NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Bab 21: Tamu dari Masa Depan

Pagi di Skyview Mall tidak lagi diawali dengan kesunyian gedung tua yang angker. Kini, suara rolling door yang ditarik ke atas, deru motor kurir Sovereign yang bersiap di area loading dock, dan aroma kopi tubruk dari kios-kios bawah menjadi alarm alami bagi Arka.

Arka berdiri di balkon lantai dua, mengamati kerumunan orang yang mulai masuk. Tangannya yang masih terbebat perban sesekali berdenyut, namun ia tidak lagi meringis. Baginya, rasa sakit adalah navigasi—pengingat bahwa ia masih berpijak di bumi, bukan sekadar entitas yang dikendalikan oleh algoritma.

"Okupansi lantai dasar mencapai delapan puluh persen pagi ini," sebuah suara dingin dan berwibawa muncul dari belakang. Elina Clarissa berdiri di sana, mengenakan setelan blazer merah marun yang kontras dengan suasana pasar kreatif yang santai.

Arka menoleh sedikit, memberikan anggukan tipis. "Orang-orang tidak butuh kemewahan untuk merasa dihargai, Elina. Mereka hanya butuh tempat yang tidak membuat mereka merasa miskin."

Elina berjalan mendekat, menyandarkan sikunya di pagar balkon tepat di samping Arka. Aroma parfum mahalnya menyeruak, mencoba mendominasi aroma cengkih dari jalanan. "Kau benar-benar melakukan perombakan psikologis, bukan sekadar renovasi fisik. Menaruh bengkel modifikasi motor tepat di samping galeri lukisan lokal? Itu gila. Tapi anehnya, itu bekerja."

"Itu namanya simfoni jalanan," jawab Arka tenang. "Anak motor butuh seni, dan seniman butuh mobilitas. Aku hanya menyediakan wadahnya."

Elina menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilat kekaguman yang coba ia tutupi dengan sikap angkuh khas pewaris Clarissa Corp.

"Tapi jangan terlalu puas diri. Baskoro mungkin sudah pergi, tapi predator yang lebih besar sedang mencium bau darah dari kesuksesanmu."

Percakapan mereka terhenti saat Sarah muncul dari arah kantor administrasi. Ia membawa tumpukan laporan harian, wajahnya tampak kelelahan namun ada binar penebusan di matanya. Langkahnya terhenti sejenak melihat kedekatan Arka dan Elina.

Sarah merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mencoba mengembalikan sisa-sisa martabatnya sebagai mantan "ratu" di samping Rian Wijaya yang kini hancur. "Arka, ada laporan mendesak dari bagian logistik..."

Elina memutar tubuhnya, menatap Sarah dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Bukankah kau bagian administrasi? Serahkan laporannya pada asistenku, Arka sedang sibuk mendiskusikan strategi ekspansi denganku."

Sarah menggigit bibir bawahnya. Rasa perih menusuk dadanya, bukan karena kata-kata Elina, tapi karena ia menyadari betapa jauhnya ia tertinggal di belakang Arka. Dulu, ia adalah alasan Arka bekerja keras. Sekarang, ia hanyalah salah satu roda kecil di mesin besar yang dibangun Arka.

"Tidak apa-apa, Elina. Biar kulihat," sela Arka. Ia mengambil laporan itu dari tangan Sarah. Jarinya sempat bersentuhan dengan jari Sarah, membuat wanita itu tersentak kecil.

Arka membaca dengan cepat. Matanya menyipit. "Ada anomali di data masuk. Seseorang mencoba menyuntikkan modal besar melalui skema crowdfunding kita. Seratus miliar rupiah dalam satu malam?"

Elina terjengit. "Seratus miliar? Itu bukan investasi UMKM. Itu upaya pengambilalihan paksa."

Sarah mengangguk cepat, merasa berguna kembali. "Aku sudah melacak sumbernya. Nama perusahaannya 'Future Horizon'. Mereka tidak memiliki rekam jejak di Indonesia, tapi mereka mengirimkan perwakilannya ke sini hari ini."

Belum sempat Arka menjawab, suara langkah sepatu kulit yang beradu dengan lantai granit terdengar mantap. Dari arah lobi utama, seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang disisir rapi berjalan mendekat. Ia mengenakan jas abu-abu tanpa dasi, memberikan kesan santai namun sangat berkuasa.

Di belakangnya, dua asisten berpakaian hitam mengikuti dengan koper metalik.

"Arsitek yang luar biasa," pria itu bertepuk tangan pelan, suaranya berat dan penuh wibawa. "Melihat Skyview dari layar monitor saja sudah mengesankan, tapi merasakannya secara langsung... kau benar-benar memiliki 'tangan dingin', Arka Pramudya."

Arka memasang posisi siaga. Instingnya—sisa dari bisikan Sistem yang kini jarang muncul—memberikan alarm merah. Pria ini bukan seperti Baskoro yang tamak atau Rian yang gegabah. Pria ini adalah predator puncak yang bersembunyi di balik senyum filantropi.

"Siapa Anda?" tanya Arka tegas.

"Namaku Thomas Van Heusen. CEO dari Future Horizon," pria itu mengulurkan tangan. "Aku datang bukan untuk berperang, tapi untuk menawarkan masa depan. Aku ingin membawa Sovereign Architect menjadi platform ekonomi nasional. Seratus miliar itu hanyalah uang muka untuk keseriusan kami."

Elina melangkah maju, menghalangi Thomas. "Sovereign tidak sedang mencari pendanaan seri-A, Tuan Thomas. Dan Skyview bukan untuk dijual."

