Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Valerie menggigit bibirnya dengan kuat, sebuah kebiasaan yang tak bisa ia bendung setiap kali rasa cemas menghimpit dadanya. Namun, kebiasaan itu tak banyak menolong saat ia melihat Damian mulai menurunkan wajahnya.
Tanpa memberikan ruang untuk memprotes, Damian kembali melumat bibir Valerie untuk yang kesekian kalinya malam ini.
Kali ini, ciuman Damian terasa jauh lebih bergairah dan menuntut. Ada kilat hasrat yang tertahan, seolah-olah pria itu sedang melampiaskan rasa penasarannya yang sempat terhenti secara paksa di hotel kemarin.
"Buka mulutmu, Valerie..." bisik Damian dengan suara serak yang berat, tepat di depan bibir gadis itu.
Valerie menggeleng dengan sisa kekuatannya, tetap mengatupkan bibirnya rapat-rapat sebagai bentuk pertahanan terakhir.
Ia tidak ingin menyerah begitu saja pada pesona pria berbahaya ini.
Melihat penolakan itu, Damian tidak berhenti. Seringainya kembali muncul, kali ini terlihat jauh lebih mengerikan dan penuh rencana.
Ia kembali mencium Valerie, namun kali ini ia memberikan gigitan kecil pada bibir bawah gadis itu—sebuah balasan yang setimpal atas luka yang diberikan Valerie padanya tempo hari.
"Aww!" Valerie meringis pelan karena rasa perih yang tiba-tiba.
Refleks karena rasa sakit itu, Valerie otomatis sedikit membuka mulutnya. Damian yang sudah menunggu momen tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung menyapu kembali bibir Valerie, kali ini jauh lebih dalam.
Lidahnya menjelajah dengan dominan, menyentuh langit-langit mulut Valerie dan mengklaim setiap sudut privasi gadis itu.
Valerie terkesiap, tubuhnya mendadak kaku. Sebuah sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai berdesir hebat di seluruh pembuluh darahnya.
Ia teringat Aiden; ia memang pernah berciuman dengan kekasihnya itu, namun tidak pernah ada ciuman yang sedalam, seintimidasi, dan seprovokatif ini.
Genggaman Damian pada tangannya yang terkunci di atas kepala terasa semakin erat, seolah-olah pria itu ingin memastikan bahwa Valerie menyadari sepenuhnya siapa yang memegang kendali atas tubuh dan napasnya saat ini.
Damian tidak berhenti. Ia terus memainkan lidahnya di dalam mulut Valerie dengan ritme yang menuntut, membuat gadis itu mulai tersengal kehabisan napas.
Valerie bisa merasakan bahwa pria ini sudah sangat berpengalaman; teknik dan permainan lidahnya benar-benar menggoyahkan pertahanan Valerie yang selama ini ia anggap kokoh.
Dengan sisa tenaga, Valerie memalingkan wajahnya ke samping untuk menghirup udara.
Paru-parunya terasa sesak, sementara suhu tubuhnya meningkat drastis. Ciuman tadi terasa begitu panas sekaligus mencekik di saat yang bersamaan.
Damian tersenyum misterius melihat wajah Valerie yang sudah merah padam dengan napas yang memburu tidak teratur. Bukannya menjauh, Damian justru menurunkan wajahnya, menyapu leher jenjang Valerie dengan napasnya yang hangat.
Ia mulai mencium dan menjilati kulit leher itu dengan perlahan, menciptakan sensasi geli yang mengerikan.
Saat Valerie merasakan bibir Damian mulai menekan lebih dalam untuk meninggalkan jejak, ia segera menahan bahu pria itu. "Jangan... jangan di situ," bisik Valerie lirih.
Ia sangat khawatir jika Damian meninggalkan kissmark di lehernya, karena itu akan sangat sulit disembunyikan jika ia pergi ke kampus besok.
Damian mendongak sedikit, menyeringai lagi melihat ketakutan di mata Valerie. "Baiklah..." gumamnya rendah.
Namun, tanpa Valerie sadari, tangan Damian yang lihai telah berhasil membuka beberapa kancing atas dress santai yang dipakainya. Kini, bagian atas dadanya yang indah sudah terekspos, hanya terbungkus oleh bra renda hitam yang kontras dengan kulit putihnya.
"Kalau begitu, di sini boleh, kan?" tanya Damian dengan suara serak yang penuh godaan.
Valerie terkejut, matanya membelalak. "Apa maksud—"
Belum sempat Valerie mencerna atau menolak maksud Damian, pria itu sudah bergerak lebih cepat. Ia menurunkan sedikit cup bra hitam itu, lalu menyesap kulit sensitif di atas dada Valerie dengan kuat, meninggalkan sebuah kissmark merah keunguan di sana sebagai tanda kepemilikannya yang absolut.
Valerie menegang. Refleks tubuhnya membusung, seolah-olah menyambut serangan intim yang tiba-tiba dari Damian di dadanya.
Pikirannya berteriak histeris, menolak keras penghinaan ini, namun tubuhnya—pengkhianat yang malang—malah memberikan respon yang kontradiktif pada setiap sentuhan ahli Damian.
Dengan gerakan yang sangat lihai dan terukur, Damian berhasil melepas pengait bra renda hitam Valerie tanpa kesulitan berarti. Pria itu terpaku sejenak. Tatapannya menjadi sangat intens, seolah terhipnotis menatap dua bukit indah yang kini membusung bebas di hadapannya, menantang egonya.
Sadar pertahanan terakhirnya sudah runtuh, Valerie tersentak bangun dari keterpakuannya. Ia langsung menyilangkan tangan di depan dada, mencoba menyembunyikan dirinya dari pandangan lapar Damian.
Manik matanya bergetar hebat, ketakutan mulai mengubur rasa nikmat yang sempat menyelinap tadi.
"Jangan... hentikan, Damian! Kumohon," lirih Valerie, suaranya terdengar pecah dan putus asa.
Damian sama sekali tidak mempedulikan protes atau permohonan Valerie. Kewarasannya sudah berada di ujung tanduk, terbakar oleh hasrat dan aroma tubuh gadis itu yang memabukkan.
Dengan satu gerakan kasar namun terukur, ia merenggut pergelangan tangan Valerie, mengangkatnya ke atas kepala, dan menahannya kuat-kuat di atas bantal agar ia bisa puas memandangi pemandangan indah yang kini sepenuhnya terekspos di bawah kungkungannya.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Damian menundukkan wajahnya. Ia menyesap puncak dada Valerie dengan liar dan menuntut, seolah ingin menyesap setiap inci kehidupan dari gadis itu.
Sentuhan bibir dan lidah Damian terasa seperti sengatan aliran listrik ribuan volt yang menjalar cepat ke seluruh saraf tubuh Valerie.
Sensasi itu begitu kuat, begitu mengejutkan, hingga tanpa disadari oleh Valerie sendiri, sebuah desahan tertahan lolos dari bibirnya yang sedikit terbuka.
"Ahhh..."