Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: SERIGALA DI DALAM PAGAR
Kepulangan Arlan dan Arumi dari Jenewa disambut seperti pahlawan nasional. Karpet merah dibentangkan di bandara, dan ribuan orang berkumpul di sepanjang jalan menuju kantor pusat Salsabila Medical Foundation (SMF) di Jakarta. Namun, di balik selebrasi publik itu, sebuah ketegangan baru mulai merayap di koridor-koridor steril yayasan.
Jika musuh di luar negeri menggunakan peluru dan drone, musuh di dalam rumah menggunakan pena dan kontrak hukum yang licin.
Arlan duduk di ruang kerjanya, menatap tumpukan laporan keuangan yang baru saja diserahkan oleh Raka. Wajahnya mengeras. "Raka, jelaskan padaku mengapa ada aliran dana sebesar lima puluh miliar rupiah yang dipindahkan ke sebuah perusahaan cangkang bernama Lentera Medika?"
Raka menarik napas panjang, wajahnya tampak gusar. "Tuan, itu adalah instruksi dari Dewan Pengawas Yayasan. Mereka mengklaim bahwa dana tersebut digunakan untuk 'biaya distribusi logistik' antibodi di wilayah Indonesia Timur. Tapi setelah saya telusuri, Lentera Medika dimiliki oleh kerabat salah satu anggota dewan kita sendiri, Pak Lukito."
Arlan memutar kursinya, menatap pemandangan Jakarta yang macet. "Jadi, mereka mulai mencoba memeras susu dari sapi yang seharusnya memberikan nutrisi gratis bagi rakyat. Mereka pikir karena aku sedang fokus pada keamanan internasional, aku akan buta terhadap pencurian di rumahku sendiri."
Sore harinya, Arlan memanggil rapat mendadak Dewan Pengawas. Di ruangan itu duduk enam orang pria dan wanita paruh baya yang merupakan tokoh-tokoh senior di dunia medis dan bisnis Indonesia. Di tengah mereka adalah Pak Lukito, seorang mantan birokrat senior yang dikenal sebagai "Bapak Logistik Medis".
"Tuan Arkananta," Lukito memulai dengan senyum kebapakan yang memuakkan. "Selamat atas kesuksesan di Jenewa. Tapi Anda harus paham, menyebarkan antibodi ini ke pelosok Papua dan Maluku membutuhkan biaya operasional yang sangat besar. Kami hanya mencoba bersikap realistis dengan menggandeng mitra swasta."
"Realisme Anda berbau korupsi, Pak Lukito," jawab Arlan tanpa basa-basi. Ia melempar map berisi bukti aliran dana ke tengah meja. "Lima puluh miliar untuk distribusi di saat yayasan sudah memiliki armada helikopter dan kapal apung sendiri? Lentera Medika bahkan tidak memiliki gudang pendingin yang layak. Anda hanya memindahkan uang yayasan ke kantong pribadi Anda."
"Jaga bicara Anda, Arlan!" salah satu anggota dewan lain membentak. "Anda mungkin penyumbang dana terbesar, tapi kami yang menjaga legalitas yayasan ini di mata pemerintah. Tanpa kami, yayasan ini akan dianggap sebagai monopoli terselubung keluarga Arkananta."
Arlan berdiri, perlahan namun mematikan. "Legalitas? Saya yang menciptakan legalitas di gedung ini. Jika dalam waktu dua puluh empat jam uang itu tidak kembali ke rekening utama, saya sendiri yang akan menyerahkan berkas ini ke KPK. Dan jangan lupa, saya memiliki Dante. Kalian tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba mencuri dari saya."
Nama Dante membuat ruangan itu seketika senyap. Mereka tahu bahwa Arlan bukan lagi CEO yang bermain dengan aturan pasar; ia adalah pelindung yang siap menghancurkan siapa pun yang mengotori nama Salsabila.
Di lantai bawah, Arumi sedang berada di bangsal anak. Ia baru saja selesai memeriksa seorang pasien kecil yang menderita demam berdarah komplikasi. Saat ia hendak kembali ke ruangannya, ia dicegat oleh seorang wanita muda berpakaian rapi yang mengaku sebagai perwakilan dari sebuah perusahaan farmasi swasta lokal.
"Dokter Arumi, kami sangat mengagumi dedikasi Anda," ucap wanita itu, menyodorkan sebuah proposal. "Kami ingin menawarkan kerjasama untuk memproduksi 'suplemen antibodi' berbasis riset Anda. Ini bukan obat esensial, jadi secara teknis tidak melanggar janji Jenewa Anda. Kami bisa memberikan royalti sepuluh persen langsung ke rekening pribadi Anda."
