Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Terburu Mengejar Peluang
"Ada yang bisa saya bantu, Dina?" Siman balik bertanya, suaranya tenang. Kini ada senyum puas yang Siman miliki. Ada senyum kemanangan dari matanya. Mata Siman hanya melihat akalnya. Bukan keajaiban akik.
Dina tersenyum sinis, ekspresi aslinya mulai kembali muncul, meski sedikit tertutup oleh topeng 'terkejutnya' yang tak tersembunyi. "Nggak usah repot-repot, Siman. Kayaknya aku nggak butuh bantuanmu, deh." Ia kemudian menoleh pada teman-temannya. "Cih, masa iya aku harus bekerja dengan anak kampungan seperti dia, kan?"
Dada Siman bergemuruh, namun akik di jarinya terasa dingin. Ini bukan amarah. Itu hanya semacam penunjuk, semacam tanda bahwa Siman sudah tidak terpancing dengan provokasi dari wanita angkuh seperti Dina. Ini bukan tentang pertarungan ego, melainkan tentang pembuktian nyata. Akalnya menuntun Siman.
Ia melangkah maju. Menarik tangan Murni. Dan dia berjalan pergi, tanpa berkata-kata, meninggalkan Dina yang terpaku di belakangnya, bersama teman-temannya yang masih berbisik.
"Dia itu... masih sama saja." Siman menekan, namun dalam tatapannya ia ingin sekali membuat Dina semakin kaget. Apalagi, Siman sudah mendengar semua hal dari Bapak Trisno. Ini bukanlah drama, namun dirinya ingin segera mewujudkannya.
"Ayo, Murni, kita harus ke tempat Pak Kusuma," Siman berkata, menarik Murni. Ada hal yang harus dia siapkan. Ini adalah misi untuk membuatnya terkejut. Bukan hanya Dina, tetapi Murni sendiri.
"Dina... baru saja datang. Kenapa Siman tiba-tiba terburu-buru begitu? Ada apa? Bapak Harsono akan mempercayakan dia dengan sesuatu hal itu juga?"
Murni melongo, berusaha menatap wajah Siman, ia tidak tahu apa yang membuat Siman sebegini marahnya, padahal dia sudah melepaskan hal itu. Apakah Siman ingin Dina semakin terkejut? Pertanyaan di hatinya yang berdebar itu kian membuatnya sangat penasaran. Ada kilatan aneh yang menyelimuti mata Siman, seperti cahaya biru dari akiknya yang belum sepenuhnya padam. Ia mengikuti Siman dengan rasa heran, dia mengamati cincin akiknya.
"Memang siapa Pak Kusuma, Man?"
"Mana ada, Mur! Sudah deh, jangan banyak tanya! Pak Kusuma itu salah satu pengusaha paling hebat, dan aku harus siap!" Siman berdecak, menarik lengan Murni dengan antusiasme yang membuncah. Langkahnya cepat, seolah ingin berlari dari lokasi mereka baru saja bertemu Dina.
Murni tertatih mengikutinya. Bakul sayur di tangannya berayun-ayun. "Iih! Pelan-pelan dong! Terus, kita mau ke mana ini? Kenapa Bapak terburu-buru begitu?" Napasnya tersengal. Dia masih tak habis pikir melihat Siman yang semarah itu, tapi kemudian menjadi begitu bersemangat. Seperti ada dua Siman yang hidup di satu raga. Matanya tak lepas dari akik biru laut yang berkilau di jari manis Siman.
"Kita... kita harus ke kantornya Pak Trisno!" seru Siman, tanpa melambat. "Dia pasti akan sangat bangga melihatku! Kamu juga, Mur. Ini lebih dari apa pun yang kita bayangkan!" Kilatan semangat di mata Siman tak pernah pudar, malah semakin tajam, seperti memantulkan cahaya matahari yang baru saja merayapi jalanan.
Murni akhirnya menarik tangan Siman agar berhenti di sisi trotoar yang sedikit lebih sepi. "Sebentar! Pak Trisno kan baru kemarin kasih kamu proyek? Mau apa lagi? Ini ada hubungannya sama Bapak Harsono tadi, ya? Atau... Dina?"
Siman membalikkan badan, menatap Murni. Raut wajahnya kini sedikit lebih tenang, namun gurat tekad itu tak pudar. "Bukan. Ini tentang sesuatu yang lain. Lebih besar. Lebih... lebih cepat daripada dugaan siapa pun." Akiknya berdenyut lagi, terasa hangat di jarinya, memancarkan aura ketenangan yang Murni butuhkan.
