Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan untuk Pulang
POV: Matthias
Ayahku meninggal sejak usiaku memasuki lima tahun. Kata Nenek, aku harus meneruskan apa yang sempat putus dari Ayah. Sejak saat itu, aku hidup bagaikan raga yang tidak memiliki jiwa, atau bahkan emosi. Segalanya ku iyakan jika Nenek meminta atau sekedar memberikan perintah. Aku adalah senjata, aku adalah gelar, tapi aku bukan manusia.
Hampir setiap hari dan malam, beberapa gadis bangsawan diam-diam mendekatiku seolah-olah mereka menyerahkan diri secara sukarela padaku. Tapi entah kenapa, aku merasa kosong. Kenapa aku tidak memiliki ketertarikan pada mereka? Pertemuan penjamuan di paviliun utama yang terjadi hampir seminggu sekali membuatku muak. Semuanya berputar-putar dalam pola yang membosankan. Tidak ada cerita menarik di dalamnya.
Sampai tiba di malam pertemuan seluruh bangsawan tahunan itu.
Aku menemukan sesuatu yang menarik. Sesuatu yang menghentikan rotasi duniaku yang monoton. Aku melihatnya. Lihatlah matanya yang tampak mengantuk itu, namun berubah sangat tajam saat menatap orang yang berani menginjakkan kaki di tamannya. Dia tidak memuja jalanku, dia justru menjaga wilayahnya.
Esok harinya, saat aku mulai mendekatinya, segalanya berbeda. Dia tidak bersikap seperti seorang putri yang haus perhatian. Wajahnya saat bangun tidur tanpa riasan sama sekali membuatku terpaku—begitu cantik alami hingga aku lupa cara bernapas sejenak. Dan apa itu? Sandal bulunya? Dia bahkan menyuruhku, seorang Jenderal besar, untuk memangku kucing kesayangannya seolah aku hanyalah pelayan paviliun.
Saat semua orang gemetar ketakutan padaku, dia justru tertawa. Dia meraba tanganku, mengerutkan kening, dan mengatakan tanganku terlalu kasar sebelum memberiku sebuah krim. Dia bahkan dengan berani menyuapiku sepotong cokelat dengan senyum manis yang seketika meruntuhkan tembok pertahananku.
Dia... gadis yang berani menolak lamaranku selama dua tahun tanpa aku tahu bahwa ternyata di balik ketegasannya, dia juga merindukanku. Aku, si Jenderal kaku yang menyebalkan menurutnya, ternyata bisa merasa cemburu buta saat ada orang lain yang membuatnya tertawa lebih lebar daripada saat bersamaku. Aku menjadi rakus. Aku ingin memilikinya seutuhnya.
Hal paling menyenangkan dalam hidupku adalah ketika aku pulang setelah dua tahun di medan perang. Dia tidak memberontak saat aku memeluknya dengan erat. Dia bahkan menepuk pelan pundakku. Kalau boleh jujur, saat itu aku benar-benar rakus menghirup aroma tubuhnya dan mencium lehernya secara diam-diam. Ingin sekali aku memakannya hari itu juga, tapi aku menahan diri karena takut dia akan benar-benar menjaga jarak dariku.
Dulu, setiap kali aku berangkat ke medan perang, aku selalu berdoa agar kematian menjemputku saja. Hidupku tidak menarik. Namun setelah dia hadir, dia menjadi alasan tunggal kenapa aku harus bertahan hidup. Aku harus hidup agar bisa pulang ke pelukannya.
Oh, Shaneen-ku. Kau adalah alasan kenapa aku bisa merasa hidup seperti sekarang ini.
...Malam di Taman Asturia...
Malam ini, setelah mendapatkan restu dari keluarga, Matthias kembali ke kediaman Asturia. Mereka berjalan di taman belakang, tempat yang sama seperti dua tahun lalu, namun atmosfernya telah berubah total.
Jika dulu ada jarak yang cermat di antara mereka, kali ini Matthias memberanikan diri, meraih tangan Shaneen yang ramping dan dingin. Shaneen sempat terdiam sejenak, menatap tautan tangan mereka dengan kening berkerut—mungkin dia sedang menghitung apakah posisi jari-jari Matthias sudah simetris dengan miliknya.
Namun, alih-alih melepaskannya, dia justru mempererat genggamannya.
"Tanganmu masih kasar, Matthias," gumamnya pelan, namun dia tidak melepaskannya. "Tapi krim yang kuberikan sepertinya bekerja sedikit."
Matthias terkekeh, menarik tangan Shaneen lalu mengecup punggung tangannya tanpa menghentikan langkah mereka. "Itu karena aku rajin memakainya agar kau tidak marah saat aku menyentuhmu."
Shaneen mendongak, menatap Matthias di bawah cahaya bulan yang temaram. "Kau sudah bicara pada Nenekmu?"
"Sudah. Semuanya sudah beres. Tidak akan ada lagi Putri Isabella atau siapa pun. Hanya kau, Ninin. Hanya kau yang akan berdiri di sampingku di altar nanti."
Shaneen mendengus kecil, namun wajahnya merona merah. Dia menyandarkan kepalanya sebentar di lengan Matthias sambil terus berjalan. "Kau benar-benar berisik, Jenderal. Tapi... aku rasa aku bisa terbiasa dengan suara berisikmu ini seumur hidupku."
Matthias berhenti melangkah, menariknya ke dalam pelukannya di tengah taman yang sunyi. Kali ini Matthias tidak hanya mencium lehernya secara diam-diam. Matthias menangkup wajahnya, menatap mata indahnya, dan berjanji dalam hati bahwa raga yang dulu tak berjiwa ini, kini sepenuhnya adalah milik Shaneen.