Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Gubuk yang Membusuk
Mobil-mobil itu akhirnya berhenti dengan suara ban yang berderit di atas tanah kering yang pecah-pecah. Begitu pintu dibuka, bau busuk yang menyengat langsung menyambar indra penciuman—perpaduan antara bau lembap, kayu yang melapuk, dan aroma kemenyan yang sangat tua.
Di depan mereka berdiri sebuah bangunan panggung yang sulit disebut sebagai rumah. Dinding papannya sudah menghitam dan melengkung, ditumbuhi lumut kering yang tampak seperti sisik binatang. Atap rumbianya sudah rontok di banyak sisi, menyisakan lubang-lubang gelap yang menyerupai mata yang sedang mengawasi dari kegelapan.
"Gila... tempat apa ini? Bau sekali," keluh Linda sambil menutup hidung dengan sapu tangan mahalnya, namun matanya tetap memancarkan rasa penasaran yang haus akan hiburan.
Bram meludah ke tanah sambil tertawa sinis. "Lihatlah, tempat ini bahkan tidak lebih baik dari gudang di kantor kita. Bagaimana bisa dukun hebat tinggal di tempat sampah seperti ini? Apa dia tidak bisa meramal cara membersihkan rumahnya sendiri?"
Mereka semua berpikir hal yang sama: tempat ini kotor, tidak terawat, dan sangat menyeramkan. Tumpukan barang bekas yang berkarat, sisa-sisa sesajen yang sudah dihinggapi ulat, serta jaring laba-laba tebal yang menggantung di langit-langit teras membuat bangunan itu tampak seperti bangkai yang sedang membusuk.
Namun, di tengah ejekan mereka, ada satu hal yang tidak mereka sadari. Keheningan di sekitar bangunan itu tidak wajar. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara burung malam. Hanya ada suara derit kayu yang tertiup angin.
"Ayo, bawa si hantu masuk!" seru Riko sambil mendorong bahu Colette yang masih terpaku menatap gubuk itu dengan tubuh yang kaku.
Jude melangkah maju, tangannya mengepal. Ia merasa bulu kuduknya berdiri bukan karena takut pada hantunya, tapi karena firasat buruk melihat betapa "matinya" suasana di tempat ini. Ia menatap ke arah pintu kayu yang setengah terbuka, di mana kegelapan di dalamnya tampak jauh lebih pekat daripada malam di luar.
Colette diseret paksa menaiki tangga kayu yang berderit memilukan. Setiap injakan terasa seolah tangga itu akan patah. Rekan-rekannya terus tertawa, saling dorong, dan mengejek betapa "cocoknya" Colette berada di tempat yang kusam dan menyeramkan ini.
"Lihat, Colette! Akhirnya kau menemukan rumah yang setara dengan wajahmu!" Linda tertawa cekikikan sambil mendorong Colette tepat di depan pintu masuk yang gelap.
Sebelum kaki mereka menginjak lantai kayu yang rapuh itu, suasana di depan gubuk mendadak berubah.
Rasa ngeri yang sempat muncul sesaat tadi kini kalah oleh satu hal yang jauh lebih kuat di kepala mereka: keserakahan.
Rekan-rekan kerja Colette yang tadinya hanya ingin mengolok-olok, kini mulai berbisik-bisik dengan mata yang berbinar penuh nafsu. Bau busuk dan kotornya tempat itu tidak lagi mereka pedulikan, karena di benak mereka, dukun yang "susah didatangi" dan "tersembunyi" biasanya adalah dukun yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi untuk mendatangkan kekayaan.
"Eh, kalau benar dia sakti, aku mau tanya nomor togel atau saham apa yang bakal naik tahun depan," bisik Bram dengan nada rakus, tangannya gemetar bukan karena dingin, tapi karena membayangkan tumpukan uang.
"Aku juga!" timpal Linda, ia merapikan rambutnya seolah sedang bersiap bertemu pejabat. "Aku mau tanya, kapan si manajer pusat itu pensiun supaya aku bisa ambil posisinya. Dan... siapa tahu dukun ini punya penglaris supaya aku makin kaya tanpa perlu kerja keras."
Mereka mulai saling sikut, merencanakan pertanyaan-pertanyaan egois. Pikiran mereka dipenuhi bayangan tentang mobil mewah, emas, dan kekuasaan.
Bagi mereka, Colette hanyalah "tiket masuk" atau sekadar tumbal candaan untuk membuka suasana agar sang dukun mau bicara.
"Sudah, sudah! Yang penting kita masukkan dulu si hantu ini," kata Riko sambil menyeringai. "Biasanya kalau bawa orang yang 'bermasalah' seperti dia, dukunnya jadi lebih cepat bereaksi."
Di tengah kerumunan manusia yang buta karena harta itu, Colette berdiri mematung. Ia merasa mual. Ia bisa merasakan energi di tempat itu sangat berat, seolah-olah tanah di bawah kakinya sedang berusaha menariknya masuk ke dalam liang lahat.
Jude menatap rekan-rekannya dengan pandangan jijik. "Kalian benar-benar menjijikkan," gumamnya pelan, namun suaranya tenggelam oleh sorak-sorai mereka yang mulai merangsek masuk ke dalam pintu gelap itu.
Mereka menyeret Colette masuk, memaksa gadis itu berjalan paling depan sebagai "perisai" atau sekadar bahan olok-olok awal. Mereka masuk ke dalam ruangan sempit yang penuh dengan botol-botol berisi cairan keruh, tulang belulang binatang yang digantung, dan debu yang sangat tebal.
Di tengah kepulan asap kemenyan yang menyesakkan, sang dukun yang sedari tadi diam tiba-tiba menggerakkan jarinya yang kurus dan hitam.
"Banyak sekali yang datang..." suara sang dukun terdengar parau, membuat bulu kuduk berdiri. "Membawa perut yang lapar akan dunia... tapi membawa satu jiwa yang sudah habis."