Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Belanja Bulanan
Udara di dalam supermarket besar itu terasa sejuk, kontras dengan aspal parkiran yang baru saja mereka injak. Dimas mendorong troli dengan semangat seorang anak kecil yang baru saja dilepas di toko mainan, sementara Dinara berjalan di sampingnya dengan ponsel yang menampilkan catatan daftar belanja yang sangat rinci.
Hari ini adalah jadwal belanja bulanan pertama mereka sejak "insiden" rendang fiktif di telepon minggu lalu. Dinara sudah bertekad untuk mengisi dapur apartemen dengan bahan makanan sehat; sayuran hijau, dada ayam, buah-buahan, dan gandum.
"Mas, fokus. Kita ke lorong bumbu dapur dulu, jangan ke lorong sana!" seru Dinara saat melihat Dimas mulai membelokkan troli ke arah rak makanan ringan yang berwarna-warni.
"Bentar toh, Sayang. Iki lho, ada promo keripik kentang beli dua gratis satu. Eman-eman kalau dilewatkan," sahut Dimas tanpa rasa bersalah. Tangan panjangnya meraih tiga bungkus besar keripik rasa barbekyu dan menjatuhkannya ke dalam troli yang masih kosong.
Dinara menghentikan langkahnya, berkacak pinggang. "Mas, kita ke sini mau beli stok sayur sama beras. Keripik itu nggak bikin kenyang, cuma bikin haus."
"Lho, ini buat menemani Mas ngetik, Dek. Kalau mulutnya nggak ngunyah, idenya nggak keluar. Ini namanya investasi karya sastra," jawab Dimas sambil terus melaju. Tidak berhenti di situ, ia memasukkan biskuit cokelat, kacang atom, hingga permen karet ke dalam troli.
Dinara memijat pangkal hidungnya. Ia menghampiri troli dan mulai menghitung tumpukan bungkus plastik yang sudah memenuhi separuh ruang besi itu. "Mas Dimas, coba lihat ini. Ini kebutuhan atau keinginan? Kita harus hemat, Mas. Ingat, cicilan apartemen dan biaya kuliahku itu lebih penting daripada micin-micin ini."
"Ini kebutuhan batin, Sayang. Jiwa Mas butuh asupan gula biar nggak galak kalau lagi revisi naskah," Dimas nyengir, mencoba merayu dengan wajah melas yang dibuat-buat.
"Gak usah pakai wajah begitu. Mas tahu kan, kalau kita boros sekarang, akhir bulan nanti kita cuma bisa makan kerupuk sama kecap?" Dinara merebut kendali troli. "Ini kembalikan semua. Pilih satu saja yang paling Mas suka."
Dimas terdiam. Ia melihat Dinara yang tampak sangat serius dengan kalkulator di ponselnya. Wajah istrinya yang tegas—ciri khas calon penegak hukum—membuat Dimas sadar bahwa ia mungkin memang sudah berlebihan.
"Nggih, nggih. Maaf ya, Sayang. Mas agak kalap tadi," ucap Dimas pelan. Nada bicaranya berubah menjadi tulus, tidak ada lagi jejak jahil. Ia mulai mengambil kembali biskuit cokelat dan keripik barbekyu itu satu per satu dari troli untuk dikembalikan ke raknya. "Mas kembalikan semua saja kalau gitu. Biar uangnya buat beli buku hukummu yang baru atau buat bayar uang semesteran depan."
Melihat bahu Dimas yang sedikit lesu saat berjalan kembali ke rak, hati Dinara mendadak mencelos. Ia memerhatikan suaminya yang sedang menata kembali bungkus-bungkus itu dengan rapi. Dinara teringat betapa kerasnya Dimas bekerja akhir-akhir ini—begadang setiap malam, bolak-balik mengantarnya ke kampus, dan selalu pasang badan setiap kali ada tekanan dari keluarga di Blitar.
Dimas baru saja akan meletakkan bungkus terakhir, ketika tangan Dinara mencegahnya.
"Mas, tunggu," bisik Dinara.
Dimas menoleh heran. "Lho, kenapa? Katanya harus hemat?"
