Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah, layar ponsel, dan retaknya sebuah nama
Pagi itu, atmosfer kampus terasa berbeda. Bukan karena mendung yang menggelayut di langit, tapi karena tatapan-tatapan aneh yang diarahkan kepada Dewi Laras saat dia berjalan menyusuri selasar menuju kelas pagi. Mahasiswa yang biasanya sibuk mengobrol, mendadak berbisik-bisik sambil melirik ponsel mereka saat Laras lewat.
"Ras, lo udah lihat grup angkatan?" tanya Rhea Amara yang tiba-tiba muncul dengan wajah cemas, napasnya tersengal seolah baru saja lari maraton.
"Belum, ada apa sih? Gue baru nyalain HP," jawab Laras bingung.
Rhea menyodorkan ponselnya. Di layar itu, terpampang sebuah foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi: foto Laras dan Bagas Putra di teras rumah semalam. Namun, narasinya sangat kejam. Seseorang menyebarkan isu bahwa Laras sengaja "memanfaatkan" Bagas untuk melunasi hutang keluarganya, dan bahwa Laras adalah alasan Bagas sering membolos latihan basket demi mengurus masalah pribadi Laras yang berantakan.
"Gila... siapa yang bikin narasi sampah kayak gini?!" Laras merasa tangannya dingin seketika.
"Nggak cuma itu, Ras," bisik Rhea sedih. "Ada foto lo juga sama cowok yang pakai mobil mewah kemarin—si Arvin itu. Katanya lo 'main dua kaki'. Satu buat materi, satu buat pelarian."
Di ujung koridor, Laras melihat Bagas sedang dikerumuni teman-teman tim basketnya. Wajah Bagas tampak merah padam. Salah satu temannya menunjukkan sesuatu di ponsel, dan Bagas hampir saja melayangkan pukulan jika tidak ditahan oleh rekan lainnya.
"Jangan, Gas! Jangan kepancing!" teriak Juna Pratama yang berusaha melerai dari tengah kerumunan.
Tiba-tiba, Eno Surya datang dengan langkah terburu-buru, tapi kali ini wajahnya tidak ada sisa-sisa lawakan. "Ini kerjaan Pak Gunawan. Pasti. Dia mau ngerusak reputasi lo di kampus biar lo ngerasa nggak punya siapa-siapa lagi selain dia."
Gia Kirana muncul paling terakhir, wajahnya sedingin es. "Ini namanya pembunuhan karakter. Dan mereka tahu titik lemah kita adalah opini publik. Laras, lo jangan masuk kelas dulu. Mending kita ke Markas."
Di meja pojok kantin, suasana benar-benar mendung. Bagas datang beberapa menit kemudian dengan napas memburu. Begitu melihat Laras, dia langsung duduk di sampingnya.
"Sori, Ras. Sori gue nggak bisa jagain lo dari omongan sampah kayak gitu," kata Bagas, suaranya parau karena emosi.
"Gas, harusnya gue yang minta maaf. Nama lo jadi jelek gara-gara gue," sahut Laras lirih.
"Nama jelek bisa dibersihin, tapi kalau lo yang kena mental, gue nggak akan maafin diri gue sendiri," balas Bagas tegas.
Eno menggebrak meja, tapi kali ini gerakannya penuh amarah. "Kita nggak bisa diem aja! Kita harus cari siapa yang nyebarin pertama kali. Gue yakin ini orang suruhan!"
"Gue udah dapet IP-nya," sahut Juna tiba-tiba sambil memamerkan layar laptopnya. "Gue sempet tracking link yang disebar di grup angkatan. Lokasinya... di sebuah hotel mewah di pusat kota. Tempat yang sama dengan alamat kantor Pak Gunawan yang Bagas kasih tahu kemarin."
Gia tersenyum tipis, tipe senyum yang mengerikan. "Oke. Dia main kotor, kita main cerdik. Dia pikir kita cuma mahasiswa yang nggak punya power? Dia lupa kalau mahasiswa kalau udah bersatu bisa nurunin rezim, apalagi cuma ngebersihin nama sahabat sendiri."
Namun, di tengah rencana mereka, sebuah pengumuman dari pengeras suara kampus terdengar. "Panggilan untuk mahasiswi bernama Dewi Laras dan mahasiswa bernama Bagas Putra, harap segera menghadap ke ruang Dekat Kemahasiswaan sekarang juga."
Seluruh kantin mendadak senyap. Tatapan semua orang tertuju pada meja mereka.
"Laras," suara Bagas terdengar sangat tenang namun dalam. "Pegang tangan gue. Kita masuk ke sana bareng-bareng. Jangan nunduk. Kita nggak salah."
Laras meraih tangan Bagas. Genggaman itu sangat erat, seolah-olah Bagas sedang menyalurkan seluruh kekuatannya ke tubuh Laras yang mulai gemetar. Mereka berenam berdiri serempak, berjalan menuju gedung dekanat dengan kepala tegak, melewati barisan mahasiswa yang terus berbisik.
Ini bukan lagi soal hutang atau perjodohan. Ini adalah tentang mempertahankan harga diri dan persahabatan mereka di depan otoritas. Di dalam ruang dekanat, ternyata sudah ada Pak Gunawan yang duduk tenang dengan pengacaranya, siap melakukan "skakmat" terakhir.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...