NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Olivia langsung berjalan mondar-mandir di ruang apartemen itu. Langkahnya cepat, gelisah dan tidak terarah. Tangannya masih menggenggam ponsel, tapi pikirannya seperti berlari ke mana-mana.

Jesica yang sejak tadi berdiri di dekat sofa akhirnya ikut bergerak, mengikuti Olivia dengan wajah cemas.

“Liv… apa yang dia bilang?” tanyanya, berusaha tetap tenang meski jelas panik.

Olivia tidak langsung menjawab. Ia berhenti sebentar, lalu kembali berjalan. Jemarinya menyentuh rambutnya, seolah mencoba menenangkan diri.

Jesica akhirnya tidak tahan. “Liv!” panggilnya sedikit lebih keras. “Siapa dia?”

Olivia berhenti. Beberapa detik ia hanya diam, lalu dengan suara pelan—nyaris seperti berbisik—ia berkata,

“Dia… di bawah.”

Jesica membeku.

“Di bawah?” ulangnya tidak percaya. Matanya langsung melebar. “Dia tau tempat ini?!”

Nada suaranya kini benar-benar frustasi. Apartemen ini seharusnya aman. Tersembunyi dan tidak tercatat atas nama Olivia.

Tidak mungkin ada orang luar yang tahu. Namun kenyataannya—ada seseorang yang bukan hanya tau, tapi sudah berada tepat di bawah mereka.

Jesica menatap Olivia tajam. “Sebenarnya dia siapa, Liv?”

Pertanyaan itu menggantung, Olivia tidak punya jawaban. Ia menggeleng pelan.

“Gue nggak tau.”

Hening. Namun kali ini, diam itu tidak berlangsung lama, tatapan Olivia berubah dari gelisah… menjadi tegas.

“Tapi gue bakal cari tau.”

Jesica menatapnya ragu. “Maksud lu?”

Olivia mengambil tasnya yang tergeletak di sofa.

“Kita turun.”

“Liv—” Jesica langsung menahan langkahnya. “Lu yakin? Ini bisa bahaya.”

Olivia berhenti, menoleh ke arah sahabatnya. Tatapannya tajam, berani. Tapi di dalamnya masih ada sisa ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.

“Kalau kita terus menghindar,” katanya pelan, “kita nggak akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.”

Jesica terdiam. Ia tahu Olivia benar dan justru itu yang membuatnya semakin takut.

Olivia membuka pintu apartemen. Udara koridor terasa lebih dingin dari biasanya. Ia melangkah keluar lebih dulu.

Setelah beberapa detik ragu, Jesica akhirnya mengikutinya. Pintu apartemen tertutup perlahan di belakang mereka. Langkah kaki mereka menggema pelan di lorong menuju lift.

Setiap detik terasa lebih berat. Setiap lantai yang mereka turuni terasa seperti mendekati sesuatu yang tidak bisa mereka hindari lagi.

Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar—Olivia langsung melangkah keluar. Lobi apartemen terlihat normal. Beberapa orang berlalu-lalang. Satpam berjaga seperti biasa, tidak ada yang terlihat mencurigakan.

Namun justru itu yang membuat suasana terasa semakin tidak nyaman. Olivia memperlambat langkahnya. Matanya menyapu seluruh ruangan, mencari, menebak dan menahan napas.

Jesica berdiri di sampingnya, ikut melihat ke segala arah. “Yang mana orangnya…?” bisiknya.

Olivia tidak menjawab, karena di detik berikutnya—seseorang berdiri dari kursi tunggu di sudut lobi. Tenang, seolah sudah menunggu sejak tadi. Perlahan… pria itu berjalan mendekat ke arah mereka, namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Begitu Olivia dan Jesica melangkah mendekat di lobi, pria itu langsung meraih pergelangan tangan Olivia.

“Hey—!” Olivia tersentak.

Tanpa banyak bicara, pria itu menariknya keluar dari apartemen.

“Lepasin!” Olivia berusaha melepaskan diri. “Mau apa lu?!”

Namun langkah pria itu tetap tenang, cepat, dan seolah sudah tahu arah. Jesica yang kaget sempat terdiam satu detik—lalu langsung tersadar dan berlari mengejar.

“Liv! Tunggu!”

Mereka keluar dari pintu utama, lalu berbelok ke sisi gedung, masuk ke jalan sempit yang bahkan tidak pernah Olivia sadari sebelumnya. Lorong kecil, jalan tikus, berliku dan gelap.

Bahkan sebagai penghuni ditempat itu—Olivia tidak pernah tahu jalur ini ada.

“Kenapa harus lewat sini?!” protes Olivia, napasnya mulai tidak teratur.

Pria itu tidak menjawab. Ia terus menarik Olivia melewati satu gang ke gang lain, hingga akhirnya mereka keluar—di sisi seberang apartemen.

