Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Semalam Satria tidak pulang ke rumah. Tapi Vania tidak peduli dengan hal itu. Mau Satria pulang atau tidak sekalipun, Vania merasa sudah terbiasa.
Hari ini Vania sudah memandikan Resa pagi-pagi karena tentu saja ada agenda untuk pergi bersama Nathan.
"Jadi Kita akan pergi bermain dengan Uncle Nathan Bunda?" tanya Resa.
"Iya Sayang, sebagai tanda terima kasih karena tempo hari sudah menyelamatkan Resa." jelas Vania sambil menyisir rambut Resa.
"Horeee, Kita akan bermain dimana Bunda?"
Vania berfikir sejenak, Dia juga sebenarnya tidak tahu akan pergi kemana karena Nathan tidak menjelaskan hal itu.
"Nanti Kita tanyakan pada Uncle oke."
"Oke Bunda."
Setelah Resa rapi, Vania juga bersiap. Dia tidak mau Nathan menunggu lama di tempat mereka akan bertemu.
.
.
Di Apartemen, Nathan sendiri sudah mandi dan sedang memilah untuk memakai pakaian yang dirasa cocok untuk pergi dengan Vania.
Belum pernah Nathan sampai seperti ini. Karena Nathan selalu dipuja puji oleh banyak wanita dengan penampilan seperti apapun.
Tapi Nathan ingin membuat Vania terkesan hari ini. Tentu itu semua harus di mulai dari penampilannya. Pilihan Nathan jatuh pada kaos polos berwarna navy dan celana kargo.
Rambut Nathan tidak dia pakai pomade karena Nathan tidak mau terlihat formal. Dia hanya menyisir rapi. Tidak ketinggalan parfum mahal dia sebar di titik-titik tertentu agar Vania terkesan dengan wangi tubuhnya.
Nathan sampai terkekeh sendiri dengan tingkah nya hari ini. Jika Bram sampai tahu, sudah pasti asistennya itu akan meledeknya.
Ting
Satu pesan masuk dan Nathan segera membukanya.
💌 Vania
Aku sudah siap dengan Resa. Kita bertemu di xxx.
💌 Me
Ya, Aku segera kesana.
Nathan tersenyum dan kembali memastikan penampilannya hari ini. Dirasa sudah Oke, Nathan mengambil dompet juga kunci mobilnya.
.
.
Tidak perlu waktu lama untuk Nathan sampai di tempat Mereka janji bertemu. Vania masih belum datang, padahal jaraknya dengan rumah Vania tidak begitu jauh.
Nathan yang bersemangat bahkan sampai melajukan mobilnya dengan cepat agar tidak membuat Vania menunggu.
Sebuah taksi berhenti di dekat mobilnya. Nathan melihat wanita yang ditunggunya turun dengan menggandeng Resa ditangannya.
Nathan segera keluar dari mobilnya untuk menghampiri Vania.
"Uncle Nathan." seru Resa dengan semangat.
Nathan merentangkan kedua tangannya dan Resa melepas pegangan tangan Vania untuk masuk ke dalam pelukan Nathan.
"Hai Boy, Kamu tampan sekali hari ini." puji Nathan pada Resa yang di gendongnya.
"Resa, turun Sayang. Kamu berat." ucap Vania tak enak hati saat putranya begitu nyaman di pangkuan Nathan.
"Tidak apa Vania."
"Apa sudah menunggu lama?" tanya Vania.
Nathan menggeleng dan segera mengajak untuk masuk ke dalam mobilnya. Nathan membukakan pintu depan untuk Vania duduk.
Vania gugup sekali diperlakukan seperti itu oleh Nathan. Padahal Satria tidak pernah seperti itu padanya.
"Ayo Sayang." Vania berniat memangku Resa di depan juga.
"Resa biar duduk ditempatnya, ada Car Seat di belakang, supaya Kamu juga nyaman." jelas Nathan.
Nathan kemudian menutup pintu depan dan membuka pintu belakang. Mendudukan Resa di Car Seat yang sebelumnya sudah dia beli khusus untuk Resa.
Bahkan Nathan juga sudah menyiapkan beberapa mainan juga snack, susu dan air mineral di belakang. Persiapan yang matang untuk seorang Nathan.
