Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18. Pura-pura
Happy Reading
Cahaya matahari pagi mulai menyapa dengan malu-malu, menyilaukan mata Alderza yang tengah terpejam lelap. Tangannya mencari ponsel yang sejak tadi membunyikan alarm dan kemudian mematikan alarm tersebut.
Matanya seketika langsung melotot begitu melihat isi notifikasi di layar ponsel
08xxxxxxxxxx
Udah ya -Aily
Alderza langsung membuka aplikasi Whatsapp, berharap Aily akan memberikan kabar tentang dirinya, atau bertanya tentang skandal mereka. Tapi ternyata, hanya chat itu saja yang Aily kirimkan.
Kemudian, setelah Alderza meng-save nomor Aily, dia pun mengirimi pesan pada Aily.
Alderza
Gini doang? Gak ada niatan chat apa gitu?
Tak lama kemudian, Aily membalas.
Aily
Dikertas cuma disuruh add no WA sama konfirmasi aja kok.
Alderza mengembuskan napas kesal, dia mengacak-acak rambutnya frustrasi. Tapi tiba-tiba, semburat senyuman terpancar di wajahnya.
Alderza
Mau sekolah? Bareng aja.
Aily
Nggak.
Jawaban paling singkat, padat, dan jelas yang pernah Alderza dapatkan dari seorang cewek. Hal itu membuatnya semakin frustrasi.
Di rumahnya, Aily sedang berharap Alderza membalas pesannya, tetapi ternyata nihil.
Jangan terlalu berharap, Aily. Ucapnya di dalam hati.
Setelah beberapa menit berlalu, Aily mendapati ibunya berdiri di depan pintu, memperhatikan putrinya yang sedang gelisah dengan ponselnya.
"Kenapa sayang? Ada masalah?" Tanya Tiara penasaran.
"Apa Aily sekolah aja ya hari ini?"
"Istirahat dulu, biar cepet sembuh."
Aily mengelak, dia menggeleng dengan yakin, lalu menarik tangan ibunya agar menyentuh pipinya.
"Gak anget kan, Aily udah sehat, Ma."
"Kalau sekarang kamu sekolah, nanti gak boleh ikut camping. Oke?" Tiara berusaha memberikan tawaran terbaik untuk anaknya. Dan hal itu membuat Aily cemberut seketika.
Karena tidak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan ibunya tercinta.
"Iya, iya..."
Tiara tersenyum serata memegang tangan anaknya, mengelusnya lembut penuh kasih sayang.
"Istirahat ya, biar nanti kamu siap. Jangan kecapean. Mama kerja dulu. Sarapan udah Mama siapin."
"Bang Tama kemana Ma?"
"Tama tadi keluar, katanya ada urusan sebentar."
"Oke."
Setelah Tiara pergi, Aily langsung ke kamar mandi untuk mandi dengan air hangat. Walaupun tidak sekolah, tidak enak juga jika badannya bau busuk seperti bunga bangkai.
Dari kemarin dia belum mandi, pagi ini dia harus istirahat dengan nyenyak agar bisa tidur dengan pulas.
Air hangat pun mengalir keluar dari shower. Kamar mandinya cukup luas, bahkan ada bathub di dalamnya.
Rumah ini peninggalan ayahnya yang sangat berharga. Setelah ayahnya pergi, semua orang menjauhinya. Dari situlah dia tahu, mana teman yang tulus dan mana teman yang menghampiri di saat ada butuhnya saja.
Contohnya seperti Sinta dan Riska. Dahulu, mereka selalu bersama, tetapi setelah dia tidak punya apa-apa lagi, mereka menjauh. Mereka malah membenci Aily sampai sekarang karena tidak mau memenuhi kebutuhan mereka.
Hidup ini sungguh menyakitkan.
Perlahan, dia menghapus air matanya yang turun. Tak terasa, mandi sambil mengingat mereka begitu menyakitkan.
Setelah selesai semua ritual yang dia lakukan, Aily menggunakan handuk kimono berwarna ungu, lalu keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang setengah basah.
