Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 Melempar Perjodohan
Perusahaan.
Ruang rapat, di meja panjang berwarna hitam senada dengan warna kursi yang diduduki para petinggi Perusahaan. Orang-orang yang berwibawa duduk dengan rapi di kursi masing-masing terlihat fokus pada salah satu seorang pria mempresentasikan hasil pekerjaannya di layar monitor.
Di kursi utama, sebagai atasan juga ikut menghargai karyawannya dalam mempresentasikan hasil kerjanya. Matanya tiba-tiba saja menoleh ke arah ponselnya yang menyala diletakkan di dekat dokumen berwarna hitam itu.
"Sudah cukup!" ucapnya menghentikan presentasi tersebut membuat pria yang sejak tadi serius itu berhenti dengan menundukkan kepala.
"Sudah waktunya adzan Zuhur, kita lanjutkan setelah selesai makan siang, kalian bisa beristirahat jika ingin sholat maka silahkan," ucap pria tampan berwajah dingin itu berdiri dari tempat duduknya dan merapikan tasnya.
Dengan wibawa dan langkah kakinya yang begitu panjang meninggalkan ruang rapat tersebut membuat semua penghuni rapat saling melihat satu sama lain.
"Padahal baru saja adzan, presentasinya juga hanya sekitar tinggal 5 menit lagi. Apa salahnya menyelesaikan," seorang wanita berpakaian rapi tampak bisik-bisik dengan wanita di sebelahnya.
"Kamu seperti tidak tahu. Pak Raksha, jika sudah waktunya ibadah maka dia akan menghentikan pekerjaan. Kamu mengatur maka jadi CEO saja," ucap temannya.
"Bos kita memang bisa terbilang sangat sempurna, memiliki wajah tampan, kulit putih, tubuh sixpack dan berkarismatik, bukan hanya sempurna dari fisik, tetapi ibadahnya juga nomor satu lebih lagi kaya raya. Huhhhh ini baru yang dinamakan manusia yang tahu diri, jika sang pencipta sudah memberikan kesempurnaan, dia benar-benar memanfaatkan dengan baik dan tidak lupa pada penciptanya," ucap wanita itu membicarakan atasannya itu dengan penuh kekaguman.
"Tetapi sayang sekali di usianya sudah mencapai 36 tahun dan belum menemukan pasangan," sahut temannya.
"Seorang CEO yang sempurna seperti itu sudah pasti mencari pasangan yang sempurna ada yang tidak mudah mencari asal-asalan," sahut temannya.
Mereka tidak hentinya membicarakan atasannya itu, padahal sudah diberikan waktu untuk beristirahat.
Perusahaan Antahva Grup dalam bidang properti tersebut berkembang begitu sangat pesat dan dikenal di negara dan maupun mancanegara.
Perusahaan besar itu juga dikenal memiliki tempat ibadah berupa masjid yang terletak di sebelah perusahaan tersebut dan bahkan masjid tersebut terbuka untuk umum bukan hanya untuk orang-orang yang bekerja di perusahaan.
Raksha baru saja menyelesaikan sholatnya setelah berdoa kepada sang pencinta, kemudian langsung berdiri dengan seorang pria yang sudah menunggu di depan pintu bagian pria tersebut.
"Ini pak!" pria itu memberikan ponsel kepada Raksha yang sejak tadi dia titipkan karena sedang khusyuk dalam sholat.
"Assalamualaikum, Ma!" ucapnya sembari berjalan terlebih dahulu menuruni anak tangga dengan memakai sepatunya.
"Baiklah! Mama bisa mengaturnya," ucap Raksha.
Setelah selesai memakai sepatu kemudian pria tersebut dimasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Kita kembali ke kantor," ucap Raksha dengan suara datar membuat pria itu mengganggukan kepala.
****
Kediaman Richard.
"Papa akan menikahkan Vanila dengan rekan bisnis Papa?" tanya wanita sekitar berusia 23 tahun yang tampak anggun menggunakan hijab pashmina saat berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Benar! Perusahaan kita saat ini sedang dalam masalah. Papa rasa kamu cocok dengan pilihan Papa," ucap Richard.
"Di jodohkan dengan rekan bisnis Papa. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan laki-laki yang tidak aku kenal, pria itu sudah pasti tua dan tidak akan cocok denganku. Aku belum memiliki keinginan untuk menikah," batin Vanila.
"Mama juga setuju dengan perjodohan itu?" tanyanya sekali lagi.
"Hmmmm, kamu anak yang baik dan jika Papa kamu memikirkan untuk menjodohkan kamu dan artinya kamu bisa menyelamatkan Perusahaan kita," jawab Liana.
