NovelToon NovelToon
Setelah Janda Menjadi Ibu Si Kembar

Setelah Janda Menjadi Ibu Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Janda / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Niskala NU Jiwa

Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Baru di Rumah Lama

Fajar mulai menyingsing di Desa Kenanga. Cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah-celah papan dinding gubuk yang lapuk, membawa kehangatan yang asing namun menenangkan.

Azura terbangun lebih dulu. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba. Tidak ada pendingin ruangan yang mendesis, tidak ada sprei sutra yang dingin. Hanya aroma tanah basah dan suara ayam jantan yang saling bersahutan.

Azura tersenyum kecil. "Ini rumahku yang sesungguhnya," bisiknya.

Ia bangkit perlahan, meski tubuhnya masih terasa nyeri akibat siksaan Dimas. Di sudut ruangan, Rafa masih tertidur pulas memeluk bantal kusam. Di sampingnya, Farhan tertidur dalam posisi duduk bersandar dinding, seolah terbiasa berjaga meski dalam mimpi. Azura menyelimuti mereka dengan kain jarik, lalu melangkah ke luar.

Di teras kecil belakang rumah, Bu Sulastri sudah duduk menatap kosong ke hutan yang berkabut. "Ibu… tidak istirahat?" tanya Azura pelan.

Ibu Sulastri tersenyum tipis, guratan lelah di wajahnya terlihat jelas. "Sudah, Nak. Ibu cuma… sedang mensyukuri kamu sudah di sini. Rasanya seperti mimpi."

Kehadiran Azura melengkapi keluarga ini kembali. Tapi saat menuju dapur, realitas pahit kembali menyapa. Azura melihat ibunya membuka wadah beras. Kosong. Rak kayu yang rapuh itu pun hanya menyisakan satu butir telur.

"Ibu..." Azura mendekat, menggenggam tangan ibunya yang kasar. Ia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan. "Ini, Bu. Tolong belanja kebutuhan kita. Beli beras yang bagus, telur, dan susu untuk Rafa."

Mata Ibu Sulastri membulat. "Azura… ini banyak sekali. Simpan saja untukmu."

"Belilah, Bu. Kita butuh tenaga untuk mulai bekerja lagi," ucap Azura tegas.

Kabar kepulangan Azura ternyata menyebar lebih cepat dari aroma kopi pagi. Subuh tadi, beberapa ibu-ibu yang hendak ke pasar melihat Azura turun dari travel dengan wajah tertutup kain.

Di warung sembako milik Bu Ratmi sepupu jauh yang terkenal kikir dan bermulut tajam—suasana sudah panas oleh gosip.

"Eh, dengar-dengar si Azura pulang semalam jam tiga pagi," bisik Bu Tejo sambil memilih sayuran.

"Iya, kelihatannya habis digebuki. Wajahnya biru-biru gitu," timpal Ibu-ibu lain. "Pasti didepak suaminya karena mandul. Lima tahun nggak punya anak, ya jelas keluarga kaya di kota mana mau nampung janda tak berguna."

"Kasihan Pak Hadi, sudah jatuh tertimpa tangga. Farhan cacat, sekarang Azura pulang jadi beban," sahut Bu Ratmi sinis.

Tepat saat itu, Bu Sulastri tiba di depan warung. Suasana mendadak hening, berganti dengan tatapan meremehkan.

"Mau apa, Las? Kalau mau ngutang beras lagi, maaf ya, catatanku sudah penuh. Warung ini bukan yayasan amal!" cetus Bu Ratmi dengan dagu terangkat, memancing tawa kecil dari para tetangga.

Ibu Sulastri tidak terpancing. Ia menarik napas panjang, lalu dengan tenang menunjuk barang-barang.

"Beras karung kecil yang paling bagus satu, telur satu kilo, minyak dua liter, susu kotak untuk Rafa, dan sayuran ini."

Ibu-ibu di sana saling lirik, mengira Bu Sulastri sudah gila karena memesan barang "mewah". Bu Ratmi mencibir sambil menimbang telur.

"Totalnya seratus enam puluh ribu. Mau bayar pakai apa? Daun jati?"

Tanpa sepatah kata, Bu Sulastri meletakkan selembar uang seratus ribuan dan satu lembar lagi di atas meja kayu. Semua orang terdiam. Bu Ratmi melongo, matanya hampir keluar menatap uang merah yang masih licin itu.

"Ini uangnya. Kembaliannya ambil saja untuk bayar hutang sayur saya yang kemarin-kemarin," ucap Bu Sulastri bermartabat. Ia mengangkat belanjaannya dan pergi meninggalkan kebungkaman yang memekakkan telinga di warung itu.

Malam harinya, di bawah temaram lampu minyak, Azura akhirnya menceritakan semuanya. Tentang pernikahan yang ternyata tidak pernah didaftarkan ke negara, tentang pengkhianatan Dimas, hingga penyiksaan yang ia alami.

"Bajingan!" Pak Hadi mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. "Bapak akan ke kota besok! Bapak tidak terima kamu diperlakukan seperti binatang!"

Azura memeluk lengan ayahnya. "Tidak perlu, Pak. Membalas mereka dengan kemarahan hanya akan membuang energi. Karena pernikahan Azura tidak memiliki hukum negara. Jadi lebih baik ...Sekarang, giliran kita bangkit."

Suasana yang sempat tegang mencair saat Alya, si bungsu yang lincah, tiba-tiba menyahut, "Berarti secara hukum, Kak Azura ini masih lajang, dong? Wah, kalau di internet, istilahnya itu... Janda rasa Gadis!"

Gubuk itu meledak dalam tawa. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kegelapan di rumah itu terusir oleh keceriaan yang tulus.

Setelah adik-adiknya tidur, Azura menunjukkan buku tabungan rahasia miliknya kepada Ayah dan Farhan. Mata mereka terbelalak melihat saldo 750 juta rupiah.

"Ini hasil keringatku selama ini, Pak, Bu , Mas. Sekarang, kita perbaiki rumah, pasang listrik, dan yang terpenting... kita cari pengobatan terbaik untuk kaki Mas Farhan."

Farhan menggeleng tegas. "Jangan, Ra. Gunakan saja untuk sekolah Alya dan Fikri."

"Tidak, Mas. Keluarga kita harus kuat dulu. Kalau Mas Farhan sehat, Mas bisa bantu aku mengelola tanah warisan kakek. Kita akan buat produk dari desa ini yang membuat orang-orang kota itu mengantre memohon kerja sama dengan kita."

Rafa, si kecil yang terbangun, memeluk leher Farhan. "Papa mau sembuh? Nanti kita main bola?"

Farhan tak mampu lagi menahan air matanya. Di dalam gubuk tanpa listrik itu, sebuah cahaya harapan menyala lebih terang dari lampu minyak mana pun. Azura tahu, lebam di wajahnya mungkin belum hilang, tapi ia sudah siap untuk "perang" yang sesungguhnya.

1
Roos Penerut's
cerita bagia
Evi Lusiana
terharu thor,walopun slm 5 thn azzura bgi burung d dlm sangkar bgtu kluar dia ttp bs jd penerang bgi kluargany yg sdg kesusahan
Evi Lusiana
ayo zura bangkit dn lawan musuh²mu dg elegan,kau org cerdas
bilik166
💪💪💪💪💪💪
Niskala NU Jiwa: terimakasih
total 1 replies
Elia Rossa
aku suka cerita kalo wanitanya tangguh gini...👍
Niskala NU Jiwa: terimakasih kak. 😍
total 1 replies
naya siswanto
keren
Darlysese
di tunggu lanjutannya
Darlysese
semangat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!