Betapa terkejutnya Aily saat mendapati Alderza tengah duduk di atas tempat tidurnya dengan santai.
"Lama banget mandinya!"
Aily melotot, lalu menjerit kencang. Untung saja dia memakai handuk kimono. Tapi, tetap saja dibalik handuk kimono, dia tidak memakai apa-apa.
"NGAPAIN KAMU KE SINI?" Bentak Aily kesal.
"Mau nengok yang lagi sakit, tapi kayaknya udah sehat sampe teriak kenceng gitu."
Aily langsung mengambil pakaian untuk dia kenakan saat ini. Dengan wajah kesal dan tergesa-gesa, dia tidak memedulikan Alderza sama sekali.
Sumpah serapah sudah ia ucapkan dalam hatinya, sungguh menyebalkan.
"Warna ungu aja terus!" Ucap Alderza.
Spontan, Aily melihat tumpukan kain yang ada di tangannya.
Baju Aily hari ini berwarna putih, jug celana skinny jeans berwarna biru. Sialnya, yang ditunjuk Alderza berwarna ungu adalah pakaian dalamnya.
Darahnya sudah mendidih, tangannya mengepal penuh, dan pipinya memerah seperti tomat. Saat melihat hal itu, Alderza semakin tertawa kencang.
"Lawan gue dong." Rengek Alderza.
"Males!"
Aily dengan cepat pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Dia ingin mencakar muka Alderza dengan kuku panjangnya.
Meskipun di kamar mandi, Aily dapat mendengar dengan jelas bahwa Alderza tengah tertawa.
Dan itu membuat telinganya semakin panas.
"Kamu mau ngapain sih ke sini?" Tanya Aily saat sudah selesai memakai semua pakaiannya.
"Nengok lah!"
"Gak sekolah?"
"Males, gak seru."
Aily menghela napas kesal, sepertinya rencananya untuk istirahat hari ini gagal kali ini. Tidak ada yang sempurna hari ini.
"Ngomongnya harus 'lo-gue' ya!"
"Iya!" Jawab Aily ketus.
"Lo serius masih sakit?" Tiba-tiba saja Alderza menghampiri Aily dan memegang keningnya. Jarak mereka sangat dekat kali ini, membuat Aily sedikit canggung.
"Nggak, cuma Mama ngancem aku. Katanya, kalo aku sekolah hari ini, nanti aku gak boleh ikut camping."
Alderza mengangguk tanda mengerti. Dia terdiam seketika sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aily dapat melihat wajah Alderza yang kebingungan.
"Kenapa?" Tanya Aily.
"Sebenernya, gue mau ngajak lo ke suatu tempat, tapi mendingan lo istirahat aja deh. Gak papa, lain kali aja."
Aily tersenyum sembari memegang pipinya. Berulang kali dia memegang pipinya untuk memastikan suhu tubuhnya. Semuanya normal, tidak terasa hangat ataupun pusing lagi.
"Ayo."
Alderza mengernyitkan keningnya bingung.
"Lo gak tanya mau ke mana?"
"Paling ke tempat nongkrong kamu, terus aku di bully di sana." Aily menjawabnya dengan santai. Dia bergegas sambil memasukkan ponselnya ke dalam sling bag mini.
"Gue udah minta maaf sama lo kan?"
"Iya, minta maaf doang. Buktinya nggak."
Faktanya, Alderza masih malu untuk mengakui kepada teman-temannya bahwa dirinya sudah meminta maaf kepada Aily.
Merasa tersindir, lidahnya kian membisu seribu bahasa.
Aily kembali tertawa kecil. "Aku bercanda kok. Ayo, sekarang mau ke mana?"
"Ke tempat rahasia gue."
"Ayo." Aily mendekat ke arah jendela, membuat Alderza melotot kaget.
"Lo lewat pintu, gue lewat jendela!"
Aily menengok, lalu tersenyum sambil menunjuk jam. "Mama aku pergi, pasti rumah di kunci."