"Hmmmm, kenapa harus Vanila? Kenapa bukan Leticha saja?" Vanila tiba-tiba saja merekomendasikan saudaranya.
"Hmmmm, maksud Vanila. Leticha bukankah belakangan ini sering membuat masalah, dia tidak pernah serius dalam kehidupannya, jika tidak dinikahkan secepatnya, maka Leticha akan semakin mempermalukan keluarga kita. Vanila masih ingin belajar lebih banyak lagi untuk menjadi seorang istri. Leticha bukankah memang sudah waktunya untuk menikah," ucapnya memberi penjelasan.
Richard tampak terdiam dan sepertinya memikirkan saran dari putrinya itu.
"Mama setuju apa yang dikatakan Vanila. Papa lihat saja sudah jam 10.00, mana ada anak gadis keluyuran di luar seperti ini. Vanila sejak tadi berada di rumah, dengan menjalankan hobinya membaca buku dan memperdalam ilmu agama dan sementara Leticha keluyuran. Jika anak itu tidak dipertegas, maka akan semakin mempermalukan keluarga kita," sahut Liana yang ternyata setuju dengan ide dari Vanila.
"Papa akan pikirkan! yang terpenting ada salah satu menikah di antara kalian," ucap Richard.
****
Restoran.
Terlihat dua wanita yang sedang menikmati makan siang mereka dengan duduk berhadapan.
"What!" wanita yang baru saja meneguk minumannya tampak kaget saat wanita di depannya bercerita kepadanya.
"Kamu serius Leticha?" tanya Winona memastikan pada wanita di hadapannya yang tampak tangguh dengan rambut sebahunya dengan menggunakan pita di bagian kiri kepalanya.
"Hmmmm," jawabnya dengan memotong stik menggunakan tenaga yang cukup kuat, saat bercerita ekspresinya cukup santai.
"Memang zaman modern seperti itu masih ada sistem perjodohan," sahut Winona.
"Orang tuaku tidak hidup dengan perkembangan zaman dan tetap hidup dalam zaman masa kuno, mau 30 tahun ke depan, akan tetap adanya sistem perjodohan," jawabnya dengan mengunyah makanannya.
"Dengan siapa?" tanya Winona.
"Anak dari teman bisnis Papa. Perusahaan sedang dalam masalah dan maka dari itu dia ingin menjadikanku istri dari anak rekan bisnisnya. Aku tidak tahu siapa orang itu, aku hanya mendengar sepintas, pria itu cukup dewasa dengan usia 35 tahun ke atas," ucapnya dengan santai.
"Bagaimana jika Papa kamu menikahkan kamu dengan pria sebaya dengannya?" tanya Winona.
"Mungkin kita tidak akan masalah baginya, asalkan perusahaan baik-baik saja," jawab Winona.
"Lalu kamu sendiri bagaimana? Kamu akan setuju dengan perjodohan itu?" tanya Winona.
"Aku mungkin tidak punya kuasa untuk menolak perjodohan itu, seperti pria itu yang harus menolak perjodohan itu," jawabnya.
"Huhhhh, kenapa juga harus kamu yang dijodohkan, benar-benar nasib temanku ini," ucap Winona turut prihatin dan sementara Leticha tampak santai saja.
*****
Leticha pulang ke rumahnya dengan keluar dari mobil. Saat ingin memasuki kamarnya, saudaranya yang ingin tidur juga kebetulan bersama-sama membuka pintu kamar.
"Kamu sudah dengar bukan jika kamu akan dijodohkan?" tanya Vanila.
"Iya dan aku juga dengar seharusnya kamu yang dijodohkan dengan laki-laki itu," ucap Leticha.
"Iya. Menurut Papa dengan laki-laki seperti apapun aku sangat cocok untuk menjadi istri mereka, karena aku merupakan calon istri idaman semua pria, tetapi sayang sekali orang sempurna sepertiku memiliki kewajiban untuk memilih dan aku memutuskan untuk tidak menerima. Maka, kamu yang harus menggantikannya," jawabnya dengan santai.
Leticha menanggapi hanya dengan tersenyum, seolah mengejek perkataan dari saudaranya itu.
"Selamat Leticha kamu akan menikah dengan laki-laki yang pantas kamu panggil Ayah. Mungkin jika Papa tidak bisa mendidik kamu, laki-laki itu akan bisa menjadikan kamu menjadi wanita lebih baik dan tidak membuat malu keluarga," ucap Vanila dengan tersenyum penuh kemenangan dan kemudian membuka pintu kamar dan memasuki kamar.
"Sempurna! benarkah penampilan tertutup seperti itu mencerminkan kesempurnaan! hanya topeng," ucap Leticha kemudian langsung memasuki kamarnya.
Bersambung.....