"Besar? Cepat? Ya ampun, kamu ini ngomong apa, sih, Man? Jujur saja, Bapak ini sudah kaget sejak kemarin dengan proyek Pak Trisno yang banyak. Ini apalagi?" Murni meletakkan bakul sayurnya ke tanah, kedua tangannya terlipat di dada, menuntut penjelasan.
"Pokoknya, ini peluang. Kesempatan. Tadi pagi, saat aku baru bangun, aku mendapatkan pesan dari Pak Kusuma," Siman memulai, matanya berkilat-kilat. "Dia... dia mencari desainer. Desainer untuk perusahaannya. Kata Bapak Trisno, dia ini adalah pengusaha mebel terbesar. Lebih besar daripada perusahaanku!"
"Perusahaan mebel?" Murni membelalak. "Wah, keren dong! Apa itu yang bikin kamu semangat sekali sampai aku takut ngelihatnya? Pasti proyeknya gede, ya? Lumayan tuh buat kita nyewa rumah biar tambah mewah!" candanya, berusaha mencairkan suasana hati Siman.
Siman tertawa renyah. "Lebih dari itu, Mur. Ini... ini adalah kesempatan untuk melangkah lebih jauh. Lebih dari sekadar uang. Ini tentang membuat nama, tentang Akik Creative Studio dikenal. Aku sudah lama menunggu momen ini, Mur."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, Murni sesekali masih bertanya-tanya, sementara Siman terus menjelaskan rencananya dengan semangat. Setelah Dina muncul kembali di mall beberapa waktu lalu, dan ejekannya yang menghinanya sebagai "sampah masyarakat," tekad Siman untuk membuktikan diri kini berlipat ganda. Bukan lagi soal balas dendam, tetapi sebuah penegasan diri, validasi bahwa ia pantas berada di puncak.
Sesampainya di lobi megah Global Link, perusahaan Bapak Trisno, Murni merasa ciut. Jajaran orang-orang berjas rapi yang berlalu lalang, aroma parfum mewah yang mengisi ruangan, semua seolah menjepitnya. Tapi Siman, di sampingnya, berjalan tegap, kepalanya terangkat tinggi, tatapannya penuh percaya diri. Seolah dunia itu ada dalam genggamannya.
"Tuh, kan! Mana Pak Kusuma? Bapak bohong lagi ya sama aku!" Murni berbisik di telinga Siman, suaranya sedikit menciut. Ia mencengkeram lengan Siman erat.
"Sudahlah, Murni. Tenang saja. Aku tidak bohong, kok." Siman menyeringai. Ia tahu Murni mengkhawatirkannya. Dan Murni adalah satu-satunya di hidupnya yang akan selalu khawatir dan peduli kepadanya.
"Pak Siman! Pak Murni!" Suara riang Resepsionis menyapa mereka. "Sudah lama ditunggu Bapak Trisno! Ada urusan penting sekali."
Siman mengangguk. Dia mengikuti arahnya. Sampai ke pintu kantornya. Murni masuk, kemudian ia duduk. Bapak Trisno ada di sana. Murni melirik ke sampingnya, duduk juga di sebuah meja. Orang lain di situ tersenyum ramah padanya.
Bapak Trisno tersenyum. "Selamat siang, Siman! Senang sekali Anda bisa datang cepat. Ini dia! Kenalkan, ini Bapak Kusuma, CEO Kencana Furniture." Bapak Trisno menunjuk pria yang duduk di sampingnya, yang sejak tadi hanya tersenyum ramah.
Siman langsung menjabat tangan Pak Kusuma. "Selamat siang, Bapak. Senang bertemu Anda," kata Siman, suaranya mantap. Pak Kusuma adalah seorang pria paruh baya, rambutnya disisir rapi ke belakang, mengenakan setelan jas abu-abu tua yang terkesan sangat mahal. Mata beliau ramah, namun memancarkan kecerdasan bisnis yang tajam. Aroma wewangian kayu cedar tercium samar dari tubuhnya.
"Selamat siang juga, Siman. Saya sudah banyak mendengar tentang Anda dari Pak Trisno," kata Pak Kusuma, senyumnya semakin lebar. "Bakat Anda rupanya tidak hanya sampai di Global Link ini saja. Bakat itu merambati sampai kemana-mana. Saya sudah mengikuti semua desain-desain Bapak dari waktu pertama kali datang kemari. Jujur saja, ide-ide Anda memang menarik perhatian. Tidak cuma bapak Hadi itu yang tahu semuanya, Siman."
***