"Abang lo?"
"Sama, dia juga pergi. Malah perginya sebelum Mama aku pergi. Jadinya, kunci di bawa sama Mama."
Tidak ada pilihan lain saat mendengar jawaban Aily. Kenapa macan betina itu tega mengurung anaknya di rumah sendirian, dan kenapa malah abangnya juga ikut-ikutan.
"Diem, gue dulu." Ucap Alderza pada Aily sambil. mencengkram bahunya.
Aily melihat Alderza memegang ranting pohon yang dekat dari jendela kamarnya, lalu melompat ke batang pohon yang kokoh dan besar.
Tiba-tiba Alderza mengulurkan tangannya kepada Aily, memberinya pegangan agar ia tidak jatuh dari pohon.
Aily sedikit ragu. Namun, keraguan tidak membuatnya menepis tangan cowok itu begitu saja, Aily menerimanya dengan lembut.
Lalu dengan hati-hati, Aily melompat dari jendelanya yang tak jauh dari pohon tersebut.
Bugh
Suara entakan kakinya begitu kencang. Untung saja batangnya sangat besar dan kuat sampa mampu menahan mereka berdua.
"Lo gak papa?" Tanya Alderza.
Tumben sekali Alderza bertanya seperti itu. Aily hanya tersenyum dan mengangguk menandakan kalau dia sangat canggung.
Terutama karena tangan Alderza tak kunjung melepaskannya.
"Jangan kegeeran dulu. Gue bukan perhatian sama lo. Gue cuma takut pohonnya roboh!" Bantah Alderza.
Aily mendengus kesal. "Iya, iya. Kita kapan turunnya?"
"Mau turun lewat batang pohon apa loncat aja?"
"Ini lantai dua. Mau loncat gimana?" Balas Aily kesal.
Aily melepas sepatunya dan melemparnya ke bawah sana, berbeda dengan Alderza yang sudah tidak memakai sepatu sejak awal.
"Ayo turun."
"Yakin?"
Aily mengangguk. Alderza mulai turun perlahan dengan memeluk batang pohon tua tersebut, lalu turun ke tangkai yang berada di bawahnya. Perhatian Alderza tak luput dari cara Aily turun dari pohon yang mengkhawatirkan. Sayangnya, tidak ada cara lain.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka berhasil turun. Alderza mengembuskan napas lega karena Aily berhasil turun.
"Lo gak papa?"
"Nggak." Jawab Aily sembari menatap mobil Aldersa dengan kecewa.
"Kenapa?"
"Aku kira kamu bawa motor!"
"Gue kira, bukan aku kira!" Balas Alderza, lalu membuka kunci mobilnya.
"Terserah!"
"Harusnya lo jawab gini, 'Terserah gue dong!' Gitu."
Aily semakin pusing mendengar Alderza, sementara yang dipusingkan hanya tertawa kecil.
Tak ingin membuang waktu, mereka segera masuk mobil. Di dalam sana tercium wangi mint, aroma yang sering Aily cium ketika berada di dekat Alderza.
"Sebelum berangkat, gue mau tanya dan lo harus jawab sejujur-jujurnya!" Ucap Alderza dengan tatapan menyelidik kepada cewek yang ada di sampingnya.
"Lo gak takut kalo semalem gue ngapa-ngapain lo? Kesannya, lo santai dan gak peduli gitu."
Alderza masih menatap Aily yang terdiam sambil memutar bola matanya. Terlihat samar Aily mulai tersenyum kecil yang membuat Alderza semakin curiga.
"Jawab. Lo gak takut?"
"Hmm." Aily terus menggumam, bingung harus memberi jawaban seperti apa.
"Harusnya lo tanya sama gue. 'Tadi malem lo ngapain ke kamar gue? Tadi malem lo ngapain aja? Tadi malem lo gak pegang-pegang gue kan? Terus-'"
"Berisikkkk! Iya, iya. Tadi malem aku cuma pura-pura tidur, puas?"
Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, mohon dikoreksi ya. Love you guys.