Olivia langsung berbalik, hendak marah besar, namun pria itu berkata singkat,

“Lihat.”

Ia menunjuk ke arah gedung apartemen tadi, Olivia mengikuti arah tangannya dan dunia seperti berhenti. Di depan pintu masuk apartemen—berdiri Juna dengan beberapa orang berpakaian formal di belakangnya.

Orang-orang itu… Olivia sangat mengenal mereka. Orang-orang suruhan Oma Dewi. Jesica yang baru sampai di samping Olivia langsung membeku.

“Ya Tuhan…” bisiknya pelan.

Olivia menatap tanpa berkedip.

“Ngapain Kak Juna di sana…?” suaranya pelan, hampir tidak terdengar.

Pria di sampingnya menjawab datar, “Dia ke sana atas perintah Oma lu.”

Olivia menoleh cepat. “Untuk apa?”

Pria itu menatap lurus ke arah apartemen.

“Lu nggak lihat dia datang bareng orang-orangnya Oma lu?”

Ia berhenti sejenak. “Tentu aja untuk nyariin lu.”

Jesica langsung menutup mulutnya, kaget. “Liv…” bisiknya panik. “Mereka tau tempat itu…”

Olivia menggeleng pelan, masih tidak percaya. “Enggak… enggak mungkin…”

Namun matanya kembali melihat ke arah Juna yang kini masuk ke dalam gedung bersama orang-orang itu. Realita itu terlalu jelas untuk disangkal, Olivia menelan ludah.

“Dia… tau kamar gue?” tanyanya pelan.

Jesica langsung menjawab tanpa ragu, suaranya bergetar. “Pasti tau, Liv. Lu tau sendiri orang-orang Oma kayak gimana.”

Olivia terdiam.Semua terasa runtuh.

“Barang gue masih di dalam…” gumamnya. “Gue belum sempet beresin…”

Ia terlihat benar-benar panik sekarang. Namun pria itu justru tetap tenang.

“Tenang aja.”

Olivia menoleh.

“Orang gue udah beresin.”

“Hah?”

“Begitu kalian keluar dari pintu apartemen itu.”

Jesica langsung menatapnya dengan mata membesar.

“Maksud lu…?” Olivia juga tidak kalah kaget.

Pria itu menatap mereka berdua.

“Sekarang itu bukan lagi apartemen lu.”

Hening.

“Udah diganti, secara data dan isi.”

Napas Olivia tercekat. “Secepat itu…?”

“Kalau mereka masuk,” lanjut pria itu santai, “yang mereka temukan cuma apartemen milik orang lain.”

Tidak ada jejak, tidak ada barang dan tidak ada bukti bahwa Olivia pernah ada di sana.

Jesica mundur satu langkah. “Gila…”

Olivia hanya bisa diam, ia benar-benar merasa—ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Beberapa menit mereka hanya berdiri diam, memperhatikan dari kejauhan, sampai akhirnya—Juna dan orang-orang Oma keluar dari gedung. Ekspresi mereka… tidak puas. Seperti tidak menemukan apa yang mereka cari.

Baru setelah itu pria tersebut berkata singkat, “Kita jalan.”

Olivia dan Jesica saling berpandangan. Tanpa banyak pilihan… mereka mengikuti. Mereka berjalan cukup jauh. Menyusuri jalan kecil, menyeberang gang, hingga hampir setengah kilometer.

Langkah Olivia mulai melambat, napasnya terasa berat. “Lu mau bawa gue ke mana sih…” keluhnya akhirnya. “Gue capek.”

Tidak ada jawaban, Olivia mendengus kesal. “Dan kenapa juga gue harus percaya sama lu?!” lanjutnya. “Lu ini siapa? Dan kakak gue di mana?!”

Pria itu berhenti. Menoleh sedikit ke arah Olivia. Tatapannya tipis, lalu ia berkata dengan nada mengejek ringan,

“Dasar anak orang kaya.”

Olivia langsung menatap tajam.

“Terlalu dimanja, jalan segini aja udah ngeluh.”

Olivia hampir saja membalas. Namun Jesica cepat menarik tangannya dan berbisik pelan,“Liv… tahan.”

Olivia menoleh kesal. Jesica menatapnya serius. “Kita nggak tau dia siapa. Baik atau nggak.”

Ia menelan ludah.

“Kalau kita kenapa-kenapa… kita juga nggak akan pernah tau soal kak Olin.”

Kalimat itu cukup. Olivia menghela napas panjang, menahan emosinya dan akhirnya… memilih diam.

Pria itu kembali berjalan. Namun kali ini, tanpa menoleh, ia berkata pelan—

“Kalau kalian mau ketemu Oliana…”

“…ikut gue sampai akhir.”

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!