NovelToon NovelToon
Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:55.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.

Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.

Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Pernah Menyesal

Brak!

Brak!

Brak!

Suara gedoran keras itu mengguncang pintu paviliun mawar sejak pagi buta. Natalia yang masih terlelap langsung terbangun dengan kening berkerut, rasa kesal terpancar jelas di wajahnya. Ia menarik napas panjang, berusaha menahan emosi sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur.

“Pagi-pagi sudah mencari masalah,” gumamnya pelan, suaranya dingin.

Keributan di luar semakin jelas terdengar, disertai suara langkah kaki dan bisikan yang tidak sabar. Natalia menyampirkan selendang ke bahunya, lalu berjalan tenang menuju pintu. Langkahnya tidak terburu-buru, justru penuh kendali.

Saat pintu dibuka, cahaya pagi langsung menyinari wajahnya yang dingin. Di hadapannya berdiri Nyonya Li Anna dengan wajah murka, diikuti Karina, Lusi, Lilith, dan Andrian yang tampak baru pulih namun masih pucat.

Belum sempat Natalia berbicara, Li Anna sudah melangkah maju dan menunjuknya dengan tajam. “Beraninya kau memperlakukan putraku seperti ini!” bentaknya tanpa basa-basi.

“Kau membuat tubuhnya kaku seperti patung dan membiarkannya tidur semalaman di luar dalam udara dingin!” lanjutnya dengan suara tinggi. “Kau benar-benar istri tidak tahu diuntung! Harusnya dari awal, Andrian tidak menikahi wanita pembawa sial sepertimu.”

Tatapan Natalia langsung berubah tajam, namun ia tetap berdiri tegak tanpa gentar. Ia menatap Li Anna dari ujung kepala hingga kaki, lalu tersenyum tipis penuh sindiran.

“Kalau putramu tidak menikahiku,” ucapnya santai namun menusuk, “mungkin sampai sekarang kalian masih mengandalkan kayu bakar untuk bertahan hidup.”

Ucapan itu membuat suasana langsung hening sejenak. Wajah Li Anna berubah merah padam, jelas tidak menyangka akan dibalas seperti itu.

“Apa maksudmu?” tanya Li Anna tajam, suaranya penuh amarah.

Natalia mengangkat bahu ringan, seolah tidak peduli. “Tanyakan saja pada putramu. Dia yang lebih tahu daripada aku.”

Andrian yang berdiri di belakang langsung mengalihkan pandangan, membuat Li Anna semakin kesal. Untuk menutupi situasi, ia kembali menyerang dengan kata-kata yang lebih kejam.

“Tidak perlu berlagak!” katanya sinis. “Semua orang tahu kau itu wanita mandul, tidak berguna sebagai istri!”

Karina langsung ikut menimpali dengan senyum meremehkan. “Benar sekali. Kakak ipar seperti apa yang bahkan tidak bisa memberi keturunan?”

Natalia menatap mereka berdua dengan sorot mata dingin yang menusuk. Ia melangkah satu langkah ke depan, membuat aura di sekitarnya berubah menekan.

“Dari mana kalian tahu aku mandul?” tanyanya pelan, namun nadanya penuh tekanan.

Pertanyaan itu membuat Li Anna dan Karina saling melirik sesaat. Wajah mereka terlihat sedikit gelagapan, meski segera berusaha menutupinya.

“Semua orang juga tahu! Bahkan tabib sendiri yang mengatakan hal itu,” jawab Li Anna cepat, meski suaranya tidak seyakinkan sebelumnya.

Natalia tersenyum tipis, kali ini lebih dalam dan penuh arti. “Kalau begitu, jangan salahkan aku,” ucapnya dingin.

“Salahkan putramu sendiri,” lanjutnya perlahan. “Kenapa masih datang ke paviliun wanita ‘mandul’ ini.”

Ia melirik ke arah Lilith yang berdiri di samping, tangannya memegang perut yang mulai membesar. “Lagipula, bukankah dia sudah memiliki istri lain yang bisa memberinya keturunan? Lalu untuk apa dia datang ke sini? Apa karena istrinya itu tak bisa memuaskannya?”

Ucapan itu semakin membuat wajah Lilith yang awalnya masam semakin kesal. Matanya menatap tajam ke arah Andrian, jelas terlihat kecemburuan dan kekecewaan yang tidak bisa disembunyikan.

Tanpa sepatah kata pun, Lilith berbalik dengan cepat. Ia melangkah pergi sambil memegangi perutnya, napasnya tampak berat menahan emosi.

“Andrian!” seru Li Anna panik. “Cepat kejar dia dan minta maaf!”

