(🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️)
"Aku tidak mau menceraikan Alexa Ma!" pekik Stevan, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu.
"Mama tidak meminta kamu untuk menceraikan Alexa! Tapi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan, Stevan! Karena saat ini, Emily tengah mengandung anak kamu!"
Duar!
Perkataan Nyonya Eta Raven, ibu kandung Stevan sekaligus ibu mertua Alexa bagaikan petir yang menyambar Alexa di pagi hari. Alexa mematung di tempat menatap pertengkaran mereka tanpa mengeluarkan suara. Jantungnya terus berdetak kencang tanpa henti, membuat Alexa tiba-tiba merasakan sesak nafas. Pandangannya pun perlahan kabur dan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon medusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~18.
...🔥🔥🔥🔥...
...(Di rumah sakit)...
"Apa?!"
...Suara teriakkan terkejut dari Tuan Viktor menarik perhatian semua orang melirik ke arah mereka, setelah ia mendengar seluruh cerita tentang kejadian di kantor polisi....
"Iya, pelangkan suaramu," bisik Nyonya Nadine canggung sambil menatap sekitar.
"Tapi Mama. Papa sudah seperti ini, masa iya, Mama membiarkan pria itu menolak untuk memberi kompensasi? Pasti Mama kurang tegas," omel Aletta kesal.
...Padahal dari kemarin malam ia sudah membayangkan hari ini akan pergi belanja sepuasnya. Tetapi semua anggang anggangnya pupus saat sang ibu pulang dengan tangan kosong....
"Kau tidak tau siapa pria itu. Dia adalah putra sulung keluarga Raven yang hilang beberapa tahun yang lalu. Dan itu artinya, dia lebih berkuasa dari Stevan," jelas Nyonya Nadine kesal menatap Aletta.
"Apa?! Jadi pria semalam yang mengakui Alexa sebagai wanitanya itu adalah putra sulung keluarga Raven!" pekik Aletta tak percaya.
"Iya," ketus Nyonya Nadine kesal.
"OMG... bagaimana bisa...?" Aletta memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pening setelah di hantam kenyataan pahit bahwa Alexa akan terlantar di jalanan setelah bercerai. Tetapi ia malah mendapatkan yang lebih baik dari Stevan."Bagaimana Alexa anak pembawa sial itu beruntung seperti itu...? Dia pasti memakai guna-guna," tuduh Aletta.
"Pasti," timpal Nyonya Nadine penuh yakin."Apalagi pria itu sangat tampan. Di tambah lagi aura kaya raya nya memancar sangat kuat. Cuman dia sedikit sulit untuk tersenyum dan suka berkata sesuka hati," ujar Nyonya Nadine memasang wajah lelah membayangkan Tristan yang tadi terus menyudutkannya saat di kantor polisi tadi.
"Lupakan itu Ma. Yang penting dia kaya dan aku juga cantik," ujar Aletta tersenyum lebar.
Nyonya Nadine mengerutkan kening menatap bingung ke arah Aletta."Apa maksudmu?"
"Itu Ma... aku jatuh cinta untuk pertama kalinya saat melihatnya. Siapa namanya tadi?" tanya Aletta.
"Tristan," jawab Nyonya Nadine.
"Jadi... dia Tristan?" Aletta semakin berbunga-bunga saat mendengar nama pria sudah membuatnya jatuh cinta itu.
"Hey!" pekik Tuan Viktor menyela."Apa kalian lupa apa yang sudah pria itu lakukan kepadaku?"
Takut, Aletta segera berlindung di belakang sang ibu."Mama, tolong..." bisik Aletta.
"Pa! Lagian kalau suatu saat nanti Aletta berhasil mendapatkan hati pria itu, Papa juga akan ikut menikmati hasilnya. Jadi mulai sekarang jangan ikut campur urusan Aletta, biarkan saja dia mengejar cinta sejatinya itu," kata Nyonya Nadine berdecak kesal menatap Tuan Viktor.
"Baiklah," tekan Tuan Viktor turun dari atas ranjang rumah sakit, sambil menatap istrinya dengan tatapan marah."Terserah kalian."
...Tuan Viktor kehabisan kata melihat aksi bodoh yang akan dilakukan oleh istri dan putrinya itu. Ia memilih pergi dari ruang rawat miliknya dari pada harus berdebat melawan mereka....
*
*
*
...(Keesokan harinya)...
...Pagi hari tepat jam 08:00. Di meja makan keluarga Raven, semua orang nampak rapi sambil menikmati sarapan yang disajikan oleh pasangan mereka masing-masing dengan santai....
"Ehem," dehem Tuan Josep.
...Seketika mereka semua menghentikan aksi sarapan mereka, dan fokus menatap ke arah Tuan Josep....
"Sesuai warisan yang dituliskan. Setelah Tristan dewasa, dia akan mewarisi posisi sebagai CEO di perusahaan keluarga Raven," putus Tuan Josep.
"Apa...?" Seketika emosi Stevan meledak."Bagaimana dengan aku Pa? Aku berkerja siang dan malam demi perusahaan itu, tapi kenapa Tristan yang Papa pilih?!" pekik Stevan penuh amarah.
"Stevan tenangkan dirimu. Kamu akan menjadi direktur perusahaan itu," bujuk Tuan Josep.
Brak!
"Aku tidak terima!" teriak Stevan mengebrak meja dan bangkit."Ini tidak adil Pa! Karena akulah yang berkerja keras pada perusahaan itu, tapi kenapa Papa memberikan posisi CEO kepada Tristan yang baru saja muncul!"
"Stevan!" bentak Tuan Josep ikut bangkit."Jangan lupa kalau dia kakak pertamamu. Lagian posisi menjadi seorang direktur perusahaan pun tidak buruk. Kenapa kamu protes Hah?!" balas Tuan Josep.
"Aku!-"
"Cukup," potong Nyonya Eta menatap Steven."Benar kata Ayahmu Stevan. Posisi sebagai direktur perusahaan tidaklah buruk," tekan Nyonya Eta penuh arti.
"Tapi Mama, aku sudah memberikan segalanya pada perusahaan itu. Dan ini balasan Papa...?" lirih Stevan menatap Tuan Josep penuh kecewa.
"Sudah. Mama tidak mau kamu protes Stevan. Sebaiknya kamu terima posisi itu dan berterima kasih kepada Papamu, sekarang," perintah Nyonya Eta dingin.
"Ma-"
"Sekarang!" potong Nyonya Eta tegas.
...Stevan mengepal kuat kedua tangannya menatap Tristan dan Alexa penuh dendam. ...
"Terima kasih Pa," ucap Stevan penuh paksaan sambil menahan amarah.
"Pa," panggil Nyonya Eta lembut menoleh ke arah Tuan Josep sambil tersenyum hangat."Maafkan perkataan putramu tadi, dia hanya kelelahan dan tidak bisa berpikir dengan jernih."
"Baik."
...Tuan Josep menyudahi sarapannya, ia segera pergi meninggalkan meja makan yang kini berubah menjadi hening dan dingin. Tak mau berurusan dengan Tristan, Nyonya Eta segera mengajak Stevan dan Emily pergi dari sana....
...(Bersambung)...