Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad yang kuat
Tepat pukul sembilan malam Pranyoto memilih beristirahat di sebuah penginapan. Ia tahu berbahaya jika melanjutkan perjalanan di malam hari. Bukan ia takut dengan lelembut atau sejenisnya, namun ia tahu Alas Roban juga merupakan tempat yang rawan kejahatan dan pembegalan.
Pranyoto langsung membaringkan tubuhnya di atas dipan. Tubuhnya begitu kaku setelah hampir berkendara selama 4 jam. Suara dengkurannya mulai terdengar membuat Joko memilih keluar dari kamar.
Ia memilih duduk di beranda sambil menikmati cahaya rembulan.
Tiba-tiba lampu berkedip-kedip, kadang mati kadang hidup. Joko terhenyak dan segera berlari masuk ke kamar. Joko yang ketakutan segera berbaring di samping sang Ayah dan berusaha memejamkan matanya.
Namun lampu kamar juga berkedip-kedip.
Tiba-tiba sebuah bayangan siluet tinggi. Joko membenamkan wajahnya di punggung sang ayah. Tiba-tiba ia melihat bayangan tinggi kurus muncul di dinding.
Joko mencoba membangunkan sang ayah. Namun Pranyoto tak bergeming. Rasa takutnya semakin memuncak, saat ia merasakan seseorang menyentuh pundaknya.
Joko segera menoleh ke belakang. Sebuah bayangan tinggi kurus berdiri di depannya, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap nanar bayangan itu.
Di antara keheningan terdengar bisikan lirih.
"Iki wis wayahe le!"
Pranyoto seketika membuka matanya.
Seketika melompat dari tempat tidur, membuat Joko semakin kaget.
Lelaki itu segera duduk bersila, dan menelungkupkan tangannya di depan dada. Joko reflek mengikutinya.
Joko hanya diam, ia memandangi sang ayah tanpa berkedip. Setidaknya rasa takutnya berkurang berganti dengan rasa penasaran.
"Apakah ini ritualnya??" gumamnya dalam hati
"Ini sudah saatnya, sebentar lagi kamu juga akan pulang?" ucap bayangan itu
"Kamu akan melanjutkan kepada siapa, anak lelakimu yang sudah baligh ada dua, kepada siapa kamu akan menurunkan keilmuan mu??" jawab Pranyoto
Lalu bayangan itu meminta Pranyoto dan Joko untuk menengadahkan tangannya.
Tidak lama bayangan itu menjelma menjadi seorang kakek tua. Ia kemudian menggerakkan tangannya dan sebuah benda di bungkus kain kafan muncul dari tangannya. Kemudian ia meletakkan benda itu di atas tangan Pranyoto.
Wajah Pranyoto langsung berubah merah dan urat-urat nadinya seperti hendak keluar seperti menahan sebuah beban yang begitu berat.
Tak lama ia melemparkan kain itu, dan dari tangannya keluar asap.
Seketika Joko menjadi panik melihat sang ayah. Ia berusaha menghampirinya namun Pranyoto menepisnya.
"Jangan hiraukan aku, tetaplah konsentrasi dan siapkan dirimu," jawab Pranyoto
Joko mengangguk. Ia kembali duduk bersila dan menengadahkan tangannya.
Kakek tua itu segera mengambil kain kafan itu kemudian meletakkannya di atas tangan Joko. Jika Pranyoto merasakan panas yang luar biasa, Joko tidak merasakan apapun. Benda itu terasa ringan baginya. Kakek tua itu tersenyum.
"Sepertinya anak kamu lebih siap darimu," ucap sang kakek
Pranyoto mengangguk.
"Ya sudah, Siap tidak siap, ikhlas tidak ikhlas dialah yang terpilih untuk mewarisi ilmu keluarga kita,"
Pranyoto tersenyum lega. Setidaknya masih ada penerus yang akan meneruskan ilmu keluarga mereka.
"Le, mulai sesuk, gelem ra gelem kowe melu ya, kowe kudu tirakat," begitulah wejangan sang kakek kepada Joko.
Pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan menuju Alas Roban. Kali ini perjalanan di mulai dari selatan. Joko duduk diapit oleh ayah dan kakeknya. Bagi orang awam mereka hanyalah berdua, tapi bagi orang yang memiliki indra keenam mereka akan melihat Joko pergi bertiga.
Dua jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat yang sudah di tunjukan oleh sang kakek.
Ini adalah ujian pertama bagi Joko dimana ia akan memulai ritualnya selama 90 hari di alas Roban.
"Le coba kowe sila?" ucap sang kakek memberikan perintah.
Joko segera duduk bersila mengikuti arahan sang kakek. Ia kemudian memejamkan matanya. Kakek itu kembali memerintahkan Joko untuk mencari sebuah pohon berwarna putih yang akan di jadikan sebagai tempat Joko untuk melakukan tirakat.
"Gunakan mata batin kamu le,"
Joko menarik nafas dalam-dalam dan mulai berkonsentrasi. Saat itu juga ia merasakan tubuhnya seperti di tarik ke dimensi lain. Dalam pandangannya kini alas roban bukan sebuah hutan yang berisikan pepohonan besar yang menakutkan, namun ia melihat alas roban sebagai tempat kehidupan bagi para makhluk lain, alas roban seperti sebuah perkampungan bagi makhluk tak kasat mata.
