Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang dan Perubahan
Senja menjelang ketika kereta ekonomi dari Jakarta tiba di Stasiun Kota Malang. Suara peluit, desing rem besi, dan langkah kaki para penumpang yang terburu-buru menjadi latar belakang kepulangan mereka. Bau gorengan dari pedagang di peron, nasi pecel yang dijajakan di kereta, dan harumnya udara dingin Malang yang khas bercampur. Mereka turun dari kereta dengan tas punggung dan mata yang letih, tetapi ada kilau berbeda di mata mereka: kilau kelegaan, kemenangan kecil, dan juga kebingungan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Rina, yang ikut kembali setelah menghadiri rapat DPR, berjalan di depan, menyapa para pengemudi becak yang memanggil. “Selamat datang kembali, Mbak Rina!” seru seorang ibu penjual bakso. Rina terkejut. “Lho, ibu tahu saya?” tanya Rina sambil tersenyum. “Saya lihat di TV,” jawab ibu itu. “Kamu hebat!” Wajah Rina memerah, malu. Perikus tertawa. “Kau sudah jadi artis,” godanya. Budi menambahkan, “Nanti siap-siap minta tanda tangan, ya?”
Mereka memanggil taksi online dan menuju rumah kontrakan mereka yang lama. Jalan-jalan Malang masih dipenuhi lalu lalang motor, suara klakson, aroma sate kambing dari pinggir jalan, dan bocah-bocah berseragam sekolah yang baru pulang les. Namun, ada sesuatu yang baru: spanduk dan mural di dinding gang dengan wajah-wajah teman-teman mereka. “Terima kasih Tento dan kawan-kawan,” tertulis. Ada gambar burung garuda membawa soto ayam, mengisyaratkan keberanian rakyat kecil. Budi memandangi mural itu, menahan tawa. “Kapan aku jadi burung garuda?” tanyanya. Perikus menepuk bahunya. “Kau selalu makan. Jadi wajar kalau kau di gambar makanan,” katanya. Mereka tertawa.
Setibanya di rumah kontrakan, pintu dibuka oleh Bu Rini, pemilik kontrakan, yang tersenyum lebar. “Alhamdulillah kalian pulang dengan selamat. Aku nonton kalian di TV! Aku bangga. Rumah kalian banyak yang datang untuk lihat,” katanya. Rumah kecil itu penuh dengan bunga, hadiah kecil, dan surat dari orang-orang yang berterima kasih. Anak-anak tetangga berlari masuk, memeluk Perikus, dan berteriak, “Om Perikus pahlawan!” Perikus tersenyum, mengangkat salah satu anak. “Om? Aku masih muda,” katanya sambil tertawa. Mereka semua duduk di ruang tamu, minum teh tawar hangat, menikmati soto ayam yang dikirim Pakde Selam.
Namun, di balik keramaian itu, ada perasaan canggung. Mereka merasa seperti orang baru di rumah lama. Mereka terkena sorot lampu kamera, diundang ke talk show, di-tag ribuan kali di media sosial. Beberapa teman lama menghubungi hanya untuk berfoto bersama; beberapa memuji, beberapa iri. “Aku hanya ingin hidup tenang,” keluh Budi. “Ini seperti film, tetapi tidak ada sutradara untuk cut.” Mereka tahu, kejadian ini mengubah hidup mereka selamanya. Mereka harus belajar menghadapi sorotan publik, memfilter pujian dan kebencian, serta menjaga mental mereka. Profesor menasihati, “Jangan baca komentar negatif. Fokus pada tujuan. Ini proses panjang.”
