NovelToon NovelToon
Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”

Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.

Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.

Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.

Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Shang Lun (4)

“Pak tua, kau tega membawa anak-anak itu hanya untuk membunuh mereka?” ucap Shang Lun dengan nada dingin.

“Amitabha… engkaulah yang membunuh mereka, dasar iblis demon. Semoga Buddha masih berkenan mengampunimu,” balas pertapa itu dengan sorot mata tegas.

“Hiyyah!”

Tanpa ragu, pertapa itu melesat cepat. Ia meraih tongkatnya yang terjatuh di tanah, lalu dalam satu gerakan langsung menyerang Shang Lun.

Dahulu kala, ada seorang pertapa pengembara yang mengelilingi berbagai daerah.

Ia berjalan dari wilayah selatan yang jauh menuju daerah-daerah yang belum pernah ia jelajahi. Di sepanjang perjalanan, ajarannya tentang ketenangan dan kebijaksanaan menarik banyak orang dari tempat yang telah ia datangi. Satu per satu menjadi muridnya dan mengikuti langkahnya, meski perjalanan itu sendiri belum pernah benar-benar selesai.

Dalam pengembaraannya, ia bertemu dengan Ming—Pemimpin Aliansi Murim.

Sifatnya yang ramah membuatnya cepat akrab dengan Ming. Dari sanalah ia diperkenalkan kepada Fang Jin, seorang tokoh berpengaruh di wilayah tersebut. Setelah melalui banyak pertimbangan, ia akhirnya memutuskan untuk menetap di Desa Puncak Teratai.

Nama pertapa itu adalah Yun Cang.

“Pertapa Yun, mengapa dirimu menghentikan perjalananmu di desa kecil ini?” tanya Ming suatu hari.

“Benar, Pertapa Yun,” sahut Fang Jin. “Dirimu yang bijak tak seharusnya membusuk di desa kecil ini. Ikutlah ke wilayahku, jadilah wakilku di sana.”

Yun Cang menyatukan kedua telapak tangannya.

“Amitabha… diriku yang masih kurang mumpuni ini tak bisa membebanimu, Tuan Fang. Sedangkan untuk pertanyaan Tuan Ming, aku merasa telah mendapatkan banyak pelajaran hidup. Itu sudah cukup untuk perjalanan pengembaraanku,” ujar Yun Cang dengan tenang.

Seiring berjalannya waktu, Pertapa Yun Cang berhasil mengevolusikan teknik andalannya. Awalnya, ia hanya menguasai Teknik Avatar Buddha kelas pertama. Namun melalui meditasi panjang dan pemahaman yang semakin dalam terhadap ajaran yang ia yakini, teknik itu berkembang hingga mencapai kelas ketujuh.

Perkembangan tersebut membuat namanya diperhitungkan di dunia murim. Kekuatannya hampir dapat disandingkan dengan seorang Martial Sovereign seperti Fang Jin dan Ming. Meski demikian, di dalam hatinya tak pernah tumbuh ambisi untuk menjadi yang terkuat. Baginya, kekuatan yang diberikan hanyalah sarana untuk menjaga dan melindungi, bukan untuk menguasai.

Seiring meningkatnya reputasi Yun Cang, banyak murid dan kenalannya menyarankan agar ia mendirikan sekte bela diri sendiri di bawah naungan Aliansi Murim serta dukungan Keluarga Fang. Mereka menilai ajarannya layak diwariskan secara lebih luas dan terstruktur.

Pada akhirnya, Yun Cang menerima usulan tersebut.

Dengan bantuan Keluarga Fang dan Aliansi Murim, ia mendirikan aliran pertapanya sendiri. Aliran itu perlahan menjadi terkenal. Banyak murid berbakat datang untuk berguru, tertarik oleh reputasi kebijaksanaan dan kekuatan sang pertapa.

Dan orang yang kini berdiri menghadapi Shang Lun di tengah kobaran api itu—adalah salah satu penerus Yun Cang.

“Iblis demon, pergilah dari sini dan aku akan berdoa agar kau masuk surga,” ucap pertapa yang merupakan penerus Yun Cang—Yun Shin.

Ia menggenggam tongkatnya erat-erat dan terus melancarkan pukulan demi pukulan ke arah Shang Lun tanpa memberi celah.

“Pak tua, kau sangat kuat… layak sekali mati di tanganku,” balas Shang Lun dengan senyum tipis.

Cling.

Dalam satu gerakan cepat, Shang Lun menepis tongkat Yun Shin. Percikan api muncul saat logam pedang dan kayu bertemu. Tanpa jeda, ia langsung menebaskan pedangnya secara beruntun dan teratur, setiap ayunan penuh tekanan.

“HAHAHA! Lihat dirimu, pak tua!” serunya.

Keadaan berbalik dalam sekejap. Yun Shin terpukul mundur beberapa langkah, kakinya menyeret tanah yang hangus terbakar. Tekanan dari setiap tebasan membuat napasnya menjadi berat.

Ia menancapkan tongkatnya ke tanah dan menutup mata sejenak.

