NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis batas antara dua dunia

Di bawah kaki bukit yang curam, jauh dari jangkauan cahaya obor para guru dan pemilik penginapan, suasana mendadak berubah menjadi sunyi yang hampa. Marco menarik Laura keluar dari barisan pohon Cemara besar terakhir, membawa gadis itu melompati parit kecil menuju sebuah jalan setapak berbatu yang tersembunyi.

Napas Marco terdengar seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas. Ia sesekali menoleh ke belakang, ke arah kegelapan hutan yang kini tampak seperti bayangan raksasa yang murka.Laura masih tampak linglung. Tubuhnya gemetar hebat di bawah kain hitam berajah kuno itu. Matanya kosong, seolah sebagian jiwanya masih tertinggal di antara kotak-kotak batu Waruga tadi. "Marco... mereka memanggilku. Pak Bram... teman-temanku..." bisiknya parau.

Marco tidak melepaskan cengkeramannya pada lengan Laura. "Jangan dengarkan mereka, Laura.kau harus pergi denganku."

Marco membawa Laura ke sebuah gubuk tua yang nyaris runtuh, tersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu. Di sana, sebuah motor tua dengan tangki bensin tambahan sudah terparkir, ditutupi oleh jaring penyamar.

"Kita harus segera pergi dari wilayah ini sebelum fajar menyingsing," kata Marco sambil memeriksa kompas kunya yang perlahan-lahan mulai berhenti berputar liar.

Saat Marco sedang menghidupkan mesin motornya, Laura melihat ke arah bukit yang baru saja mereka tinggalkan. Di sana, di ketinggian, cahaya obor para guru tampak seperti barisan kunang-kunang yang gelisah.

Namun, ada sesuatu yang ganjil. Salah satu cahaya obor itu tidak bergerak mengikuti rombongan, melainkan berdiri diam di tepi tebing, menghadap tepat ke arah gubuk tempat mereka bersembunyi. Itu adalah sosok tinggi yang dikelilingi oleh aura keunguan tipis.

"Marco... dia melihat kita," bisik Laura sambil menunjuk ke atas.

Marco mengumpat pelan. Ia menendang kick starter motornya hingga mesin menderu kasar. "Pakai helm ini, pegangan yang kuat. Kita akan melewati jalur tikus menuju perbatasan kota. Jangan pernah menoleh ke belakang, apa pun yang kau dengar!"

Suasana di bawah bukit itu terasa hampa, hanya deru mesin motor Marco yang memecah kesunyian. Laura mencengkeram kain hitam berajah itu, matanya menatap nanar ke arah kerlip obor di ketinggian bukit yang perlahan menjauh. Pertanyaan itu keluar dari bibirnya yang pucat, penuh dengan rasa bersalah dan kebingungan yang menyesakkan.

Marco menghentikan gerakan tangannya di stang motor sejenak. Ia menoleh, menatap Laura dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara belas kasih dan ketegasan seorang pelindung.Marco menyadari bahwa Laura sangat mengkhawatirkan konsekuensi sosial dan beban moral bagi para guru dan teman-temannya.

"Dengarkan aku," Marco memegang kedua bahu Laura. "Kelompokku sudah mengatur segalanya. Besok pagi, sebuah pesan anonim akan terkirim ke pihak sekolah bahwa kau ditemukan oleh kerabat di kota bawah.

Marco ternyata ditugaskan oleh kelompok rahasia satanik yang selama ini melindungi garis keturunan "darah murni" untuk memantau study tour ini. Mereka tahu bahwa lokasi pegunungan ini adalah wilayah teritorial roh wanita itu.

Deru mesin motor tua Marco memecah kesunyian lembah, menjadi satu-satunya suara yang melawan keheningan purba pegunungan itu. Angin dini hari yang menusuk tulang terasa seperti sembilu yang menyayat pipi Laura, namun rasa perih itu tak sebanding dengan kekalutan di dadanya.Di atas motor yang melaju kencang, Laura memutar tubuhnya, menoleh ke belakang untuk terakhir kali. Di kejauhan, di antara selimut kabut hitam yang pekat, ia masih bisa melihat bintik-bintik cahaya obor yang menari-nari gelisah.

"Lauraaaa...!"