Arumi menatap wanita itu dengan pandangan dingin yang ia pelajari dari Arlan. "Sepuluh persen untuk saya pribadi?"
"Ya, Dokter. Bayangkan apa yang bisa Anda lakukan untuk masa depan Leon dengan uang sebanyak itu. Anda sudah cukup berkorban untuk dunia. Sekarang saatnya memikirkan diri sendiri."
Arumi merobek proposal itu di depan wajah wanita tersebut. "Katakan pada bos Anda: setiap miligram riset saya adalah milik publik. Jika saya melihat suplemen itu ada di pasaran dengan harga yang tidak masuk akal, saya sendiri yang akan menuntut perusahaan kalian sampai bangkrut. Keluar dari sini sebelum saya memanggil keamanan."
Wanita itu pergi dengan wajah merah padam. Arumi menyandarkan punggungnya di dinding, hatinya perih. Ternyata, melepaskan paten ke dunia justru mengundang hiu-hiu kecil untuk mencoba mencabik-cabik sisa-sisanya.
Aksi Malam Dante: Membersihkan Duri
Dante tidak menunggu instruksi resmi dari Arlan.
Ia tahu bagaimana cara menangani "serigala" seperti Lukito. Malam itu, saat Lukito sedang berada di sebuah kelab malam eksklusif, ia mendapati ban mobilnya kempes di parkiran yang sepi.
Saat ia membungkuk untuk memeriksa, sebuah sepatu bot hitam menginjak tangannya ke aspal.
"Aduh! Siapa kau?!" teriak Lukito.
"Kau kenal suaraku, Pak Tua," desis Dante dari balik kegelapan topi hoodie-nya. "Aku adalah pengingat bahwa uang lima puluh miliar itu sangat berat jika kau bawa ke dalam kubur."
"Dante... aku bisa jelaskan... ini hanya prosedur..."
Dante menekan kakinya lebih keras hingga terdengar bunyi retakan kecil. "Besok pagi, kau akan mengundurkan diri dari dewan. Kau akan mengembalikan setiap perak uang itu. Jika tidak, foto-foto pertemuan rahasiamu dengan sindikat Bio-Crest di Singapura minggu lalu akan ada di meja redaksi semua televisi nasional. Kau pikir Arlan tidak tahu kau bermain dua kaki?"
Lukito gemetar hebat. Ia tidak menyangka Arlan memiliki jaringan intelijen yang jauh melampaui apa yang ia bayangkan.
"Pergilah," ucap Dante, melepaskan injakannya.
"Dan jangan pernah menoleh ke arah gedung Salsabila lagi."
Kembali ke rumah di Sentul, Arlan dan Arumi duduk di tepi kolam renang. Leon sudah tidur setelah seharian bermain dengan anjing penjaga baru mereka.
"Mereka mencoba menyuapku hari ini, Arlan," bisik Arumi, menatap pantulan bulan di air.
Arlan menarik Arumi ke pelukannya. "Aku tahu. Raka melaporkan ada pergerakan sales farmasi di yayasan. Maafkan aku, Arumi. Aku pikir setelah Jenewa semuanya akan tenang."
"Manusia tidak akan pernah merasa cukup, kan?" Arumi menghela napas. "Bahkan saat kita memberikan segalanya secara gratis, mereka masih mencari cara untuk menjual 'bungkusnya'."
Arlan mengecup kening istrinya. "Itulah kenapa kita harus tetap waspada. Tapi jangan khawatir, aku sudah membersihkan Dewan Pengawas. Mulai besok, dewan akan diisi oleh para relawan dari LSM medis internasional dan perwakilan pasien. Tidak ada lagi birokrat haus uang."
Arumi menatap suaminya dengan penuh rasa syukur. "Bagaimana dengan Dante? Aku dengar dia 'sibuk' malam ini."
Arlan tersenyum misterius. "Dante hanya melakukan apa yang paling dia kuasai: memastikan bahwa pagar kita tetap kokoh."
Tiba-tiba, Leon terbangun dan memanggil ibunya dari dalam kamar. Arumi segera berdiri, namun Arlan menahannya sebentar.
"Arumi, besok adalah ulang tahun pertama Yayasan Salsabila. Aku ingin kita memberikan pengumuman besar lagi. Bukan soal obat, tapi soal pendidikan. Aku ingin membangun sekolah kedokteran yang kurikulumnya murni soal kemanusiaan, bukan soal profit."
Arumi tersenyum lebar. "Itu adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada dunia, Arlan."