Andrian tidak berani membantah, ia langsung berlari mengejar Lilith tanpa berani menoleh lagi. Suasana menjadi sedikit lengang, namun ketegangan tetap terasa kental di udara.

Natalia kembali menatap Li Anna dan Karina dengan senyum tipis. Kali ini sorot matanya terlihat lebih tajam, seolah baru saja memahami sesuatu.

“Oh … aku sudah tahu sekarang,” ucapnya pelan. “Jadi kalianlah yang menyebarkan kebohongan bahwa aku mandul?” lanjutnya dengan nada santai namun penuh tekanan.

Li Anna mendengus, tidak lagi berusaha menutupinya. Ia mengangkat dagunya dengan angkuh, menatap Natalia penuh penghinaan.

“Benar,” jawabnya tegas. “Semua itu agar Andrian tidak memiliki keturunan darimu.”

“Aku tidak sudi wanita yatim piatu dengan asal-usul tidak jelas seperti dirimu melahirkan keturunan keluarga Li,” tambahnya dingin.

Karina tertawa kecil di sampingnya. “Kau pikir kami akan menerima darah sepertimu? Jangan bermimpi.”

Natalia mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang tanpa sedikit pun emosi berlebihan. Justru ketenangannya membuat suasana terasa semakin menekan.

“Kalau begitu, aku harus berterima kasih,” katanya ringan.

Li Anna mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Natalia menatap lurus ke matanya, sorotnya dingin dan dalam. “Karena akhirnya aku tahu seperti apa sebenarnya putramu dan keluarganya.”

Ia berhenti sejenak, lalu mengangkat bahu santai. “Dan bagaimana aku harus memperlakukan kalian ke depannya. Jadi, jangan pernah menyesal atas keputusan yang telah kalian lakukan.”

Karina langsung meludahi sepatu Natalia dengan wajah jijik. “Cuih! Menyesal? Jangan bermimpi!”

“Kami tidak akan pernah menyesal,” lanjutnya meremehkan. “Aku bahkan tidak sudi punya keponakan dari rahim busukmu itu.”

Natalia tidak marah, tidak pula membalas dengan kata kasar. Ia hanya menatap mereka dalam diam, senyum tipis kembali muncul di bibirnya.

“Simpan saja kata-kata kalian,” ucapnya pelan namun tegas. “Suatu saat nanti kalian akan menyesal.”

Setelah mengatakan hal itu, Natalia akhirnya menutup kembali pintu kamarnya tanpa mempedulikan teriakan kasar dari ibu mertuanya itu.

Ia bersandar sejenak pada daun pintu, menarik napas panjang, berusaha meredam sisa emosi yang masih bergolak. Wajahnya kembali datar, seolah semua yang terjadi barusan tidak meninggalkan bekas.

Tak lama kemudian, pintu belakang terbuka perlahan tanpa suara. Wulan, pelayan pribadinya, masuk dengan langkah hati-hati, memastikan tidak ada orang lain yang melihatnya.

“Nyonya .…” panggil Wulan pelan, suaranya penuh kekhawatiran. “Apakah Anda baik-baik saja?”

Natalia menoleh, menatap gadis itu sekilas sebelum berjalan menuju kursi dan duduk dengan anggun. Ia menyilangkan tangannya di pangkuan, ekspresinya tenang namun sulit ditebak.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Wulan menggigit bibirnya, jelas ragu. “Saya mendengar semuanya dari luar, Nyonya. Mereka terlalu keterlaluan.”

Natalia tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia menatap lurus ke depan, seolah melihat sesuatu yang jauh di masa lalu.

“Justru aku harus berterima kasih pada mereka,” ucapnya pelan.

Wulan tertegun, keningnya berkerut bingung. “Berterima kasih? Maksud Nyonya .…”

“Karena kebohongan mereka,” lanjut Natalia tenang, “yang mengatakan aku wanita mandul aku jadi benar-benar terjaga sampai sekarang. Dan tahu sikap asli Andrian.”

Suasana hening sejenak memenuhi ruangan. Wulan tidak langsung menjawab, hanya menatap punggung Natalia dengan rasa tak mengerti yang bercampur simpati.

Natalia sendiri terdiam, matanya mulai menerawang. Pikirannya kembali pada masa lalu, saat semua ini belum berubah menjadi pahit.

Dulu, sebelum pernikahannya dengan Andrian, keluarga Li memang sudah tidak menyukainya. Begitu mereka tahu ia hanyalah yatim piatu dengan asal-usul yang tidak jelas, pandangan mereka langsung berubah dingin.