"Sudah siap?" tanya Nathan pada Vania juga menengok pada Resa di belakang.
"Lets Go Uncle." seru Resa bersemangat.
Vania tertawa pelan melihat riangnya Resa. Andai semua ini di lakukan oleh Satria, Vania menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir pikirannya dari Satria.
Hari ini Vania tidak mau memikirkan hal itu. Dia akan menikmati jalan-jalan ini dengan Resa juga Nathan.
.
.
Beruntung musim panas sedang berlangsung di Negara ini. Jadi Nathan tidak pusing memilih tempat untuk bermain.
Taman bermain yang juga terdapat mini zoo di dalamnya menjadi pilihan Nathan setelah di setujui oleh Vania juga Resa.
"Seharusnya aku membawa bekal untuk Kita." ungkap Vania setelah mereka masuk ke dalam taman bermain.
"Tidak perlu repot seperti itu, Kita bisa beli makanan dan minuman disini." jelas Nathan.
"Ayo Boy." Nathan mengulurkan tangannya pada Resa agar menggandengnya.
Resa tentu segera berpindah gandengan pada Nathan dan melangkah dengan penuh semangat bersama Nathan.
Vania mengekori dari belakang sambil memperhatikan interaksi Nathan yang begitu hangat pada Resa. Padahal mereka baru saja bertemu, tapi entah kenapa bisa sedekat itu.
"Bunda ayo." Resa meminta Vania juga untung menggandeng satu tangannya yang lain.
Kini mereka berjalan saling bergandengan seperti keluarga kecil yang bahagia.
Resa dan Nathan mencoba beberapa permainan yang ramah anak. Vania bahkan dipaksa untuk naik tapi dengan lembut menolak permintaan keduanya.
Vania hanya melihat bagaiman Resa begitu bahagia dan terus mengembangkan senyum lebar di wajahnya. Berlari dari satu permainan ke permainan lain.
Berjalan melihat beberapa binatang yang ada disana. Dan saat mulai merasakan haus dan lapar, Nathan mengajak ke satu foodcourt yang tersedia disana.
"Kamu mau makan apa Boy?" tanya Nathan pada Resa.
Resa menunjuk ke stand penjual Burger dan ice cream. Tanpa dram Nathan melangkah menuju stand yang diinginkan Resa. Vania yang melihat itu sangat terkejut, padahal seharusnya dirinya saja yang memesankan Resa makanan. Tapi Nathan bertindak sendiri tanpa merepotkannya.
"Ini Boy, makan yang banyak ya."
Nathan membawa satu burger, kentang goreng juga ice cream coklat. Tidak ketinggalan Air mineral juga sudah dibelinya.
"Nathan maaf merepotkan." ucap Vania tidak enak.
"Tidak Vania, Aku senang melakukannya." jawab Nathan.
Kemudian Nathan juga menanyakan makanan apa yang diinginkan Vania.
"Aku akan memesannya sendiri."
Nathan mengangguk dan tidak memaksa Vania. Dia membiarkan Vania memilih makanan yang akan dipesannya sendiri.
Selesai makan, Resa kembali mengajak untuk melihat beberapa binatang yang belum dilihat. Perhatian Resa tertuju untuk melihat burung berwarna-warni yang dapat berbicara.
Ternyata disana juga ada fotografer yang akan memotret pengunjung yang datang. Resa meminta untuk berfoto dengan burung itu.
"Tuan, Nyonya. Kalian bisa bergabung dengan putra kalian." ucap fotografer itu pada Nathan juga Vania yang berdiri agak jauh dari tempat Resa.
"Tidak perlu, Saya."
"Baik, fotokan Kami dengan bagus." potong Nathan cepat menggandeng Vania untuk bergabung dengan Resa.
"Nathan."
"Ayo Bunda Kita foro bersama."
fotografer mengatur posisi ketiganya agar terlihat bagus. Nathan bahkan di minta untuk merangkul pundak Vania.
Meski canggung namun baik Vania juga Nathan tetap mengikuti arahan fotografer. Senyum terukir di wajah ketiganya yang sangat menikmati waktu jalan-jalan mereka.
.
......................