Thomas terkekeh, suara tawanya terdengar seperti gesekan logam yang halus. "Nona Clarissa, bisnis bukan hanya tentang menjual atau membeli. Ini tentang evolusi. Arka, kau membangun ini dengan keringat dan sistem yang... katakanlah, unik. Tapi kau butuh pelindung yang lebih kuat dari sekadar kelompok kurir jika ingin melawan raksasa dunia."

Mereka berpindah ke ruang rapat yang kini lebih mirip bengkel kreatif daripada kantor formal.

Thomas meletakkan sebuah tablet di atas meja, menampilkan peta distribusi Sovereign yang telah dikembangkan Arka.

"Aku tahu kau kehilangan 'sesuatu' di kepalamu, Arka," bisik Thomas tepat di telinga Arka saat asistennya sedang menyiapkan dokumen.

Deg. Jantung Arka seolah berhenti. Tidak ada yang tahu tentang Sistem itu kecuali dirinya, dan mungkin Elina yang hanya menduga-duga.

Bagaimana pria asing ini bisa tahu?

"Jangan terkejut. Dunia ini kecil bagi mereka yang memiliki satelit di atas sana," Thomas tersenyum tipis. "Sistem itu adalah prototipe yang bocor. Dan Future Horizon adalah pemegang hak paten aslinya. Jika kau bekerja sama dengan kami, aku bisa 'memperbaiki' otakmu. Kau bisa kembali menjadi dewa data, bukan sekadar kurir yang beruntung."

Arka meremas bros perak di sakunya. Sudut tajamnya kembali melukai telapak tangannya. Darah mulai merembes di balik perbannya, namun rasa perih itu justru memberikan kejelasan.

Ia menatap Sarah yang berdiri cemas di dekat pintu, lalu menatap Elina yang tampak curiga.

"Aku menolak," ucap Arka lantang.

Ruangan itu mendadak senyap. Thomas menaikkan sebelah alisnya. "Kau menolak menjadi dewa demi tetap menjadi manusia yang terluka?"

"Aku menolak karena kedaulatan tidak bisa dibeli dengan seratus miliar atau teknologi," Arka berdiri, menatap Thomas dengan tatapan paling tajam yang pernah ia miliki. "Dulu, aku berpikir Sistem adalah segalanya. Tapi semalam, saat para kurirku bertarung tanpa data, aku menyadari satu hal. Harga diri manusia tidak butuh algoritma untuk tahu kapan harus melawan."

Arka melangkah maju, meletakkan tangannya yang terluka di atas meja rapat. "Jika Anda ingin berinvestasi karena percaya pada visi kami, silakan antre bersama pedagang pasar lainnya. Tapi jika Anda datang untuk membeli otakku... pintu keluarnya ada di sebelah kanan."

Thomas diam sejenak, lalu ia tertawa terbahak-bahak. Sebuah tawa yang tidak memiliki emosi, hanya pengakuan teknis. "Menarik. Sangat menarik. Kau lebih keras kepala daripada yang tertulis di laporan intelijen kami."

Thomas merapikan jasnya dan berdiri. "Baiklah. Anggap saja tawaran seratus miliar itu tetap di atas meja. Aku akan memberi waktu satu minggu. Tapi ingat ini, Arka... saat raksasa mulai lapar, mereka tidak akan meminta izin untuk memakan semut."

Thomas dan rombongannya pergi secepat mereka datang, meninggalkan aura dingin yang membekas di ruangan itu.

Elina mendekati Arka, wajahnya pucat. "Arka, pria itu... dia sangat berbahaya. Future Horizon punya reputasi menghancurkan perusahaan yang menolak kerja sama dengan mereka."

Sarah juga mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran yang tulus. "Arka, maafkan aku. Seandainya aku tidak membocorkan data dulu, mungkin mereka tidak akan tahu celah kita."

Arka menggeleng. Ia menatap telapak tangannya yang kini basah oleh darah dari luka yang terbuka kembali. Ia merasakan kelelahan yang luar biasa, namun jiwanya terasa merdeka.

"Jangan minta maaf, Sarah. Ini adalah perang yang memang harus terjadi," Arka menatap ke luar jendela, ke arah matahari yang mulai turun di ufuk Tanjungbalai. "Thomas benar, aku bukan dewa. Aku hanya manusia yang sedang mencoba membangun rumah yang layak untuk teman-temanku."

Arka mengeluarkan bros perak itu dari sakunya, meletakkannya di atas meja. Bros itu tampak usang, bengkok, dan murah dibandingkan dengan teknologi Thomas atau kekayaan Elina. Tapi bagi Arka, bros itu adalah arsitektur kedaulatannya yang paling murni.

"Mulai besok, perketat keamanan fisik dan digital," perintah Arka pada Sarah dan Elina. "Kita tidak akan membiarkan 'masa depan' mereka menghancurkan 'hari ini' kita."

Di dalam mobilnya yang melaju meninggalkan Skyview, Thomas Van Heusen menatap layar monitor yang menampilkan detak jantung Arka yang terekam secara ilegal.

"Subjek menunjukkan resistensi emosional tingkat tinggi," gumam Thomas pada komunikator di telinganya. "Aktifkan rencana B. Jika kita tidak bisa memiliki Arsiteknya, kita hancurkan fondasinya. Mulai dari panti asuhan itu."

Arka belum tahu, bahwa perjuangan harga diri yang sesungguhnya baru saja memasuki babak yang paling gelap.

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Cut Founna: siap💪
total 1 replies
Cut Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Cut Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Cut Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!