Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru, tubuh yang Runtuh
Beberapa hari kemudian, ketika rumah ibu sudah mulai dibereskan, aku berdiri di kamarnya yang kini kosong.
Lemari pakaian masih penuh. Seprei masih rapi.
Aku memeluk salah satu bajunya dan menangis lagi.
Dari belakang, Ashar mendekat.
Ia tidak berkata apa-apa. Hanya memelukku dari belakang.
Pelukan itu lebih erat dari sebelumnya.
Tidak canggung.
Tidak ragu.
“Mala,” bisiknya, “kamu tidak sendiri.”
Aku menutup mata.
Aku sadar sesuatu.
Malam pertama mungkin tertunda lagi.
Tapi malam itu aku mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar sentuhan—
Aku mendapatkan suami yang memilih untuk tetap ada ketika hidupku runtuh.
Dan mungkin, justru kehilangan inilah yang akhirnya menghapus jarak di antara kami.
Namun di tengah kesedihan itu, satu pertanyaan kecil kembali muncul di benakku—
Jika takdir bisa merenggut ibuku tanpa peringatan…
Apakah takdir juga bisa merenggut kebahagiaan yang baru saja mulai kurasakan?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu hanya satu—
Malam pertama kami kembali tertunda.
Dan kali ini, bukan karena ketakutan.
Melainkan karena hidup memang tidak pernah menunggu kesiapan siapa pun.
Hari aku benar-benar meninggalkan rumah ibu terasa seperti menutup satu bab besar dalam hidupku.
Rumah kecil itu sudah hampir kosong. Sebagian barang disimpan, sebagian lagi diberikan kepada tetangga yang selama ini membantu ibu. Tidak banyak yang tersisa selain beberapa kenangan yang terlalu berat untuk dibawa.
Aku berdiri cukup lama di depan pintu sebelum keluar.
Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal.
Ini tempat di mana ibu membesarkanku sendirian.
Tempat aku belajar berjalan, belajar membaca, belajar menghadapi hidup.
Dan sekarang… aku pergi.
“Mala,” suara Ashar lembut di belakangku, “kita bisa kembali kapan saja kalau kamu ingin.”
Aku mengangguk kecil, meski tahu tidak akan pernah sama lagi.
Aku menutup pintu itu perlahan.
Tidak ada tangisan kali ini.
Air mataku sudah terlalu banyak keluar beberapa hari terakhir.
Perjalanan menuju rumah Ashar terasa berbeda dibandingkan saat pertama kali aku datang setelah menikah.
Dulu aku datang sebagai pengantin baru yang penuh rasa gugup.
Sekarang aku datang sebagai seseorang yang baru saja kehilangan separuh dunianya.
Mobil berhenti di depan rumah dua lantai yang selama ini menjadi tempat tinggal Ashar.
Ia turun lebih dulu, lalu membuka pintu untukku.
Gerakannya sederhana, tapi entah kenapa terasa lebih perhatian dari sebelumnya.
“Kamu capek?” tanyanya.
“Sedikit.”
Sebenarnya lebih dari sedikit.
Tubuhku terasa ringan sekaligus berat. Kepalaku seperti dipenuhi kabut tipis yang membuat semuanya terasa lambat.
Beberapa hari terakhir aku hampir tidak makan dengan benar.
Aku juga hampir tidak tidur.
Tapi aku tidak ingin terlihat lemah.
Aku sudah terlalu banyak merepotkan orang, terutama Ashar.
Ashar mengambil dua koper kecil dari bagasi.
“Masuk dulu. Istirahat.”
Aku mengangguk.
Langkahku terasa aneh ketika melewati ambang pintu rumah itu.
Ini bukan lagi rumah yang hanya sesekali kukunjungi.
Ini sekarang rumahku.
Ashar membawaku ke kamar utama.
Kamar itu masih sama seperti sebelumnya. Rapi, sederhana, dengan warna-warna tenang yang mencerminkan kepribadiannya.
Ia meletakkan koper di pojok ruangan.
“Kamu bisa tidur dulu,” katanya.
“Aku tidak mengantuk.”
Padahal sebenarnya kelopak mataku terasa berat.
Ia menatapku beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu.
“Kamu belum makan dari pagi.”
“Aku tidak lapar.”
Alisnya sedikit berkerut.
“Setidaknya minum.”
Aku tersenyum kecil.
Baru beberapa hari menjadi suami yang lebih terbuka, tapi ia sudah mulai menunjukkan sisi cerewet yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
“Aku baik-baik saja.”
Namun tubuhku seolah ingin membantah.
Ketika aku berdiri terlalu cepat, pandanganku tiba-tiba menggelap.
Semua terasa berputar.
“Mala!”
Aku tidak benar-benar jatuh, tapi lututku melemas cukup kuat hingga Ashar harus menahanku.
Tangannya langsung memegang bahuku.
“Duduk.”
Aku mencoba tertawa kecil.
“Hanya pusing sedikit.”
“Kamu hampir pingsan.”
Ia membantuku duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya masih di pundakku, seolah memastikan aku tidak akan tumbang lagi.
“Kamu tidak makan dengan benar selama berhari-hari.”
“Aku hanya tidak selera.”
“Aku tidak peduli selera atau tidak. Tubuhmu butuh energi.”
Nada suaranya tidak keras.
Tapi tegas.
Aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.
Ia pergi sebentar lalu kembali dengan segelas air dan beberapa biskuit.
“Makan sedikit.”
“Ashar—”
“Mala.”
Ia jarang memanggil namaku dengan nada seperti itu.
Aku akhirnya menurut.
Biskuit itu terasa hambar di lidahku, tapi setidaknya perutku tidak lagi kosong.
Setelah beberapa menit, pusingku sedikit berkurang.
“Aku hanya kelelahan,” kataku pelan.
“Kita ke dokter besok.”
“Itu tidak perlu.”
“Kita tetap ke dokter.”
Aku tahu dari ekspresinya bahwa keputusan itu sudah final.