NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Mata Kanan yang Buta

​Della memacu Scoopy-nya membelah kemacetan di Jalan Raya Cisaat. Dadanya sesak. 

Setiap kali ia melirik spion kiri, ia tidak lagi melihat jalanan di belakangnya, melainkan sebuah lorong gelap yang panjang dengan suara bisikan ribuan orang yang sedang kedinginan.

​"Del, pelanin! Loe hampir nabrak angkot!" Geri berteriak di telinga Della, tangannya mencengkram besi behel belakang motor dengan kuat.

​Della tidak mendengar. 

Matanya fokus ke depan, tapi penglihatan kirinya mulai tumpang tindih dengan bayangan-bayangan dari masa lalu. 

Ia melihat jalanan Cisaat tahun 1998; toko-toko yang terbakar, asap hitam membumbung, dan sosok pria jas rapi itu berdiri di tengah kekacauan, memegang mata manusia yang terbuat dari kaca.

​"Kita ke gudang kakek," suara Della terdengar datar, bukan seperti suaranya sendiri. "Di sana... ada yang tertinggal."

​Mereka sampai di sebuah bangunan tua berdinding seng karatan di daerah pinggiran Cisaat. 

Tempat ini dulunya adalah bengkel rahasia Kakek Tan. 

Begitu Scoopy Della berhenti di depan pintu kayu besarnya, mesin motor itu mati dengan suara desahan panjang, seperti orang yang akhirnya sampai di rumah setelah perjalanan berabad-abad.

​"Tempat ini... auranya nggak enak banget, Del," Sasha turun dengan kaki gemetar. "Baunya kayak... daging busuk campur oli."

​Geri mencoba membuka pintu gudang. 

Kreeeeek….

​Di dalam, kegelapan seolah menyambut mereka. 

Saat Geri menyalakan senter HP-nya, cahaya itu menyapu ruangan yang dipenuhi oleh bangkai-bangkai motor tua yang digantung di langit-langit menggunakan rantai besi. 

Motor-motor itu tidak utuh; ada yang tanpa roda, ada yang mesinnya dibelah dua.

​Di tengah ruangan, ada sebuah meja kerja yang bersih dari debu. 

Di atasnya, sebuah kain putih menutupi sesuatu yang berbentuk lonjong.

​Della berjalan mendekat. 

Tangannya gemetar saat menyentuh kain itu. 

Garis putih di telapak tangannya mendadak berubah menjadi hitam pekat, seolah-olah tinta dari masa lalu meresap kembali.

​"Jangan, Del," peringat Geri.

​Tapi Della sudah menarik kain itu.

​Di bawah kain itu, terdapat sebuah Spion Kanan.

​Bentuknya identik dengan spion kiri milik Della, namun ukirannya jauh lebih agresif. 

Jika spion Della memiliki ukiran mawar, spion ini memiliki ukiran rahang yang terbuka lebar. 

Kaca spion itu tidak jernih; kacanya berwarna hitam pekat, seolah-olah menyerap seluruh cahaya di ruangan itu.

​"Ini Mata Kanan yang dia cari?" tanya Sasha pelan.

​Tiba-tiba, lampu depan Scoopy Della yang terparkir di luar menyala sendiri, menyorot masuk melalui celah pintu. 

Cahayanya menghantam spion kanan di atas meja.

​Seketika, di dalam kegelapan gudang, muncul sebuah pantulan di dinding seng. 

Bukan pantulan Della, melainkan pantulan seorang pria muda yang wajahnya hancur sebelah sosok yang mirip dengan Kakek Tan saat muda.

​"Della... lari..." bayangan itu berbisik. "Dia tidak mencari spionnya. Dia mencari 'kepala' yang bisa menampung keduanya."

​Tiba-tiba, spion kanan di meja itu bergetar hebat. 

Kaca hitamnya mulai retak, dan dari dalam retakan itu, keluar cairan merah kental yang baunya sangat amis. Cairan itu bukan oli, melainkan darah asli.

​"Darah... darah siapa ini?" Geri mundur ketakutan.

​"Itu hutang darah kakek, Ger," Della menatap telapak tangannya sendiri yang kini ikut mengeluarkan darah dari bekas luka berbentuk mata. 

"Kakek menukar mata kiri Bibi Mei untuk keselamatan kita, tapi dia memberikan mata kanannya sendiri sebagai jaminan kepada Sang Kolektor."

​Tap. Tap. Tap.

​Suara tongkat kayu yang menghantam lantai semen terdengar dari arah pintu gudang. 

Pria tua berjas rapi dengan perban hitam di matanya tadi sudah berdiri di sana. 

Di belakangnya, puluhan sosok bayangan hitam mulai merayap di dinding seng, mengepung Della, Geri, dan Sasha.

​"Kakekmu adalah pria yang jujur, Della," pria itu tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi yang terbuat dari perak. "Dia tahu bahwa penglihatan sempurna butuh pengorbanan yang seimbang. 

Sekarang, berikan Mata Kiri itu, atau biarkan teman-temanmu menggantikan posisi Mata Kanan."

​Geri segera berdiri di depan Della, memegang kunci inggris besar yang ia temukan di meja. "Langkahi mayat gue dulu, Pak Tua!"

​Si pria tua terkekeh. "Mayat? Oh, Nak... di sini, kematian adalah kemewahan yang tidak akan saya berikan dengan mudah."

​Pria itu mengangkat tongkatnya, dan tiba-tiba, semua motor yang tergantung di langit-langit mulai bergoyang. 

Rantai-rantainya berderit, dan satu per satu, mesin-mesin tua yang sudah mati itu mulai menjerit. 

Suara mesin yang bergesekan tanpa oli, suara logam yang beradu, menciptakan simfoni horor yang memekakkan telinga.