Beberapa hari kemudian, mereka diundang ke sebuah talk show televisi nasional. Studio berada di Jakarta, tapi kali ini mereka tidak perlu menyamar. Mereka duduk di sofa empuk berwarna biru, dikelilingi lampu sorot. Host yang terkenal, dengan rambut disisir rapi dan senyum lebar, menyapa mereka. “Selamat datang! Ini dia pahlawan-pahlawan B16!” serunya. Penonton bertepuk tangan. Musik latar gembira diputar. Mereka duduk kaku, tidak biasa dengan panggung. Budi berkeringat, sementara Perikus memainkan cincin di jarinya untuk menenangkan diri. “Apa perasaan kalian sekarang? Kalian viral, jadi inspirasi banyak orang,” tanya host. Rina menjawab, “Perasaan kami campur aduk. Ini bukan tentang kami, tapi tentang korban.” Host melontarkan pertanyaan lucu. “Budi, kamu lebih takut drone jatuh atau disorot kamera TV?” Budi tertawa, “Kamera TV lebih serem, karena ibu saya menonton.” Penonton tertawa. Di balik candaan, mereka menyampaikan pesan: reformasi harus terus berjalan, korban harus dilindungi.
Di hari berikutnya, mereka menghadiri pertemuan dengan perwakilan korban B16. Mereka bertemu ibu-ibu yang anaknya hilang, bapak-bapak yang keponakannya tak kembali, serta pekerja yang sempat disuntik tetapi selamat. Salah satu ibu menangis sambil memegang tangan Rina. “Terima kasih nak, kalian membuat kami punya suara,” katanya. Rina memeluknya, air matanya ikut keluar. “Kami hanya memulai, Bu. Kita semua harus bersuara,” balas Rina. Pertemuan itu emosional. Mereka membuat rencana pendirian yayasan: “Yayasan Joko Karin”, yang bertujuan membantu korban eksperimen dan menekan perusahaan nakal. Mereka berbicara tentang penggalangan dana, bantuan hukum, dan edukasi masyarakat tentang bahaya produk sembarangan.
Sementara itu, di Jakarta, kabar beredar tentang upaya lobi politik dari petinggi perusahaan-perusahaan farmasi. Sebuah komisi DPR tiba-tiba mengumumkan penundaan pembahasan UU Perlindungan Subjek Riset. Media melaporkan, ada anggota dewan yang menerima suap untuk melemahkan penyelidikan. “Orang-orang itu tidak bisa bertobat,” gumam Profesor. “Kita harus terus. Kita tidak boleh kehilangan momentum.” Di media sosial, trending #SeretSemua dan #BukanSekadarPansus muncul. Humor-humor gelap beredar: meme Budi menempel pelacak menjadi sticker favorit.
Tak lama kemudian, sebuah pesan anonim masuk ke email Profesor: “Mereka belum selesai. B16 hanya satu bagian. Ada B17, B18. Mereka ada di belakang pintu laboratorium PT. BioPharm di Medan. Hati-hati, ada oknum polisi besar yang melindungi.” Profesor menunjukkan email itu kepada teman-temannya. “Ini bisa jebakan, tapi bisa juga fakta,” katanya. “Nama pabrik ini baru, kita belum dengar.” Rina mengangguk. “Kita harus investigasi,” katanya. “Kita tidak boleh membiarkan program baru ini berjalan.” Mereka memutuskan untuk menindaklanjuti. Perjalanan mereka belum selesai. Mereka memanggil Maya: “Apa kamu bisa cek BioPharm?” Maya menjawab, “Aku akan cari. Ini seperti main whack-a-mole.”
Di sisi lain, kabar baik datang: Karin sudah bisa jalan tanpa bantuan, Joko mulai menjalani terapi, dan anak-anak yang selamat pulih. Widya masuk penahanan LPSK, bekerjasama dengan penyidik. Dr. Singh berada dalam tahanan, menunggu ekstradisi ke India. Namun, Dr. Singh tidak tinggal diam. Ia menyewa pengacara top, berusaha membuktikan bahwa dirinya dipaksa. Media gencar memberitakan, memperdebatkan. Muncul perpecahan: sebagian masyarakat membela, sebagian menyerang. Budi memandang televisi, mengernyit. “Dunia ini aneh. Pelaku tampak pintar, korban tampak dibodohi,” katanya. Perikus menepuk bahunya. “Begitulah. Kita harus paham permainan mereka untuk mengalahkan,” katanya.