Suara sayup-sayup teriakan teman-temannya terbawa angin, terdengar seperti ratapan yang memilukan. Ia melihat bayangan Pak Bram yang berdiri mematung di pinggir tebing, obornya menyala merah seolah menandai titik di mana dunianya yang normal baru saja runtuh.

Laura mencengkeram jaket Marco hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata yang hangat jatuh dan langsung dingin diterpa angin. Ia merasa seperti seorang pengkhianat—meninggalkan teman-temannya dalam ketakutan, meninggalkan barang-barangnya, dan meninggalkan identitasnya sebagai siswi biasa.tas sekolah, buku catatan yang berisi mimpinya, pakaian rumahnya; semuanya tertinggal di kamar penginapan itu. Di matanya, cahaya obor itu perlahan mengecil, lalu lenyap saat motor Marco menikung tajam di balik lereng bukit, memutus sisa-sisa koneksinya dengan kehidupan lama.

Jalanan aspal yang rusak dan berlubang menjadi saksi bisu pelarian mereka. Di kanan-kiri, jurang yang tak berdasar menganga lebar, sementara di sisi lain, dinding batu pegunungan seolah siap meruntuhkan diri kapan saja.langit di ufuk timur mulai berubah menjadi warna biru tua yang dingin, namun matahari seolah enggan untuk segera bangkit. Kabut tebal merayap di atas jalan raya, membuat Marco harus ekstra waspada. Lampu depan motor yang kuning kusam hanya mampu menembus beberapa meter ke depan.

Tak ada lagi kata-kata. Marco fokus pada kemudi, punggungnya terasa kaku dan waspada. Sementara Laura, ia menyandarkan kepalanya di bahu Marco, memejamkan mata untuk mengusir bayangan wajah wanita berbaju putih usang dan makam Waruga yang tadi menghantuinya.

"Jangan menoleh lagi, Laura," gumam Marco tanpa menoleh, suaranya hampir hilang ditelan deru angin.

"Dunia di belakangmu sudah bukan milikmu lagi. Fokuslah pada jalan di depan. Kita menuju tempat di mana darahmu tidak akan bisa didengar oleh mereka."

Langit di ufuk timur mulai memucat, berubah dari ungu gelap menjadi abu-abu dingin yang menandakan subuh telah tiba. Setelah berjam-jam menembus angin pegunungan yang menggigit, adrenalin yang tadinya memuncak perlahan surut, meninggalkan rasa hampa dan lapar yang menyiksa di perut Laura.

Marco melambatkan laju motornya saat melihat sebuah pendar lampu neon kecil yang berkedip-kedip di kejauhan. Itu adalah sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan lintas provinsi, dikelilingi oleh jajaran pohon pisang yang daunnya terkulai lesu karena embun.

"Kita berhenti sebentar," suara Marco serak, hampir tenggelam oleh deru mesin yang akhirnya mati. "Kau perlu makan. Energi darahmu terkuras habis semalam."

Laura turun dari motor dengan kaki yang kaku. Ia masih terbungkus kain hitam berajahan itu, membuatnya tampak seperti pengungsi dari dunia lain. Saat ia melangkah masuk ke warung yang hanya berdinding kayu dan beralas semen itu, bau aroma kopi tubruk dan gorengan panas menyambut indranya.

Di dalam warung, hanya ada seorang pria tua yang sedang sibuk menata dagangan dan seorang sopir truk yang tertidur pulas di sudut meja panjang.Marco memesan dua piring nasi kuning dan teh manis hangat tanpa banyak bicara. Saat piring itu diletakkan di depan Laura, uap nasi yang mengepul membuat matanya perih. Ia menyadari betapa jauhnya ia dari ruang makan penginapan yang hangat beberapa jam lalu.

Saat Laura mencoba memegang sendok, tangannya gemetar hebat. Bukan hanya karena dingin, tapi karena sisa ketakutan yang masih mengakar di sarafnya. Marco memperhatikannya, lalu dengan lembut menggeser gelas teh hangat ke dekat tangan Laura.

"Makanlah, Laura. Ini bukan mimpi," bisik Marco. "Tapi jangan lepaskan kewaspadaanmu. Di tempat terbuka seperti ini, kita lebih mudah terlihat."

Setelah selesai makan,Marco langsung berdiri, meletakkan beberapa lembar uang di meja tanpa menunggu kembalian.

"Kita tidak bisa berlama-lama di sini," bisik Marco sambil menarik tudung kain hitam Laura lebih rendah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!