Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK KUNJUNG DATANG
Dua tahun. Ribuan pagi telah terlewati, namun bagi Rani, setiap pagi adalah pengadilan yang menakutkan. Matanya menatap tajam ke arah test pack yang masih tetap bergaris satu. Di dalam kepalanya, suara Sinta yang sukses dan anak-anak Farhan yang tumbuh besar terus berdengung seperti lebah.
Namun hingga detik ini, belum ada tanda-tanda jika Rani hamil. Entah berapa kali ia memakan ramuan penyubur rahim. Dari yang tradisional sampai resep dokter.
Bahkan saran dari pakar-pakar untuk mengatur posisi bercinta agar cepat hamil, telah ia lakukan.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Farhan saat sang istri cemberut.
"Gagal lagi," jawab Rani mengeluh dan membuang tes kehamilannya yang hanya satu garis.
"Istighfar sayang!' suruh Farhan lembut.
Lalu ia mendekat dan memeluk Rani, mencium bibirnya lembut. Rani membalasnya, keduanya pun dalam keintiman.
Nafas keduanya memburu, mereka ada di kamar, hari masih terlalu pagi. Tangan Farhan hendak naik menjamah lalu tiba-tiba ....
"Ayah ... Mama ...!" teriak Claudia memanggil.
Farhan melepas pagutannya, Rani merengek manja. Pria itu terkekeh, menggeleng.
"Nanti saja ya. Kita prioritaskan Claudia dulu," ujarnya lembut.
Rani hanya mengangguk pasrah, keduanya pun keluar kamar. Di sana Claudia duduk di meja makan, Rani lupa membuat sarapan.
"Mana sarapannya?" tanya gadis kecil itu polos menatap keduanya.
"Astaga, Mama lupa!" Claudia cemberut.
"Mama .. Ini jam berapa?" sungutnya.
"Sayang, nggak boleh gitu!" tegur Farhan.
"Tapi aku lapar!" rengek Claudia manja.
"Ya sudah, Ayah buatkan nasi goreng mau?" tawar Farhan.
"Mau! Mau!" seru Claudia bersorak.
Farhan tersenyum, lalu ia ke dapur dan mulai memasak sarapan mereka. Hanya delapan menit, masakan terhidang.
Claudia berbinar saat nasi goreng yang masih mengepul asapnya itu diletakkan di piringnya.
"Baca doa dulu sayang!" suruh Farhan saat Claudia hendak menyuap makanan.
"Eh ... Iya!' angguk Claudia lalu meletakkan sendok dan memejamkan mata.
Sementara Rani sudah mengunyah makanan. Farhan menatapnya.
"Sudah doa?" Rani mengangguk.
"Dalam hati tadi," jawabnya.
Mereka pun makan dengan nikmat, setelah sarapan. Farhan duduk di teras menikmati sinar pagi. Hari ini hari libur, ia tak mendatangi Leo dan Adrian karena Sinta mengajak dua anaknya liburan ke Eropa.
"Mas," Rani datang membawa satu cangkir teh.
Farhan tak menyahut, ia hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kita periksa dokter lagi yuk," ajak Rani yang sudah duduk di kursi lain.
Farhan melipat koran yang ia baca. Tatapannya jatuh pada wajah Rani yang terlihat lelah—bukan secara fisik, tapi batin.
“Aku mau mengandung anak kita, Mas,” ujar Rani pelan, hampir berbisik.
“Aku ingin benar-benar jadi bagian dari hidupmu. Jadi ibu dari anak-anakmu…” imbuhnya.
Farhan menatapnya, istrinya begitu gelisah dan tak tenang. Ia menarik pelan tangan Rani dan menggenggamnya lembut.
"Sayang ... dengarkan aku," ucapnya tenang.
"Aku memang sangat menginginkan anak darimu, sangat ingin," lanjutnya lagi.
"Tapi itu adalah keinginan Allah, kita tak bisa mengubah apapun atas kehendak-Nya," Rani menunduk, ia akan kalah jika berdebat soal keagamaan.
"Sayang, dengarkan aku lagi," imbuh Farhan lalu menarik tangan Rani lebih dalam.
"Ada atau tidaknya anak darimu. Aku akan tetap bersamamu, selama kamu tetap mau bersamaku!" tekannya tegas.
"Apa kau dengar itu sayang?" Rani mengangguk.
"Tapi boleh ya kita periksa lagi. Aku benar-benar mau punya anak darimu!" pintanya memohon.
Farhan masih menatapnya.
"Jika kata dokter kita baik-baik saja. Aku janji tak akan rewel soal ini lagi!" sahut Rani bersumpah.
Farhan menghela nafas panjang, ia tau betapa berat perempuan yang sudah jadi istri. Tuntutan sosial yang mengharuskan perempuan bersuami punya anak.
"Baiklah sayang, aku akan kasih tau jadwal kosongku. Kita akan periksa bersama," angguk Farhan pada akhirnya.
Rani tersenyum lega, ia berdiri dan mencium kening sang suami. Farhan tersenyum ketika menerima kecupan sayang dari sang istri.
"Kau memang yang terbaik!" puji Rani semangat.