Di kampung Pak Hadi, setelah semua kehebohan, diadakan syukuran kecil. Ibu-ibu memasak nasi kuning, ayam goreng, sambal teri. Anak-anak menari dengan topeng reog buatan sendiri. Budi membawa gendang, memainkan ritme lucu, dan semua tertawa. Pak Anto dan Bu Rukmini datang dari Kalimantan, membawa oleh-oleh buah merah dan kain Dayak. Mereka merayakan kehidupan dengan sederhana, mengingatkan mereka bahwa keberanian muncul bukan hanya dari kota besar, tetapi dari hati orang-orang biasa. Ada momen ketika Budi naik ke panggung bambu, mencoba melawak tentang drone jatuh. “Saya baru sadar, drone saya lebih sering jatuh daripada cinta saya,” katanya. Semua tertawa. Humor menjadi perekat yang menenangkan luka.
Dalam waktu dekat, mereka menerima undangan dari kampus tempat mereka dulu kuliah. Rektor ingin memberi penghargaan. “Mari,” kata Profesor, “kita terima untuk memotivasi mahasiswa lain.” Mereka datang, mengenakan kemeja rapi. Mahasiswa bersorak. Wira, seorang aktivis kampus, menyapa mereka. “Kalian membuktikan perlawanan tidak sia-sia. Kami mau belajar,” katanya. Rina berdiri di podium, berkata, “Perjuangan bukan soal heroisme, tapi konsistensi. Kalian generasi berikutnya, jangan biarkan kami sendirian.” Aplaus. Di luar, Budi tertangkap kamera selfie oleh mahasiswa yang memuji lukisan-lukisannya. Ia malu, tapi tersenyum.
Suatu sore, mereka berkumpul di warung kopi Pak Mulyono, tempat awal konspirasi mereka. Mereka duduk di bangku kayu, memesan kopi hitam dan pisang goreng. Pak Mulyono menatap mereka, tersenyum. “Kalian sudah keliling dunia, balik ke warung saya?” candanya. Mereka tertawa. “Warung ini tempat kita bikin konspirasi, Pak,” jawab Tento. “Kami hanya ingin mengingatkan diri bahwa kita bukan pahlawan super. Kita hanya anak warung kopi.” Mereka tertawa lagi. Di meja, sebuah koran lokal menulis judul: “Pahlawan Rakyat Gelar Diskusi di Warung Kopi.” Gambar mereka. Budi memeluk koran. “Aku simpan untuk anak cucu,” katanya.
Pembicaraan mengalir ke langkah selanjutnya. Mereka menatap kertas catatan di meja: daftar pabrik lain yang dicurigai, daftar pejabat yang perlu diawasi, rencana yayasan, jadwal sidang Singh. “Perjuangan berlanjut,” kata Profesor. “BioPharm di Medan, investor asing, oknum di DPR. Kita harus menyusun strategi.” Rina mengangkat tangan. “Dan kita harus jaga kesehatan mental. Kita bukan robot. Kita harus istirahat, makan, tertawa. Kita harus hidup.” Semua mengangguk. Budi menambahkan, “Dan kita harus makan soto, supaya energi tetap ada.” Mereka tertawa lagi.
Malam itu, di kamar kontrakan, suara hujan kembali turun. Mereka duduk di lantai, mengobrol. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada rapat penting, hanya mereka dan suara hujan. “Aku merasa aneh,” kata Perikus. “Aku rindu hidup yang biasa, tapi aku tidak mau kembali ke ketidaktahuan.” Tento menatap jendela. “Kita sudah membuka pintu ke dunia lain. Kita tidak bisa menutup. Tapi kita bisa mengatur bagaimana kita masuk dan keluar.” Budi melirik catatan gambar. “Ibaratnya… hidup seperti komik, ada panel komedi dan panel tragedi. Kita harus membuat panel bahagia lebih banyak,” katanya. Mereka tertawa pelan.
Malam itu mereka tertidur di lantai ruang tamu, kepala bersandar di bantal, selimut seadanya, lampu kamar mati, hanya cahaya dari luar yang masuk lewat jendela, dan suara hujan yang menenangkan. Di dinding, lukisan-lukisan Budi dan catatan kecil Rina tergantung. Di meja, peta baru menunggu dijelajahi. Di luar, aroma tanah basah menandakan bumi yang terus bergulir, membawa mereka ke petualangan berikutnya, langkah demi langkah, bersama-sama.