Dinara mengambil kembali dua bungkus keripik dan biskuit cokelat yang paling sering ia lihat Dimas makan saat begadang. Ia memasukkannya kembali ke dalam troli dengan gerakan perlahan.
"Jangan dikembalikan semua. Dinara tahu Mas capek kerja. Sesekali punya hiburan cemilan nggak apa-apa, asal... asal jangan setiap hari makannya," Dinara menunduk, menyembunyikan rasa bersalahnya. "Maafin Dinara ya, Mas. Dinara terlalu kaku tadi. Mas sudah kerja keras buat kita, masa beli keripik saja nggak boleh."
Dimas tertegun sejenak, lalu sebuah senyum lebar perlahan terbit di wajahnya. Ia menarik Dinara ke dalam rangkulannya, meski di tengah lorong supermarket yang ramai. "Walah, istriku ini... galaknya cuma di bibir ya, tapi hatinya kayak kapas."
"Mas! Malu dilihat orang, ojo koyo ngene (jangan begini)," protes Dinara sambil berusaha melepaskan diri, meski ia tak kuasa menahan senyum.
"Biarin. Biar orang tahu kalau Mas punya manajer keuangan yang paling baik sedunia," Dimas melepas rangkulannya namun tetap menggandeng tangan Dinara. "Ya sudah, janji. Ini yang terakhir. Selebihnya kita beli wortel, bayam, sama ikan. Mas mau sehat juga kok, biar bisa jagain kamu sampai kita punya cucu nanti."
"Gombal terus," gumam Dinara.
Mereka melanjutkan belanja dengan suasana yang jauh lebih cair. Kali ini, Dinara yang memilihkan camilan yang setidaknya sedikit lebih sehat untuk suaminya, sementara Dimas dengan patuh mengecek tanggal kedaluwarsa setiap barang yang dimasukkan ke troli.
Saat mengantre di kasir, Dimas memperhatikan Dinara yang sibuk merapikan barang belanjaan di atas ban berjalan. Cahaya lampu supermarket memantul di wajah istrinya yang tampak berseri. Dimas merasa bersyukur. Di balik ketegasan Dinara soal anggaran, ada cinta yang sangat realistis. Dinara tidak hanya mencintainya dengan kata-kata, tapi dengan cara memastikan masa depan mereka tetap aman secara finansial.
"Totalnya jadi segini ya, Mas?" tanya Dinara saat melihat angka di layar kasir.
Dimas mengeluarkan dompetnya, menyerahkan kartu debit dengan gerakan mantap. "Nggih, pas kok. Masih sisa buat kita makan bakso di depan nanti."
"Tadi katanya mau hemat?" ledek Dinara.
"Hemat itu untuk hal yang nggak perlu, Dek. Kalau makan bakso sama istri setelah belanja bulanan itu namanya... perayaan kemerdekaan dari micin," jawab Dimas asal.
Mereka keluar menuju parkiran, membawa dua kantong belanjaan besar. Di dalam SUV, saat Dimas mulai menyalakan mesin, ia menoleh ke arah Dinara yang sedang meneguk air mineral.
"Dek, makasih ya sudah diingatkan tadi. Mas memang kadang suka lupa daratan kalau lihat snack."
"Sama-sama, Mas. Kita kan satu tim. Mas yang cari nafkah, Dinara yang bantu jaga biar nggak menguap sia-sia."
Dimas mengacak jilbab Dinara pelan sebelum memindahkan persneling. "Pinter. Memang nggak salah Mas milih calon Hakim. Tertib administrasinya juara."
SUV itu pun melaju membelah jalanan kota yang mulai padat. Belanja bulanan yang awalnya terasa kacau dan penuh perdebatan kecil itu berakhir menjadi momen kedewasaan bagi keduanya. Di dalam mobil, satu bungkus biskuit cokelat sudah terbuka, dan Dimas menyuapi Dinara sepotong sambil terus bercanda tentang bagaimana mereka akan menyembunyikan stok snack itu jika Ibu dari Blitar tiba-tiba datang berkunjung.