​"Bibi Mei... tolong..." Della berbisik sambil memegang spion kirinya yang mendadak terasa sedingin es.

Geri mencoba mengayunkan kunci inggrisnya ke arah pria tua itu, namun gerakannya mendadak melambat. Udara di dalam gudang terasa padat, seperti bergerak di dalam sirup glukosa yang kental.

​"Ger, jangan!" teriak Della, tapi suaranya terdengar jauh dan bergema.

​Pria tua itu hanya menggerakkan ujung tongkat peraknya sedikit. Seketika, salah satu mesin motor yang tergantung di langit-langit terjatuh dengan dentuman keras, menghantam lantai tepat di depan kaki Geri.

 Bukan sekadar jatuh, mesin itu mulai memuntahkan cairan hitam pekat yang bergerak seperti tentakel, melilit pergelangan kaki Geri dan menariknya ke arah kegelapan di sudut gudang.

​"Geri!" Sasha menjerit, mencoba menarik tangan Geri, namun bayangan di dinding seng mulai melepaskan diri dan mencengkeram bayangan Sasha. Sasha membeku di tempat, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar suaranya telah "dicuri" oleh bayangan itu sendiri.

​Pria tua itu berjalan mendekat ke arah meja kerja. "Lihat mereka, Della. Manusia itu sangat rapuh. Mereka hanya terdiri dari daging dan ketakutan. Tapi mesin... mesin adalah keabadian. Berikan spion itu, atau mereka akan menjadi bagian dari koleksi bangkai di atap ini."

​Della menatap Spion Kanan di atas meja. 

Cairan merah yang keluar dari retakannya kini mulai menyentuh ujung jarinya. Panas. Rasanya seperti menyentuh besi yang baru saja dilas.

​"Jangan biarkan dia mengambilnya, Della..." suara Bibi Mei bergetar di dalam kepalanya, bercampur dengan suara pria muda yang hancur wajahnya. "Jika mereka menyatu di tangannya, Sukabumi akan menjadi cermin yang pecah. Pasangkan... pasangkan ke motor kita."

​"Tapi Bibi akan hilang?" bisik Della.

​"Kami akan menjadi utuh. Dan kau... kau akan melihat apa yang dia takuti."

​Della mengambil spion kanan itu. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah saraf di tangannya ditarik paksa untuk menyatu dengan gagang spion. Ia berlari ke arah Scoopy-nya yang masih menyala di ambang pintu.

​Dengan tangan yang gemetar dan bersimbah darah, Della memasangkan gagang spion kanan itu ke lubang baut di stang sebelah kanan. Begitu ulir bautnya bertemu, suara jeritan mesin di langit-langit mendadak berhenti.

​ZRRRAAAAAP!

​Aliran listrik berwarna ungu gelap melesat dari spion kanan, merambat melalui kabel gas, masuk ke blok mesin, dan bertemu dengan energi kuning milik Bibi Mei di spion kiri. Scoopy krem itu berguncang hebat. Catnya mulai retak, menyingkap lapisan logam di bawahnya yang kini berpola seperti urat nadi manusia.

​"TIDAK! JANGAN SEKARANG!" teriak pria tua itu. Wajahnya yang tenang berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan. Ia mengangkat tongkatnya, mencoba menghancurkan motor itu.

​Namun, lampu depan Scoopy meledak dalam cahaya yang membutakan. Cahaya itu bukan lagi kuning atau putih, melainkan bening sempurna.

​Della melihat ke arah spion kanan yang baru terpasang. Kaca hitamnya kini berubah menjadi cermin yang memperlihatkan masa depan: Ia melihat pria tua itu sedang berlutut di depan sebuah tungku besar di bawah tanah, tempat jiwa-jiwa pengendara motor yang hilang di Sukabumi ditempa menjadi logam.

​"Itu rahasia kamu," ucap Della dengan nada dingin. "Kamu bukan kolektor. Kamu cuma tukang besi yang mencuri nyawa untuk bos kamu."

​Begitu kedua spion itu terpasang, Della merasakan tarikan hebat di kedua matanya. Mata kirinya melihat masa lalu gudang ini saat Kakek Tan menangis sambil mengelas mesin ini dan mata kanannya melihat pria tua itu akan menyerang dengan tongkatnya dua detik dari sekarang.

​Della memutar gas. Scoopy itu tidak melaju maju, tapi mengeluarkan gelombang suara frekuensi rendah yang menghantam dinding-dinding gudang. Seng-seng bangunan itu bergetar hebat hingga paku-pakunya lepas.

​"Ger! Sasha! Lari ke motor!"

​Geri yang tadinya terlilit cairan hitam mendadak terlepas saat cairan itu menguap terkena cahaya bening dari motor Della. Ia menyambar Sasha dan melompat ke arah pintu.

​Saat mereka berhasil keluar, gudang tua itu runtuh ke dalam, seolah-olah ruang di dalamnya terhisap oleh lubang hitam.

 Pria tua itu tertimbun di bawah reruntuhan mesin, namun tongkat peraknya masih berdiri tegak di tengah puing, bergetar mengeluarkan sinyal ke arah langit malam.

​Della terengah-engah di atas motornya, Ia melihat ke spion kiri dan kanan. Pemandangan di belakangnya kini sangat luas, menembus batas ruang dan waktu. 

Namun, saat ia melihat ke cermin tengah (bedak) milik Sasha yang terjatuh di aspal, Della menjerit.

​Wajah Della di pantulan cermin tidak lagi memiliki mata. 

Di lubang matanya, terdapat dua buah kaca spion kecil yang terus berputar.

1
Ma Vin
bagus ceritanya,, semangat up date nya yaa kak😄😍
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!