“Mereka selalu menganggapku hanya ingin menumpang hidup,” gumam Natalia lirih. “Tanpa pernah tahu siapa yang sebenarnya membantu mereka.”

Wulan menunduk, mengetahui sebagian dari kebenaran itu. Ia mengepalkan tangannya pelan, merasa kesal namun tidak berani menyela.

“Nyonya kenapa Anda tidak pernah mengatakan yang sebenarnya?” tanyanya hati-hati.

Natalia tersenyum samar, kali ini lebih pahit. “Karena Andrian tidak akan menerimanya.” Ia menoleh sedikit, matanya redup oleh kenangan. “Dia terlalu bangga. Baginya, dibantu oleh seorang gadis adalah penghinaan. Dan dia takut keluarganya justru menertawakannya.”

Wulan terdiam, tidak menyangka alasan itu begitu dalam. Sementara Natalia kembali menatap ke depan, suaranya semakin pelan.

“Aku juga kasihan padanya,” lanjutnya. “Sejak kecil, keluarga itu hanya memperhatikan Andra dan Karina.”

“Dia selalu disisihkan,” tambahnya dengan nada datar. “Jadi aku menutup semuanya demi menjaga martabatnya.”

Ruangan kembali sunyi, hanya terdengar suara angin yang masuk dari celah jendela. Wulan menatap Natalia dengan perasaan campur aduk antara kagum dan sedih.

“Tapi sekarang .…” Natalia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis tanpa kehangatan. “Setelah semua yang kulakukan, dia justru lebih memilih mendengarkan ibunya daripada aku.”

Wulan menunduk, tidak tahu harus berkata apa. Semua terasa tidak adil, namun kenyataan memang sering kali seperti itu.

“Nyonya .…” panggilnya pelan, mencoba menarik Natalia kembali dari lamunannya.

Natalia berkedip, lalu menghela napas panjang. Ia bangkit dari duduknya, kembali menjadi sosok yang tenang dan tegas seperti biasa.

“Cukup,” katanya singkat. Ia menatap Wulan dengan sorot mata yang kini penuh keputusan. “Bantu aku bersiap.”

Wulan langsung mengangguk. “Baik, Nyonya. Apa yang harus kita lakukan?”

“Hari ini, kita harus menemukan pembeli yang cocok untuk kediaman ini.”

Wulan sedikit terkejut, namun tidak mempertanyakan. Ia hanya menatap Natalia dengan penuh kesiapan.

“Semakin cepat kita menjualnya,” lanjut Natalia, “semakin cepat kita bisa pergi dari tempat ini.”

Ia berjalan menuju jendela, menatap keluar dengan pandangan dingin. “Dan semakin cepat pula aku memutuskan hubungan dengan keluarga Li.”

Wulan menunduk hormat. “Saya mengerti, Nyonya. Saya akan menyiapkan semuanya.”

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya, matrehat sehat sllu thor 😄
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Korona ini
Maria Lina
makasih thor ud treeple up. y n bsk gimi lgi ya thor
☠️⃝🖌️M⃤y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
sudah kere pun masih tak berpikir
itu siapa punya hak

hadeh dasar ya kko manusia serakah
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Dih ga sadar2 ni manusia
vj'z tri
gak yakin makan hanya sedikit /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
☠️⃝🖌️M⃤y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ya jelas beda dong kan yaaa
vj'z tri
/Chuckle//Chuckle//Chuckle/ gpp kok horang ganteng juga manusia bisa lapar juga /Facepalm/
vj'z tri
pepet teros kang jangan kasih kendor /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tambah laper juga itu /Facepalm/
Osie
wu reno g usah kepo..org kepo cpt matii🤣🤣🤣
Osie
jiiiaahh sampah merasa tuan muda
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Wu Reno bnyk nanya dah th keadaan darurat 😏😤
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
tenang Adrian stlh kamu ketemu sama Natalia kamu akan di beri surat cerai yg nanti akan bikin duniamu runtuh karna tanpa Natalia kamu dan keluarga Li akan nyungseb 😏😤
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
doyan apa lapar Zhang Tian 😅😅
Osie
doyan apa rakus nih zhang tian🤣🤣🤣🤣
mama_im
tongkol nya pake sambal gak kak yul?? 🤣🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Astaga typo kak gara-gara nulis dalam kondisi lapar 🤣🤣🤣
total 1 replies
sambua
kacang lupa kulitnya anda
Arbaati
menarik, selalu di tunggu kelanjutannya
SENJA
lu berisik aja dari tadi elaaah😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!