“Avatar Buddha itu milik Sang Vajra… menyatulah denganku, wahai keturunan Vajra!”

Whusss—

Angin berputar di sekelilingnya. Cahaya keemasan perlahan memancar dari tubuh Yun Shin. Di belakangnya, sosok besar Buddha berwujud banyak tangan mulai terbentuk. Setiap tangan memegang senjata berbeda—vajra, pedang, tombak, dan roda dharma.

Aura kuat memancar ke segala arah, menekan kobaran api di sekitarnya hingga meredup.

Shang Lun menghentikan langkahnya sejenak, menatap manifestasi itu dengan satu mata yang menyipit.

Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

"Iblis, kau akan mati sekarang"

maafkan diriku ini yang akan membimbingmu ke neraka.

“Hm, avatar kecil seperti itu tak akan cukup untuk menghentikanku,” ucap Shang Lun dengan nada meremehkan.

“Jika ini tak cukup, aku tinggal membuatnya lagi,” balas Yun Shin tanpa ragu.

Set.

Dalam sekejap, keduanya melesat maju dengan cepat dan saling mengadu pedang serta tongkat.

Buag! Cling! Cling!

Suara benturan logam dan kayu bergema keras di antara kobaran api yang sangat besar. Percikan cahaya beterbangan setiap kali pedang besar Shang Lun beradu dengan tongkat Yun Shin. Tekanan qi dari keduanya membuat tanah retak dan bara api tersibak menjauh dari tempat mereka berdua.

Pertarungan itu berlangsung sedikit lama—hampir tiga puluh menit tanpa jeda sekalipun. Serangan demi serangan dilancarkan, saling menekan tanpa memberi ruang untuk bernapas.

Hingga tiba pada saat Shang Lun tiba-tiba menunjukkan celah diantara serangannya yang begitu rapi.

Buag!

Tongkat Yun Shin menghantam kepala Shang Lun dengan keras, lalu tubuh Shang Lun sang Badai Iblis langsung tersungkur ke tanah.

“Arghh… ingatan sialan ini! PERGILAH DARI PIKIRANKU!” teriak Shang Lun dengan suara menggema.

Dalam amarahnya, ia menebaskan pedangnya secara horizontal—tebasan lebar yang mengarah lurus ke dua murid yang tersisa. Kenangan masa kecilnya yang muncul secara tiba-tiba, mengacaukan pikirannya dan membuat serangannya kehilangan arah.

Yun Shin yang berada tak jauh dari kedua murid itu langsung berlari menghadang.

Sling!

“Ahhh!”

Tubuhnya menerima tebasan tersebut secara langsung dengan penghalang tongkat saja. Luka parah terbuka di tubuhnya. Ia sebenarnya bisa saja menghindar, namun dua murid tak bersalah itu pasti akan tewas seketika.

“Pergi… panggil… pemimpin aliansi sekarang…” ucapnya dengan napas tersengal.

Dua murid itu menahan air mata, lalu berbalik dan berlari meninggalkannya.

Tubuh Yun Shin yang telah renta kini sekarat hanya karena satu tebasan penuh dari Shang Lun.

Kragk.

Tongkat warisan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi—tongkat yang dipercayakan para seniornya—patah menjadi dua.

“Ah… aku jadi teringat kata seniorku dulu yang menerima tongkat ini,” gumamnya lirih. “Tongkat ini tak akan patah jika semangatku tidak pernah padam. Tapi sekarang patah… mungkin karena aku memang akan mati.”

Meski demikian, ia tetap berusaha untuk berdiri.

Shang Lun perlahan bangkit sambil memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.

“Argh… menyerahlah, dasar bajingan tua. Akan kubantu kau untuk naik ke puncak surga sekarang,” ucapnya dingin sambil menyeret pedang besarnya.

Tiba-tiba, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Yun Shin menghilang dalam sekejap—menggunakan sisa tenaga terakhirnya. Ia muncul tepat di belakang Shang Lun dan memeluknya erat.

“Setidaknya… hanya ini yang bisa kulakukan.”

BOOM!

Tubuhnya meledak bersama qi yang ia paksa berputar terbalik dari jalur yang seharusnya. Ledakan dahsyat membentuk lingkaran luas sebesar ladang, menghancurkan tanah di sekitarnya hanya menyisakan debu.

Shang Lun berhasil melepaskan diri di detik-detik terakhir, namun Shang Lun tetap menerima luka dalam yang berat. Tubuhnya terpental jauh, napasnya kacau.

Angin badai dan api yang sebelumnya mengamuk mulai mereda perlahan. Kobaran api mulai menyusut, asap asap yang tadinya begitu tebal mulai menipis.

Burung-burung yang menghilang kini kembali tampak di langit. Daun-daun pohon disana gugur perlahan, berjatuhan di atas tanah yang retak.

Badai Shang Lun telah berlalu—meski dengan harga yang tak sedikit.

1
sutrisno akbar
lanjut thor lg seru
Hasan Basri
ceritanya semakin menarik👍
Rania: Terima kasih, semoga betah😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!