Farhan tertawa mendengar pujian itu, lalu Rani pergi dan masuk ke dalam Farhan mengambil ponsel dari sakunya. Ia membaca beberapa pesan dari orang-orang suruhannya. Memastikan Sinta tak mengacaukan liburan kedua anak-anaknya di Eropa.
Swiss-Belhotel, Sinta menatap kaca yang menampakkan pemandangan yang menakjubkan. Leo dan Adrian berteriak-teriak kegirangan di kamar mandi. Mereka baru saja selesai berenang.
Matanya menatap kosong ponsel yang tak ada satu pun pesan dari manager tokonya. Bertanda penjualan selama liburan baik-baik saja.
Teringat bagaimana Farhan mendatanginya sore itu ke toko kuenya. Matanya menatap tajam, ia sangat marah.
"Berapa yang kau hasilkan dari pendapatan kue ini?" tanyanya hari itu.
'Apaan sih Mas!" sentak Sinta kesal.
'Aku tanya, berapa pendapatan per hari penjualan kue ini!" Farhan balas menyentak lebih keras.
"Seratus juta?" tanyanya setengah menyindir.
"Aku memang belum sesukses itu ...."
"Baik, aku bayar waktumu selama dua minggu untuk menemani Leo dan Adrian ...."
"Jangan keterlaluan kamu Mas. Mereka anak-anakku!" sentak Sinta pelan.
"Anak-anak yang kau selalu telantarkan ketika pulang sekolah?" desis Farhan dan Sinta terdiam.
"Aku tak mau tau. Liburan besok, bawa Leo dan Adrian berlibur ke Eropa. Mereka mendapat nilai bagus!' ujar Farhan sambil mengambil buku cek lalu menulisnya.
Farhan pergi setelahnya, di tangan Sinta tertulis lima ratus juta untuk 'bayarannya' menemani kedua anaknya.
"Bunda ... besok kita naik kapal menyusuri sungai ya!" teriakan Leo membuyarkan lamunan Sinta.
Perempuan itu tersenyum, ia mengangguk.
"Iya sayang, Bunda sudah siapkan semuanya!" jawabnya semringah. .
Di sana ada catatan perjalanan yang dibayar oleh Farhan. Naik kapal pesiar salah satunya. Sinta menghela nafas panjang.
"Salahmu sendiri, Mas." gumamnya dalam hati.
Kembali ke Farhan, setelah memastikan jika perjalanan liburan kedua anaknya tak mengalami kendala. Ia kembali masuk, menatap Rani yang menemani Claudia bermain. Ia pun ikut bergabung dan bermain bersama.
Lalu waktu makan siang datang, Farhan memilih memesan makanan dari restoran. Claudia ingin makan steak. Farhan memenuhi keinginan anak sambungnya itu.
Setelah makan siang, ia mengajak keduanya untuk sholat berjamaah. Rani sebenarnya sedikit malas untuk beribadah. Sementara Claudia masih anak-anak, ia tentu senang melakukan apapun asal bersama-sama.
"Allahuakbar!" seru Farhan bertakbir.
Usai salam, mereka tidur siang. Rani yang ingin melanjutkan keintiman tadi pagi ditolak pelan oleh Farhan.
"Mas, kenapa sih?" Rani bersungut-sungut.
"Ada waktu yang memang tidak boleh suami istri itu bergaul,"
Rani mendesah pelan, wajahnya masih menyimpan kecewa.
“Mas, kenapa sih?” ulangnya, sedikit manja.
Farhan tersenyum tipis, lalu membetulkan posisi bantalnya.
“Ada waktu yang memang tidak boleh suami istri itu bergaul,” jawabnya lembut.
“Kita baru saja shalat. Dan ini juga masih siang. Tubuh kita butuh istirahat, bukan dipaksa.”
Rani memalingkan wajahnya.
“Mas berubah,” gumamnya pelan.
Farhan menoleh.
“Berubah bagaimana?”
“Dulu Mas selalu… ya selalu mau,” ucap Rani ragu.
Farhan menarik napas panjang. Ia mendekat, meraih tangan istrinya.
“Ran, kedekatan itu bukan cuma soal fisik,” ujarnya tenang. “Kalau kita lakukan hanya karena emosi atau pelarian, rasanya beda.”
Rani terdiam. Ia memang sedang gelisah. Setiap kegagalan membuatnya merasa waktu terus mengejar. Seolah-olah keintiman adalah satu-satunya cara mempercepat takdir.
Farhan mengusap rambutnya pelan.
“Kita usaha boleh. Berdoa boleh. Tapi jangan sampai ibadah dan akal sehat kita ditinggalkan hanya karena ingin cepat.”
Nada suaranya bukan menolak.
Tapi menenangkan.
"Ayo kita istirahat," ajak Farhan, tapi Rani memilih memunggungi suaminya.
Farhan terkekeh, ia menarik dan membalik tubuh sang istri ke hadapannya.
"Istirahat untuk persiapan nanti malam ...," bisiknya pelan di telinga sang istri.
Rani tersenyum dan kemudian keduanya pun tidur siang dengan damai.
Bersambung.
Huhu ... Nggak Sinta, nggak Rani.
Keduanya sama-sama egois.
Next?