Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 1
Di sebuah kamar rawat inap VVIP rumah sakit, seorang wanita paruh baya dan kurus terbaring dengan wajah pucat. Matanya yang cekung memandang seorang perempuan muda sangat cantik yang tengah mengupas apel di sisi ranjangnya dengan penuh kesedihan.
"Zenna, Sayang...," wanita itu mencoba bicara, meski lemah dan parau. "Kali ini, maukah kamu mendengarkan Mama? Tolong... dengarkan permohonan terakhir Mama..."
Zenna mengangkat wajahnya, embun kembali melapisi netra hitamnya yang sepekat langit malam.
"Mama, tolong jangan bicara yang aneh-aneh," sergah Zenna lembut, meski hatinya bagai tertikam sembilu. "Mama akan tetap hidup--"
"Umur Mama tidak akan lama, Sayang... maafkan Mama, tapi itulah kenyataannya...," air mata mulai membasahi pipi ibunda Zenna. "Karena itulah... tolong dengarkan Mama... tolong kabulkan keinginan terakhir Mama..."
Zenna menggeleng. "Tidak, Ma..."
"Zenna..."
"Tidak, Ma. Mama akan tetap hidup. Dan aku tak akan mengakhiri hubunganku dengan Rendy. Sekalipun hubungan ini salah, tapi apa Mama tahu, cucu Mama sedang tumbuh dalam rahimku saat ini?"
Ibunda Zenna, Amalia, sesaat terpana.
"A-apa...?"
Zenna mengangguk, senyumnya mengembang di antara linangan air mata.
"Ya, Mama, aku hamil. Usia kandunganku sudah delapan minggu sekarang."
Amalia meletakkan jemarinya yang lentik dan tanpa warna ke bibirnya yang gemetar.
"N-Nak... sungguhan kamu hamil...? Cucu Mama...?"
Zenna melepas tawa kecil, rasa sedih dan bahagia berpusar kuat di rongga dadanya.
"Iya, Ma... karena itu, Mama harus tetap hidup... Mama harus melihat anak Zenna lahir ke dunia... tolong jangan menyerah, Ma... Zenna akan upayakan segalanya supaya pengobatan kanker Mama berhasil... kita berjuang sama-sama demi si kecil ini ya Ma..."
Zenna meraih tangan Amalia dan meletakkannya di perutnya yang kini berisi janin. Amalia memejamkan mata, batinnya juga riung antara pedih dan bahagia.
"Nak...," Amalia tak kuasa menahan isak. "Maafkan Mama..."
"Jangan minta maaf, Ma," pinta Zenna dengan nada mengiba. "Mama hanya perlu bertahan hidup. Mama jangan menyerah. Kali ini, tolong dengarkan dan kabulkan keinginan Zenna... ya?"
Amalia mengangguk, senyumnya terukir perlahan, meski sorot matanya tetap memancarkan getir.
"Ya, Sayang... Mama akan berjuang..."
Zenna mencium tangan ibunya, lama dan sepenuh hati. "Terima kasih, Ma..."
Ketika Amalia sudah memakan sedikit apel dan tertidur, Zenna bergegas ke kamar mandi dan merapikan diri. Setelah ini ia ada pertemuan penting. Ia tak boleh tampak sembab dan kuyu. Ditutupinya semua jejak kesedihan dengan cara membasuh wajah dan memoles ulang berbagai jenis krim dan riasan di parasnya yang bening dan jelita.
Usai memastikan bayangan dirinya di cermin terlihat tanpa cela, Zenna pun melangkah keluar dari kamar perawatan ibunya. Langkahnya agak tergesa, hingga tanpa sengaja ia bersenggolan dengan seorang lelaki jangkung dan tampan yang juga melangkah cepat dari arah berlawanan.
"Heh!" Lelaki itu menatapnya marah, alisnya yang tebal bertaut tak indah. "Kalau jalan lihat pakai mata!"
Zenna terdiam sejenak, keningnya yang mulus sampai mengerut ketika merasakan bahunya sakit akibat terbentur keras dengan dada lelaki itu. Jujur ia juga kaget mendengar bentakan lelaki itu.
"Maaf...," lirih Zenna, meski dalam hati ia merasa tak sepenuhnya salah--lelaki itu jelas-jelas tak memperhatikan langkahnya juga.
"Dasar tolol!" maki lelaki itu sebelum berbalik dan berlari meninggalkan lorong.
Zenna mengerjap, bahkan ternganga. Ia tak menyangka akan dikatai seseorang yang bahkan tak dikenalnya sama sekali.
Apa-apaan dia itu...?
Getaran ponsel dalam tasnya menyadarkan kebekuan Zenna, dan ia buru-buru mengangkat telepon dari orang yang sangat dikenalnya luar dalam.
"Cepat ke Golden Glam Hotel, sekarang. Aku tak mau menunggu lebih lama lagi."
Telepon terputus tanpa menunggu jawaban Zenna. Tetapi Zenna sudah sangat terbiasa.
Selama bertahun-tahun, dunia tak pernah menawarkan banyak keramahan dan kehangatan untuknya. Justru dialah yang lebih banyak memberikan itu semua--meski dengan cara yang menurut norma adalah hal hina.
Baginya, hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup, dan mampu memperpanjang usia ibunya hingga detik ini.
Tuhan, aku tahu aku pendosa... tapi masih layakkah aku mengajukan pinta...? Tolong jagalah ibuku saat aku tak di sisinya... tolong sehatkan ia, panjangkan umurnya...
Zenna menatap sendu langit malam tanpa bintang sebelum memasuki mobil mewah yang menjadi kendaraan pribadinya sejak menjalin hubungan terlarang dengan seorang pengusaha kaya bernama Rendy Wangsa. Dengan cepat ia mengemudikannya hingga tiba di hotel bintang lima yang merupakan properti milik kekasih gelapnya itu.
Rendy sudah menunggu di suite room yang biasa menjadi tempat mereka bercengkerama hingga bercinta. Lelaki itu tanpa basa-basi langsung mendekapnya dan membawanya ke tempat tidur.
"Ren...," Zenna mencoba bernapas dan berjarak, tetapi Rendy seperti tak mau mendengarkan apapun selain nafsunya. Ia seperti kuda liar tanpa kendali.
Dalam sekejap, Zenna tahu ia kalah, dan tak punya pilihan selain merelakan tubuhnya dilucuti dan menjadi pemuas birahi lelaki tampan berkulit sepucat rembulan itu.
Usai menuntaskan hasratnya, Rendy akhirnya melepaskan Zenna, yang nyaris menitikkan air mata karena percintaan kali itu terasa menyakitkan baginya yang tengah berbadan dua.
"Bisakah lain kali kamu lebih berhati-hati dan menahan diri, Ren...?" keluh Zenna. "Kamu tahu... aku sedang mengandung..."
Rendy menatap Zenna, tajam dan lama.
"Zenna... aku mau, kamu gugurkan kandungan itu. Sekarang."
***