sudah berubah menjadi gerimis tipis, namun sisa hawa dinginnya masih menusuk tulang. Begitu masuk, aroma biji kopi yang baru dipanggang langsung menyelimuti mereka.
"Duduk di tempat biasa," perintah Arlan tanpa menoleh, seolah ia sudah menghafal langkah kaki Kira.
Kira segera memesan Hot Hazelnut Latte dengan ekstra foam, sementara Arlan tetap setia dengan Double Shot Espresso pahit tanpa gula—persis seperti kepribadiannya yang tanpa basa-basi. Mereka duduk di pojok ruangan, di atas sofa kulit tua yang menjadi saksi bisu ribuan cerita mereka, mulai dari tangisan Kira saat patah hati oleh kakak tingkat, hingga makian Arlan saat proyek pertamanya ditolak klien.
Arlan membuka laptopnya sebentar. Cahaya dari layar memantul di kacamata berbingkai tipis yang ia kenakan. Jemarinya menari lincah di atas keyboard, menyelesaikan draf denah bangunan yang tertunda. Kira hanya memperhatikannya dalam diam, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Ia selalu mengagumi cara Arlan fokus; keningnya yang sedikit berkerut dan cara pria itu sesekali mengetuk meja saat berpikir selalu berhasil membuat Arlan tampak jauh lebih menarik.
"Jangan menatapku seperti itu, Ra. Aku tahu aku keren," ucap Arlan tiba-tiba, suaranya rendah namun penuh percaya diri. Ia bahkan tidak perlu mendongak untuk tahu bahwa mata Kira sedang tertuju padanya.
Kira tersedak kopinya, pipinya mendadak panas.
"Siapa juga yang lihatin kamu? Aku cuma... bingung kenapa kacamatamu nggak jatuh-jatuh padahal hidungmu licin kena minyak. GR banget jadi orang!"
Arlan menutup laptopnya dengan suara klik yang tegas, seolah sedang menandai akhir dari pembicaraan ringan mereka. Ia melepas kacamatanya, mengusap wajahnya yang tampak lelah, lalu menatap Kira dengan intensitas yang berbeda. Ada jeda panjang yang tidak biasa. Arlan biasanya langsung menyambar kentang goreng milik Kira, tapi kali ini, ia membiarkan camilan itu dingin.
"Ra, besok aku mau kenalin kamu sama seseorang," ucap Arlan pelan. Nada suaranya serius, jenis nada yang biasanya ia gunakan saat bicara tentang masa depan.
Jantung Kira mendadak melompat satu detak. Perasaan tidak enak mulai menjalar di perutnya.
"Siapa? Klien baru yang cerewet lagi? Atau kontraktor yang mau ajak kerja sama?"
"Bukan. Namanya Clarissa. Dia teman SMA-ku dulu, baru balik dari London sebulan lalu untuk urusan bisnis keluarganya." Arlan menjeda, menyesap espressonya hingga habis, seolah mencari keberanian di dasar cangkir itu.
"Kita... sudah jalan beberapa kali dalam dua minggu ini. Dan aku rasa, dia orang yang tepat untuk langkah selanjutnya."
Dunia di sekitar Kira seolah mendadak kehilangan suaranya. Bunyi mesin kopi yang menderu, obrolan orang lain di meja sebelah, hingga rintik hujan yang menghantam kaca jendela, semuanya menjadi senyap. Hanya kalimat Arlan yang bergema di kepalanya: Sudah jalan beberapa kali. Dua minggu ini.
Dua minggu ini. Itu artinya saat Arlan bilang dia harus "lembur di kantor", atau saat Arlan bilang dia sedang "malas keluar rumah dan ingin tidur", pria itu sebenarnya sedang bersama wanita lain. Wanita yang bukan Kira. Wanita yang bahkan tidak perlu bertanya untuk tahu bahwa Arlan benci makanan manis.
"Oh... Clarissa yang dulu juara umum dan anak OSIS itu, ya?" Kira memaksakan sebuah senyuman. Ia adalah aktris yang hebat jika menyangkut menyembunyikan luka di depan Arlan.
"Wah, kemajuan pesat, Lan! Akhirnya selera kamu naik level. Nggak lagi cuma menemani aku makan seblak level lima di pinggir jalan sampai diare."
Arlan mengerutkan alisnya. Ia mempelajari ekspresi Kira dengan teliti, mencari retakan di balik tawa sahabatnya itu.
"Kamu nggak keberatan? Maksudku... kehadiran dia mungkin akan sedikit mengubah jadwal kita."
"Keberatan kenapa? Justru aku lega!" Kira tertawa lebih keras, suara tawa yang terdengar sangat garing di telinganya sendiri.
"Akhirnya ada yang mau mengurus kamu selain aku. Capek tahu, jadi satu-satunya orang yang harus dengerin keluhan kamu soal semen, beton, dan klien yang rewel tiap minggu. Aku kan juga mau punya waktu buat cari pacar, Lan."
Kalimat terakhir itu seperti bumerang bagi Kira. Ia mengatakannya untuk melindungi diri, namun justru hatinya sendiri yang tertusuk.
"Besok malam, makan malam bertiga di restoran dekat kantor kamu. Aku yang traktir," lanjut Arlan.
"Besok? Eh, kayaknya aku ada deadline revisi desain..."
"Nggak ada alasan, Ra. Aku sudah tanya manajermu tadi siang, jadwalmu kosong besok malam."
Kira mengepalkan tangannya di bawah meja, kukunya menekan telapak tangan untuk mengalihkan rasa sakit di dadanya. Arlan benar-benar sudah merencanakan ini.
Pria itu bahkan sampai mengecek jadwalnya demi memastikan pertemuan ini terjadi. Sebelas tahun persahabatan mereka tiba-tiba terasa seperti sebuah benteng yang mulai runtuh. Selama ini, Kira merasa aman karena Arlan selalu sendirian. Arlan selalu tersedia untuknya kapan pun ia butuh.
Namun sekarang, kehadiran Clarissa adalah pengingat keras bahwa 'posisi utama' dalam hidup Arlan tidak selamanya milik Kira.
"Oke. Makan malam bertiga. Siapa takut? Aku bakal dandan cantik biar kamu nggak malu punya sahabat kayak aku di depan Clarissa," tantang Kira, meski di dalam hati ia ingin sekali berteriak dan lari pulang.
Malam itu, saat Arlan mengantarnya sampai depan lobby apartemen, suasana terasa sangat berbeda. Tidak ada candaan atau perebutan kunci seperti biasa. Keheningan yang tercipta terasa canggung dan asing.
"Masuklah, langsung tidur. Jangan begadang cuma buat nonton drakor. Besok jangan telat," pesan Arlan sambil menatap Kira dari balik kemudi.
Kira mengangguk kecil, memberikan lambaian tangan yang terasa berat. Begitu ia masuk ke dalam apartemennya dan pintu tertutup rapat, Kira menyandarkan punggungnya di sana. Ia merosot perlahan hingga duduk di lantai yang dingin. Air mata yang sejak tadi ia tahan dengan sekuat tenaga akhirnya jatuh juga, membasahi pipinya.
Ia menyadari satu kenyataan yang sangat pahit: ia baru saja mulai kehilangan Arlan, tepat di saat ia baru menyadari bahwa ia sangat mencintai pria itu.