Entah dari mana kekuatan itu, tiba-tiba saja Joko berdiri dan mulai berjalan mencari pohon berwarna putih seperti yang diperintahkan oleh sang kakek.
Ia berjalan tenang tanpa rasa takut, hingga tak butuh waktu lama ia sudah menemukan pohon yang dimaksud.
Di depannya sebuah pohon besar berdiri kokoh. Pohon itu bersinar terang hingga orang yang melihatnya mengira pohon itu berwarna putih.
Tepat dihadapan pohon bercahaya itu terletak sebuah batu besar berbentuk datar permukaannya halus seolah telah lama disentuh dan diduduki. Batu itu kokoh dan sedikit cekung di bagian tengah seperti sengaja diciptakan untuk menjadi tempat duduk seorang pertapa. Lumut hijau tipis menyelimuti tepinya namun bagian atasnya bersih seakan selalu terjaga dari kotoran dan dedaunan yang jatuh.
Tak jauh dari sisi kanan batu tersebut mengalir sebuah pancuran kecil. Airnya jernih seperti kaca, keluar dari celah batu yang retak alami mengalir tanpa henti dengan suara gemericik lembut. Pantulan cahaya putih dari pohon membuat aliran air itu tampak berbeda seperti untaian kristal cair yang hidup.
Tiba-tiba seseorang membisikkan sesuatu di telinga Joko.
"Wit kuwi jenenge Weringin Petak ( pohon itu namanya Weringin putih) , tidak semua orang diberi anugerah bisa melihat pohon itu, hanya orang yang terpilih yang bisa melihatnya,"
"Kamu adalah orang yang terpilih, dan kamu kami kasih lihat!"
*Deg
Joko terhenyak, langkahnya terhenti. Ia merasakan sesuatu menggerakkan kakinya hingga ia duduk bersila di batu depan pohon Weringin Petak.
Kakek tua itu tersenyum simpul melihatnya.
"Pancen kowe bener, titis tetes totos ku," ucapnya lirih
Ia kemudian menghampiri Joko yang sudah duduk bersila diatas batu besar.
"Le, mulai saiki kowe duduk neng kene, ( nak, mulai hari ini kamu tirakat di sini)!"
Entah kenapa setelah itu Joko tidak bisa bergerak lagi, ia merasa seperti patung yang diikat di sebuah batu. Ia tak bisa bergerak.
Sang ayah kemudian menyusul dan menghampirinya.
"Jangan takut le, apapun yang terjadi kamu harus tetap di tempat ini, jangan pergi apalagi lari, ingat le, eyang kakung mu akan selalu bersama mu dan menjagamu," ucap sang ayah menguatkan
Tak lama setelah itu ia pergi meninggalkan Joko sendirian di tengah hutan.
Siang hari Joko tidak menemukan godaan apapun yang mengganggu tirakatnya. Semuanya masih berjalan mulus membuatnya lega
Namun saat malam tiba, ketika nafasnya telah teratur dalam semedi, godaan itu mulai merayap perlahan.
Angin yang semula dingin berubah hangat membawa aroma bunga yang tak pernah tumbuh di rimba manapun.
Wangi itu begitu lembut dan memabukkan, menyusup ke kesadaran yang paling dalam.
Dari balik pepohonan terdengar alunan gamelan samar, pelan, merdu seperti datang dari Dunia lain. Cahaya temaram muncul di antara batang-batang kayu membentuk siluet Anggun berbentuk kabut. Lelembut itu tidak selalu menampakan rupa mengerikan, kadang mereka hadir sebagai perempuan perempuan berwajah rupawan dengan mata sendu dan senyum menenangkan. Kadang ia menjelma sebagai sosok yang kita sayang dan sangat dirindukan.
Terdengar langkah wanita bergerak mendekat kearahnya. Wajah itu begitu familiar.
"Ibu??"
Joko melihat sosok ibunya berdiri tepat di depannya .
"Ngapain kamu di sini le, kamu mau mengikuti bapakmu menjadi seorang dukun kejawen??"
"Kamu lupa sama ibu??"
Joko menggeleng.
"Kalau kamu sayang sama Ibu, ayo ikut ibu, tinggalah bersama ibu, aku akan menyayangi mu dab menjagamu dari para perundung itu?"
Joko membuka matanya, tatapannya sendu menatap wajah wanita yang begitu ia rindukan. Rasanya ia ingin memeluknya sekali saja.
Wanita itu tersenyum lebar dan membuka tangannya.
"Kemari lah nak, peluk ibu??"
Joko tersenyum menatapnya.
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃
lalu kamu mau apalagi lhooo Joko ???
kenapa kamu masih aja belum merasa puas👉👈
jaadiiii.... secara tak langsung Maryati juga ikutan menelan darah itu donk😱😱😱
selama 2 bulan, mata kanan Joko mengeluarkan darah lalu dokter juga udah memvonis jika matanya Joko membusuk😭😭😭
tentu aja hal ini yang membuat Maryati semakin sedih
kenapa mata kanan Joko terus-menerus mengeluarkan darah saat barusan dilahirkan 👉👈